THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
Sabda Cinta ~ Belum Pasti


__ADS_3

"Apa Dokter? jadi maksud dokter istri saya sedang hamil?" ucapnya dengan wajah berbinar bahagia.


"Saya belum bisa memastikannya Tuan, karena Nona masih harus melewati beberapa pemeriksaan lebih lanjut." jawab Dokter itu.


"Yasudah, kalau begitu segera pastikan, aku tidak suka menunggu." tuturnya dengan tegas.


Cinta menggeleng.


"Sabarlah.. lagipula memang harus diperiksa dulu, kalau USG harus ke rumah sakit, tidak bisa di rumah, bukan begitu dokter?" tanya Cinta memastikan.


Dokter mengangguk.


"Benar yang dikatakan Nona Cinta, tapi besok pagi, Nona bisa mengambil sample urine dan mengetesnya dengan alat tes kehamilan, Tuan Sabda bisa membelinya di Apotik." Terang Dokter itu lagi.


Sabda mengernyitkan kening.


"Apa kau tidak punya alat tesnya? kenapa aku yang harus membelinya?"


Cinta menajamkan matanya ke arah suaminya.


"Kalau kamu tidak mau membelinya, yasudah.. tidak perlu di periksa." tutur Cinta merasa sangat kesal.


"Bukan begitu sayang.. baiklah aku akan membelinya untukmu, jangan marah yaa.." Ucapnya.


"Kalau Tuan Sabda mau langsung USG juga bisa, silahkan datang ke rumah sakit, karena peralatan USG ada di rumah sakit, Tuan." tutur Dokter.


"Baiklah besok setelah mengetes dengan alat tes kehamilan, aku akan segera mengajak Cinta ke rumah sakit. sekarang tugas dokter sudah selesai, sudah boleh pulang." ucapnya tegas.


"Sabda, kamu antar dokternya keluar," pinta Cinta.


Sabda Menaikkan sebelah alis.


"Apa kamu butuh ku antar dok?" Tanyanya dengan pandangan tajam.


"Ti-tidak perlu Tuan, saya bisa keluar sendiri.." jawabnya ragu.


"Maaf ya Dokter atas sikap Sabda yang menyebalkan. terimakasih karena sudah mau datang.." tutur Cinta sambil tersenyum. Sabda membulatkan matanya, "Aku menyebalkan?" ucapnya pelan.


"Iya tidak perlu meminta maaf Nona, kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun akhirnya keluar dari kamar Sabda dan Cinta.


"Aku nggak suka kalau kamu seenaknya dengan orang lain, kenapa sih kamu nggak ada rasa menghargai sedikit saja, dokter itu kan sudah repot datang kesini, kenapa kamu malah ketus banget, biasakan bilang terimakasih dong." Ucap Cinta dengan raut cemberut.


Sabda menghela napas panjang.


"Maafin aku ya sayang, aku emang begini orangnya, tapi lain kali aku akan berusaha untuk nggak ketus lagi, jangan kesel ya, kasian bayi kita nanti ikutan kesel." ujarnya sambil menciumi perut Cinta yang nampak datar.


"Aku kan belum tentu hamil.." ucap Cinta dengan raut cemas, ia cemas kalau-kalau ternyata ia belum hamil, pasti Sabda akan merasa kecewa.


"Aku yakin kamu akan hamil sayang, kalau belum ya terus dicoba sampai berhasil, emangnya kamu mau coba buat lagi?" tanyanya menyeringai.


Cinta beringsut menjauh.


"Kamu jangan macem-macem deh, aku masih lemah.." jawabnya sambil menjauhi suaminya yang seolah tidak pernah bosan merayunya.


"Iya iya, aku nggak akan maksa kok, yaudah kamu istirahat ya, aku mau keluar dulu beli alat cek kehamilan, kamu tunggu di rumah sebentar ya sayang, aku langsung pulang kok.." ucapnya sambil mengecup puncak kepala istrinya yang masih terbaring.


"Iya, kamu hati-hati ya.."


Sabda pun akhirnya keluar dan menyalakan mesin mobilnya menuju apotik terdekat.


**


Sesampainya di Apotik terdekat.


Kasir : Maaf tuan mau cari apa?

__ADS_1


Sabda : Em.. saya mau beli alat tes kehamilan ada?


Kasir : ada tuan, mau yang merek apa?


Sabda : emang beda-beda ya? yang paling bagus dan paling akurat aja.


Kasir : Baik tuan, ini alatnya.. silahkan.


Sabda : ini udah ada petunjuk cara penggunaannya?


Kasir : Sudah tuan bisa baca di belakang kemasannya ya.


Sabda : oke ini uangnya.


Sabda menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.


Kasir : ini kebanyakan tuan, harganya hanya dua puluh lima ribu saja.


Sabda : Murah amat? bagus nggak nih? nanti hasilnya salah lagi!


Kasir : tidak tuan, hasilnya sama akuratnya. ada yang lebih mahal kalau tuan mau.


Sabda : yaudah yang mahal aja, lebih meyakinkan.


Kasir : Baik tuan, ini yang paling mahal harganya seratus delapan puluh ribu rupiah.


Sabda : yasudah yang itu saja, ini uangnya ambil saja kembaliannya.


dan Sabdapun pergi. namun ia kembali lagi.


Kasir : Ada apa tuan?


Sabda : tidak, saya lupa bilang terimakasih.


Kasir : Sama-sama Tuan..


**


Sesampainya di rumah, Sabda langsung menghampiri istrinya di dalam kamar.


Cinta terlihat sedang tidur dengan sangat nyenyak.


"Kamu udah tidur aja.."Ucapnya sambil merapikan anak rambut istrinya.


Cinta menyipitkan matanya dan tersadar kalau Sabda sudah pulang.


"Kamu udah pulang?" tanyanya lemah.


"Kamu tidur aja lagi, kalau masih mengantuk." tuturnya sambil mengecup kening Cinta.


"Enggak, aku udah nggak ngantuk, tiba-tiba aku pengen makan es krim rasa coklat." tuturnya yang tidak biasanya meminta sesuatu pada Sabda.


"Kok tumben kamu mau es krim ?" tanya Sabda tersenyum.


"Iya, nggak tahu tiba-tiba ingin.. kamu mau nggak belikan untuk aku?" tanya Cinta, setengah memohon.


"Emm.. kalau delivery aja gimana? aku baru aja sampe, masih kangen sama kamu suruh pergi lagi," tuturnya mencari alasan.


Cinta menggeleng.


"Nggak mau ! aku maunya kamu yang beli es krimnya.." Cinta mengerucutkan bibirnya.


Sabda menggaruk tengkuknya merasa heran, padahal sebelumnya Cinta nggak pernah meminta sesuatu sampai seperti ini. tapi karena ia tidak tega melihat wajah Cinta yang sepertinya memang sedang begitu ingin makan es krim, akhirnya Sabda pun mengiyakan dan segera pergi untuk membelikannya.


**

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Sabda yang tidak lama langsung mendapatkan es krim yang diinginkan Cinta, karena kebetulan ada penjual es krim yang lewat di depan rumahnya, lalu Sabda pun langsung memborong semua es krim rasa coklat.


"Sayang, ini es krimnya.. lihat.. aku beli banyak banget, semua yang rasa coklat aku beli aja buat kamu." tuturnya dengan wajah senang.


Cinta menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.


"Aku mual banget, aku mau ke toilet dulu.." Cinta pun dengan segera pergi masuk ke toilet dan ia pun menuntahkan isi perutnya lagi.


Sabda mengurut kening, ia bingung kenapa saat ini Cinta jadi agak aneh tidak seperti biasanya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya melihat wajah Cinta yang kembali pucat.


"Nggak apa-apa, aku kayaknya nggak bisa cium bau es krim, kamu taruh di dalam kulkas aja ya, aku nggak mau makan itu.." ucapnya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Sabda membulatkan mulutnya.


"Tadi kamu bilang mau es krim, kenapa sekarang malah nggak mau?" ia semakin merada heran dengan istrinya itu.


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau, kamu aja yang makan kalau gitu." tuturnya lagi dengan nada ketus.


"Kamu kenapa sayang.. kok malah marah sama aku.." Sabda menghela napas, ia tidak bisa marah dengan Cinta, ia lebih memilih mengikuti saja kemauan istrinya itu. ia segera pergi ke dapur untuk menarus es krim itu di dalam kulkas.


"Aku kenapa ya, kok pengennya marah-marah terus, mana mual bangeet kayak gini.." gumam Cinta pelan. ia masih tiduran diatas ranjang tempat tidurnya. seolah enggan untuk melakukan hal apapun.


Di dapur, Sabda mengambil segelas air putih, lalu ia meminumnya sampai habis.


"Cinta kok jadi agak aneh ya hari ini, tadi pagi pas mau di cium dia mual, terus barusan minta es krim, giliran di beliin malah nggak mau dan katanya mual juga nyium bau eskrim?" ucapnya yang tidak paham sama sekali.


Saat makan malam, Cinta dan Sabda duduk berdua di ruang makan.


Sabda membantu Cinta mengambilka makanan dipiringnya.


"Kamu makan yang banyak ya sayang, oiya aku udah beli alat tes kehamilan. katanya besok pagi bisa kamu coba.." ucapnya merasa tidak sabar melihat hasilnya.


Cinta tersenyum kecil.


"Iya, besok aku tes ya, tapi..." wajah Cinta mendadak murung.


"Kenapa sayang?"


"Kalau aku ternyata belum hamil, kamu pasti kecewa.." ucapnya merasa tidak yakin, karena saat dia telat datang bulan sebulan yang lalu, ia juga sempat mengecek diam-diam tanpa sepengetahuan Sabda, dan hasilnya negatif.


Sabda mennggenggam erat kedua tangan istrinya lalu mengecupnya.


"Aku nggak akan pernah kecewa karena hal seperti itu sayang, kamu jangan berpikiran macam-macam, kamu yakin aja, kalau Tuhan udah mempersiapkan yang terbaik untuk hamba-Nya yang mau berusaha, kita kan udah usaha, pasti nanti doa kita akan di kabulkan." tuturnya mencoba menenangkan istrinya. ia tahu kalau Cinta sangat sensitif untuk urusan ini.


"Makasih ya, karena kamu selalu sabar menunggu aku sampai hamil, aku juga ingin sekali memberikan kamu seorang anak yang lucu, dan juga memberikan cucu seperti yang diinginkan mama dan papa selama ini." tuturnya dengan wajah Sendu.


Sabda beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Cinta.


"Sabar ya, aku yakin sebentar lagi doa kita akan terkabul, sekarang lebih baik kita tidur ya, kamu pasti lelah." ucapnya seraya mengecup kening Cinta.


Cinta hanya mengangguk. namun Sabda langsung menggendong tubuh Cinta dan membawanya ke kamar.


"Sabda, aku bisa jalan sendiri, kamu nggak perlu gendong aku terus." ucapnya terkaget.


"Nggak apa-apa, aku seneng gendong kamu, kamu kurang makan ya? kok enteng banget." ucapnya tercengir.


Cinta tersenyum malu.


"Mendingan enteng daripada aku gendut terus berat, nanti kamu cari yang lain lagi.."


Sabda mengernyitkan kening.


"Mana mungkin, hati aku udah mentok sama kamu, nggak ada ruang buat yang lain, nggak ada niat mau ganti yang lain juga." tuturnya penuh keyakinan.

__ADS_1


Cinta terkekeh dan mengeratkan pelukannya, ia menenggelamkan wajahnya di dada Sabda.


"Iya deh.." jawabnya tersipu.


__ADS_2