
Cinta hanya terdiam. ia sadar dirinya tidak bisa menolak lagi. ia sudah terlanjur berhutang pada Sabda. itu saja yang ada dalam benaknya saat ini.
Sabda langsung mengajak Cinta ke salah satu Salon yang termahal. namun ia berhenti dan mengurungkan niatnya tidak jadi ke salon itu. ia memutar balik langsung ke rumahnya saja.
"Kenapa kita tidak jadi ke salon?" Tanya Cinta yang tidak percaya diri dengan wajahnya.
"Tidak perlu. sudah cukup begitu saja" Ucap Sabda yang sebenarnya menyukai Tampilan Wajah Cinta yang terlihat Natural.
"Baiklah" Cinta hanya tertunduk.
"Di Rumahku nanti kau hanya perlu mengikuti perkataanku. jangan berbicara ketika aku tidak memintamu berbicara. apa kau mengerti?" Tegas Sabda pada Cinta. Cintapun hanya mengangguk pelan.
Sesampainya di depan Gerbang Rumah Mewah Sabda yang terlihat bak Istana yang sangat megah. Membuat pandangan Cinta terpaku tidak bergeming. ia belum pernah melihat rumah sebesar ini. "Istana!" Gumam Cinta pelan. sedangkan Sabda hanya terdiam dengan wajah datarnya.
"Ayo Masuk" Ajak Sabda menggandeng Tangan Cinta.
"Ingat yang aku katakan di mobil tadi" Ucap Sabda mengingatkan Cinta
"Aku mengingatnya" Jawab Cinta.
"Bagus. Panggil aku Sabda jangan Panggil Tuan. Okey!" Tegas Sabda pada Cinta.
"Baiklah" Jawab Cinta yang sebenarnya sangat Gugup. namun ketika ia melihat pantulan dirinya di depan Cermin yang ada di ruanh Tamu milik Sabda ia merasa ada kepercayaan diri yang muncul melihat Gaun yang ia kenakan sangat elegan dan mewah.
"Selamat Datang Tuan Muda Sabda" Sapa para pelayan rumah Sabda. mereka memandangi Cinta yang menurut mereka sangat Cantik.
"Sabda!" Panggil Delia menyapa anaknya yang baru datang menggandeng seorang wanita.
"Sabda ini calon istrimu?" Tanya Delia tercengang tidak menyangka sama sekali ternyata putranya itu tidak berbohong.
"Dimana Papa?" Tanya Sabda.
__ADS_1
"Masuklah Papamu di ruang Makan" Ucap Delia menuntun Sabda.
"Aku bisa jalan sendiri Ma," Ketus Sabda. sedangkan Cinta hanya diam saja tidak berani bersuara. Delia terus memandangi Cinta dengan wajah penuh senyuman.
Sabda tidak melepas genggaman tanganya pada Cinta. sesekali melirik Cinta yang hanya tertunduk. "Angkat kepalamu!" Bisik Sabda pada Cinta. Sontak Cinta pun mengangkat kepalanya.
Pramana yang sudah menunggu Sabda di meja makan hanya terdiam melihat putranya sudah menggandeng wanita di sampingnya.
"Selamat Malam Pa," Ucap Sabda menyapa. Cinta hanya tersenyum manis menapat wajah Pramana dan Delia yang tepat berada di hadapanya.
"Duduklah" Ucap Pramana kepada Sabda. Sabda dan Cinta pun duduk.
"Jadi siapa gadis yang kau ajak kesini Sab?" Tanya Pramana yang mulai memotong motong Steak yang ada di depanya. Sementara Cinta hanya terdiam tidak bergerak.
"Sayang jangan terlalu tegang dong. lihat kasian gadis cantik yang di bawa oleh Sabda. dia sampai terlihat Gugup. Kamu sangat malu malu ya Nak. Namamu siapa gadis kecil?" Tanya Delia pada Cinta.
Cinta melirik Sabda yang mengangguk pelan mengisyaratkan agar Cinta boleh menjawab.
"Perkenalkan Tuan Dan Nyonya. Nama Saya Cinta Nirmala" Ucap Cinta dengan sopan.
"Tenanglah Ma" Ucap Pramana dengan raut wajah yang sama persis dengan Sabda.
"Huuh kalian berdua ini sangat tegang sekali" Gumam Delia lagi lagi tersenyum manis kearah Cinta. Sementara Cinta membalas senyuman Delia.
"Bukankah itu Papanya Sabda. sangat mirip dengan Sabda. sangat dingin dan angkuh" Gumam Cinta dalam hati.
"Pa, Ma, Sabda sudah membawa seorang wanita yang menjadi pilihan Sabda. jadi Sabda mohon jangan pernah berpikir untuk menjodohkan Sabda lagi" Tegas Sabda.
"Mana mungkin karna sekarang Mama sudah menyukai Wanita pilihanmu itu dia sangat mirip seperti Mama Pemalu dan polos" Ucap Delia. Sementara Sabda merasa tidak percaya sama sekali "Mustahil"Gumam Sabda dalam hati.
"Jadi Namamu adalah Cinta Nirmala?" Tanya Pramana memastikan
__ADS_1
"Benar Tuan" Jawab Cinta singkat.
"Kau sudah berapa lama mengenal Putraku Sabda?" Tanya Pramana.
Cinta terdiam dan mulai berkeringat ia melirik ke arah Sabda. Sabda langsung menaruh Pisau yang sedang ia genggam.
"Pa, Sabda baru saja menngenal Cinta. baru bertemu denganya kemarin malam" Ucap Sabda dengan yakin.
"Apa?" Mata Pramana membulat ia merasa tidak menyangka ternyata wanita yang dibawa putranya itu belum lama dikenal.
"Kenapa Papa kaget?" Tanya Sabda. sementara Delia dan Cinta hanya terdiam dan menunduk.
"Pa, tidak masalah baru mengenal yang terpenting Sabda menyukai Cinta kan" Tutur Delia.
"Diam!" Ucap Pramana menatap tajam kearah istrinya. Delia langsung diam membisu begitu juga dengan Cinta yang bingung harus mengatakan apa.
**
Pa, Bukanya Papa bilang tidak mempermasalahkan tentang latar belakang dan lain lain. asalkan dia tidak memiliki riwayat masalalu yang kelam. Cinta memang baru aku kenal. tapi bagaimanapun juga aku sudah memilihnya." Ucap Sabda Tegas kepada Papanya.
Cinta yang merasa kaget mendengar ucapan Sabda menjadi salah tingkah "Jangan bersikap berlebihan. aku memperhatikanmu!" Bisik Sabda pada Cinta pelan. Cinta menatap mata Sabda namun Sabda selalu memasang tampang ketus "Kenapa aku harus mengalami situasi semacam ini" Gumam Cinta dalam hati.
"Baiklah Papa akan menghargai pilihanmu. Cinta bagaimana dengan orang tuamu? dimana mereka saat ini?" Tanya Pramana pada Cinta. Cinta mendengar pertanyaan itu langsung terkejut dan ia merasa bingung harus menjawab Apa. Lidahnya terasa kaku bahkan ia tidak berani memandang wajah Pramana sama sekali.
"Pa..."Sabda mencoba menjawab pertanyaan Papanya namun Tangan Pramana menghentikan gerakan mulut Sabda. "Biar dia yang jawab." Tegas Pramana.
Cinta menarik nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan. ia harus menjawab pertanyaan Pramana bagaimanapun hasilnya ia hanya akan berkata Jujur tentang dirinya yang sudah tidak memiliki orang tua.
"Tuan Pramana, Saya Cinta saat ini tinggal sendiri karena kedua orang tua saya kecelakaan dan meninggal saat saya masih kecil. sedangkan Saya tadinya tinggal bersama Nenek Saya namun Nenek saya meninggal ketika saya berusia 17 tahun. setelah itu saya Tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tua saya" Tutur Cinta menjelaskan secara jujur tentang jati dirinya. Sabda yang terbengong dia kaget karena baru mengetahui tentang kehidupan Cinta yang ternyata tidak memiliki orang tua. sedangkan Pramana hanya mengangguk saja.
Delia berkaca kaca ia merasa iba dengan keadaan Cinta bagaimana mungkin seorang anak gadis hidup membiayai dirinya sendiri dari sejak usia remaja.
__ADS_1
sementara Anak gadis lain justru mungkin sedang senang meminta pada orang tua mereka yang Kaya Raya tanpa Tahu bersusah payah.
Sabda menatap wajah Cinta yang mulai Basah karena Airmata. sesekali Cinta mengusap airmatanya dan tersenyum menatap wajah orang orang yang sedang melihatnya dengan tatapan iba.