THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
Sabda Cinta ~ AKHIR


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


"Sayang, aku kok mules ya?" ucap Cinta, ia terus memegangi perutnya yang sudah membesar, usia kandungan Cinta memang sudah menginjak sembilan bulan.


Sabda terkejut ketika melihat Cinta mengeluh kesakitan.


"Kenapa sayang? kamu sakit perut? sebentar aku panggil mama dulu." ucapnya sambil berlarian, mencari mamanya.


"Ma.. Mama.." Sabda terus memanggil mamanya.


"Ada apa Sabda? kamu kok teriak-teriak gitu?" ucap Delia, ikut panik.


"Ma, Cinta Ma.." Sabda terengah, berusaha mengendalikan napasnya.


"Cinta kenapa?!" Delia menggoyangkan tubuh puteranya itu.


"Ma, Cinta mules-mules ma," ucap Sabda.


"Ya Tuhan," tanpa pikir panjang, Delia langsung berlarian menghampiri Cinta.


Di kamarnya, Cinta masih terus merintih merasakan perutnya yang semakin mengencang, peluhnya bercucuran di dahi dan seluruh tubuhnya, hingga membuat baju Cinta basah.


"Sayang, kamu udah mules?" tanya Delia, ia menyentuh perut Cinta yang semakin mengencang saja.


"Astaga, perut kamu udah kencang sekali sayang, kita ke rumah sakit sekarang." ujar Delia, sementara Sabda terlihaymt panik, ia malah mondar mandir di depan kamar Cinta.


"Sabda! kamu kenapa malah mondar-mandir sih! cepetan gendong Cinta, bawa ke mobil!" perintah Delia, ia juga sejujurnya panik, karena sudah lama sekali ia belum melihat lagi orang yang mau melahirkan.


"Sayang, aku gendong ya, kamu tenang ya sayang, tahan." ucap Sabda, ia tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya menuruti aba-aba dari mamanya saja.


"Sayang, sakiit.." pekik Cinta, ia terus merapatkan giginya, terlihat sudah tidak tahan lagi, ingin segera mengejan.


"Sayang tahan ya nak, jangan mengejan dulu." tutur Delia.


"Sabda! nyetirnya yang cepat dong!" Delia setengah berteriak.


"Iya Ma, ini juga udah cepat banget Ma!"


"Lebih cepat lagi Sabda!"


Sabda pun mempercepat laju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Sabda segera menggendong Cinta yang masih terlihat kesakitan, ia kebingungan mencari dimana keberadaan dokter.


"Dokter!" panggil Sabda, ia mencari keberadaan dokter, tapi tidak menemukannya.


"Tuan silahkan disini," ucap salah satu perawat yang dengan sigap memberikan kursi roda kepada Cinta, ia segera membawa Cinta ke ruang bersalin.


"Sabda! Kamu kenapa malah bengong! Masuk temani Cinta, ini adalah pengorbanan dia! kamu harus menghargainya." ucap Delia, pada anak satu-satunya itu.


"Iya Ma," Sabda pun segera masuk ke dalam kamar bersalin, ia berdiri di samping Cinta, sambil menggenggam tangannya dan mengecupnya lembut.


"Sayang, kamu sabar ya.. sebentar lagi anak kita akan lahir sayang.." ucapnya mencoba menenangkan Cinta.


"Sakit.. aku nggak kuat." ucap Cinta masih terus merintih kesakitan.


"Dokter! cepetan dong, bisa nggak sih menangani istri saya? lihat dia udah kesakitan seperti ini! saya nggak mau istri saya kesakitan!" teriak Sabda pada Dokter yang ada di ruangan itu.


"Sayang jangan gitu." tutur Cinta lemah.


"Sayang, aku nggak tega." Sabda terlihat memerah, ujung matanya bahkan mengeluarkan airmata.


"Sayang jangan nangis, aku nggak apa-apa." ucap Cinta sambil mengelus pipi Sabda.

__ADS_1


"Tuan Sabda, harap tenang ya, nona Cinta sudah pembukaan delapan, sebentar lagi nona Cinta boleh mengejan, kalau sudah bukaan lengkap." tutur Dokter wanita yang ada disitu.


Sabda menghapus airmatanya yang masih jatuh. ini kali pertama dia menangis sebagai seorang laki-laki.


"Sayang kamu kuat ya, aku ada disini untuk kamu, kita hadapi sama-sama, demi Lovey sayang.." ucap Sabda, sambil mengecup lemah kening Cinta.


"Iya, aku kuat sayang." jawab Cinta, ia pun sudah menangis sejak tadi.


Beberapa saat kemudian, Dokter memeriksa kembali keadaan Cinta, dan ternyata sudah pembukaan lengkap.


"Tuan Sabda, nona Cinta sudah pembukaan lengkap, nona sudah boleh mengejan, nona ikuti arahan saya ya.." kata Dokter itu.


Cinta dan Sabda mengangguk.


Selama beberapa saat Cinta terus berusaha menahan rasa sakit, mengejan sekuat tenaga, di bantu oleh Sabdayang selalu menguatkannya di sisinya.


"Sayang ayo sayang, kamu bisa, kamu kuat."


Demi apapun, Sabda tidak akan pernah lupa perjuangan istrinya saat itu.


"Aaaaaaaahh.." Cinta melenguh sekuat tenaga, hingga akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar.


"Sayang.. anak kita.." Sabda merasa sekujur tubuhnya sangat lemah hingga ia tersungkur jatuh ke lantai. ia berpegangan ranjang tempat melahirkan istrinya tadi, airmatanya bercucuran, ia merasakan kelegaan sekaligus haru.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" dalam keadaan lemah, Cinta masih bisa bertanya keadaan suaminya.


"Aku bahagia sayang."


Sabda mengecup lembut kening Cinta.


"Terimakasih sayang, kamu telah melahirkan anakku, anak kita, lihat dia sangat tampan sekali." ucap Sabda sambil menatap wajah anak laki-lakinya yang masih merah.


Cinta menangis, merasa sangat terharu.


"Tuan, saya akan memandikan bayinya terlebih dahulu, sementara nona Cinta akan dipindahkan ke ruang rawat. silahkan Tuan Sabda menunggu dulu di luar." ucap Suster yang ada di ruangan itu.


"Sayang, aku keluar dulu ya.." ucap Sabda sambil mengecup lagi kening Cinta.


Cinta hanya mengangguk saja.


Di luar ruangan terlihat Delia yang masih cemas menunggu Sabda.


"Sabda! gimana Cinta?" Tanya Delia tidak sabar.


"Cinta baik-baik saja Ma, anak Sabda sudah lahir Ma, Mama punya cucu laki-laki." ucap Sabda sambil memeluk mamanya itu.


"Sayang.. selamat ya, kamu sudah menjadi Ayah, Mama terharu sayang.." Delia pun terlihat tak kuasa menahan haru hingga menangis.


Tiba-tiba Pramana datang berlarian menyusul Delia.


"Papa?"


"Sabda! dimana cucu ku?" tanya Pramana.


"Tenang Pa, cucu laki-laki Papa sedang di mandikan."


"Benarkah? Astaga.." Pramana memeluk tubuh putranya.


"Selamat kamu sudah menjadi Ayah." tutur Pramana.


"Iya Pa, Sabda terharu melihat perjuangan Cinta menahan rasa sakit." tutur Sabda, lagi-lagi ia menangis.


"Kamu harus selalu ingat perjuangan istri kamu, Mamamu dulu juga sama, saat melahirkanmu." tutur Pramana sambil menepuk pundak anaknya.

__ADS_1


"Mama, terimakasih banyak, Maafkan Sabda yang seringkali mengecewakan Mama." Sabda memeluk Delia, ia merasa seringkali membuat Ibunya kesal.


"Mama sudah memaafkan kamu sayang, yang terpenting saat ini kamu harus bisa menjadi Ayah yang baik untuk Anak kamu." tutur Delia, Sabda hanya mengangguk.


Setelah itu Sabda dan orang tuanya menemui Cinta yang sedang menggendong bayinya di pelukannya. bayi itu terlihat tenang, dan tertidur.


"Sayang.."


"Mama, Papa," Cinta tersenyum bahagia.


"Ini cucu mama," Delia mengambil alih bayi itu, lalu menimangnya.


"Pa, cucu kita Pa."


" Anak yang tampan."


Pramana mengusap lembut kening bayi mungil yang ada di gendongan istrinya.


"Sayang, kamu mau kasih nama bayi kita apa?" tanya Cinta pada suaminya.


"Kalandra." ucao Sabda tegas.


"Kalandra Pramana." tambahnya lagi.


"Bagus sayang namanya, aku suka."


"Nama yang bagus Sabda." Pramana setuju.


"Cucu Oma, Kalandra." ucap Delia masih merasa Haru.


Sabda memeluk tubuh Cinta sambil mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Sayang, Aku Cinta Kamu.."


Sabda mengecup bibir Cinta sekilas.


"Aku juga Cinta kamu Sayang.."


Mereka pun merasakan keharuan yang kian menyeruak.


Akhirnya Sabda berhasil menemukan Cinta sejatinya.


Hingga merekapun hidup berbahagia.


Sampai maut memisahkan Mereka berdua.


TAMAT


_____________


hallo semuanya, dengan berat hati Cherry menamatkan cerita ini ya..


Karena kesibukan Cherry yang tidak bisa membuat cerita ini jauh lebih panjang lagi.


Terimakasih untuk kalian yang sempatkan waktu membaca cerita Sabda Cinta.


Semoga tidak kecewa karena endingnya di percepat ya.


Kalian bisa baca karya Cherry yang lainnya juga ya..


Sekali lagi Terimakasih Banyak yaa untuk dukungan kalian.


Cherry sayang kalian semua 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2