
Pagi harinya..
Andra masih tertidur, sedangkan Alya sudah lebih dulu bangun, seperti pagi sebelumnya, Alya mempersiapkan sarapan pagi untuk Andra, kali ini ia membuatkan nasi goreng omelet. Tidak biasanya Alya merasa mual ketika memasak, padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Akhirnya ia memberikan masakan tersebut pada bi Asih, lalu bi Asih yang melanjutkan memasak. Alya memilih ke kamar membangunkan suaminya yang masih tertidur.
"Mas, kamu kok belum bangun? memangnya enggak ke kantor?"
Andra menggerakkan tubuhnya, tapi matanya masih terpejam. Semalam ia tidur agak malam, setelah memasak spagetti, dan membiarkan Alya tidur, Andra masih harus menyelesaikan pekerjaannya sampai tengah malam sendirian.
"Mas, bangun dulu, udah siang loh."
Akhirnya Andra menyipitkan matanya yang masih terasa berat. "Udah pagi ya, kepalaku berat banget, kayaknya hari ini aku enggak ke kantor deh sayang," ucap Andra sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
Alya terkejut, ia segera menyentuh kening Andra, untung saja tidak panas, batin Alya.
"Kamu kenapa Mas? pasti kurang tidur, semalam kamu tidur jam berapa?"
"Aku tidur jam satu, karena pekerjaanku baru selesai aku kirim jam segitu. Makanya aku enggak pergi ke kantor dulu deh hari ini," sahutnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa kerjakan semuanya sendirian? kan ada sekertaris kamu, atau asisten kamu Mas? jadinya kan kamu enggak perlu begadang, kalau kamu sakit gimana?"
Andra mengelus sebelah pipi Alya lembut, "aku enggak apa-apa kok, kamu jangan cemas, ini hanya kelelahan biasa, lagipula memang jari ini juga aku enggak ada pekerjaan yang penting, semua sudah aku percayakan ke asisten, semalam itu penting benget sayang, aku harus kirim filenya, jadi aku begadang deh." sahutnya.
Alya mengelus punggung tangan suaminya, "yaudah sekarang kamu sarapan ya? tadi aku masakin kamu nasi goreng. Cuma pas aku masukin udang, aku malah mual, makanya aku kasih ke bibi, entah kenapa kok aku mual banget cium bau udang, Mas."
Andra terheran, "iya ya kok enggak biasanya? kemarin kata bibi, kalau orang hamil ciri-cirinya mual dan ingin makan aneh-aneh enggak kayak biasanya, apa kamu hamil ya sayang?"
Alya menutup mulutnya, "masa sih Mas?" jawabnya kaget.
Andra menggaruk keningnya, "aku juga enggak tahu pasti, tapi kalau benar kamu hamil, aku seneng banget. Kamu enggak masalah kan?"
"Sayang kok kamu malah bengong?" tanya Andra sambil mengusap puncak kepala isterinya.
"Aku juga seneng banget kalau aku hamil sayang, itu tandanya Tuhan kasih kepercayaan untuk kita berdua, tapi kalau aku masih kuliah, aku takut enggak bisa jaga kandunganku, nanti malah kenapa-kenapa lagi, itu aja yang lagi aku pikirin Mas," jawab Alya.
Andra mengerti perasaan isterinya, tapi kalau hamil harus menunggu sampai Alya lulus itu juga memakan waktu yang lumayan lama. Sedangkan sebagai seorang yang sudah matang, Andra ingin juga segera memiliki keturunan, cuma ia tidak mau membebani isterinya akan hal itu, karena ia mencintai Alya tanpa syarat apapun.
__ADS_1
"Sayang, kalau kamu hamil maka itu berarti Tuhan juga sudah persiapkan semuanya untuk kita, kesanggupan untuk menjalaninya, hingga ia terlahir ke dunia, juga kesanggupan untuk menjaganya ia hingga tumbuh besar dan dewasa, kita hanya perlu yakin dan terus berdoa, kamu enggak boleh berpikiran negatif ya, cemas boleh asal tidak berlebihan, lagipula kan, ada aku," terang Andra sambil mengecup tangan Alya lembut.
Alya mencerna kembali perkataan suaminya yang menurutnya sangat bijak itu, ia juga tidak mungkin menunggu sampai lulus kuliah, kalaupun memang ia hamil, ia akan tetap melanjutkan pendidikannya walaupun harus mengambil cuti melahirkan nantinya.
"Iya Mas, kamu bener. Maafin aku ya Mas, aku tuh masih labil banget, aku beruntung punya kamu yang dewasa, jadi ada yang ingatkan aku. Kalau aku mulai seperti tadi, bingung dan serba salah. Makasih ya sayang," jawab Alya sambil memeluk suaminya.
Andra tersenyum sambil menyentuh dagu Alya, bermaksud memberikan kecupan selamat pagi kepada istrinya, tapi mendadak Alya menutup mulutnya, wajahnya memerah dan berkeringat.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Andra bingung melihat Alya yang menjauhinya.
"Mas, aku mual banget, aku ke kamar mandi dulu ya."
Alya segera berlarian menuju kamar mandi, ia juga segera memuntahkan isi perutnya, "Astaga, mual benget, kenapa pas Mas Andra mau ciuma ku, aku malah berasa mual banget ya, duh... aku kenapa sih?"
Andra segera menyusul Alya, ia juga panik karena melihat Alya yang tiba-tiba muntah-muntah seperti itu. "Sayang, kamu sakit?"
Alya menggeleng, "enggak tahu Mas, tadi enggak apa-apa kok, memang mual pas masak nasi goreng, tapi ini barusan kok semakin menjadi ya, perutku kayak ada yang guncang, bikin aku jadi gak bisa nahan pengen keluarin isinya, padahal aku belum makan apa-apa sejak tadi," jawabnya.
__ADS_1
Andra juga bingung, sebenarnya Alya kenapa. Akhirnya ia memilih untuk segera mandi dan bersiap, "kita ke rumah sakit ya habis ini, aku enggak mau kalau kamu sampai sakit, tunggu aku mandi sebentar," ucapnya.
Alya hanya mengangguk, ia juga tidak nyaman, kalau tidak di periksa maka tidak akan tahu, sebenarnya ia kenapa. "Apa benar aku hamil?" gumamnya sambil menyentuh perutnya yang datar.