THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
Sabda Cinta ~ Lovey


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sabda langsung berbaring di tempat tidur, mukanya terlihat pucat, Cinta merasa tidak tega melihat hal itu, ia sendiri heran apa bisa kalau istri mengandung, lalu suami yang malah mual-mual? batin Cinta terus merasa heran.


"Sayang, kamu nggak mual lagi kan?" Tanya Sabda pada Cinta.


"Enggak kok, sekarang kamu gimana? udah enakan belum?" tanya Cinta.


"udah mendingan, cuma tiba-tiba ingin di masakin spagetti sayang, kamu mau nggak masakin aku?" tanyanya seolah sangat menginginkan hal itu.


"Kamu ngidam ya sayang?" tanya Cinta pada suaminya.


"Ngidam gimana maksud kamu?" jawab Sabda yang malah bertanya balik pada istrinya, karena ia tidak tahu maksud dari kata ngidam itu apa.


"Biasanya ngidam itu dialami oleh ibu hamil sayang, dia jadi tiba-tiba ingin makan sesuatu gitu, nah ini persis kayak yang kamu rasain sekarang deh, aku heran kenapa malah kamu yang ngidam ya? kan aku yang hamil." tuturnya yang benar-benar tidak habis pikir.


Sabda menggaruk kening.


"Masa aku yang ngidam juga sayang? jangan-jangan semua yang kamu rasain pas hamil, bakalan digantikan jadi aku yang merasakan semuanya lagi?" ucap Sabda yang mulai merasa merinding.


Cinta menggigit ujung kukunya.


"Coba tanya deh sama mama Delia sayang, mungkin saja mama pernah mengalaminya? papa mungkin juga merasakan hal yang sama seperti kamu." tutur Cinta menebak-nebak.


Sabda tiba-tiba teringat ucapan mamanya yang pernah berkata, kalau papanya dulu mengidam parah sampai mual-mual saat mamanya mengandung Sabda. sontak ia membulatkan mulutnya sempurna.


"Sayang, ternyata aku baru saja teringat. kalau Mama dulu pernah cerita, papa juga mengalami mual-mual saat mama mengandung aku, dan juga mengalami mengidam. mungkin memang benar aku mengikuti jejak papa." tuturnya pada Istrinya.


Saat itu Cinta cukup terkejut mendengarnya, ia merasa heran karena baru tahu kalau ada hal yang semacam itu ternyata.


"Jadi begitu, aneh ya, aku kasian sama kamu, jadi sekarang kamu yang merasakan hal seperti ini, seharusnya kn biar aku saja, aku nggak tega Sabda, lihat kamu pucat seperti ini." tuturnya sambil membelai wajah suaminya lemah.


Sabda tersenyum simpul.


"Aku nggak apa-apa kok Nta, kamu nggak perlu cemas dan merasa bersalah, aku malah senang, jadi kamu nggak nanggung kesusahan itu sendirian, aku juga ngerasa ikut andil saat kamu hamil sayang.." tuturnya dengan lemah lembut, hal itu membuat Cinta semakin mengagumi suaminya.


"Makasih ya sayang, aku semakin cinta sama kamu, kamu udah mau sabar menerima semuanya, kalau begitu sekarang juga aku buatkan kamu spagetti seperti yang kamu mau ya.." tuturnya merasa bahagia, begitu pula Sabda yang terus melingkarkan senyuman di bibirnya.


"Aku rela kok, ini kan demi kamu dan anak kita, nggak sabar deh nunggu si boy lahir." tuturnya sambil mengelus perut Cinta.


Cinta mengusap ujung kepala suaminya.

__ADS_1


"Masih lama sayang, yang terpenting dia sehat aja di dalam perut, dan kamu jangan panggil dia boy. belum tentu dia cowok loh, kalau dia baby girl nanti dia ngambek dipanggil boy." tutur Cinta oada suaminya.


Sabda tercengir.


"Iya ya, maafin papa ya sayang, papa panggil kamu lovey aja yaa.. yang artinya sayang, kalau kamu udah lahir baru deh papa namain lagi yang lebih spesifik." tutur Sabda berbincang dengan janin yang baru berusia tiga bulan itu.


Cinta tersenyum manis,"yaudah aku buatin kamu spagetti dulu ya sayang." tuturnya pada Sabda, Sabda tersenyum mengangguk. "Makasih sayang..." ucapnya senang.


**


Selesai membuat spagetti sesuai keinginan Sabda, ia membawa makanan itu ke dalam kamar, saat ia masuk ia melihat Sabda yang malah tertidur dengan nyenyak.


"Duh, lihat papa kamu lovey, dia malah tidur pules banget, katanya minta spagetti. terus gimana dong? mama bangunin nggak ya?" ucapnya seolah sedang bertanya pada janin di dalam kandungannya itu.


Sabda menyipitkan matanya.


"Nta, maaf aku ketiduran." ucapnya sambil mengucek matanya.


"Kamu ngantuk ya sayang?" tanya Cinta.


"Tadi aja ngantuknya, sekarang udah nggak kok, kamu jadi buatin aku spagetti?" tanya Sabda pada istrinya. dibalas anggukan oleh Cinta.


"Jadi, ini dia spagettinya, kamu makan ya selagi hangat." ucapnya seraya memberikan sepiring spagetti itu kepada suaminya.


"Makasih sayang, wangi banget deh spagettinya, pasti enak .." tuturnya sambil memasukkan satu suapan kedalam mulutnya.


"Gimana sayang enak nggak?" tanya Cinta.


"Enaaaak banget Nta, aku habisin ya.." ucapnya dengan lahap memakan habis spagetti buatan istrinya itu.


"Pelan-pelan sayang makannya, nanti kamu keselek ," ucapnya sambil mengelap bibir Sabda yang belepotan terkena saus.


Sabda menyentuh tangan Cinta.


"Bersihinnya jangan pakai tissu sayang," tuturnya tersenyum tidak biasa, dia mengedipka sebelah matanya membuat Cinta salah tingkah.


"Maksud kamu apa sih sayang? nggak ngerti aku." jawabnya yang masih bingung.


"Pakai ini dong ngelapnya." tutur Sabda sambil mengusap lembut bibir Cinta, membuat aliran darahnya terus berdesir hebat.

__ADS_1


"Sabda, kamu gitu terus pikirannya nih!" ucapnya memalingkan wajah dari suaminya, karna merasa malu.


"Masa nggak boleh Nta, sekali doang kok, cuma kiss aja, nggak lebih aku janji deh." Ucapnya sambil mengangkat kedua jarinya.


"Daridulu juga kamu janji terus ah, lagian kata dokter kamu ingat nggak? nggak boleh begitu dulu, kan masih hamil muda." ucapnya mengingatkan suaminya.


Sabda mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa. ia memang susah menahan dirinya, ketika sedang berduaan dengan istrinya.


"Aku cuma cium aja kok Nta, beneran deh suerr kali ini aku nggak bohongin kamu sayang." ucapnya dengan penuh keyakinan. akhirnya Cinta pun kembali luluh.


Ia mendekatkan wajahnya, lalu memejamkan mata.


"Yaudah cepetan ya.." ucapnya pada suaminya.


Sabda pun langsung meraih dagu Cinta, lalu memiringkan wajahnya, menyentuh lemah bagian lembut berwarna merah ranum yang terasa manis, seolah tiada pernah ada habisnya. ia berikan sedikit gigitan lembut agar bagian itu terbuka sedikit demi sedikit, dan benar saja setelah bagian itu sedikit terbuka, ia menelusupkan lidahnya hingga ke rongga, mambuat isapan kecil yang selalu membuat mereka terhanyut bersama. sampai akhirnya ia melepaskan ciuman itu.


"Nggak tahan aku Nta, udah ah nanti keterusan." ucap Sabda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Cinta terkekeh sendirian.


"Kan udah aku bilang, kamu sih nggak bisa sabar, nanti kita kontrol lagi bulan depan, baru deh tanya sama dokternya lagi." ucapnya sambil mengelus lembut telapak tangan suaminya.


Sabda berdecak. " Sebulan lagi? Maaf Nta, aku nggak sanggup, jujur aja seminggu aja aku nggak sanggup apalagi sebulan?" ucapnya terlihat gusar.


Cinta mengelus tangan Sabda lagi.


"Sabar sayang, nanti ketika aku melahirkan, ada yang namanya masa nifas, itu lebih lama lagi kamu harus bersabar." tuturnya menjelaskan pada Sabda.


"Nifas? berapa lama itu Nta?" tanyanya penasaran.


"Empat puluh hari sayang bahkan bisa dua bulan. " ucapnya santai.


"Apaaaa?" Sabda terkejut.


"Iya sayang, jadi anggap aja ini latihan." ucap Cinta lagi.


"Nggak mau Nta, aku nggak sanggup. gimana kalau aku mau, terus nggak bisa.." ucapnya gelisah.


"Kamu sayang kan sama anak kamu? jadi ini adalah bentuk pengorbanan juga sayang.." tuturnya menerangkan kembali.

__ADS_1


Sabda menyentuh dahinya, ia merasa serba salah.


"Baiklah, ini demi kamu Lovey." ucapnya dengan berat hati.


__ADS_2