
"Nta, kamu udah siap belum?" Sabda memanggil Cinta yang masih bersiap di dalam kamar.
"Udah kok," jawabnya keluar menemui Sabda yang sudah menunggunya.
"Cantiknya bidadariku.." ucapnya yang terkesima melihat istrinya.
"Kamu udah kayak Rama aja panggil bidadari segala." jawabnya terkekeh.
Sabda mengernyit.
"Kok kamu inget si kutu kupret itu sih Nta?" ucapnya agak kesal.
"Emang kenapa? tiba-tiba kamu ngomong bidadari, jadi keinget dulu Rama suka panggil aku seperti itu." ucapnya meraih tangan suaminya.
"Yuk jalan, katanya mau periksa kandungan?" Cinta mengajak suaminya yang masih terlihat kesal.
"Kenapa disaat hamil, Cinta malah teringat si kutu kupret Rama sih, waktu sebelum hamil nggak pernah dia nyebut nama Rama, bisa-bisa anak gue mirip sama si cecunguk itu lagi!" Batin Sabda.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Cinta terlihat menutup mulutnya, sepertinya ia merasa mual-mual lagi.
Sabda melirik istrinya yang terlihat pucat. "Sayang, kamu kenapa kok pucet gitu? kamu mual lagi?" tanyanya cemas. ia masih terus menyetir agar bisa segera sampai rumah sakit.
"Nggak apa-apa Sabda, kata Mama kan wajar kalau hamil muda, mual-mual seperti ini," tuturnya teringat kata-kata mertuanya semalam. Delia sudah diberi kabar kalau Cinta hamil. ia merasa sangat senang, namun ia belum bisa pulang untuk mengunjungi Sabda dan Cinta karena suatu urusan.
"Tapi kamu pucet banget sayang, aku nggak tega lihatnya.." ucap Sabda yang terlihat sangat cemas.
"Kamu nggak boleh gitu sayang, nanti anak kita sedih, kita harus berbahagia karna Tuhan akhirnya kasih kita kepercayaan untuk memiliki anak, jadi aku nggak apa-apa kok merasakan mual seperti ini, aku seneng malahan." tuturnya sambil menutup mulutnya, ia terus merasa mual setiap pagi hari.
Sabda menggaruk keningnya.
"Maaf ya sayang, aku cuma bisa ngomong doang, nggak bisa ikut ngerasain hal yang kamu rasain, aku rela deh kalau aku harus ngerasain mual kayak gitu, asal jangan kamu.." tuturnya dengan wajah serius.
Cinta menggeleng, "Jangan ngomong gitu, ucapan adalah doa, kamu belum tentu sanggup merasakan mual seperti ini sayang.." jawab Cinta.
Sabda melirik Cinta sekilas.
"Beneran Nta, aku nggak apa-apa kalau harus merasakan mual seperti itu, asal jangan kamu, aku enggak tega, beneran deh.. " tuturnya lagi.
Cinta hanya tersenyum kecil.
"Makasih ya sayang, aku nggak apa-apa kok.." ucapnya sambil mengelus pipi suaminya yang masih serius menyetir.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Sabda dan Cinta langsung menemui Dokter specialist kandungan.
__ADS_1
"Nyonya Cinta Nirmala, silahkan masuk." ucap perawat.
"Sayang udah giliran kita, yuk masuk.." tutur Sabda menggandeng tangan istrinya memasuki ruangan pemeriksaan.
Cinta hanya mengangguk mengiyakan.
"Nyonya Cinta, silahkan berbaring ya," ucap dokter.
Cinta pun berbaring diatas ranjang ruang pemeriksaan.
"Bagaimana, apa yang di keluhkan selama masa kehamilan ini?" tanya Dokter itu ramah.
"Saya sering mual-mual dokter." ucap Cinta, sedangkan Sabda fokus mendengarkan.
"Wajar kalau mual-mual, itu adalah hal yang normal, kita akan lakukan USG ya, kalau menurut hari pertama haid terakhir seharusnya sudah memasuki usia tiga bulan ya." ucap Dokter, Cinta dan Sabda sama-sama mendengarkan.
Dokter mengoleskan gel khusus diatas perut Cinta, dan menempelkan alat khusus untuk melihat kondisi kandungan Cinta saat ini.
Tampak sebuah titik kecil di layar monitor, Sabda dan Cinta terperanjat dan bergeming menatap layar tersebut.
"Tuan Sabda, ini janin dari nyonya Cinta, dan sudah berusia enam belas minggu, keadaannya sehat ya, kalau untuk jenis kelamin baru bisa terlihat jelas di usia kandungan delapan belas sampai dua puluh minggu." terang dokter tersebut.
"Dokter, jadi beneran saya hamil?" tanya Cinta yang seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Sabda terlihat berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau sebentar lagi, ia akan menjadi seorang ayah pikirnya.
"Dokter, istri saya beneran hamil kan dokter?" Sabda ikut memastikan hal itu, ia terus merangkul tubuh istrinya yang masih terbaring.
"Benar Tuan Sabda, tolong di jaga kondisinya, agar tidak kelelahan dan terlalu banyak aktifitas dulu, karena kehamilan ini masih sangat rawan," ucap dokter mengingatkan Sabda dan juga Cinta.
"Pasti dokter, saya akan menjaga istri saya dengan baik, terimakasih dokter.." ucapnya yang tidak hentinya mengecup pipi Cinta bergantian. Cinta terlihat sangat terharu, ia menitikan airmata bahagia.
Selesai melakukan pemeriksaan itu, Sabda dan Cinta memutuskan untuk jalan-jalan sebentar, kebetulan Rey dan Rama mengajak Sabda dan Cinta bertemu di sebuah restoran.
Sesampainya di restoran..
"Woy Sab! Kemana aja lo bro! baru keliatan!" tutur Rama pada Sabda. Sabda hanya tersenyum malas.
"Gue sibuk lah, emang kayak lo pada Jomblo abadi." sahutnya meledek dua sahabatnya itu.
"Sombong lo Sab!" Rey menimpali.
"Eh ada Cinta, duduk Cinta," ucap Rama dengan sangat ramah.
Sabda menajamkan matanya kearah Rama.
__ADS_1
"Sukurin lo Ram! udah tahu ada pawangnya, malah sok ramah lo!" celetuk Rey terkekeh sendiri.
"Ya Allah Sab, timbang ramah doang, kebangetan lo mah!" ucap Rama yang akhirnya memilih duduk kembali.
Cinta hanya tersenyum tipis.
"Apa kabar semuanya?" tanya Cinta tersenyum lagi.
"Kabar baik Cinta, nggak tahu deh kalau Rey, dia galau terus soalnya." lagi-lagi Rama meledek.
"Sialan lo!" Ray memukul lengan Rama, membuat Rama mengaduh kesakitan.
"Udah pada diem lo semua, berisik banget daritadi.." ucap Sabda sambil mempersilahkan Cinta untuk duduk.
"Pelan-pelan sayang.." tutur Sabda hati-hati. Cinta tersenyum pada suaminya."makasih sayang.." ucapnya lembut.
"Sayang aku jadi baper gimana nih..." tutur Rama sambil merangkul pundak Rey, membuat Rey merasa merinding.
"Geli njiiir... minggir lo!" ucapnya mendorong tubuh Rama jauh-jauh.
Mereka pun tertawa bersama. Sabda memberitahu sahabatnya, kalau Cinta sedang hamil, hal itu tentu saja mengejutkan kedua sahabatnya itu. alhasil Sabda malah jadi bahan ledekan lagi oleh Rama dan Rey.
Saat Mereka sedang asyik bersenda gurau, tiba-tiba Sabda merasa mual, ia juga terlihat pucat, padahal Cinta sendiri malah terlihat tidak mual sejak pulang dari rumah sakit tadi.
"Sabda lo kenapa?" tanya Rama terheran.
"Lo sakit Sab? tadi bae aja lo!" Ucap Rey menimpali.
"Iya sayang, kenapa kamu pucet banget? lihat sampai keringetan gini." ucap Cinta sambil mengelap keringat suaminya.
"Nggak tahu Nta, ini tiba-tiba aku mual banget, nggak kuat, aku ke toilet dulu yaa.." ucapnya bergegas pergi ke toilet.
"Lah aneh si Sabda, yang hamil kan Cinta, kenapa jadi dia yang mual?" tanya Rama terheran. sedangkan Cinta memilih menyusul suaminya.
"Aku susulin Sabda dulu ya.." ucapnya. Rey dan Rama hanya mengangguk.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan? kok malah jadi kamu yang mual? padahal aku udah nggak mual lagi sekarang.." ucapnya sambil menyentuh pipi suaminya yang masih terlihat pucat.
"Nggak tahu Nta, kenapa jadi aku yang mual-mual begini ya Nta," jawabnya heran.
Cinta menggigit ujung kukunya, "Jangan-jangan karena ucapan kamu tadi di mobil, kamu bilang kamu rela gantiin aku merasakan mual-mual, sekarang jadi gini deh.." ucapnya dengan raut cemas.
"Masa bisa begitu Nta, aku nggak tahu kalau rasanya parah begini Nta, aku kasian sama kamu ngerasain begini. aku aja nggak sangg.. uweeek.." Sabda mual-mual kembali.
Akhirnya Sabda dan Cinta memutuskan untuk pulang diantar oleh Rama dan Rey. karena kondisi Sabda yang tidak kuat untuk menyetir.
__ADS_1