
Hari ini adalah hari pernikahan Andra dan Alya, Andra sudah siap dengan stelan jas yang rapih, ia terlihat sangat tampan dan gagah.
"Sayang, kamu terlihat sangat tampan hari ini, Mama sangat bahagia karna akhirnya hari ini kamu akan menikah dengan Alya, Mama harap kamu juga bahagia ya sayang," ujar Cinta pada putra sulungnya itu.
Andra tersenyum, kemudian mengecup punggung tangan Mamanya.
"Andra bahagia Ma, Alya adalah gadis yang baik, dan Andra bersyukur karna Mama mengenalkan Alya pada Andra," ucapnya.
Cinta terharu mendengar ucapan putranya itu.
"Benarkah sayang? Mama sangat terharu kalau ternyata kamu sudah bisa menerima sepenuhnya perjodohan ini, Mama kira kamu dan Alya tidak saling suka," ucap Cinta sambil menyeka airmatanya.
"Mama jangan nangis, nanti Andra sedih, lagipula Alya gadis yang baik, untuk alasan apa Andra menolaknya, Mama tidak perlu cemas, Andra janji akan membahagiakan Alya." sahut Andra, keduanya pun saling berpelukan.
"Bang Andra, Papa dan yang lain udah nunggu diluar, katanya acaranya udah mau di mulai," ucap Angel.
"Oke dek," jawab Andra.
"Yuk kita keluar, Alya dan keluarganya pasti udah nunggu kita," ajak Cinta.
"Iya Ma,"
Di luar ruangan tersebut, semua tamu sudah berkumpul, begitu juga dengan keluarga Alya, tapi Alya sendiri belum ada disana.
"Andra, kamu duduk disini, pengantin wanitanya masih dandan dulu katanya," ucap Sabda memanggil putranya.
Andra tersenyum menawan, semua tamu undangan yang ingin menyaksikan Andra dan Alya mengikat janji suci pernikahan itu, terlihat terpesona menatap Andra.
"Ganteng banget pengantin prianya, beruntung banget yang jadi istrinya," ucap salah satu tamu undangan yang ada disana.
"Kamu harus fokus nanti pas ngucapin ikrar pernikahan, jangan sampai salah." ucap Sabda memberi semangat pada putranya.
"Iya Pa, udah siap," sahut Andra.
Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, pengantin wanita yang terlihat sangat anggun, dengan balutan kebaya tradisional berwarna putih, senada dengan warna jas yang di kenakan Andra.
"Astaga, cantiknya.." ucap Andra pelan, semua orang yang ada di ruangan itu juga bergeming melihat Alya, yang terlihat anggun dan sangat cantik itu.
__ADS_1
"Alya, sayang, duduk di sebelah Andra ya," ucap Cinta, Alya tersenyum tipis, "Iya," jawabnya.
Alya pun duduk di sebelah Andra, Andra melirik Alya sekilas lalu tersenyum, begitu juga dengan Alya.
"Kamu cantik," ucap Andra memuji gadis remaja yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Alya tersipu malu, "Makasih," ucapnya.
Kedua orang tua mereka juga terlihat sangat bahagia, melihat Andra dan Alya saling tersenyum, padahal awalnya mereka mengira kalau Alya dan Andra akan saling menolak satu sama lain, ternyata kalau jodoh memang tidak kemana, mereka sudah di takdirkan bersama.
"Kalandra Pramana, sudah siap?" tanya bapak penghulu yang ada di hadapannya.
"Siap," jawab Andra.
"Kalau begitu, kita mulai saja ya," ucap penghulu itu lagi.
"Baik," jawab Andra.
Setelah itu Andra dengan lantang mengucapkan ijab kabul, menandakan bahwa mereka berdua telah sah menjadi sepasang suami istri, suasana haru kian menyeruak di ruangan itu, Sabda dan Cinta, Rey dan Melisa, mereka semua merasa sangat bahagia, karena akhirnya hubungan persahabatan mereka kini telah bertambah dekat setelah mereka berbesanan.
Keduanya saling bertukar cincin, Alya terlihat sangat cantik, sampai membuat Andra tidak berkedip, "Ternyata istriku cantik banget," ucap Andra memuji istrinya.
Andra menyentuh tangan Alya, "Nggak usah malu, kan udah sah,"
"Tapi masih banyak orang ini Mas, malu.." sahut Alya.
Cinta dan Sabda tertawa kecil, "Dulu kita nggak kayak mereka sayang, kita pas nikah saling diem-dieman, inget nggak kamu?" ucap Cinta.
Sabda tersenyum tipis, "Inget aku, padahal aku mau bilang kamu cantik banget waktu itu, tapi gengsi." sahut Sabda.
Cinta memukul lengan suaminya, "Kamu mau gengsi terus," sahutnya.
Sabda terkekeh, "Tapi sekarang nggak kan, aku cinta kamu," ucap Sabda.
"Malu udah tua," sahut Cinta.
"Iya ya, sebentar lagi kita mau punya cucu,"
__ADS_1
Sabda dan Cinta keduanya terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Rey dan Melisa, mereka ikut bahagia melihat putri mereka satu-satunya sudah menjadi seorang istri, saat ini.
Alya mengecup punggung tangan Andra, yang kini sudah resmi menjadi suami sahnya, begitu juga Andra, ia mengecup kening Alya, menandakan bahwa saat ini Alya adalah miliknya.
"Mas akan menjaga kamu, semoga Mas bisa jadi suami yang baik untuk kamu," ucap Andra, sambil mengecup kening Alya dan membiarkannya bertahan lebih lama disana.
Alya meneteskan airmata haru, ia tidak menyangka kalau di usia yang masih sangat muda, ia sudah menjadi seorang istri, jantungnya berdebar hebat, ia malah membayangkan setelah ini apa yang akan ia hadapi, setelah menjadi istri Andra, sejujurnya ia merasakan sangat gugup, bingung, tapi ia juga bahagia, karena yang menjadi suaminya adalah pria yang baik, batin Alya.
"Iya Mas, Alya juga akan berusaha jadi istri yang baik buat Mas, Mas harus sabar menghadapi Alya yang masih kekanakan terkadang," sahutnya sambil memandangi wajah suaminya.
"Pasti sayang," Andra mengecup tangan Alya lembut.
Setelah itu, Alya dan Andra meminta restu, mencium tangan kedua orang tua mereka, mengecup kening dan berpelukan, Alya sampai menangis di pangkuan mamanya, ia merasa terharu sekali, begitu juga mamanya yang sama ikut menangis bahagia.
"Jadilah istri yang baik untuk suamimu ya sayang, kamu nggak boleh melawan sama suami, harus nurut, ingat pesan Mama," Melisa mengecup kedua pipi putri sematawayangnya itu.
"Iya Ma, Alya akan berusaha, doakan Alya ya Ma," sahut Alya.
Setelah serangkaian acara selesai, para tamu undangan juga sudah meninggalkan gedung pernikahan, Sabda dan Cinta juga Angel juga sudah pulang ke rumah mereka, begitu juga dengan Rey dan Melisa.
Andra juga membawa Alya langsung ke rumahnya, ia sengaja sudah mempersiapkan satu rumah yang cukup megah, untuk ditinggali olehnya dan juga Alya, Andra sengaja ingin memiliki privasi dalam pernikahan mereka, sehingga ia memutuskan untuk langsung mengajak Alya hidup mandiri dengan rumah terpisah dari orangtua mereka.
"Alya, kamu nggak keberatan kan kalau kita langsung tinggal di rumah kita sendiri?" tanya Andra pada istri kecilnya.
"Iya, aku terserah mas aja," sahut Alya.
"Hmm, tadi temen cowok kamu kok nggak datang ke acara pernikahan kita, cuma temen kamu yang cewek aja yang aku lihat," ucap Andra sambil serius menyetir.
"Iya, kayaknya Aldo udah pindah ke Ausie, karena dia kan kuliah disana," sahut Alya.
Andra mengangguk, "Oh gitu," jawabnya.
Keduanya masih terlihat canggung, walaupun mereka sudah menikah, tapi sikap mereka masih seperti baru kenal saja, Alya terlihat serba bingung, sementara Andra malah tersenyum sendirian, ia sendiri merasa heran, perasaan apa ini, seperti menggelitik, ia selalu ingin tersenyum saat melihat wajah gadis yang saat ini sudah menjadi istrinya.
____________
Author : Akhirnya Alya dan Andra menikah juga, nanti cherry bakalan nyeritain kehidupan mereka setelah menikah, romantisnya dan juga bertengkarnya mereka π tapi maaf cherry gabisa up tiap hari ya, kalau luang aja, cuma cherry usahakan up kok tiap minggu beberapa kali, karena harus up di novel satunya dulu. βΊοΈβΊοΈ
__ADS_1
Makasih buat yang masih setia baca kelanjutan ceritanya ππππ