THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
The Heirs 02 - Kejadian di masa lalu


__ADS_3

Keesokan harinya..


Andra pagi sekali sudah bersiap dengan rapi, tidak biasanya ia senyum-senyum sendirian, sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


Saat itu tiba-tiba adiknya muncul di pintu kamarnya.


"Bang Andra! Aku nebeng ya, anterin aku ke sekolah, aku nggak ada yang anter, supir yang biasa lagi sakit." tutur adiknya.


Andra menggaruk keningnya, ia tidak mungkin menolak permintaan adiknya, tapi hari itu ia juga harus mengantar Alya ke sekolah.


"Dek, kenapa kamu nggak minta di anter supir yang lain? kan supir ada banyak, bukan cuma satu." ucap Andra, mencoba mencari solusi lain untuk adiknya.


"Bang Andra mau jemput siapa sih? kayaknya nggak mau di ganggu ya?" tanya adik perempuannya itu dengan tatapan tajam.


"Aduh, kamu itu dek, kepo!" sahut Andra.


"Bang Andra mau jemput Kak Alya ya?"


"Bukan urusan kamu adik manis, udah sana kamu minta anterin supir lain, buat apa mereka di gaji, kalau kamu ujungnya minta anterin aku juga."sahut Andra.


"Tapi kak Alya juga pasti punya supir kan? kenapa malah bang Andra yang jemput?"


"Kalau itukan beda dek, udah kamu banyak tanya!"


"Ciyee.... beneran kan ternyata, mau jemput pacarnya, uhuuuy deh, uwuu banget bang Andra, romantis banget, yaudah deh, Alya nggak mau ganggu, daaaah..." Alya berlari keluar kamar abangnya.


Andra memijat keningnya, ia merasa adiknya sangat senang meledeknya terus menerus.


"Udah kayak anak muda aja, gini rasanya punya pacar anak sekolahan, tapi seru juga, daripada pacaran sama cewek agresif, lebih seru sama yang malu-malu kayak Alya." tutur Andra.


Andra segera mengambil kunci mobil miliknya, lalu ia mulai menjalankan mobilnya ke rumah Alya.


Tak berapa lama kemudian, akhirnya Alya tiba di depan halaman rumah Alya.


Andra membunyikan klakson mobilnya, Alya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, masuk ke dalam mobil Andra.


"Pagi Mas Andra." ucap Alya, sambil tersenyum canggung.


"Pagi Cantik." sahut Andra dengan leluasa membalasnya dengan kata-kata manis.


Alya kembali tersipu.


"Udah siap berangkat ke sekolah kan?" tanya Andra.


"Udah dong." jawab Alya.

__ADS_1


"Lucu banget kamu, yaudah kita berangkat sekarang."


Andra menjalankan mobilnya lagi menuju sekolah Alya.


"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Andra pada Alya.


Alya melirik Andra sekilas, "Pulang cepet, kan udah masa tenang, hanya menunggu kelulusan aja." ucapnya.


Andra mengangguk.


"Kalau gitu, nanti kamu kabarin aku mau pulang jam berapa, biar aku jemput."


Alya tersenyum, kemudian mengangguk juga.


"Oke." jawabnya setuju.


Sesampainya di depan sekolah Alya, Andra menghentikan mobilnya, lalu Alya pun membuka sabuk pengamannya.


"Makasih ya Mas, udah mau anter Alya." ucapnya sambil tersenyum manis.


"Iya sama-sama, jangan lupa kabarin aku mau di jemput jam berapa. oke?"


"Iya Mas, nanti Alya kabarin Mas Andra kok." jawabnya.


Alya segera keluar dari mobil Andra, ia melambaikan tangan menghadap ke jendela mobil Andra.


Andra membalasnya dengan senyuman, ia segera melanjukan mobilnya menuju ke kantornya.


Alya segera masuk ke dalam kelas, ia bertemu dengan kedua sahabatnya, Kiki dan Alisa di koridor menuju ruangan kelas mereka.


"Alya kamu baru dateng juga, keren kamu Alya, nggak datang terlambat lagi, ini kan padahal hari senin." ucap Kiki.


"Iya bener, apa kamu nggak nonton drama korea lagi kemarin?" samber Alisa.


"Nggak, aku kemarin ada acara jadi nggak sempat nonton drama korea, aku sibuk kemarin, tapi aku jadi cukup tidur karena nggak begadang," sahut Alya pada kedua sahabatnya.


"Memangnya kemana kamu kemarin?" tanya Alisa merasa penasaran.


"Iya, kamu kemana?" Kiki juga jadi penasaran.


"Mau tahu aja deh kalian!" Alya segera masuk ke dalam kelas meninggalkan kedua sahabanya.


"Alyaaaa..." Kiki dan Alisa merasa kesal karena Alya tidak mau berterus terang.


**

__ADS_1


Di Kantornya, Andra mulai mengurus beberapa pekerjaan, ia sangat sibuk hari ini, karena ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.


Sudah satu jam lebih ia berkutat dengan kertas yang begitu banyak, hingga akhirnya selesai juga menandatangani semu berkas itu.


"Pak Andra, ini saya bawakan kopi untuk Bapak," ucap sekertarisnya.


"Ya, letakkan saja di meja." sahut Andra yang sedang merenggangkan otot bahunya yang kaku.


"Bapak mau saya buatkan makanan atau yang lainnya?" tawar sekertarisnya, yang sepertinya sedang mencari perhatian bossnya.


"Tidak, kalau kau sudah selesai cepat keluar, aku masih harus bekerja." ucap Andra ketus.


Andra memang selalu bersikap ketus dengan semua wanita, terkecuali pada Alya, entah kenapa ia tidak bisa ketus pada Alya.


"Baik kalau begitu saya permisi dulu," wanita itu pergi meninggalkan ruangan Andra, lagi-lagi sikap Andra belum luluh juga batin wanita itu.


Saat Andra sedang melihat jam di tangannya, ada suara dering handphone berbunyi.


"Siapa yang menelpon di jam kantor?" gumamnya.


Andra menatap layar handphone miliknya.


"Nomor siapa ini?" gumamnya.


Andra enggan mengangkat telepon dari nomor yang tidak ia kenal, ia akhirnya memilih mematikan panggilan tersebut.


Setelah itu ada pesan baru masuk, Andra membuka pesan tersebut.


Ia terkejut saat membaca isi pesan itu.


"Callista?" satu kata yang keluar dari bibir Andra, saat itu wajahnya berubah pucat pasi, seperti baru mendapatkan surat ancaman saja,padahal hanya sebuah pesan singkat.


"Untuk apa wanita ini kembali menghubungiku, dan kenapa dia minta aku menemuinya?" gumam Andra, ia memijat pelipisnya, kepalanya mulai berdenyut, ia merasa pusing.


Callista adalah mantan kekasih dari sahabatnya yang sudah lama meninggal, sahabatnya itu adalah putra tunggal dari Rama, sahabat Sabda yang tidak lain adalah papanya.


Sahabanya itu bernama Damien, ia meninggal karena sebuah kecelakaan, saat itu Damien salah paham karena melihat Callista mencium pipi Andra, padahal saat itu Andra dalam keadaan mabuk, Callista memang menyukai Andra, ia menyukai Andra saat sedang menjalin hubungan dengan Damien, sedangkan Damien tidak mengetahui hal itu sama sekali.


Damien salah paham lalu pergi meninggalkan Andra dan Callista dalam keadaan kalut, ia akhirnya kehilangan kendali saat berada menyetir, lalu meninggal saat kecelakaan terjadi.


Sejak saat itu keluarga Rama menjauh dari keluarga Sabda, meskipun Andra sudah menjelaskan semuanya, tapi tetap saja Rama merasa terpukul karena telah kehilangan anak semata wayangnya.


Rama akhirnya lebih memilih untuk pergi pindah keluar negri, karena hal itu Cinta bahkan sempat jatuh sakit.


"Aku tidak akan menemuinya, untuk apa lagi dia mencoba mencariku, kalau melihatnya hanya membuatku teringat akan Damien saja." Andra menyandarkan tubuhnya sambil mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


"Damien, kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku, aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu, aku tidak pernah menghianatimu." ucapnya dengan rasa menyesal yang akan terus ada dalam hidupnya, kehilangan seorang sahabat yang sudah bersamanya dari kecil, bahkan mereka sudah seperti saudara.


__ADS_2