
"Maaf." Andra mengatur napasnya, ia memasang kembali seatbelt, alu mulai mengendara lagi.
Sedangkan Alya masih kaget, ia hanya diam, pipinya masih terasa panas, seluruh tubuhnya juga gemetaran, keduanya malah terdiam, tidak saling berbicara.
"Maafin aku ya tadi, aduh aku malah kayak gitu, kamu jangan marah ya.." ucap Andra.
Alya membuang napasnya pelan.
"Iya Mas, aku cuma mau bilang, aku nolak Aldo, aku nggak mungkij nerima Aldo, semoga Mas nggak marah ya, karena aku nggak nerima Aldo," ucap Alya sambil tertawa kecil.
Andra membulatkan matanya, melirik ke arah Alya.
"Mana mungkih sih aku marah, aku malah seneng kalau kamu nolak dia, kamu lupa ya, kamu kan pacar aku, masa mau selingkuh sama cowok lain," tutur Andra.
Alya tersenyum kecil.
"Hmm.. kalau pacar itu harus saling cinta Mas, sedangkan kita baru saling suka, gimana dong." sahut Alya.
"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, kalau sekarang udah ada rasa suka, boleh jadi beberapa jam lagi, aku cinta sama kamu." Andra tersenyum sambil tetap fokus menyetir.
Alya terkekeh, sambil memukul lengan Andra pelan.
"Ada ada aja kamu Mas, masa bisa muncul secepat itu." ucapnya.
"Kalau kita udah menikah, rasa cinta itu pasti akan muncul, yang jelas aku ngerasa nyaman ada di deket kamu, itu udah cukup buatku." tukas Andra, jujur pada perasaannya sendiri.
"Iya Mas, jalani aja dulu, pelan-pelan," Alya tersenyum, sejujurnya ia mulai merasa ada rasa cinta di hatinya pada pria yang ada di sampingnya, tapi ia sendiri masih belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya sendiri.
***
Sesampainya di depan rumah Alya, terlihat ada mobil orang tua Andra yang terparkir di halaman rumah Alya.
Sesuai kesepakatan hari ini, kedua belah pihak akan membicarakan masalah pernikahan Andra dan Alya.
__ADS_1
Setelah Alya lulus sekolah, keduanya sudah sepakat untuk menikah, setelah itu baru Alya bisa memulai melanjutkan kuliahnya.
"Yuk masuk Mas, semuanya pasti udah nunggu, dikira kita mau kabur lagi kalau lama nggak muncul." ajak Alya pada calon suaminya itu.
"Hahahah.. kabur gimana sih, bisa aja kamu, tapi kamu itu dewasa loh, padahal kamu masih 18 tahun, tapi menurutku kamu udah sangat dewasa dalam bersikap." Puji Andra pada calon istrinya.
Alya terkekeh, ia merasa ucapan Andra barusan terdengar lucu.
"Mas belum kenal aku lebih dalam, nanti kalau udah nikah Mas bakalan terkejut lagi, saat tahu watak asliku, jangan kaget yaa, terus ninggalin aku." celetuknya sambil menahan tawa.
Andra mengusap ujung kepala Alya.
"Huss.. kamu ini, belum juga nikah, udah bilangin mau ninggalin segala, mana mungkin lah, kita udah sepakat, untuk mencoba saling menerima, jadi harus sabar menghadapi watak satu sama lain." sahut Andra.
"Iya deh, yaudah yuk jangan kelamaan, nanti aku di omelin mama dan papa." Alya segera keluar dari mobil Andra.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, dan benar saja terlihat dua keluarga sudah berkumpul, menunggu mereka berdua.
"Kalian dari mana aja, kok lama?" ucap Sabda pada keduanya.
"Udah kalian duduk deh sini." Ajak Cinta.
"Maaf tadi macet." sahut Andra bingung mau memberikan alasan apa, tidak mungkin ia menceritakan yang sejujurnya pada keluarganya.
"Macet apaan, bilang aja pacaran," Angel malah meledek keduanya.
"Angel, kamu diem jangan ikut-ikutan," ucap Cinta pada anak bungsunya itu.
Keduanya pun duduk, mereka hanya menyimak obrolan orang tuanya, dan hanya ikut saja oleh rencana kedua keluarga itu.
"Jadi kalian setuju nggak kalau pernikahannya kita adakan minggu depan? lebih cepat lebih baik kan, lagipula Alya udah setuju kalau lulus sekolah langsung menikah, kalau Alya mau kuliah bisa setelah menjadi istri Andra." ucap Cinta.
"Ma, memangnya waktu seminggu cukup buat mempersiapkan pernikahan? apa nggak terlalu buru-buru?" sahut Andra.
__ADS_1
"Itu bukan masalah Andra, biar tante yang urus masalah pernikahan kalian, satu minggu cukup kok, lagian beberapa udah tante siapkan sama mama kamu, iya kan Nta?" tutur Melisa.
"Bener kata tante Meli, semua udah kita siapkan, kalian terima beres aja." sahut Cinta lagi.
"Kamu gimana Alya? kamu nggak keberatan kan?" tanya Sabda.
"Alya kan udah janji sama mama dan papa, seharusnya nggak keberatan dong, lagipula kata Angel hubungan kalian udah mulai terjalin, iya kan Ngel?" ucap Rey.
"Bener tuh, yaudah sih lebih cepat lebih bagus, jadi aku bisa punya temen nonton drakor di rumah, iya kan kak Alya.."
Semuanya pun tertawa mendegar ucapan Angel barusan.
Termasuk Alya, sejujurnya ia sudah memasrahkan semuanya kepada kedua orangtuanya, ia tidak akan membantah keinginna orangtuanya, terlebih lagi saat ini ia mulai menyukai pria yang akan menjadi suaminya, tapi ia ragu dengan dirinya sediri, apa dia sudah bisa menjadi istri yang baik untuk Andra, sementara dia sendiri masih terlalu muda, pikirnya.
Andra memperhatikan Alya yang sejak tadi hanya diam, ia bingung kenapa Alya tidak juga menjawab pertanyaan orangtuanya tadi.
Jangan-jangan Alya mulai ragu untuk menikah dengannya, pikir Andra.
"Alya? kok kamu malah bengong sayang?" tanya Melisa pada putri satu-satunya itu.
Alya tersentak, dan segera sadar dari lamunannya tersebut.
"Maaf, tadi Alya malah melamun, Alya setuju kok, cuma agak ragu aja, kira-kira Alya bisa nggak ya jadi istri yang baik, karena Alya masih terlalu muda, takutnya nanti bikin Mas Andra repot lagi." Ujarnya dengan senyuman tipis.
Mereka semua tersenyum mendengar ucapan Alya barusan, sedangkan Andra bernapas lega, ia sempat berpikir kalau Alya mau menolak, ternyata ia saja yang terlalu cemas, batinnnya.
"Alya, kamu terlalu kepikiran hal yang sebenarnya gak perlu kamu terlalu pikiran sayang, tante juga dulu menikah sama papanya Andra waktu masih muda, meski nggak semuda kamu, tapi untuk masalah itu seharusnya Andra udah bisa lebih dewasa menghadapi kamu, kalau rumah tangga harus saling melengkapi, jadi kamu jangan merasa kamu sendirian, terus belum pantas segala macam, buang jauh-jauh pikiran seperti itu ya sayang.." Tutur Cinta pada calon menantunya.
"Tuh, dengerin kata calon mertua, udah nggak usah mikirin yang kesitu dulu, intinya kalian udah setuju kan," sahut Melisa.
"Kalau gitu kita udah sepakat ua semuanya, minggu depan adalah hari pernikahan Andra dan Alya ya, semoga acaranya berjalan lancar." tutur Rey, semua yang ada di ruangan itu terlihat bahagia, termasuk Alya dan Andra, keduanya terlihat ikut tertawa bersama, hal itu membuat Sabda dan Cinta merasa tenang, karena sepertinya Alya dan Andra sudah mulai saling menerima satu sama lain.
____________
__ADS_1
Author : Cerita ini akan cherry up santai ya, nggak nentu bisa seminggu lima kali, bisa juga dua hari sekali, karena kesibukan juga, jadi cherry bagi-bagi waktu up nya buat novel yang lain juga. sebisa mungkin cherry nggak mau bikin reader kecewa 😍😘
Makasih buat yang masih setia nunggu kelanjutan ceritanya ya...