Tokoh Utama

Tokoh Utama
Utama, sang tokoh utama


__ADS_3

pagi ini langit terlihat gelap, matahari tidak menampakkan wajahnya, keadaan di ibukota terlihat senyap. diantara gedung yang menjulang tinggi,ada sebuah gedung yang diatasnya terdapat beberapa orang.


dua orang mengenakan pakaian serba hitam, sementara satunya lagi mengenakan seragam SMA harapan bangsa yang letaknya tidak jauh dari tempat itu.


"mau apa kalian.? "


tanya anak SMA itu dengan wajah ketakutan.


"kau sudah banyak membuat masalah."


jawab salah seorang sambil mendekati anak SMA itu.


"masalah? aku bahkan tidak kenal dengan kalian.!? "


anak SMA itu semakin ketakutan, perlahan ia mundur ke belakang.


"anak muda sepertimu tidak pantas dengan Nona kami."


"ya, dengan begini, tidak ada lagi yang perlu ditangisi Nona kami."


kedua orang itu berucap bergiliran, lalu mendekati anak SMA itu dengan wajah jahatnya.


"jangan mendekat..!


anak SMA itu sedikit teriak, selangkah lagi ia mundur, kakinya sudah tidak memiliki tempat untuk berpijak.


orang itu sudah berdiri di depan anak SMA itu" mati kau. !!" teriaknya sambil mendorong anak SMA itu.


"tidak..! "


anak SMA itu terlempar dan melayang di udara.


"ayo pergi! sebentar lagi tempat ini ramai akan polisi.! "


kedua orang itupun pergi meninggalkan tempat itu dengan secepat kilat.


BRAAAKK...


setelah beberapa saat di udara, tubuh anak SMA itu menghantam mobil yang langsung peot bagian atasnya.


BUKK..


lalu jatuh ke tanah tepat di pinggir jalan.


anehnya, anak itu tidak kenapa-napa, dia menggelengkan kepalanya "aku kenapa? ada apa? kepala ku terasa sangat pusing." ucapnya pelan.


"wah, kakak hebat,walaupun setinggi ini tidak mati.. "


tiba-tiba datang seorang perempuan kecil, diperlukannya ada sebuah boneka beruang berwarna coklat. dia berbicara kurang jelas karena di mulutnya terselip permen Lolipop, matanya mengarah ke atas.


anak SMA itu kemudian duduk, lalu menatap keatas mengikuti arah mata anak kecil tadi.


"setinggi inikah aku melompat? siapa yang mendorong ku? kenapa aku tidak mati.?"


anak SMA itu kebingungan.


berbeda dari anak kecil itu, beberapa orang yang melihat kejadian itu memandangi anak SMA itu dengan raut ketakutan, layaknya melihat hantu.


anak SMA itu berdiri,lalu menepuk-nepuk pakaiannya yang penuh debu.


"hey, utama! tunggu..!


tiba-tiba dari belakang ada suara.


anak SMA itu menoleh ke belakang, dia melihat seorang pria seumuran yang sedang berlari ke arahnya.


" siapa.? "


anak SMA itu kebingungan.


"siapa katamu? apa kau lupa denganku? Randa, pria yang diperebutkan banyak wanita. "

__ADS_1


begitu dekat orang itu merangkul bahu anak SMA tadi. namanya adalah Randa.


"apakah kita bersahabat.? "


anak SMA itu masih tidak ingat.


Pong..


Randa memukul kepala sahabatnya itu, pertanyaan itu membuatnya kesal.


"aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku merasa kau ini sedikit gila, utama"


Randa menghela nafas lalu berbicara.


"utama? apakah itu namaku.?"


anak SMA itu terus berlagak bodoh.


"hey, hey, hey! berhenti terlihat seperti orang bodoh,bahkan nama sendiri kau tidak ingat..! "


Randa berteriak lalu berjalan.


anak SMA itu masih diam ditempat, dia masih belum mengerti dengan semua ini.


"hey, utama, ayo cepat! kita sudah hampir terlambat."


Randa mengingatkan.


"terlambat"anak SMA itu memandangi seragam yang dikenakan Randa, kemudian ia menatap seragam yang ia kenakan.


" aku tidak mengenal dia, namun dia mengaku sebagai sahabatku, aku tidak tahu namaku, tapi dia memanggilku utama, aku terjatuh dari ketinggian yang terlalu, tapi aku tidak mati, dan bahkan aku tidak merasakan sakit sama sekali. apa maksud dari semua ini.? "


anak SMA itu memandangi langit.


"utama? tidak mati? hal yang paling menjelaskan tentang semua ini adalah, aku hanyalah tokoh utama di dalam sebuah cerita, dan alasan kenapa aku seperti orang bodoh, karena ini masih episode pertama." gumamnya lalu berjalan menyusul Randa.


pemuda ini adalah utama, tokoh utama dalam cerita ini. begitu mengetahui kenyataan ini, raut wajahnya seketika berubah "berada di dalam imajinasi seseorang. menyebalkan. " saat ini dia sudah tidak perduli dengan keadaan sekitar, "yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti alur saja. "


Utama dan Randa sudah sampai di sekolah, diparkiran berjejer mobil-mobil mewah serta motor-motor berkelas.


"bukankah aku tokoh utamanya? kenapa aku hanya berjalan kaki? " batin Utama kesal.


mereka berjalan melewati siswa siswi yang lain, banyak orang yang menatap Utama dengan tatapan merendahkan, ada juga yang terlihat ingin memangsa dirinya. namun, Utama tidak memperdulikan semua itu, dia memperlihatkan wajah yang tidak enak dipandang, tatapan datar yang menyebalkan.


"hey, lihat! si pecundang lewat..! "


teriak salah seorang.


"ada apa dengan mereka.? "


Utama bertanya pada Randa.


"mungkin karena kejadian kemarin. tapi ini sudah kelewatan, anak kelas 10 bahkan sudah berani menghina mu. " Randa menjawab penuh emosi "biar kuberi dia sedikit pelajaran. " Randa menghampiri orang yang menghina tadi.


"sudahlah, tidak perlu" Utama mencoba menahan, namun Randa tidak memperdulikan.


"hey, kau! sepertinya nyalimu besar juga. "


Randa menantang "ayo berdiri! hadapi aku. "


"baiklah kakak kelas" ucap lawannya lalu berdiri. dia biasa dipanggil Amoy.


"gawat, tidak ku sangka tubuhnya sebesar ini" Randa kaget melihat adik kelasnya yang memiliki tubuh bongsor.


BUAAK


pertarungan di mulai, Randa langsung meninju dada bidang lawannya. orang disekitar langsung memeriahkan perkelahian.


"hanya seperti ini sajakah kekuatanmu.? " Amoy tertawa.


"mati, mati,mati, bagaimana ini? " Randa mulai ketakutan.

__ADS_1


BUUK


Amoy membalas dengan satu tendangan keras yang menghantam dada Randa.


"sial.. aku tidak boleh kalah, terlalu banyak wanita yang menonton. " batin Randa sambil menahan rasa sakit.


"ayo bangun! Amoy tersenyum meremehkan " kau lihat! orang yang kau bela saja tidak memperdulikanmu." lanjutnya sambil menunjuk Utama yang dari tadi tidak perduli.


mendengar ucapan Amoy, kuping Utama memanas, dia melirik dengan mata yang tajam. "ini hanyalah sebuah cerita, tidak ada untungnya aku ikut campur.." sesaat kemudian Utama kembali sadar.


Randa kembali berdiri "tidak perlu Utama ikut, aku sendiri yang akan mengalahkan mu. " kemudian menggoyangkan kedua tinjunya layaknya Bruce Lee.


"dasar bodoh! kalian memang pantas menjadi sepasang sahabat bodoh! " Amoy berteriak lalu maju.


BUUK..


Amoy melesatkan tendangan kearah kepala Randa, dengan kekuatan penuh Randa menahan lalu membalas dengan tendangan.


BAAKK


tendangan Randa sukses mengenai bahu Amoy. namun, Amoy tidak terlihat kesakitan.


"cih, hanya inikah kekuatanmu.? " Amoy tersenyum jahat, "sepertinya kau tidak tahu bahwa aku adalah salah satu orang yang ditakuti di kelas 10." Amoy mendekati Randa yang mencoba menyerang, tidak menghindari Amoy seperti dengan sengaja ingin terkena pukulan Randa.


BUAAK


dengan sekali tinju, Amoy membuat tubuh Randa terlempar jauh.


tidak berhenti di situ, Amoy kembali mendekati Randa yang tergeletak lemah.


"sudahlah, kau tidak perlu bertarung mati-matian hanya untuk membela sampah seperti dia. " Amoy menunjuk wajah Utama yang masih tidak perduli.


"sampah katamu? kau tidak tahu apa-apa tentang dia. aku.. dan dia sudah bersahabat dari kecil, jadi... jangan sekali-sekali kau menghinanya. " Randa kembali berdiri walau kesulitan.


"sahabat? " Utama merasa tersentuh.


"menjijikkan...! "


BUUKK


Amoy berteriak lalu meninju hidung Randa yang langsung berdarah.


BUUK


tubuh Randa terhempas ketanah, kali ini dia sudah tidak bisa bertarung.


"jika kau masih ingin bersahabat dengan pecundang itu, maka bersiaplah untuk ku habisi.. " Amoy mengangkat tinggi kakinya bersiap untuk memijak tubuh Randa. "bersiaplah..! " teriak Amoy lalu mengayunkan kakinya.


DAAKK


seketika tubuh Amoy terlempar jauh, tidak begitu jelas entah apa yang terjadi, tapi yang jelas Utama saat ini berdiri kokoh diposisi Amoy tadi.


BRAAAKK BRUK BRAAAKK


tubuh Amoy menghantam tubuh orang orang yang dari tadi hanya menonton.


"apa yang terjadi..? "


"kenapa Amoy terlempar? siapa yang memukulnya.? "


orang bertanya-tanya melihat kejadian itu.


Amoy tidak bisa berdiri, matanya memandang Utama dengan penuh rasa tidak percaya "dia cepat sekali, ini tidak mungkin.. "


Utama mencoba membantu Randa untuk berdiri, merangkulnya dan mereka pun pergi menuju kelas.


"aku rasa semua guru disini makan gaji buta, bagaimana mungkin perkelahian seperti ini tidak di lerai.. " gumam Utama.


buat yang udah baca,**bantu like n coment ya


terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2