
dibawah langit yang dilapisi awan gelap, di sebuah lokasi yang penuh kehancuran, tepatnya di atas permukaan tanah yang tertimpa puing-puing gedung runtuh berserakan, terlihat beberapa orang sedang berkumpul, di sekeliling mereka banyak monster-monster yang terlihat mengerikan.
Utama dan Hajime menatap tajam kearah seorang wanita, keduanya terlihat sudah siap tempur.
Miyu tidak bisa tersenyum, sepertinya dia mengakui kehebatan dua remaja yang baru saja melancarkan serangan mematikan padanya.
cukup berjarak dari ketiga orang di atas, Jiro dan Hiro memandang Miyu.
Jiro tersenyum, "dia memang seorang wanita, tapi dia juga sangat kuat.." dia melangkah kearah Miyu, "baiklah, aku akan memotong kepalamu dengan sekali tebas. " seringainya.
Hiro memukul ujung sarung pedangnya, seketika pedang itu melambung keatas, Hiro melompat dan menangkapnya lalu mendarat.
Hiro tersenyum, "baiklah Jiro.. ayo kita penggal kepala wanita yang menjijikkan itu! " dia melangkah di samping Jiro.
disaat itu, monster-monster kembali bergerak, mereka berlompatan kearah Jiro dan Hiro serta pasukan tiger white.
Jiro menoleh kearah pasukannya, kemudian memiringkan kepalanya kearah monster-monster itu.
"selesaikan.. " Jiro tersenyum.
pasukan tiger white memandang monster-monster yang mulai berdatangan, kemudian menatap Jiro sambil tersenyum, sepertinya mereka sudah siap untuk kembali bertarung.
"dibandingkan dengan Joko, Jiro memang lebih hebat.. tidak ada salahnya kita ikuti jalannya. " ucap salah seorang sambil tersenyum.
"yah, tubuhku juga sudah cukup istirahat, ayo kita selesaikan semua monster menjijikkan itu! " sahut yang lainnya.
"sudah cukup istirahat!? aku harap kau tidak akan mengeluh nanti. " ejek yang lain tersenyum.
Randa dan Arya hanya diam ditempat, mereka masih bingung harus melakukan apa dengan tubuh yang lemah ini.
Randa menoleh monster-monster itu, kemudian menatap Arya, "paman, ada apa dengan monster-monster itu? kenapa mereka tidak menyerang Utama dan Hajime, padahal mereka sangat dekat.. dan juga wanita itu.. "
Arya memandang Miyu, "darah Miyu sudah disuntikkan dengan cairan penangkal monster-monster itu, itu membuat monster-monster itu tidak berani mendekatinya, termasuk orang yang berada di dekat Miyu sekalipun.. "
"cairan penangkal!? " tanya Randa.
"ya, itu membuat darah Miyu beraroma tidak nikmat bagi monster-monster itu, tidak! lebih tepatnya sangat dibenci monster-monster itu. " jawab Arya.
Randa terkejut, "jadi monster-monster itu hanya tertarik dengan darah!? "
"begitulah!" ucap Arya.
Tap
Jiro mulai berlari kearah Miyu, dia tersenyum jahat sambil memain mainkan pedangnya.
"aku datang! " teriaknya.
Miyu tersenyum, "mungkin disini monster-monster itu sudah hampir musnah, tapi.. ribuan monster masih berkeliaran di kota ini.. hahaha.! " dia tertawa, kemudian menatap tajam kearah Jiro, "dan lagi.. kalian semua akan ku ubah menjadi monster menjijikkan itu. "
Miyu mengeluarkan senjata yang berbentuk seperti pistol, kemudian sejumlah peluru seperti jarum namun lebih kasar melesat kearah Jiro dan Hiro.
"cih, senjata mainan macam apa itu? " Jiro tersenyum dan dengan mudah menghindari serangan itu.
"akh..! " tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang Jiro.
Jiro menoleh kebelakang, ternyata salah satu pasukannya terkena jarum itu tepat di bagian leher. sesaat kemudian orang itu berteriak kesakitan bersama tubuhnya yang mulai berubah, lalu berubah menjadi monster.
"kau harus mati! " dengan sigap, salah seorang menebas leher orang yang berubah menjadi monster, seketika kepala dan tubuh monster itu terpisah bersama cipratan darah yang menyiram ke segala arah.
Randa terkejut melihat kejadian itu, "jadi semua monster itu berasal dari manusia!? " teriaknya.
"kau belum mengetahuinya? " Arya lebih terkejut lagi. "didalam jarum itu terdapat cairan Fh1.. "
setelah itu, pasukan tiger white mengangkat senjata dan menyerang semua monster yang mendekati.
__ADS_1
Jiro dan Hiro melirik kearah jarum jarum yang tertancap di tanah, kemudian menatap Miyu, "jadi begitu cara kerjanya. " ucap Jiro lalu kembali berlari kearah Miyu.
"ayo Jiro! kita buat wanita ini menyesal sampai lebih memilih untuk bunuh diri.! " Hiro berteriak lantang sambil berlari.
"dasar sialan! akan ku bungkam mulut sombong mu itu! " teriak Miyu dengan urat-urat wajah yang terlihat, sepertinya dia sangat geram.
Miyu kembali menghujani Jiro dan Hiro dengan jarum mematikannya, namun saudara kembar itu dengan mudah menghindari itu.
"apa hanya ini yang kau punya!? aku bahkan bisa membelah peluru kecepatan tinggi dengan mudah! " Jiro berteriak sambil berlari.
Jiro menyerang Miyu dari kanan, saat ini dia sudah siap membelah Miyu dengan tebasan.
"matilah! " Jiro tersenyum jahat seakan semuanya sudah berakhir.
Jiro melompat sambil mengarahkan tebasan dari udara, Miyu tidak menghindar, dia melindungi wajahnya dengan tangan untuk menyambut tebasan Jiro.
Ting..
tiba-tiba terdengar suara besi yang beradu.
"apa!? kenapa tangannya tidak terpotong!?" Jiro terkejut, dia melihat pakaian yang menutupi lengan Miyu robek, dan didalamnya ada sesuatu yang menyilaukan.
"apa!? lengannya dilapisi besi!? " batin Jiro.
Miyu tersenyum, kemudian membalas dengan menghantamkan sepatu haknya ke wajah Jiro secepat mungkin.
Baamm..
Jiro yang masih dalam terkejut, tidak sempat menahan tendangan Miyu, wajahnya menjadi samsak kaki Miyu dan berdarah. detik berikutnya, tubuh Jiro terlempar dan menyeret di pasir yang langsung berterbangan.
"sial! " Jiro masih terhempas, dia menancapkan pedangnya ke tanah dan berjongkok, laju tubuhnya pun terhenti.
di samping itu, Hiro sudah berada di samping Miyu di sebelah kiri, dia mengeluarkan tusukan kearah perut Miyu yang berjarak sangat dekat.
"sial! " Miyu mencoba menghindar.
"matilah! " teriak Hiro.
walau hampir tertusuk, Miyu masih bisa mengelak mundur, tapi pakaian di bagian perutnya juga terkikis, jika dia bernafas mungkin perutnya tergores.
Hiro menarik pedangnya, kemudian kembali mengayunkannya kearah perut Miyu, sepertinya dia berniat memotong Miyu hingga tubuhnya terbelah dua.
Baamm..
saat pedang Jiro hampir menyentuh lawannya, tiba-tiba tubuh Jiro terpental jauh, di bagian hidungnya memuntahkan darah. ternyata Miyu lebih dulu menghantamkan sikunya ke wajah Jiro sambil memutarkan tubuhnya.
"sial, mereka sangat merepotkan! " Miyu terlihat kesal.
"jangan pernah berpikir ini sudah selesai! " disaat itu Hajime menyerang Miyu dari depan.
"cih, anak ini lagi. " Miyu bersiap.
Hajime melompat sambil berputar, lalu melesatkan tendangan keras.
Miyu tidak menghindar, dia menahan tendangan Hajime dengan lengannya, tubuhnya terdorong kebelakang beberapa langkah. namun dia masih dalam posisi berdiri.
Hajime kembali melompat, kali ini dia mengarahkan dua cakarnya dari kanan dan kiri Miyu, sepertinya dia ingin mencabik cabik tubuh wanita itu.
sebelum cakar itu mengoyak Miyu, telapak tangan Miyu sudah mendarat di perut Hajime yang masih melayang di udara.
Hajime terhempas dengan tubuh yang melayang jauh.
"hancurkan! " Hajime berteriak sambil tersenyum walau tubuhnya sudah membentur puing-puing.
"apa!? " Miyu terkejut melihat Hajime.
__ADS_1
"sial! aku lupa kalau masih ada satu anak lagi! dimana dia? kenapa tidak terlihat!? " dia menoleh kanan dan kiri, wajahnya terlihat sangat serius.
"jangan-jangan..!? " Miyu sepertinya menyadari sesuatu, kemudian menoleh ke atas dengan mata terbuka lebar.
benar saja, Utama berada di atasnya dengan tubuh melayang dan siap menyerang.
Utama mengepalkan tinju, lalu mengayunkan pukulan itu kearah Miyu sambil berteriak.
walau nyaris terkena serangan mematikan itu, sekali lagi Miyu berhasil menghindar dengan melompat mundur.
Baaamm..
pukulan Utama menghantam bumi, seketika tanah retak dan hancur cukup luas, debu-debu juga beterbangan dan menyelimuti tubuh Utama.
Miyu masih di udara, "fiuh, jika terkena pukulan anak itu bisa fatal akibatnya.." dia menelan ludah dan berkeringat dingin, "sial, sebenarnya apa yang sudah dilakukan Arya pada tubuh anak ini.? "
disaat tubuh Miyu masih di udara, tiba-tiba Utama keluar dari kepulan debu yang menyelimuti tubuhnya, dia melompat tinggi memburu Miyu.
"apa!? " Miyu terkejut, saat ini dia tidak bisa menghindar karena masih di udara.
Hajime, Jiro dan Hiro tersenyum, "ayo maju! " teriak mereka bersamaan.
"matilah..! " teriak Utama.
Utama mengayunkan tinjunya dengan sangat cepat dan kuat, Miyu bersiap menahan dengan menyilangkan kedua tangannya.
Baaamm..
tinju Utama berbenturan dengan kedua lengan Miyu, seketika tubuh Miyu terpental sangat jauh. sepertinya pertahanan Miyu tidak berarti karena masih di udara.
tubuh Miyu terus terhempas, berkali-kali dia membentur puing-puing, hingga akhirnya tubuhnya terhenti setelah menghantam dinding
sebuah gedung yang bagian atasnya sudah hancur. dinding itu juga hancur cukup parah, kemudian kepulan debu menutupi tubuh Miyu.
"uhuk.. uhuk..! " Miyu terbatuk batuk, dia menyingkirkan puing-puing yang menghimpitnya dan mencoba berdiri.
Miyu keluar dari kepulan debu yang membuatnya sulit bernafas, dia berjalan dengan langkah tidak beraturan, sepertinya dia memang sudah kewalahan.
Utama menatap Miyu dari kejauhan dengan ekspresi datar, sepertinya dia tidak terkejut karena wanita yang dihadapannya masih bisa bertahan.
Miyu menatap Utama dengan kesal, " anak ini.. dia sampai membuatku terdesak seperti ini.. " batinnya antara kesal dan benci.
Miyu memegang telinganya, disitu menempel sebuah alat yang berukuran kecil berwarna hitam, dia menekan sebuah tombol dan langsung disambut dengan teriakan seseorang. sepertinya benda itu adalah alat komunikasi.
"hey, Miyu! dimana kau? bagaimana dengan Arya? kau belum membunuhnya 'kan? aku sangat ingin menyiksa penghianat itu! " teriak orang itu, sepertinya dia salah satu dari anggota Black Rose.
"bisakah kau tidak berteriak!? " ucap Miyu ketus.
"hey, ada apa? apa aku mengganggu senang-senang mu? kami juga sedang membuat kehancuran disini! " ucap orang itu.
"cepatlah datang! jika tidak aku akan membunuh penghianat itu! " ucap Miyu.
"cepatlah!? kata-katamu menunjukkan kau sedang dalam kesulitan, benarkah begitu? " teriak orang itu terdengar mengejek.
tanpa menjawab, Miyu kembali menatap Utama, tapi dia juga mulai waspada.
Hajime berjalan menuju Utama, setelah dekat dia mulai berbicara, "sepertinya Black Rose akan segera datang ke tempat ini, apa yang harus kita lakukan? " tanya Hajime.
Utama menatap datar, "menurutmu?"
"jika satu orang saja sekuat ini.. bagaimana jika mereka sudah berkumpul? " Hajime terlihat serius.
"ada apa denganmu? seperti bukan dirimu saja! " ucap Utama.
Hajime melirik Utama, "kau berbicara seperti itu karena kau kuat.. kau tidak akan mati sebelum novel ini berakhir.. atau mungkin novel ini yang akan berakhir jika kau mati. " batinnya.
__ADS_1