
Sore itu, Cinta dan Sabda bermaksud untuk segera berangkat ke Cafe persona, untuk menemui Rama dan Rey yang sudah bersiap menunggu Sabda dan Cinta.
"Sabda, Cinta, kalian berdua mau kemana ?" tanya Delia yang sepertinya baru pulang.
"Kami berdua mau ada urusan sebentar Ma, kayaknya kita pulang agak maleman deh, nggak apa-apa ya ma?" tutur Sabda pada Delia.
"Cinta, kamu jangan terlalu capek ya sayang.. kamu udah minum vitamin yang mama kasih kan ?" tanya Delia pada menantunya itu. Cinta hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Udah kok ma,"
Sabda hanya diam saja, dia pikir wajar mamanya memperhatikan Cinta, bahkan Delia terlihat lebih perhatian kepada Cinta, dibanding dengan dirinya.
"Kalau gitu, Sabda dan Cinta pamit ya Ma," ucap Sabda seraya mengecup punggung telapak tangan Delia, begitu juga dengan Cinta.
"Yaudah, kalian hati-hati ya, Sabda kalau nyetir jangan kebut ya, pelan-pelan aja." nasehatnya lagi.
"Iya Mama.." keduanya bergegas.
**
"Sayang, memangnya Mama kasih kamu vitamin apa sih ? aku nggak pernah dikasih vitamin sama mama loh, terakhir aku dikasih vitamin mungkin waktu aku masih kecil," ucapnya pada Cinta.
Cinta malah terkekeh mendengar ucapan suaminya itu.
"Terang aja kamu nggak dikasih vitamin, mungkin mama capek ngasih kamu, tapi nggak pernah kamu minum." jawabnya tersenyum.
"Kok kamu tau Nta? aku curiga deh, jangan-jangan kamu udah mata-matain aku dari dulu ya, ngaku deh. kamu stalker pasti ya ?" ledeknya pada Cinta.
Cinta mengernyitkan kening.
"Ada-ada aja kamu ih, aku cuma nebaak.." sangkalnya.
Sabda hanya menanggapinya dengan senyuman lebar di bibirnya.
"kamu belum jawab, vitamin apa yang dikasih mama ke kamu Nta?" tanyanya lagi.
"Emm.. vitamin asam folat sama vit E," jawabnya singkat.
Sabda menggaruk tengkuknya.
"Buat apaan itu Nta ?" ucapnya tidak mengerti.
"Mm.. kata mama untuk menyuburkan kandungan." tutur Cinta malu.
Sabda tercengang mendengar hal itu.
"Apa Nta? penyubur kandungan ?" jawabnya dengan nada suara terkejut.
"Iya, udah biarin aja asalkan mama tenang." Cinta hanya tersenyum tipis, sebenarnya selama tiga bulan ini Cinta sudah berharap sekali bisa hamil, namun belum juga ada tanda-tanda kalau dirinya akan hamil.
Sabda menatap Cinta, dia melihat raut kecewa di wajah istrinya tersebut.
"Sabar ya sayang... kalau sudah waktunya juga, nanti kamu bakalan hamil. maafin mama ya kalau nggak sabaran gitu." tutur Sabda yang cemas kalau Cinta merasa sedih.
"Aku nggak apa-apa kok, kamu tenang aja," jawabnya.
__ADS_1
Sabda menghela napas, ia merasa mamanya seharusnya tidak perlu bersikap seolah sangat ingin Cinta hamil, dia cemas kalau Cinta merasa tertekan.
Akhirnya mereka berdua sampai di lokasi Cafe persona.
mereka berduapun masuk ke dalam Cafe, di sebuah ruangan yang sudah dipesan khusus oleh Rey dan Rama.
**
Rey dan Rama sudah menunggu Sabda di ruangan itu, di ruangan itu juga sudah ada sejumlah wanita yang dulunya adalah pacar Sabda.
"Sabda, lo udah dateng juga," Rama menyambut Sabda dengan sapaan seperti biasa. begitu juga dengan Rey, yang saat ini terlihat sudah lebih baik, tidak seperti bulan lalu yang sempat down karna masalah Sharena.
"Rey, lo dah baikan ?" tanya Sabda.
Rey tersenyum tipis.
"Udah lah, lo pikir gue bakalan jadi gila gitu? sialan lo !" timpalnya.
"Emang lo hampir gila kemarin, untung ada gue juga." sahut Rama terkekeh.
Cinta malah terfokus dengan banyaknya wanita yang ada di ruangan tersebut. ia terbengong dam tidak menyangka kalau semua wanita itu, adalah mantan pacar suaminya.
"Astaga, gue sampai lupa. ada Cinta." gumam Sabda pelan.
"Cinta, kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanyanya seraya mengelus bahu istrinya yang kelihatan shock.
Cinta menutup mulutnya, lalu melirik suaminya.
"Semuanya mantan pacar kamu?" tanya Cinta seolah tidak percaya.
Sedangkan para wanita yang ada di ruangan itu menatap tajam ke arah Sabda seolah sudah siap mengeluarkan semua kekesalan mereka, yang selama ini mereka tahan.
"Sayang, udah aku bilang ini bukan ide yang bagus, kamu bakalan marah deh sama aku pasti." ucap Sabda.
Cinta menggeleng.
"Mereka semua nggak salah, kamu yang salah. mendingan mulai deh. kamu harus minta maaf sekarang juga sama mereka. mereka ada dua puluh orang. kamu nggak salah ? kamu udah apain aja mereka sih." tiba-tiba Cinta malah seperti sangat kesal dengan suaminya. padahal itu permintaan dia sendiri.
Rey dan Rama mulai membantu menjelaskan pada Cinta, agar Cinta tidak salah paham.
"Cinta, lo jangan salah paham. gue bisa jamin Sabda nggak pernah macem-macem sama mereka dalam tanda kutip ya. tenang aja." tutur Rama.
"Beneran tuh yang dibilang Rama, jangan salah paham ya Cinta," Rey menimpali.
Sedangkan Sabda hanya mengangguk-angguk berharap Cinta mau memaafkan dia.
"Hmm.. kalian semua yang ada disini, hari ini Sabda bakalan minta maaf kepada kalian semua sesuai yang tadi udah gue bilang sama kalian. kalian boleh luapin semua kekesalan kalian sama Sabda. asal jangan keterlaluan aja. biar gimanapun Sabda udah mau itikad baik untuk minta maaf kan." tutur Rama kepada para wanita yang ada di ruangan itu.
"Ekhem.. Gue Sabda Pramaditya. dengan setulus hati mau minta maaf sama kalian semua yang ada disini. gue tahu waktu itu gue udah keterlaluan sama kalian semua, gue pantes dapetin hukuman. gue rela asalkan lo semua maafin gue. dan bikin hati orang yang gue cinta saat ini dan selamanya menjadi tenang. ini Cinta, istri gue. gue lakuin ini semata-mata demi dia, tapi tulus dari hati gue juga ngerasa, kalau gue salah sam kalian semua. jadi apa lo semua mau maafin gue ?" tutur Sabda didepan semua orang yang ada di ruangan itu. termasuk Cinta yang sejak tadi terus menatap Sabda yang terlihat bersungguh-sungguh.
**
Cinta menggenggam tangan Sabda, seolah memberikan kekuatan.
"Kamu udah bener, kamu jangan ragu ya, aku bangga sama kamu," ucap Cinta tersenyum, membuat Sabda semakin yakin dengan apa yang sudah dilakukannya. sedangkan Rey dan Rama terbatuk melihat Sabda dan Cinta yang malah saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Tolong langsung di mulai aja deh. siapa yang mau maju duluan diantara kalian semua. dan kalian bilang kalau kalian udah maafin Sabda." tutur Rey mewakili Sabda.
Akhirnya satu wanita maju ke depan. wanita itu bernama Karen, dia adalah salah satu mantan Sabda yang pernah diputuskan oleh Sabda hanya dalam hitungan beberapa jam setelah jadian.
"Karen?" ucap Sabda menyebut nama gadis itu.
"Jadi kamu masih inget nama aku Sabda?" jawabnya dengan senyum kecut.
"Emm.. inget, maafin aku ya Karen, aku salah.."
Plakk
"Itu buat kamu, karena kamu pernah nyakitin aku, aku udah maafin kamu, jangan kayak gini sama wanita lain lagi. jaga istri kamu, dia orang baik." tutur Karen setelah menampar sebelah pipi Sabda hingga terlihat merah karena tamparannya cukup kuat. Cinta meringis melihat wajah Sabda.
"Ouw... sabar Sab, terima aja ini baru satu, yang lain masih antri tu.." celetuk Rama meledek Sabda.
"Sialan lo Ram." sahut Sabda sambil menahan perih.
"Sabar ya.." ucap Cinta mengelus pipi suaminya.
"Aku nggak apa-apa Nta," jawabnya tersenyum.
"Makasih yaa Karen, kamu dah mau maafin aku." ucap Sabda pada Karen, Karen secepatnya pergi keluar ruangan itu. sementara para gadis lainnya sudah menunggu untuk melakukan hal yang sama kepada Sabda. meluapkan kekesalan mereka selama ini.
Diantara mereka ada yang menyiram wajah Sabda dengan minuman, adapula yang memukul bagian tubuh Sabda sampai merasa puas.
Melihat hal itu membuat Cinta merasa tidak tega dan ingin menghentikannya. ia melihat keadaan suaminya yang sudah cukup parah saat ini, namun Sabda melarang Cinta mendekat. dia ingin menyelesaikan semuanya secepatnya. supaya tidak ada lagi rasa bersalah yang tersisa pikirnya.
Sampai saatnya Gadis terakhir yang bernama Stephani maju ke depan. dia terus menatap wajah Sabda yang sudah babak belur karna tamparan. juga baju yang kotor karena disiram air minuman. kondisi yang sangat menyedihkan untuk dilihat.
"Step.. Stephani.. kamu mau apa dari aku? supaya kamu maafin aku?" tanya Sabda terbata, ia menyentuh pipinya yang tersasa berdenyut dan perih akibat tamparan bertubi-tubi.
"Sabda, aku udah maafin kamu kok. aku nggak akan mukul kamu, aku ada satu permintaan aja untuk kamu. boleh nggak?" ucapnya tersenyum.
"Apa itu ?" tanya Sabda heran.
"aku mau meluk kamu boleh nggak?" tanya Stephani. sontak Cinta dan juga kedua Sahabat Sabda terheran. kenapa Stephani malah minta memeluk Sabda, bukan menganiaya Sabda, seperti yang lainnya.
Sabda melirik Cinta ragu-ragu.
"Gimana Nta? aku harus gimana sekarang?" tanya Sabda yang meminta persetujuan istrinya.
Cinta menggigit ujung kukunya, dia bingung apa yang harus dia katakan. dia tidak mau kalau ada wanita lain yang memeluk suaminya.
"Kamu kenapa minta Sabda memeluk kamu?" tanya Cinta pada Stephanie.
"Sekali aja, aku cuma mau itu. karena dari dulu aku rela diperlakuin kayak apapun asalkan Sabda mau sekali aja meluk aku, cuma itu aja kok. please ya boleh.." ujar Stephanie memohon pada Cinta.
Cinta terpaksa mengangguk. karena merasa bingung dan serba salah. dia tidak menyangka kalau permintaan wanita itu adalah memeluk Sabda.
Akhirnya dengan terpaksa Sabda memeluk Stephanie sesaat dan melepasnya. siapa sangka Stephanie malah mencium sebelah pipi Sabda.
"Aku udah maafin kamu Sabda, aku pergi dulu." ucapnya meninggalkan ruangan itu. sedangkan Sabda terbengong tidak menyangka kalau Stephani malah mencium pipinya. begitu juga dengan Cinta dan Kedua sahabat Sabda yang sama terkejutnya.
"Sorry nih, berhubung dah selesai semuanya, gue dan Rey balik duluan ya, lo berdua kelarin deh urusan kalian berdua. gue nggak ikut-ikutan Sab." ujar Rama terkekeh. begitu juga dengan Rey menepuk bahu Sabda.
__ADS_1
"Obatin pipi lu udah bengkak begitu Sab, hebat lo Sab, kereen pokoknya. gue balik dulu.." Rey pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Sabda dan Cinta yang sedang duduk berduaan di satu meja.