
Hari kelulusan Alya..
Tidak terasa hari ini adalah hari kelulusan Alya, Alya berhasil mendapatkan prestasi yang cukup mengagumkan, ia mendapatkan nilau terbaik menjadi juara umum di sekolahnya, Mama dan Papanya juga sangat bangga terhadap Alya.
Hari ini semua keluarga berkumpul, keluarga Alya dan Andra, mereka semua memberikan ucapan selamat atas kelulusan dan pecapaian Alya.
"Selamat Alya atas pencapaian kamu, aku bangga banget, iamu ternyata pinter ya." Andra mengusap puncak kepala Alya, sambil menyunggingkan senyumnya.
"Makasih Mas, ini semua juga berkat doa semuanya, Mas Andra doain Alya juga nggak nih?" tegur Alya sambil tercengir.
"Doaku selalu memyertaimu sayang," celetuk Andra, berhasil membuat Alya bersemu.
"Ekhem!" Angel terbatuk, ia sejak tadi menguping pembicaraan abang dan calon istri abangnya itu.
"Apa sih kamu dek?" Andra mengacak rambut adiknya.
"Kalian berduaan aja, dipanggil tuh sama mama dan papa, katanya kita kumpul di rumah, kalian mau di nikahin tuh mungkin." Angel terkekeh meledek saudaranya.
"Kamu apa sih dek." sahut Alya malu.
"Hahhaha..."
Andra malah tertawa, lucu mendengar ucapan adiknya tadi.
"Ayo, udah jangan dengerin dia, yuk ke mobil." Ajak Andra.
"Alya!" seorang cowok datang menghampiri Alya.
Alya menengok ke belakang.
"Aldo?" ucapnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Aldo.
Alya melirik ke arah Andra.
"Aku tunggu di mobil ya," ucap Andra, ia dan adiknya pergi duluan ke tempat parkir mobilnya.
Alya mengangguk.
"Ada apa Al?" tanyanya pada Aldo.
Aldi terdiam sejenak.
"Tadi itu siapa?" tanya Aldo.
"Oh, dia seseorang kenalanku, kami dekat, ada apa Al?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Alya, aku mau ugkapin sesuatu sama kamu, nggak masalah kamu mau terika atau nggak, karena ini hanya ungkapan perasaanku aja, yang selama ini aku pendam sendiri." tutur Aldo.
Alya mendadak jadi gugup, kira-kira Aldo mau berkata apa, pikirnya.
"Iya, kamu ngomong aja Al, nggak apa-apa." sahut Alya.
"Aku sebenarnya, suka sama kamu, udah sejak kita masih berada di kelas sepuluh, tapi aku nggak berani ungkapin, karena aku dengar kamu susah di dekati oleh cowok manapun, aku juga jadi takut kalau kamu malah jadi jauhi aku kalau tahu perasaanku, tapi sekarang kita udah lukus, mungkin setelah ini kita bakalan jarang ketemu, aku cuma nggak mau mendam perasaan ini lagi, supaya hatiku lega kalau udah ungkapin ke kamu, Alya." tutur Aldo.
Alya terdiam, ia kaget saat Aldo mengatakan hal itu padanya, ternyata Aldo akan mengutarakan perasaan suka, yang ia tidak pernah duga sebelumnya.
Ia tidak mungkin menerima cinta Aldo, karena ia sudah terlanjur menerima perjodohan dengan Andra, lagipula ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Aldo, ia hanya menganggap Aldo sebagai seorang teman saja, tidak lebih.
"Al, aku sangat berterimakasih karena kamu udah menyukai aku, maaf karena aku tidak pernah menyadari hal itu, aku baru tahu saat ini, kalau kamu nggak bilang mungkin aku nggak akan pernah tahu, aku juga menyukai kamu, kamu baik, kamu juga hebat, tapi maafin aku,aku suka kamu cuma sebagai teman, tidak lebih, aku harap kamu nggak marah ya,aku hargai perasaan kamu, semoga setelah ini, kamu akan dapatkan perempuan yang juga bisa membalas perasaan kamu, Aldo." jawab Alya, ia tidak mungkin memberi harapan walau hanya sedikit, pikirnya.
Tentu saja ada rasa kecewa di hati Aldo, karena sedikitnya ia berharap Alya mau menerima perasaannya, tapi ia mengerti kalau itu tidak bisa dipaksakan, ia mencoba tersenyum walaupun rasanya sakit.
"Iya, Alya, nggak apa-apa kalau memang kamu nggak bisa nerima perasaanku, aku udah cukup lega karena udah ungkapin semuanya ke kamu, tapi aku harap kita masih bisa beteman ya, aku selalu dukung kamu, Alya." tuturnya sambil mengulurkan tangan.
Alya menyambut uluran tangan Aldo.
"Pasti, kita masih tetap berteman kok, aku juga akan selalu dukung kamu, kamu harus semangat yaa.." sahut Alya.
"Iya.." Aldo melepaskan genggaman tangannya, ia membuang napas pelan.
"Maaf Al, aku harus pulang, keluarga aku udah nunggu, aku pulang dulu ya..." Alya tersenyum pada Aldo.
"Iya, kamu juga ya..." Alya melambaikan tangannya.
Aldo pun berpaling, ia berjalan berlawanan arah dengan Alya, ia menyentuh dadanya yang rasanya sangat sakit, ternyata Alya tidak bisa membalas perasaannya, tapi apa boleh buat, itu sudah menjadi jawaban Alya.
Alya juga sejujurnya merasa tidak enak pada Aldo, ia tahu Aldo pasti kecewa, tapi ini semua harus ia lakukan.
"Maafin aku, Aldo." gumamnya.
Alya masuk ke dalam mobil Andra, disana Andra sudah menunggunya sejak tadi, sedangkan adiknya Angel pulang ikut di mobil papa dan mamanya.
"Maaf Mas jadi nunggu lama ya." ucap Alya sambil mengenakan seatbelt.
"Nggak apa-apa, tadi itu teman kamu?" Andra melajukan mobilnya.
"Iya.." jawab Alya.
Andra fokus menatap jalanan, ia sejujurnya merasa penasaran sebenarnya apa yang di bicarakan oleh Alya dan cowok tadi.
"Dia bicara apa aja sama kamu?" tanya Andra.
"Mas kepo ya?" cengir Alya.
__ADS_1
Andra terkekeh.
"Iya nih, kepo pake banget." jawab Andra.
Alya pun ikut terkekeh.
"Kamu habis di tembak ya sama cowok tadi?" tebak Andra.
Alya menatap Andra, matanya membulat sempurna.
"Kok tahu?" ucap Alya.
"Eh beneran ya? padahal aku cuma asal tebak aja." jawab Andra.
Alya tertunduk.
"Iya, dia tadi ungkapin perasaan dia sama aku." tutur Alya jujur.
"Terus kamu tolak kan?" sahut Andra, tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Kok berhenti mas?" tanya Alya.
"Kamu jawab dulu, kamu nolak dia kan?" tanya Andra lagi.
"Memang mas maunya aku terima?" tanya Alya malah bertanya balik pada Andra.
Andra sontak melepas seatbelt yang ia kenakan, lalu mendekati Alya, ia menatap wajah Alya yang terkejut, semakin dekat hingga akhirnya ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Alya.
Alya membulatkan matanya, ia bergeming, kaget mendapati ciuman tersebut.
Alya tidak merespon ketika Andra menyesap bibir bawahnya, tapi la kelamaan ciuman itu membuat Alya gemetaran, sekujur tubuhnya terasa panas, hingga tanpa sadar ia memejamkan matanya, lalu bibirnya mulai terbuka, memberi respon hingga keduanya berpagut.
Andra segera tersadar kalau mereka sedang berada di mobil.
Ia segera melepaskan ciuman itu.
"Maaf." Andra mengatur napasnya, ia memasang kembali seatbelt, alu mulai mengendara lagi.
Sedangkan Alya masih kaget, ia hanya diam, pipinya masih terasa panas, seluruh tubuhnya juga gemetaran, keduanya malah terdiam, tidak saling berbicara.
____________
Author : Maaf untuk The heirs aku nggak bisa rutin up ya, nunggu keadaan stabil dulu, 🙄 supaya cherry nggak drop 😁 karna harus up novel lain juga.
Tapi cherry usahakan up kok sampai tamat, walau gak setiap hari aku up ya. 🥰 jangan lupa baca karyaku yang lainnya ya.. 😉
Kalau kalian ada koin boleh berikan tip untuk aku yaa 😁🙈🙉
__ADS_1