
"Gimana Alya? dia masih pingsan?" tanya Rangga.
"Alya itu pacar kamu Ndra?" sambung Letisha.
"Bukan Sha, Alya masih belum sadar, dia kayaknya nggak bisa minum, pasti dia baru pertama kali minum alkohol." sahut Andra.
"Sayang, Alya itu bukan pacar Andra, tapi dia itu calon istri Andra." Rangga memberitahu istrinya.
"Astaga, dia kayaknya masih remaja ya? imut banget wajahnya Ndra, beruntung banget kamu dapat daun muda." sahut Letisha.
"Udah, gue mau nenangin diri dulu, gue mau minum haus."
"Alya jangan ditinggal Ndra, nih lo bawa minum, terus temenin Alya di dalem, masa sendirian." ucap Rangga.
"Tapi jangan di apa-apain loh anak orang , masih kecil lagi dia, belum sah inget, dosa." celetuk Letisha lagi.
"Karena itu gue nggak mau ke dalem, lo aja Sha tolong, iman gue tipis, sumpah." Andra memijat keningnya, ia teringat saat Alya mencium bibirnya secara tiba-tiba.
"Ih, sorry Ndra, anak gue nyariin, udah lo temenin aja, lo tahanin deh tu iman,"
"Hahah udah Ndra, masuk sana, gue yakin iman lo mah kuat," Rangga dan Letisha malah terkekeh.
"Sialan lo berdua, yaudah gue masuk deh."
"Inget Ndra, kuatkan iman." Rangga masih meledek Andra.
"Astaga, gue nggak mau sampe terjadi apa-apa sama tuh bocil, kalau ada apa-apa bisa di salahin gue sama bokap nyokapnya." gumam Andra sambil memutar gagang pintu.
Saat ia masuk, ia melihat Alya masih tertidur, tapi dalam keadaan tidak mengenakan selimut, selimutnya jatuh ke lantai, mungkin saja Alya sempat menggeliat saat tidur, sehingga selimutnya sampai berantakan.
"Ya Tuhan, ini anak bener-bener deh, Nyebut gue, itu baju sampai tersingkap gitu, gue nggak liat susah mau benerinnya, kalau lihat gue kurang ajar namanya," ucap Andra saat melihat dress bagian bawah Alya tersingkao sehingga menampakkan paha mulus Alya.
"Gue nyebut, maaf Alya aku nggak sengaja, cuma niat benerin aja." gumamnya sambil membenarkan dress Alya yang tersingkap.
Andra benar-benar sekuat tenaga menahan keinginannya saat itu, ia hanya lelaki normal, yang memiliki ketertarikan terhadap hal itu, terlebih Alya dalam keadaan tidak sadar, tapi Andra berusaha menjaga kesucian Alya, ia tidak sebejat itu, bahkan sejak ia remaja sudah banyak wanita yang sukarela ingin menyerahkan tubuhnya untuk Andra, tapi Andra tidak tertarik, hanya saja Andra merasa berbeda, ketertarikan itu seolah berkali-kali lipat lebih besar kepada sosok Alya.
"Tahan Andra, lo pasti bisa, udah gue tidur di sofa ajalah, oiya gue sampai lupa kasih kabar orang tua Alya, sebaiknya gue telpon dulu deh."
Andra pun menelpon orang tua Alya, menjelaskan keadaan Alya, awalnya orangtua Alya merasa cemas dan kaget, tapi setelah Andra menjelaskan, akhirnya mereka mengerti dan mengijinkan Andra menjaga Alya malam ini, meskipun ia harus berbohong sedikit, karena ia tidak mungkin bilang kalau dirinya tidur dalam satu kamar malam ini.
Andra membuka jassnya, kemudian membuka beberapa kancing kemejanya, ia membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Ia memandangi wajah Alya yang sedang tertidur, rasanya entah kenapa ia ingin bisa tidur di samping Alya, tapi akhirnya pikiran itu harus di hilangkan juga, karena tidak mungkin kalau ia tidur bersama dengan Alya.
"Gue kenapa jadi gini ya? perasaan waktu pertama kali di kenalkan dengan bocil ini, gue nggak sreg karna umurnya yang masih kecil, jauh dibawah gue, terus kenapa sekarang gue maunya sama ini anak terus ya?" gumamnya dengan tidur menyamping, sambil memperhatikan Alya.
Tidak berapa lama iapun ikut tertidur.
***
__ADS_1
Pagi harinya..
Alya menyipitkan mata, ia menyentuh kepalanya yang masih agak sedikit pusing, ia mengingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya, dilihatnya sekelilingnya, Alya terkejut saat tahu ia sedang tidur di hotel.
Alya menyentuh tubunya dan ternyata ia masih mengenakan pakaian lengkap, Alya pun bernapas lega.
Ia menyibak selimut, kemudian mencari dimana tasnya, tapi ia malah melihat Andra sedang tertidur pulas diatas sofa.
"Mas Andra?" decaknya.
Alya mengingat lagi apa yang terjadi semalam, ternyata ia baru sadar kalau semalam ia pingsan karena mabuk.
"Astaga!"
Alya menyentuh dahinya, saat ia ingat ketika mabuk semalam, Alya sempat mencium bibir Andra.
"Aku udah gila! kenapa aku malah cium dia!"
Alya tanpa sadar berbicara cukup keras, sehingga Andra terkejut dan bangun dari tidurnya.
"Astaga, ada apa Alya?" tanya Andra yang segera terbangun, langsung menghampiri Alya.
"Maaf Mas Andra, Alya malah bangunin tidur Mas Andra." ucap Alya merasa kehilangan muka, ia masih teringat kejadian semalam yang membuatnya malu setengah mati.
"Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak apa-apa kan? kepala kamu masih sakit?" tanya Andra sambil menyentuh dahi Alya.
"Mas Andra, soal semalam aku baru teringat, aku nggak tahu kenapa semalam aku mencium... ya Tuhan aku beneran minta maaf Mas, aku bodoh banget, teledor, ceroboh, aku kok bisa salah minum, maaf ya Mas, Alya udah bikin mas Andra susah."
Andra mengusap puncak kepala Alya, sambil tersenyum kecil.
"Kamu mabuk, jadi wajar kamu ngelakuin hal diluar kendalimu, untung saja semalam kamu cium aku, bukan nonjok mukaku, kalau nonjok mukaku, bisa-bisa aku kesakitan, kalau dicium sih aku senang." tutur Andra sambil tercengir.
Alya membulatkan matanya, ia kaget mendengar ucapan Andra barusan.
"Santai Alya, aku cuma becanda," tukasnya.
Wajah Alya sudah memerah, ia tidak mau menatap mata Andra lagi, karena ketika ia menatap dua bola mata indah itu, hanya akan membuat jantungnya berdebar-debar kencang saja batinnya.
"Kamu sebaiknya mandi dulu, aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu," ucap Andra.
"Hm, apa tidak membuat Mas Andra repot?" tanya Alya.
"Kedepannya aku akan terus bersamamu, belajarlah agar terbiasa, anggap saja kita sedang penjajakan, okey, ini tidak membuatku repot." sahut Andra sambil mencubit pipi Alya pelan.
Alya hanya tersenyum, pipinya bersemu merah muda.
"Iya Mas." jawabnya pelan.
Setelah itu Andra keluar mencarikan pakaian untuk Alya.
__ADS_1
Alya langsung masuk ke kamar mandi, setelah selesai mandi, ia mengenakan handuk, bermaksud untuk mengecek apakah Andra sudah mendapatkan pakaian ganti untuknya atau belum.
Tapi Alya malah kehilangan keseimbamgan dan terpeleset di kamar mandi. alhasil lututnya memerah karena terbentur lantai kamar mandi.
"Ahhh.. sakit..." rintihnya.
Andra mendengar suara rintihan Alya, langsung menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Alya kamu nggak apa-apa?" tanya Andra.
"Aku nggak apa-apa cuma kepelesey, lututku sakit Mas." jawabnya.
"Kamu bisa jalan?" tanya Andra lagi.
"Bisa kok Mas, sebentar." Alya berusaha bangun tapi pergelangan kakinya ternyata terkilir.
"Ahh..." rintihnya lagi.
"Alya aku masuk ya? kamu kenapa lagi?" tanya Andra mulai panik.
"Iya Mas masuk aja." ucap Alya karena dia sudah tidak bisa berdiri sendiri.
"Astaga!" decak Andra saat melihat Alya sedang tersungkur diatas lantai kamar mandi, hanya mengenakan selembar handuk, sehingga tampak jelas bahu Alya yang polos.
"Maaf aku nggak lihat kok!" ia menutup matanya.
"Nggak apa-apa Mas, kalau nggak lihat nanti mas kepeleset juga." sahut Alya.
Andra pun akhirnya membuka matanya, ia segera menggendong Alya.
"Kamu kenapa bisa sampai terpeleset?" tanya Andra sambil mendudukkan tubuh Alya di atas tempat tidur.
"Aku kehilangan keseimbangan, langsung jatuh Mas. maaf ya jadi ngerepotin." sahutnya sambil tertunduk.
"Kamu pakai baju dulu ya, itu udah aku minta sama Letisha, tadi dia kesini nganter baju itu, tapi pergi lagi."
"Makasih Mas."
"Setelah ganti pakaian aku bantu kamu obati kaki kamu yang terkilir, aku juga mau mandi dulu." sahut Andra.
"Iya Mas." jawab Alya.
Andra pun segera masuk ke dalam kamar mandi. seumur hidupnya baru kali ini dia merasa jantungnya berdegub kencang seperti ini, rasanya seperti mau meledak saja.
'Gue udah gila, lama-lama gue nggak tahan kalau seharian sama ni bocil, SHIT!'
_______________
bersambung.. 🙏
__ADS_1