THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
Sabda Cinta ~ Sweetness


__ADS_3

Malam itu Sabda sudah selesai membersihkan dirinya.


sementara Cinta masih menunggu Sabda diatas tempat tidurnya. ia sudah menyiapkan kotak obat, untuk mengobati luka Sabda yang ada di ujung bibirnya.


Sabda menghampiri Cinta, dibelainya wajah istrinya itu dengan lembut.


"Kamu nggak tidur Nta?" tanya Sabda.


Cinta menggeleng.


"Duduk dulu, biarku obati luka kamu," tuturnya merasa cemas.


Sabda mengangguk. ia duduk di sebelah istrinya yang masih sibuk mengambil cairan obat luka, kain kasa, dan juga plester.


"Kamu kenapa bisa sampai lebam begini? kamu habis berkelahi dengan siapa?" tanya Cinta sambil pelan-pelan mengoles cairan antiseptik di ujung bibir Sabda yang terlihat biru.


Sabda menyentuh tangan Cinta, ia hentikan sejenak aktifitas istrinya saat itu, lalu ia kecup lembut jari jemari Cinta dengan lemah.


Cinta hanya terus memandangi wajah suaminya yang tampak sendu.


"Aku akan jelaskan semuanya Nta, tapi aku mohon kamu jangan marah sama aku, kamu dengarkan aku sampai selesai." tuturnya memohon. Cinta terdiam, ia merasa aneh kenapa Sabda cemas ia akan marah, memangnya apa yang ingin Sabda katakan padanya. pikirannya mulai kemana-mana. namun ia harus memercayai suaminya itu.


"Kamu bicara saja, aku akan dengarkan." sahutnya tersenyum tipis.


Sabda mengecup kening Cinta lalu membiarkannya bertahan lebih lama, kemudian ia pandangi wajah istrinya yang saat ini terlihat bingung.


"Nta, aku berkelahi dengan Rey, semua ini karena Rey meminta aku melakukan hal yang nggak bisa aku penuhi, aku memang memiliki hutang terhadap Rey, karna dia pernah menolongku saat aku masih duduk di bangku SMA, saat itu Rey membantuku kabur melarikan diri dari musuhku di sekolah. bahkan ia sampai tertusuk di bagian lengan, karena melindungiku." tutur Sabda.


Cinta hanya mengangguk.

__ADS_1


"Lalu bagaimana setelah itu?" tanya Cinta yang menginginkan suaminya itu untuk terus menceritakan semuanya. ia ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi.


"Kamu tahu nggak sayang, apa yang di inginkan Rey saat itu?" ucap Sabda menghela napas. seolah ia merasakan sesak dan ada sebuah beban yang tidak bisa ia keluarkan.


"Apa sayang?" tanya Cinta seraya menggenggam erat kedua tangan suaminya itu.


Sabda merasakan ada kekuatan yang mendorongnya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Cinta, ia tidak ingin Cinta salah paham terhadapnya.


"Sharena, dia mau mencoba bunuh diri. dia bilang, dia mencintaiku dan ingin bersamaku, sedangkan Rey, dia diam-diam menyimpan perasaan khusus terhadap Sharena, ia malah memintaku untuk menikahi Sharena sebagai istri kedua. tapi aku menolaknya. sudah pasti menolaknya. lagipula aku tidak mencintai Sharena lagi, sungguh.. kamu harus percaya Cinta.." tuturnya yang masih terus menggenggam tangan Cinta, lalu mengecupnya berulang.


Cinta hanya tersenyum.


"Lalu kenapa kamu sampai berkelahi? apa Rey tidak terima kalau kamu menolak permintaannya?" tanya Cinta yang masih ingin tahu lebih jauh lagi.


Sabda mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. lalu ia tersenyum pahit.


Cinta menghela napas, ia masih menatap suaminya yang terlihat berantakan. beberapa luka di wajahnya seolah mengatakan bahwa perkelahian antara Sabda dengan sahabatnya itu cukup serius.


"Lalu sekarang bagaimana dengan Rey?" tanya Cinta.


Sabda memijat alisnya.


"Aku dan Rey sudah berbaikan kok, tadi saat aku pergi meninggalkan Rey, Rama tiba-tiba saja datang, ia mengajakku berbicara, aku mulai tersadar bahwa seharusnya aku dan Rey tidak perlu bertengkar karena seorang wanita seperti Sharena, kamu tahu nggak Cinta, sebenarnya Sharena itu hanya memanfaatkan Rey, hal itupun aku tahu dari Rama, dan saat ini Rey pun sudah mengetahui semuanya. ia pasti merasa sangat bodoh, sudah mencintai wanita seperti Sharena itu." Sabda meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat.


"Aku beruntung memiliki istri seperti kamu sayang, meskipun pada awalnya aku nggak sangka, kalau kamulah jodohku, yang datang dengan cara yang unik, tapi satu hal yang aku sangat yakini saat ini dan selamanya. bahwa aku sangat mencintai kamu, Cinta.." tuturnya seraya mengecup puncak kepala istrinya. sedangkan Cinta, tidak bisa menahan airmatanya lagi, ia menangis terharu. karena ia tidak menyangka kalau suaminya adalah pria yang sangaat tulus kepadanya.


"Cinta, kamu mau kan maafin aku? maafin aku, karena tadi pagi aku terbawa emosi, sampai tidak berbicara yang sebenarnya terhadap kamu. aku minta maaf, karena membuat kamu cemas sepanjang hari, aku meminta maaf karna sudah membuat kamu sedih.."


Cinta terdiam sejenak, lalu ia kembali menatap lekat wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Aku senang," ucapnya lirih.


"Hm? senang?" Sabda menciumi jari jemari Cinta, "kamu senang kenapa sayang?" tanya Sabda, ia bahkan sudah lupa akan rasa sakitnya tadi. saat ini ia bahagia bisa melihat Cinta tersenyum.


"Aku senang, karena kamu mau jujur denganku.. aku cemas karena kamu nggak mau cerita, aku nggak marah karna kamu pergi untuk menemui Sharena.." saat cinta menyebut nama Sharena, sabda malah menutup bibir cinta dengan jari telunjuknya.


"Aku kesana, bukan karena Sharena, tapi karna Rey, yang meminta aku datang, kamu tahu kan, tadi aku udah cerita kalau Rey, udah pernah berkorban untukku, karena itu aku selalu merasa memiliki hutang dengannya. ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Sharena kok, kamu ngerti kan sayang?" terang Sabda, yang tidak ingin Cinta salah paham terhadapnya.


Cinta tersenyum dan mengangguk.


"Maaf ya, aku salah.." ucap Cinta merasa senang, karena Sabda memang melakukan hal itu sama sekali bukan karena Sharena, mantan kekasihnya dahulu. ia memang tidak tahu seberapa jauh hubungan Sharena dengan Sabda dahulu. sampai-sampai, Sharena rela bertindak bodoh demi seorang Sabda.


"Nggak kok, Cinta nggak pernah salah, Cinta selalu menemukan jalannya." ucap Sabda menutup mulutnya.


"Ngomong apa sih gue barusan. ampe geli sendiri gue, mudah-mudahan Cinta enggak muntah deh dengernya." Sabda membatin.


Cinta terkekeh mendengar ucapan sabda barusan.


"Sejak kapan kamu jadi puitis gitu sih?" tanyanya merasa lucu.


Sabda tersenyum kecil. lalu meraih wajah istrinya itu.


"Sejak mengenal Cinta, yaitu kamu."


Sabda dengan selembut mungkin pelan-pelan menundukkan wajahnya, lalu mengecup bibir merah itu sekilas, lalu seulas senyuman tipis dari bibir Sabda.


Dengan halus ia mulai memperdalam ciumannya dan memeluk tubuh Cinta semakin rapat, sampai tidak bersisa walau hanya satu mili jarak diantara keduanya.


Begitu juga Cinta, ia tidak memberikan tanda penolakan sama sekali, dengan perlahan Sabda menggigit bibir itu, agar Cinta membuka sedikit bibirnya yang tertutup rapat, dan benar saja perlahan bibir Cinta mulai terbuka, dengan lembut Sabda menelusupkan lidahnya kedalam bibir manis itu, menyesap rasa manisnya sebanyak mungkin. tangan Cinta mulai melingkar di kepala belakang Sabda, ia mulai mengalungkan lengannya dengan kuat sembari merasakan setiap sesapan bibir manis suaminya itu. hingga keduanya terengah dan terhanyut.

__ADS_1


__ADS_2