
Pagi harinya, Cinta sudah terjaga dari tidurnya, ia kemudian langsung teringat kalau ia diminta mengecek urine di pagi hari. ia segera mengambil alat tes kehamilan yang sudah di beli oleh Sabda kemarin.
"Huuuh.. aku kok jadi ngeri ya, kalau hasilnya negatif gimana?" ucapnya pelan. namun ia akhirnya memberanikan diri mengeceknya.
Cinta tidak berani membuka matanya, ia malah menaruh alat tes itu di dalam kantong bungkus tadi.
"Biar Sabda aja yang lihat, aku takut kalau negatif nanti aku kecewa, kalau Sabda yang lihat dia kecewa juga nggak ya?" gumamnya dalam hati.
Cinta keluar dari kamar mandi, setelah ia mandi dan mengganti pakaian, ia membangunkan suaminya yang masih tidur.
"Sabda, bangun.. ini udah siang loh.." ucapnya menggoyangkan tubuh Sabda.
"Hmm? udah siang ya. " Sabda beranjak dan duduk.
"Iya, kamu mandi gih, nanti kita sarapan bareng.." tuturnya tersenyum.
"Iya sayang, kamu cantik banget sih pagi-pagi, udah kayak lihat bidadari aja aku.." ucapnya seraya mengelus pipi Cinta.
"Gombal deh!" jawabnya.
"Enggaklah.. aku jujur kamu cantik dan paling cantik sedunia!" Sabda menyunggingkan senyuman yang membuat Cinta jadi meleleh karenanya.
"hmm.. bisa deh kamu! udah sana mandi!"
"Iya iya sayang.."
"aku tunggu di meja makan ya.."
"Oke.."
Setelah selesai mandi, Sabda langsung menghampiri Cinta ke meja makan.
"Waah.. kamu masak banyak banget?" ucapnya saat melihat masakan yang tertata rapi diatas meja.
"Iya, sesekali, kamu belum tahu kan masakan aku kayak gimana.." tuturnya, sambil memberikan sepiring nasi untuk suaminya.
"Makasih sayang, pasti enak lah.." Sabda tersenyum.
Mereka berduapun makan dengan nyaman, sampai makanan itu habis tidak bersisa.
"Kenyang aku, masakan kamu enak banget.. nggak salah aku milih istri, udah cantik dan baik hati, terus pinter masak lagi.." ucapnya.
Cinta mengernyikan kening.
__ADS_1
"Kamu kan milih aku karena butuh bantuan aku waktu itu, kamu lupa ya?"
Sabda menutup mulutnya.
"Itukan masa lalu sayang, intinya kan kita di takdirkan bersama.." Sabda mengelus puncak kepala istrinya itu.
"Bisa deh kamu.." Jawabnya sambil mengerucutkan bibir.
"Sayang, kamu udah cek urin tadi pagi?" tanya Sabda yang tiba-tiba mengingatkan.
Cinta menunduk.
"Udah kok, tapi.. " ucapnya muram.
"Kenapa sayang? kamu udah baca hasilnya?" tanya Sabda penasaran. .
Cinta menggeleng.
"Belum, masih aku simpan di dalam kemasannya, aku takut liatnya."
Sabda terkejut mendengar hal itu.
"Takut kenapa sayang?"
Cinta memainkan ujung kukunya, ia tampak gelisah.
Sabda mendekat dan meraih tubuh istrinya itu.
"Nggak perlu takut sayang, apapun hasilnya nggak akan merubah rasa sayang aku ke kamu, rasa cinta aku ke kamu, tenanglah, yaudah biar aku yang baca ya.." tuturnya menenangkan istrinya.
"Ada di kamar, aku ambilin ya.." ucapnya.
"Oke, aku tunggu disini ya.." jawabnya.
Beberapa saat kemudian..
Cinta datang membawa alat tes kehamilan itu, ia menyerahkan kepada Sabda, saat itu Sabda dengan hati-hati mengeluarkan alat yang berbentuk persegi panjang dan agak tebal itu.
Dia memperhatikan dengan seksama. namun dia tidak mengerti apa maksud garis yang muncul di alat tersebut.
"Sayang.."
Cinta menutup matanya tidak beraani melihat.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu malah tutup mata?" tanyanya heran.
"Aku nggak mau lihat, kamu udah lihat kan? gimana hasilnya negatif ya?" tanyanya cemas.
"Nta, aku nggak ngerti artinya apa. aku mana tahu kayak ginian, disini cuma ada dua garis biru maksudnya apa ya Nta?" ucapnya yang memang benar-benar tidak paham.
"Apa? dua garis biru?" ucapnya terkejut. ia membuka matanya lebar-lebar lalu mengambil alat yang ada di genggaman Sabda.
"Ya Tuhan.." Cinta malah menangis menatap alat itu.
"Sayang kenapa kamu malah nangis?" ucapnya cemas, ia memeluk istrinya yang masih terus menangis.
"Sabda, aku hamil.." ucapnya lirih.
Sabda tersentak mendengar hal itu, ia mencoba mencerna baik-baik lagi apa yang tadi Cinta katakan.
"Apa Nta?" tanyanya belum percaya.
"Sabda, aku hamil sayang.. lihat ini ada dua garis tandanya positif." jawabnya dengan antusias.
"Ya Tuhan... jadi kamu hamil Nta? Astaga.. terimakasih Tuhan.." Sabda memeluk tubuh istrinya dan ia ciumi hingga bertubi-tubi. tidak lupa ia cium perut istrinya yang masih datar itu.
"Sayang, aku akan segera menjadi Ayah.." ucapnya semangaat sambil menciumi perut Cinta. Cinta mengusap ujung kepala suaminya.
"Masih lama sayang, kan sembilan bulan sepuluh hari lahirannya.."
"Astaga kok lama banget?" ucapnya terkejut.
"Memangnya kamu pikir berapa lama?" tanya Cinta heran.
"Aku pikir sebulan juga udah lahiran sayang.." jawabnya polos.
Cinta terkekeh.
"Kamu nih ada-ada aja, memang selama ini kamu baru tahu kalau orang hamil itu selama sembilan bulan sepuluh hari baru akan melahirkan?"
"Iya, jujur aku baru tahu, Mama kan nggak punya anak selain aku, aku juga nggak ada saudara lain, aku nggak merhatiin orang yang hamil juga kapan lahirannya Nta.." jawabnya polos.
"Ya ampun.. kamu kok bisa sih nggak tahu hal yang seperti ini, semua orang juga tahu, keculi kamu ya.." Cinta menggelengkan kepala.
"Aku beneran nggak tahu.. ternyata seorang ibu itu selama itu ya mengandung anaknya.." tuturnya dengan wajah sendu, ia jadi teringat mamanya.
"Iya sayang, karena itu jangan bikin Mama Delia sedih, dia itu sudah banyak berkorban untuk kamu." tuturnya pada suaminya.
__ADS_1
Sabda mengangguk.
"Iya Nta, aku janji nggak akan ngelawan lagi sama Mama.. Makasih ya sayang, kamu mau berkorban mengandung buah hati aku, aku semakin cinta sama kamu Cinta.." tuturnya seraya mengecup lembut kening istrinya. Cinta hanya tersenyum penuh keharuan.