
Mohon bijak dalam membaca
isi konten mengandung bacaan dewasa ya, adik dibawah umur tolong scrol aja 🤧
____________________________________
Setelah sampai di rumah baru mereka, Andra dan Alya segera masuk ke rumah, Andra menggandeng tangan Alya, Alya masih malu-malu, jantungnya berdebar saat pertama kali Andra menggandeng tangannya sebagai suaminya.
"Sayang, kamu kok gemeteran sih?" tanya Andra sambil tersenyum.
Alya tercengir, "iya aku grogi Mas," jawabnya polos.
Andra tertawa kecil, "grogi ngapain sih, sama suami sendiri juga masa grogi, kamu biasa aja, mau masuk ke kamar?" tanya Andra.
"Mau ngapain Mas ke Kamar?" tanya Alya terkejut.
Andra lagi-lagi merasa lucu dan gemas melihat reaksi Alya, "kamu lucu banget sih, ke kamar kan kamu harus mandi dan ganti baju, masa pakai baju pengantin," sahutnya.
"Oh, kirain.." Alya tercengir lagi.
"Kirain apa hayo..." Andra mencubit hidung Alya pelan.
"Enggak kok, yaudah ayo ke kamar deh," ucapnya.
Alya menggandeng tangan Andra kali ini, Andra tersenyum simpul, hari ini rasanya ia sangat bahagia.
"Kamu mau mandi?" tanya Andra.
"Hmm, iya, aku duluan mandinya ya Mas, gerah banget pakai baju ini," ucap Alya.
Andra mengiyakan, padahal ia tadinya mau mengajak Alya mandi bersama, tapi pasti Alya menolak pikirnya.
"Iya, kamu mandi duluan aja, Mas nanti belakangan." sahut Andra.
Alya pun segera masuk ke dalam kamar mandi, di dalam Alya menyentuh dadanya yany sejak tadi bergemuruh.
"Duh, aku gugup banget, aku dan Mas Andra udah suami istri, terus aku abis ini gimana ya? malu banget, kira-kira Mas Andra bakalan.. aduh.. pikiranku kok jadi omes gini ya, ini pasti karena waktu bridal shower di ledekin Alisa sama Kiki deh, ah udahlah apa yang terjadi biarkan aja, lagipula aku memang udh sah jadi istrinya Mas Andra," gumamnya, ia segera membuka baju pengantinnya, dan mulai mandi.
Andra masih menungu Alya selesai mandi, ia lupa kalau di ruangan lain masih ada kamar mandi, daripada menunggu, lebih baik ia langsung mandi saja di ruangan lain.
Andra pun keluar dari kamar, ia segera mandi di ruangan sebelah, saat itu Andra membasahi kepalanya dengan air mengalir, ia malah terbayang terus wajah Alya.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir lucu juga, padahal keduanya di jodohkan, tapi sama sekali tidak merasa tertekan ataupun terpaksa menikah.
Andra berpikir apa sebenarnya ia sudah mulai mencintai Alya? tapi ia tidak mau langsung menyimpulkan sendiri, ia jalani saja semuanya saat ini, biar waktu yang menjawab nanti, ia yakin kalau Alya adalah wanita yang tepat untuknya.
Alya baru saja selesai mandi, ia langsung mengganti baju dengan piyama tidur yang terbuat dari bahan satin yang lembut, ia sudah mengenakan pakaian dalam yang di hadiahkan sahabatnya yaitu Kiki dan Alisa, awalnya ia tidak mau mengenakannya, tapi ia sudah janji pada sahabatnya akan memakainya di malam pertamanya.
"Duh, malu banget untuk ketutupan piyama tidur ini, kalau di ingat Kiki sama Alisa sengaja banget ngasih pakaian dalam seperti ini, mereka pasti mau bikin aku malu deh, Astaga... awas mereka," gumamnya.
"Kok Mas Andra nggak ada ya?" ia mencari-cari keberadaan Andra, tapi Andra tidak ada di kamarnya.
"Hm, apa dia mandi di kamar sebelah ya?"
Akhirnya Alya memutuskan untuk menunggu Andra di tempat tidur, tiba-tiba Andra masuk, ia datang membuat Alya terkejut.
"Mas Andra ngagetin aja," ucapnya.
Andra langsung menghampiri Alya ke atas tempat tidur, "iya maaf ya, Mas tadi mandi di sebelah, kamu cantik banget," puji Andra lagi, Alya bersemu, "bisa aja, aku nggak dandan kok dibilang cantik," jawabnya.
"Kamu tetep cantik, dalam keadaan apapun, bagiku kan tetep kamu yang paling cantik," ucap Andra.
Alya semakin merasa berdebar saja dibuatnya, "Iya deh, udah ah aku jadi malu," sahutnya.
Andra menyentuh dagu Alya, mengangkatnya perlahan, lalu ia mendekatkan wajahnya, hingga bibir keduanya saling menempel, Alya memejamkan matanya, ia tidak bergerak, hanya mematung menerima sentuhan Andra.
"Mhh.." desah Alya, kini Andra mulai menurunkan ciuman itu ke leher Alya, memberikan gigitan kecil yang meninggalkan kissmark disana.
Alya berdebar, seluruh tubuhnya mendadak panas, aliran darahnya mengalir deras hingga ia berdesir.
"Mas.." desah Alya.
Andra mengecup lembut bibir Alya, "Kenapa?" tanyanya sambil menyentuh bibir Alya dengan jarinya.
"Aku malu, bisa nggak matikan lampunya aja," ucap Alya.
Andra tersenyum samar, "Kalau lampunya di matikan, aku nggak bisa lihat wajah cantik kamu dong," jawab Andra.
Pipi Alya sudah merona, ia tidak tahu lagi saat ini pipinya sudah berubah warna menjadi apa, yang ia tahu ia merasa gugup sekali.
"Kamu tenang aja, aku bakalan lembut, kamu santai aja ya," Andra mengelus ujung kepala Alya, lalu mengecup kening Alya, membiarkannya bertahan lama disana.
Alya mengangguk, ia hanya menurut saja, lagipula ia mulai menikmati setiap sentuhan suaminya tadi.
__ADS_1
Andra mulai menyentuy bahu Alya, ia menurunkan piyama tidur Alya sedikit demi sedikit, hingga memperlihat bahu Alya yang polos, hanya terlihat tali kecil dari bra yang di kenakan Alya, sontak Alya menutupi dadanya yang mulai terekspos itu.
"Aduh Mas, Alya malu," ucapnya.
Andra mulai menurunkan tangan Alya, "nggak usah malu sayang.."
Mendadak Alya seperti terhipnotis oleh kata-kata Andra tadi.
Ia lemah dan tidak memiliki tenaga untuk menolak.
"Kamu santai sayang, malam ini milik kita berdua," ucap Andra, ia segera membuka piyama yang di kenakan Alya, hingga tersisa pakaian dalam Alya saja, Andra berusaha tetap tenang, ia tidak boleh terburu-buru seolah menggebu.
Di belainya tubuh Alya perlahan, hingga ia membaringkan tubuh Alya, "Sayang, kamu cantik," kata-kata itu sudah berulang kali di ucapkan oleh Andra, tapi tetap saja berhasil membuat Alya bergeming.
Andra membelai lembut pipi Alya, lalu memberikan sapuan di bibir Alya lembut, kali ini Alya mulai merespon ciuman suaminya, seolah ada dorongan yang membuat ia melakukannya, keduanya terhanyut hingga semakin terbawa suasana malam yang syahdu, "Sayang, aku cinta kamu." ucap Andra.
Alya terkejut, saat Andra mengatakan itu, terlebih Andra mengatakan hal itu sambil melakukannya terhadap Alya, hingga membuat Alya mengeluarkan airmata.
"Kamu kesakitan ya?" tanya Andra, ia mulai memperlambat gerakannya, "iya sakit," jawabnya sambil sedikit meringis.
"Sebentar kok, nanti juga hilang rasa sakitnya sayang," Andra mengusap peluh di dahi Alya, Alya hanya mengangguk, "Aku cinta kamu," ucap Andra lagi.
"Ahh..." Alya melenguh melepaskan pertahananya hingga ia terkulai lemas, "Aku cinta kamu juga," ucap Alya lemah.
Andra semakin mempercepat geraknya, hingga akhirnya ia sudah tidak tahan dan melepaskannya.
Ia mengecup kening Alya, lalu bibir Alya sekilas, "Makasih sayang," ucap Andra, keduanya terkulai sambil berpelukan, Alya terkejut saat melihat di selimutnya ada bercak darah.
"Astaga, ini darah apa mas?" tanya Alya sambil menahan perih dibagian intinya.
"Nggak apa-apa sayang, itu biasa," ucap Andra sambil mengecup kening Alya.
"Hah?" Alya terbengong, ia sama sekali tidak tahu darah apa itu.
"Aduh, perih banget..." Alya meringis sambil menyentuh bagian intinya.
"Kenapa?" tanya Andra.
"Ini kok aku perih ya," ucap Alya ragu-ragu.
Andra memeluk tubuh istri kecilnya itu, "nggak apa-apa, nanti kamu berendam air hangat, rasa perihnya akan reda kok," terang Andra.
__ADS_1
Alya mengangguk, "Iya Mas, Mas aku sayang kamu." tutur Alya sambil tersenyum manis.
"Aku juga sayang kamu," sahut Andra.