
Setelah Delia memutuskan untuk kembali ke LA, Sabda dan Cinta hanya tinggal berdua di rumah mewah milik keluarga Pramana, setiap pagi dan sore ada pengurus kebersihan yang datang ke rumah itu.
Tadinya Sabda ingin menyewa satu asisten rumah tangga untuk membantu Cinta, namun Cinta malah menolaknya, dia bilang, masih bisa mengurusnya sendiri, kalau untuk memasak saja Cinta merasa tidak butuh bantuan asisten rumah tangga.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Sabda pada isterinya yang terlihat sedang sibuk memasak.
"Kamu nggak lihat aku sedang memasak? kok masih tanya sih!" sahut Cinta sedikit ketus.
Sabda menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih marah sama aku gara-gara semalam aku minta nambah dua ka...." Cinta secepat mungkin langsung menutup mulut suaminya itu.
"Sabda ! kamu kenapa sih seneng banget ngebahas hal yang kayak gitu. malu tahu kalau sampai ada yang dengar." tutur Cinta merasa malu.
Sabda malah terkekeh sendirian.
"Apanya yang lucu?" tanya Cinta heran.
"Kamu lucu banget sayang, siapa juga yang denger? disini kan cuma ada kita berdua, lagipula kenapa sih kamu masih malu aja sama aku, padahal kita kan udah bukan orang asing lagi, atau jangan-jangan kamu masih merasa kalau aku ini orang asing ya?" tanya Sabda sambil terus medekatkan tubuhnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Bukan begitu, aku cuma malu aja kalau ngebahas hal seperti itu, lagipula wajar aku risih, mungkin kalau cowok biasa kali membahas hal begituan, kalau cewek merasa risih, kamu ngerti yaa.. jangan mikir yang macem-macem deh." jawabnya.
"Oh gitu ya.." Sabda membulatkan bibirnya, ia lalu menyentuh dagu Cinta dan perlahan mendekati bibir manis Cinta yang sedikit bergetar.
"Kamu gugup ya?" tanya Sabda sambil terus menatap kedua bola mata indah yang ada di hadapannya.
Cinta menggeleng.
"Enggak, kamu mau apa? aku kan lagi masak." jawabnya mengalihkan pembicaraan.
"Mau cium aja kok, boleh yaa.." pintanya memohon.
Cinta menghela napas panjang.
"Kamu nih, nggak dimana mana selalu aja minta cium, tapi di pipi aja ya.." ucap Cinta tercengir.
Sabda menggeleng.
"Nggak mau ah, maunya disini.." jawabnya sambil mengusap lembut bibir merah milik wanitanya itu.
__ADS_1
"Mm.." Cinta tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan, meskipun mereka sudah seringkali melakukannya, tapi sikap manis Sabda selalu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar. seperti orang yang baru pertama kali jatuh Cinta.
Sabda menganggap diamnya itu adalah jawaban dari Cinta.
Ia mulai mendekatkan bibirnya, namun saat Sabda hendak mengecup bibir itu, Cinta malah menutup mulutnya seolah merasa sangat mual.
"Aku mual banget Sabda, aku mau ke toilet." ujarnya bergegas pergi ke toilet, ia kemudian mengeluarkan cairan yang sudah tidak kuat ia tahan lagi.
Melihat hal itu membuat Sabda panik bukan main. ia cemas melihat Cinta yang tidak biasanya seperti itu.
"Sayang kamu nggak apa-apa kan? kamu kenapa tiba-tiba mual gitu?" tuturnya sambil menepuk punggung belakang isterinya perlahan.
"Aku juga nggak tahu, waktu kamu mau cium aku tadi, aku tiba-tiba merasa mual banget, terus kepala aku pusing banget Sabda," ucapnya sambil memijat kening.
"Astaga, sini biar aku gendong kamu ke kamar ya sayang, setelah ini aku akan telpon dokter buat datang ke rumah aja ya, takutnya kalau ke rumah sakit nanti kamu pingsan di jalan, kamu pucet banget sayang..." Sabda langsung menggendong Cinta dan memindahkannya kedalam kamar.
Sementara Cinta masih terlihat pucat dan lemah.
Sabda sudah menelpon dokter langganan keluarganya, meminta dokter untuk segera datang ke rumahnya. untuk memeriksa kondisi istrinya.
"Sayang, kamu sabar ya.. sebentar lagi dokter datang memeriksa kamu," ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya yang masih terlihat lemas.
"iya.." jawabnya lirih.
"Sabda, emang kamu bisa mecat dokter juga?" ucap Cinta yang terkekeh melihat Sabda yang sedang panik.
Sabda menggaruk tengkuknya.
"Bisa lah Nta, dia praktek di rumah sakit punya keluargaku. bisa aja aku pecat dia!" jawabnya masih terlihat kesal karena lama menunggu.
Cinta membulatkan mulutnya.
"Ya ampun aku baru tahu kalau keluarga kamu juga punya rumah sakit.." jawabnya terkaget.
Sabda mengelus pipi Cinta sambil tersenyum.
"Iya, aku kesel dia kerjanya lama banget. dateng kesini aja lama banget gini. aku pecat aja dia sehabis ini." tuturnya lagi.
Cinta menggeleng.
__ADS_1
"Jangan gitu, kan perlu waktu buat datang kesini, lagipula sekarang aku merasa sudah lebih baik kok. mungkin tadi aku hanya masuk angin biasa aja." ucapnya perlahan beranjak dari tidurnya dan bermaksud untuk duduk.
"Sayang, kamu jangan duduk dulu. kamu masih pucet gitu kok bilanf nggak apa-apa sih ? udah kamu tiduran aja. iya aku nggak akan mecat dokter itu. asal dia dateng aja. kalau nggak dateng aku pastikan dia nggak bisa praktek dimanapun nantinya." ucapnya malah terlihat bertambah kesal.
"Udah dong kamu jangan marah-marah, aku aja nggak apa-apa, kenapa kamu yang kelihatan panik sih." Cinta malah menahan tawa melihat tingkah suaminya.
"Aku panik lah liat kamu kayak tadi. bentar aku lihat ke luar dulu deh. aku cek dokternya dah datang belum. kamu tiduran aja dulu ya, jangan duduk. ingat ?" ucapnya penuh penekanan. Cinta hanya mengangguk mengiyakan. baru kali ini dia lihat suaminya itu sangat panik padahal ia hanya mual-mual saja pikirnya.
Sabda pergi ke bawah untuk mengecek dokter, ternyata benar saja, dokter itu baru saja datang, saat Sabda membuka pintu.
"Astaga, kenapa dokter lama sekali? cepatlah naik keatas. istri saya sudah sangat pucat," tuturnya pada Dokter tersebut.
Dokter itu pun segera mengikuti Sabda ke dalam ruangan kamarnya.
Cinta masih terlihat lemah dan hanya terdiam di tempat tidurnya.
"Sayang, dokternya udah datang, kamu diperiksa dulu ya," tuturnya dengan sangat lembut. hal itu membuat Dokter yang sudah menjadi kepercayaan keluarga Pramana itu terheran, ia sampai bengong karena tidak percaya kalau Sabda bisa selembut itu terhadap perempuan.
"Dok? kenapa malah bengong ! Segera periksa istri saya!" Sabda berbicara dengan nada yang meninggi.
"Sabda, kamu pelan-pelan kalau ngomong sama orang lain, Dokter maafkan suami saya ya dokter.." ucap Cinta yang merasa tidak enak.
Sabda hanya menghela napas panjang, ia tidak peduli dengan hal itu. ia hanya merasa cemas dengan keadaan istrinya.
"Maafkan saya Tuan Sabda, saya tadi
termenung, saya akan periksa keadaan Nona Cinta sekarang juga." tuturnya sambil mengambil stetoskop miliknya.
Dokter mulai memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Cinta yang cenderung rendah.
"Tekanan darah Nona Cinta termasuk rendah, harus banyak minum vitamin dan nanti saya berikan vitamin penambah darah juga." ucapnya, membuat Sabda semakin cemas.
"Lalu kenapa Cinta mual-mual Dokter? apa perlu ke rumah sakit?" tanya Sabda memastikan.
Cinta merasa saat ini suaminya itu terlihat sangat cemas, padahal dia sendiri biasa saja.
"Menurut saya, ada kemungkinan Nona Cinta sedang hamil. tapi saya harus memastikan lagi lewat tes urine dan juga tes melalui USG." tutur Dokter menjelaskan.
"Apa? Hamil?"
__ADS_1
Sabda dan Cinta terkaget bersamaan. namun raut wajah Sabda langsung terlihat luar biasa bahagia, padahal dokter hanya memprediksi belum memastikan hal itu. sementara Cinta terlihat belum memercayai hal itu.
"Astaga, aku baru ingat, aku belum menstruasi udah dua bulan ini.." gumam Cinta dalam hati.