
"Sayang, kamu dimana?" Sabda mencari-cari Cinta di kamarnya.
"Apa sih? aku tuh tadi buru-buru mau ke kamar mandi sayang, Andra kira-kira bakalan nangis nggak ya? aku kok nggak enak sama mama dan papa ya, takut ngerepotin." tutur Cinta pada suaminya.
Andra tersenyum kecil sambil mengelus pipi Cinta.
"Kamu santai aja sayang, mama kan pasti lebih pengalaman ngurus anak, kalau masalah merepotkan kurasa nggak mungkin mama dan papa merasa repot sayang, mereka kelihatan kangen banget sama Andra gitu." Sahut Sabda.
"Hm, gitu ya.. iyadeh kalau gitu aku mau tiduran deh, rasanya badan aku pada sakit semua sayang." ucap Cinta sambil memijat bahunya sendiri.
"Kamu tiduran deh sayang, biar aku yang pijitin kamu,"
"Nggak usah sayang, nanti malah kamu yang capek kalau mijitin aku, aku nggak apa-apa kok, cuma butuh istirahat aja."
"Udah kamu tenang aja, yuk buruan kamu tiduran biar aku pijitin kamu."
Cinta tidak bisa menolak lagi, ia akhirnya duduk merentangkan kakinya, kemudian perlahan Sabda mulai memijatnya.
Cinta terdia sambil merasakan pijatan suaminya.
"Kamu pinter mijat sayang, nggak sangka aku." Ucap Cinta sambil tersenyum kecil.
"Apapun aku bisa kalau untuk kamu."
Sabda mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta.
"Kita belum nerusin yang tadi sempat ke pergok sama papa dan mama." Sabda menatap lekat dua mata Cinta.
Cinta tersenyum mengangguk.
Sabda pun ikut tersenyum, kemudian ia mendaratkan ciuman di bibir Cinta, perlahan menyesap lembut rasa manis yang seakan menjadi candu untuknya.
Sabda beralih menciumi ceruk leher Cinta memberikan gigitan kecil membuat Cinta memejamkan matanya sambil meringis kecil.
"Sakit?" Sabda menghentikan gigitan kecilnya tadi.
"Enggak, lanjutin." ucap Cinta membuat Sabda tertawa kecil.
__ADS_1
Ia membaringkan tubuh Cinta, menyibak helai rambut yang menutupi sebagian mata Cinta, ia kecup lembut kening itu beberapa saat.
"Kamu cantik sayang." bisiknya sambil kembali mencium bibir merah Cinta, keduanya saling berpagut, Sabda mulai memainkan ujung lidahnya, melilitkannya hingga terasa ke rongga mulut Cinta, membuat napasnya sedikit tercekat.
"Emmh.."
Cinta mengambil napas sejenak.
Gerakan Sabda semakin memburu, ia membuka kancing baju istrinya hingga tersisa pakaian dalamnya saja.
"Sayang, kalau Andra tiba-tiba rewel gimana?" ucap Cinta sambil tercengir.
"Nggak akan, kamu jangan mikirin itu dulu, kamu nggak kasian sama aku sayang, katanya luka kamu udah nggak terlalu terasa kan?" tanya Sabda sambil menelusupkan tangannya kedalam bra yang di kenakan Cinta.
"Ah.." Cinta mengerang merasakan sentuhan Sabda.
"Iya udah kamu lanjutin deh," ucap Cinta sambil menahan sensasi sentuhan suaminya.
"Jangan ditahan sayang, lepasin aja.." Sabda memaikan tangannya menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya, ia masih ingin berlama-lama bermain, namun ia juga cemas kalau di tengah jalan Andra malah mencari Cinta, jadi ia mempercepat gerakannya, saat Cinta sudah mulai mencapai puncaknya.
"Udaah ahh sayang.." Cinta melenguh sambil menggeliat.
"Sayang jangan di buang di...." belum selesai Cinta berbicara, Sabda sudah terburu-buru membuangnya.
"Aaahh.. maafin aku sayang, kelepasan." ucap Sabda sambil membarinhkan tubuhnya di sisi Cinta.
Cinta segera berlarian ke kamar mandi membersihan dirinya, Sabda menggaruk kepalanya, ia benar-benar lupa kalau ia dan Cinta sepakat untuk melakukan senggama terputus agar tidak terjadi kehamilan, karena Cinta enggan menggunakan KB.
"Astaga, Cinta pasti marah banget nih, gue **** banget sih! kok bisa sampai kelepasan gitu." gumamnya merasa menyesal.
Beberapa saat kemudian Cinta keluar dari kamar mandi, ia segera memakai pakaian tidurnya.
"Sayang.." Sabda mencoba berbicara pada Cinta.
"Kamu mandi sana." ucap Cinta mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya, aku mandi dulu deh." Sabda pun bergegas pergi mandi.
__ADS_1
"Tuhan, kalau sampai Andra punya adik lagi gimana? kan Andra masih kecil." Cinta berbicara dalam hatinya.
Cinta bukannya tidak ingin memiliki anak lagi, ia hanya merasa ingin fokus membesarkan Andra dulu, minimal sampai Andra sudah bisa menjaga adiknya sendiri.
Sabda keluar dari kamar mandi, ia pun sudah mengenakan pakaian tidur.
Sabda melihat Cinta yang sedang terbaring membelakangi dirinya.
Ia segera menghampiri Cinta, mengusap lembut puncak kepala Cinta kemudian mengecupnya.
"Sayang, maafin aku ya.. tadi aku nggak bisa kontrol jadi kelepasan." ucap Sabda terdengar benar-benar menyesal.
"Nggak kok, bukan salah kamu, memang sebaiknya aku ikut KB saja deh." ucap Cinta, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.
"Sayang kalau kamu nggak mau KB nggak usah Kb lah sayang." Ucap Sabda masih menyesal, meskipun ia akui merasakan senggama yang normal itu lebih nikmat dibanding senggama terputus.
"Aku cuma kasian sama Andra, takutnya dia nggak puas merasakan kasih sayang dari mama dan papanya."
Cinta tertunduk ia mulai merasa kepikiran.
"Sayang, Tuhan pasti selalu punya rencana yang terbaik untuk kita, jadi kalaupun kamu hamil kamu nggak perlu mencemaskan apapun, toh kamu hamil karena suami kamu sendiri kan sayang. " Sabda mengecup lembut kening Cinta.
"Hmm iya sih, yaudah aku nggak akan kepikiran lagi." Cinta tersenyum kecil.
"Kalau gitu, boleh ya di buang di dalam lagi?" Sabda terkekeh sambil mencubit hidung Cinta gemas.
"Awas aja kamu ya, kamu pasti sengaja nih." Cinta mencebik merasa kesal.
"Nggak sayang, aku beneran kelepasan tadi, abisnya nggak nahan. tapi jujur enakan di dalem." bisik Sabda..
Cinta memukul pelan tangan Sabda, Sabda mengaduh sambil tertawa, lalu keduanya saling memeluk satu sama lain.
____________________
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya. VOTE nya ke novelku yang judulnya My Husband Is Cold aja ya. 😘😘