THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
The Heirs 02 - Tidak biasanya...


__ADS_3

"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Andra pada Alya.


Alya melihat daftar menu yang ada di meja, "aku mau dobel es krim yang ini, boleh yaa...," jawabnya.


"Kok kamu malah makan es krim? kenapa enggak pesan makanan sayang,"


Alya mencebikkan bibirnya, "entah kenapa aku mau es krim, enggak mau makan yang lain," ucapnya.


Andra menghela napas, "yaudah makan es krim setelah kamu makan nasi ya? biar aku pesankan bento kesukaan kamu,"


Alya menutup mulutnya, "aku maunya es krim,"


Andra menggaruk sebelah alisnya, "yasudah sayang, kamu pesan deh," akhirnya Andra menyerah juga, tidak biasanya Alya bersikeras seperti itu, batinnya.


"Oke deh," jawab Alya, ia langsung memesan satu porsi es krim dengan ukuran besar, seolah tidak sabar, Alya sampai menelan saliva nya, membayangkan es krim yang manis, dingin, lumer di atas lidahnya.


"Kamu enggak biasanya kepengen banget es krim? sampai enggak mau makan nasi," ucap Andra heran.


"Hm, masa sih? aku cuma kepengen aja, rasanya aku enggak mau makan yang lain, cuma mau es krim itu aja sayang," jawab Alya.


Andra terdiam, lalu mengusap puncak kepala istrinya, "iya deh, asal kamu seneng," ucapnya.


Alya tercengir menampakkan giginya, "makasih sayang,"


Selesai makan, keduanya langsung pulang, di perjalanan Alya terus menguap, sepertinya ia mengantuk.


"Kamu ngantuk?" tanya Andra.


Alya menoleh ke arah suaminya, "iya nih, belakangan aku jadi mudah ngantuk, terus berasa lesu gimana gitu, entah kenapa enggak seperti biasanya," ucapnya.


"Mungkin kamu kecapean sayang, aku kan udah bilang kalau perlu kita tambah pelayan di rumah, biar kamu enggak perlu ikut bantu bibi masak, aku suka kasihan lihatnya," terang Andra.


Alya menolak, ia menggelengkan kepalanya, "buat apa, lagipula aku senang karena bisa ikut masak, sekalian belajar sama bibi, aku juga mau bisa masakin kamu, sama kayak Mama Cinta yang selalu masak untuk Papa Sabda." sahutnya.


Andra kembali mengusap ujung kepala Alya, "hmm, tapi belakangan kamu terlalu semangat belajar masak sayang, aku lihat kamu kecapean, apa enggak sebaiknya tambah satu lagi orang untuk bantu kamu?" ucapnya.

__ADS_1


"Belum butuh sayang, nanti aja kalau memang aku ngerasa butuh bantuan, sekarang belum, aku ngantuk banget, boleh enggak kalau aku tidur sebentar?" tanya Alya.


Andra tersenyum tipis, "boleh sayang, kamu tidur aja, nanti kalau udah sampai, aku bakalan bangunin kamu ya,".


"Makasih sayang, aku tidur dulu ya,"


Tak butuh waktu lama, Alya sudah terlelap.


Andra tersenyum sambil memperhatikan sekilas wajah Alya, tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di rumah, Andra awalnya berniat membangunkan Alya, tapi ia malah tidak tega, alhasil Andra lebih memilih untuk menggendong Alya yang terlihat sangat lelap.


Kedatangan Andra di sambut oleh beberapa pelayan di rumahnya, "ssst...," Andra mengisyaratkan agar para pelayan itu diam, ia tidak ingin kalau istrinya sampai terbangun.


Para pelayan pun mengerti maksud Andra, salah seorang pelayan membantu Andra membukakan pintu kamar Andra, "makasih bi," ucap Andra sambil berbisik.


Pelayan itu mengangguk, setelah itu pergi meninggalkan Alya dan Andra.


Andra membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang tempat tidur, sambil mengelusnya, Andra mengecup lembut kening Alya.


"Kamu keliatannya capek banget sayang, aku jadi enggak tega liat kamu kuliah, padahal kamu enggak perlu kuliah, aku pasti akan memenuhi semua kebutuhan kamu, tapi aku juga tidak mungkin melarang keinginanmu, apalagi itu cita-cita kamu yang sangat mulia untuk menjadi seorang dokter," ucapnya pelan, sambil mengecup punggung tangan Alya.


Salah seorang pelayan senior datang sambil tersenyum ramah, menyapa Andra.


"Den, non Alya udah makan belum?" tanya pelayan tersebut.


Sambil meneguk air minum, Andra melirik ke arah pelayan tersebut yang bernama Bi Asih.


"Alya enggak mau makan Bi, tadi dia cuma makan ice cream aja, katanya enggak kepengen makan, padahal udah aku suruh dia makan, takutnya sakit, katanya kalau di paksa malah mual," ucap Andra.


Bi Asih terlihat kaget, "wah jangan-jangan non Alya lagi hamil Den!"


Andra terbatuk, "apa Bi?" ia terlihat kaget mendengar ucapan bi Asih tadi.


"Iya Den, biasanya kalau seperti itu ciri-ciri orang hamil, dia menolak makanan tertentu dan sebaliknya menginginkan makanan tertentu juga," terang bi Asih.


Andra mengelap mulutnya, sambil terdiam, "apa iya kalau Alya hamil?" gumamnya.

__ADS_1


Bi Asih pun meninggalkan Andra, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, sementara Andra masih terus memikirkan ucapan bi Asih.


"Kalau Alya hamil, aku sih seneng aja, tapi apa Alya udah siap?" gumamnya lagi. Andra tidak mau terlalu memikirkan hal itu, lagipula ia dan Alya sudah memutuskan untuk tidak terburu, usia pernikahan mereka juga baru memasuki bulan ke tiga, santai saja pikirnya.


Andra masuk ke dalam kamarnya, sepertinya Alya benar-benar mengantuk, ia terlihat masih pulas, Andra mendekat lalu mengusap kening Alya dan mengecupnya lembut. "Kamu capek banget kayaknya, yaudah deh kamu bobo aja, aku enggak tega bangunin kamu," ucapnya pelan.


Sudah pukul 19.00 dan Alya masih belum bangun, "Sayang, kamu bangun dulu yuk, kamu belum makan malam loh," ucap Andra sambil mengelus lembut kening Alya.


Alya membuka matanya perlahan, "ya ampun aku ketiduran ya?" ucapnya.


"Kamu ngantuk banget, jadinya aku enggak tega bangunin kamu, tapi sekarang kamu harus makan malam, ini udah jam tujuh, kalau kamu enggak makan nanti kamu sakit," ujar Andra.


Alya mengangguk, "iya Mas, aku pengen makan spageti boleh enggak?" tanyanya sambil memohon.


"Spageti?" tanya Andra kembali.


Alya mengangguk cepat, "aku tiba-tiba pengen makan spagetti, boleh ya?"


"Yasudah, nanti biar bibi yang masakin ya?"


Alya menggeleng, "maunya kamu yang masak, please...,"


Andra terkejut mendengar permintaan Alya, "aku yang masak? Astaga sayang, biar bibi aja yang masak oke?" ucapnya sambil menggaruk sebelah alisnya.


Alya mencebikkan bibirnya, karena kesal keinginannya tidak bisa di penuhi oleh Andra, ia juga tidak tahu kenapa, kok rasanya sangat kesal, ketika Andra malah menolaknya.


"Bukannya kamu bisa masak Mas? kok tumben kamu udah enggak mau masakin aku lagi,"


Andra mengusap wajahnya, ia sendiri heran kenapa Alya tidak seperti biasanya, tiba-tiba ingin makan masakan buatannya, padahal Alya tidak pernah seperti itu sebelumnya.


"Yaudah aku masakin kamu ya, sekarang kamu cuci muka, ganti baju, aku tunggu di dapur ya," tutur Andra, ia tidak tega menolak permintaan Alya.


"Makasih sayang,"


Alya dengan perasaan senang, segera pergi ke kamar mandi. Sedangkan Andra menggelengkan kepalanya, heran melihat sikap Alya yang tidak seperti biasanya itu.

__ADS_1



__ADS_2