THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
The Heirs 02 - Obrolan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Alya kuliah di Universitas, ia sudah bersiap untuk pergi ke kampusnya, pastinya ia di antar oleh suaminya, Andra.


Kemarin juga keduanya sudah berkunjung ke rumah orangtua mereka, terjadi beberapa perbincangan yang membuat Alya dan Andra terkejut.


Mama dan Papa Alya ingin kalau Alya tidak menunda kehamilan, sedangkan Mama dan Papa Andra tidak menuntut masalah itu, karena mereka tahu kalau Alya masih terlalu muda untuk hamil, Andra sendiri tidak memikirkan hal itu, baginya kehamilan itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan, jadi jika kehamilan itu terjadi maka kita harus bersyukur, dan jika belum maka kita harus banyak bersabar.


Sedangkan Alya hanya tertegun sambil memikirkannya terus menerus, ia sendiri tidak menutupi keinginannya untuk hamil, tapi usianya masih terlalu muda ia juga ada ketakutan yang menghinggapi pikirannya.


"Sayang, kamu udah siap?" tanya Andra.


Alya terkejut, ia tadi sedang melamun, tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara Andra yang memanggilnya.


"Iya, aku udah selesai kok," jawabnya sambil menghampiri Andra.


Andra sedang berdiri di depan pintu sambil menunggu Alya, "maaf ya nunggu lama," ucap Alya.


Andra tersenyum simpul, "enggak kok, aku cuma takut kamu telat aja, kamu cantik banget, aku jadi cemas nanti kalau ada yang naksir kamu gimana ya?" ucapnya sambil mengelus pipi Alya, Alya pun mengelus punggung telapak tangan Andra, "mana mungkin, walaupun aku masih muda tapi aku enggak akan tutupin status aku sebagai seorang istri Kalandra," sahutnya.


Andra tertawa kecil, "untunglah kamu ngakuin aku, aku kira kamu mau ngaku masih single, pasti mereka semua enggak akan kepikiran kalau kamu udah nikah, istriku masih kecil, imut-imut gemesin..." Andra mencubit pelan pipi Alya.


"Ih kamu nih, aku bukan anak kecil," sahutnya sambil memcebikkan bibirnya.


Andra mengusap ujung kepala Alya, "iya iya, istriku dah dewasa, gitu aja ngambek, yuk jalan..." ajak Andra menggandeng tangan istrinya, Alya pun tersenyum membalasnya, "oke,"


Di perjalanan, Alya masih termenung, ia masih kepikiran ucapan mamanya yang meminta ia agar cepat hamil, Andra melirik ke arah Alya, sepertinya ia tahu kalau ada yang sedang mengganggu pikiran istrinya itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Andra.

__ADS_1


Alya menoleh sambil tersenyum kecil, "aku? enggak apa-apa kok."


Andra masih fokus menyetir, ia tahu pasti Alya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu jangan bohong, aku bisa baca dari raut wajah kamu, kayak ada yang lagi kamu pikirin ya?"


Alya menghela napas panjang.


"Hmmm.. iya sebenarnya sejak dua hari lalu kita ke rumah Mama dan Papaku, aku itu kepikiran terus, jadi nggak fokus aja," ucapnya berterus terang.


Andra mengernyitkan keningnya, "apa yang bikin kamu kepikiran? karena mama dan papa minta agar kamu enggak menunda kehamilan?" tanya Andra.


Alya menganggukkan kepalanya pelan, "iya,"


Andr mengusap pipi Alya, "sayang jangan di jadikan pikiran, maksud Mama dan papa hanya mengingatkan agar kamu tidak menggunakan alat kontrasepsi aja kok, tapi kalau aku pribadi nggak menuntut kamu, lagipula untuk apa terburu-buru, kamu juga masih fokus kuliah, aku enggak masalah sama sekali, lalu kenapa kamu malah kepikiran? nanti kamu malah nggak fokus kuliah, kalau memikirkan hal itu," tuturnya.


"Sayang, kok kamu malah bengong?" tanya Andra saat melihat Alya terdiam saja sejak tadi.


Alya menoleh ke arah suaminya, "iya, aku lagi mikir kalau ucapan kamu bener, aku seharusnya nggak jadikan itu sebagai beban, kalau Tuhan kasih kita kepercayaan maka itu berarti kita sanggup, kalau ternyata belum kita harus bersabar,"


Andra tersenyum bangga, ternyata Alya cepat bisa menangkap maksud ucapannya tadi.


"Gitu dong, istriku harus semangat, semua itu biarkan mengalir aja, jangan di jadikan beban, seolah kamu di tuntut harus hamil, aku enggak akan seperti itu, kamu tenang aja," ucap Andra.


"Iya sayang, makasih ya, karena kamu mau ngertiin aku, aku seneng banget, nanti kalau aku hamil anak kita cewek pasti mirip aku, terus kalau cowok mirip siapa ya?" ucapnya sambil tercengir.


Andra mengernyitkan kening, "mirip siapa? pasti mirip akulah sayang, ngaco kamu!"

__ADS_1


"Hahahaa..."


Alya terkekeh, "iya sayang, aku cuma becanda, pasti mirip kamu dong, papanya yang paling ganteng." sahutnya.


Andra ikut tertawa, "pasti lah, lucu banget pasti, tapi kamu dan aku harus sabar, menunggu moment itu, karena hanya Tuhan yang tahu, kapan waktu yang paling tepat untuk kita bisa memiliki anak, oke sayang,"


Alya mengangguk, "iya sayang, aku ngerti,"


Tidak terasa mereka sudah sampai di Universitas Kedokteran tempat Alya akan kuliah, Andra mematikan mesin mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Sayang, aku masuk dulu ya, makasih udah anterin aku, aku pasti kangen sama kamu," ucap Alya sambil menggenggam tangan Andra.


Andra tersenyum, lalu mengecup kening, hidung, kedua pipi dan terakhir bibir Alya.


"Iya, kamu belajar yang rajin ya, aku juga harus ke kantor, tapi aku bakalan jemput kamu pulang kuliah, aku juga pasti bakalan kangen sama kamu,"


Alya memeluk suaminya erat, "kamu jangan genit sama sekertaris kamu di kantor ya, kalau aku libur, aku mau ke kantor kamu juga kenalan sama karyawan kamu, pasti mereka cantik-cantik,"


Andra tertawa mendengarnya, "mana mungkin sih, kamu yang paling cantik di mata dan hatiku, kamu boleh ke kantorku kapan aja, oke sayang..."


Alya mendongakkan wajahnya, "janji?"


Andra tertawa lagi, "istriku ternyata cemburuan, lucu banget," sambil mengecup sekilas hidung Alya.


Alya melepaskan senyumannya, kemudian mengecup punggung tangan Andra.


"Iya aku percaya kamu, yaudah aku masuk dulu ya..."

__ADS_1


Andra melambaikan tanganyaa, Alya pun segera masuk ke kampusnya.


__ADS_2