
Utama berjalan menuju rumahnya, dia baru saja dari rumah Randa yang ternyata sedang sibuk dengan eksperimennya, " aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa, tapi sendirian itu cukup membosankan. " gumamnya sambil berjalan tanpa teman yang menemani.
Utama sudah sampai didepan rumahnya, dia melihat sebuah mobil yang tidak asing, "sepertinya mobil ini tidak asing, tapi aku lupa ini milik siapa. " gumamnya, dia terus mendekati mobil itu, "bukankah ini mobil Yana!? kenapa dia ada disini? " ucapnya. "tidak, tidak! bukankah Hajime ada didalam!? jangan-jangan mereka... "
Utama berlari kearah pintu,"hehehe, ini kesempatan ku! aku akan mengancam mereka dengan ini" dia tertawa jahat sambil menempelkan telinga di pintu, kemudian kembali berekspresi datar, "ekspresi macam apa itu? memalukan! "
Utama membuka pintu perlahan, kemudian berdeham, "jangan melakukan hal mesum di... " Utama menghentikan ucapannya, dia melihat Yana sedang duduk di kursi sambil melihat buku pelajaran Utama.
Yana menoleh Utama, "kau sudah pulang, ya.. " dia tersenyum. saat ini dia berdandan rapi, wajahnya dirias dengan cantik.
Utama menoleh ke sekeliling, " kau sedang apa disini? Hajime kemana?"
Yana meletakkan buku ditangannya, "aku hanya melihat-lihat nilai mu, ternyata semuanya cukup baik, kau memang sudah berubah. " dia tersenyum. "tapi.. Hajime itu siapa? dia bukan wanita 'kan? " lanjutnya dengan ekspresi menakutkan.
Utama menatap Yana, "dia wanita! memangnya kenapa? " ucapnya cuek. "sial! kalau dari awal aku tahu Hajime tidak ada didalam, aku tidak perlu menemui wanita ini. " batinnya.
Yana berdiri sambil tertawa kecil, "kau tidak pintar berbohong! Hajime itu teman sekelas mu yang tinggal di sini. " kemudian melangkah mendekati Utama.
Utama mundur untuk menjauh, "kalau sudah tahu, kenapa kau bertanya? "
Braak
tubuh Utama mentok ke dinding, seketika Yana langsung meletakkan kedua tangannya di samping telinga Utama.
Yana menatap Utama lembut "Utama.. kenapa kau selalu menjauh dari ku? aku ingin tahu jawabannya. " dia terlihat menggoda.
Utama menghela nafas, "aku tidak punya jawabannya. " kemudian menatap Yana datar, "sekarang.. aku yang ingin bertanya padamu.. kenapa kau berada didalam rumahku. "
Yana tersenyum, "salahkan dirimu yang tidak mengunci pintu saat ingin pergi. " dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Utama, "kita sudah sedekat ini, apa kau tidak ingin melakukan sesuatu!? " ucapnya menggoda.
Utama mengalihkan pandangannya, "berhenti menggoda ku, aku tidak akan tergoda! dan.. jauhkan tanganmu ini.! " ucapnya datar sambil menoleh tangan Yana yang semakin menghimpit kepalanya.
Yana menundukkan kepalanya, keningnya menempel di dagu Utama, "begitu ya. padahal dulu..saat sedekat ini..kau selalu mencari kesempatan untuk mencium ku.. sepertinya kau memang sudah tidak menyukaiku lagi. " ucapnya serak.
Utama menjauhkan tangan Yana, kemudian menatap Yana yang juga menatapnya, "Yana.. aku tidak pernah menyukaimu, sekarang pergilah! "
"aku tidak akan pergi sebelum berkencan denganmu. " ucap Yana dengan mata berkaca-kaca.
Utama menjauh dari Yana, "jika kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi. "
Yana tersenyum, "jadi kau menolak ku, ya.. baiklah, aku akan memaksamu. " dia berjalan mendekati Utama.
Utama menghentikan langkah diambang pintu, "memaksaku!? memangnya kau bisa apa!? "
Yana kembali mendekatkan diri dengan Utama,"kau meremehkan ku! aku punya rekaman seorang anak yang membuat ban mobil ku kempes. " dia tersenyum.
"siapa yang akan percaya dengan mu? " Utama tersenyum.
"kau benar-benar memaksaku. " Yana mengeluarkan handphone dari tasnya, kemudian menunjukkan video Utama yang sedang mengerjai mobilnya, "aku tidak menyangka kau sejahat ini padaku.. aku.. aku tidak mengerti apa salahku. " dia kembali terlihat sedih. "aku tahu sekarang kau sudah populer, banyak wanita yang menyukaimu.. tapi setidaknya.. kau juga harus mengingat aku yang selalu ada untukmu." lanjutnya.
__ADS_1
Utama menatap Yana datar, "aku tetap menolak! " ucapnya cepat. "cih, dia sangat pintar berakting! padahal tadi tersenyum, sekarang terlihat menyedihkan. " batinnya.
Yana menoleh kearah lain, "baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu lagi! " dia terlihat marah. "paman ku seorang polisi, aku yakin dia bisa menangkap mu. "
"ya, ampun.. anak ini sangat merepotkan! hanya karena masalah kecil aku masuk penjara? yang benar saja!? " batin Utama. "aku bisa saja menghindar.. tapi sampai kapan aku harus menjadi buronan? " lanjutnya.
"Yana.. " ucap Utama terdengar lembut.
Yana menatap Utama, "sepertinya dia mulai melunak. " batinnya bahagia.
Utama memegang kedua pipi merah Yana, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yana yang langsung berdebar-debar,"kau.. sangat.. menjengkelkan! " dia mengadu keningnya dengan kening Yana.
"aduh..! " Yana mengelus keningnya yang langsung memerah, kemudian melangkah menuju mobilnya, "aku tidak perduli kau berkata apa, aku akan tetap memaksamu. "
"baiklah, aku tidak akan menolak." Utama menuju mobil Yana.
Utama dan Yana masuk mobil, kemudian melaju dengan Yana sebagai supir.
Yana menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang cukup terkenal, "perutku terasa lapar, sebaiknya kita mengisi perut sebelum ketempat yang lain. " dia tersenyum.
Utama menoleh, "itu artinya setelah ini kita masih akan ketempat lain!? "
"tentu saja! " Yana tersenyum dan mengangguk.
Utama menghela nafas, "sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang. " gumamnya.
Utama dan Yana memasuki Cafe tersebut, kemudian memesan makanan.
"sudah! aku tidak lapar sama sekali. " jawabnya malas.
"kau belum menyentuh makanan mu!" ucap Yana kemudian tersenyum, "sepertinya kau ingin disuapi. " dia mulai menyuapi Utama.
"apa yang kau lakukan? aku bukan anak kecil! " Utama menolak, tapi Yana tidak perduli, dia terus memaksa Utama yang akhirnya hanya bisa menurut.
"ya, ampun, mereka sangat romantis. "
"sayang, aku ingin seperti mereka.! "
pasangan lain yang ada di Cafe itu menjadi iri, mereka memandang Utama dan Yana.
Utama menatap Yana, "aku tidak mengerti kenapa dia terlalu perduli padaku, tapi yang seperti ini hanya membuatku terlihat seperti anak kecil. " batinnya.
setelah selesai, Utama dan Yana meninggalkan tempat itu, mereka menuju Mall untuk berbelanja.
"ayo! kau harus membantuku membawa barang belanjaan ku. " ucap Yana saat sudah sampai didepan Mall.
"tidak! aku menunggu di mobil saja. " jawab Utama datar.
Yana tersenyum, "baiklah, aku tidak akan memaksamu. " dia berjalan masuk.
__ADS_1
setelah cukup lama, Yana tidak kunjung selesai, Utama yang menunggu mulai malas, "apa semua wanita selama ini saat berbelanja? " gumamnya.
disaat itu, Yana keluar dari Mall dengan kedua tangan yang penuh barang belanjaan, "apa aku terlalu lama? " dia tersenyum.
Utama menoleh, "menurutmu? " jawabnya datar.
"hehe, kau marah, ya. " Yana cengengesan. "ini! aku membelinya untuk mu! " Yana memberikan satu tas belanjaan.
Utama menatap Yana datar, "kau tidak perlu repot-repot!" ucapnya. "kau sangat lembut.. tapi sayangnya aku tidak suka novel percintaan. " batinnya.
Utama bersandar di mobil bagian depan, "jika kau mengajakku ketempat lain, aku menolak! " ucapnya.
Yana tersenyum, "seharusnya masih ada tempat yang ingin aku datangi, tapi sepertinya sudah tidak ada waktu, ini sudah sore. " ucapnya juga menyandarkan diri disamping Utama.
Utama menatap Yana, "aku sudah menuruti mu, sekarang.. kau sudah bisa menghapus rekaman itu! " ucapnya datar.
Yana tersenyum, " memangnya aku ada berkata seperti itu, ya. atau mungkin kau yang salah dengar. "
"jadi..kau berniat memeras ku, ya. ternyata kau cukup licik. " ucap Utama tersenyum.
"tidak! " Yana memegang kedua tangan Utama,"aku ingin kau menjadi kekasih ku lagi, dan kau tidak boleh berdekatan dengan wanita lain, itu membuat ku cemburu. " ucapnya lembut.
Utama tersenyum,"tidak! aku tidak mau menjadi kekasih mu! " ucapnya cepat. "cih, dia benar-benar menguji kesabaran ku. " batinnya.
"oh, ya, bagaimana kalau aku memaksa. " Yana tersenyum.
Tap Tap
saat itu, muncul lima orang dengan tubuh kekar, mereka berjalan mendekati Utama dan Yana.
"kau yang bernama Utama!? " teriak salah seorang.
"ya, kau ada perlu apa? " jawab Utama datar.
"hahaha, tidak ku sangka dia hanyalah anak kecil, ini benar-benar tugas yang mudah. " kelima orang itu tertawa terbahak-bahak.
Yana menggenggam tangan Utama, dia terlihat sangat cemas, "Utama, bagaimana ini? "
"cih,sepertinya ada orang yang ingin menghabisiku. " Utama menatap kelima orang itu, kemudian melihat lambang tiger white di jaket orang-orang itu, "jadi mereka tiger white, ya. itu artinya Joko yang menyuruh mereka." batinnya. "dia saja tidak bisa mengalahkan ku, sekarang menyuruh anak buah nya." lanjutnya.
"kalau begitu, biar aku saja yang menghabisi anak ini! " salah satu orang meregangkan otot-ototnya, dia tersenyum jahat menatap Utama.
Yana semakin cemas, "Utama, siapa mereka? ada urusan apa kau dengan mereka? " dia tidak melepaskan genggaman Utama.
Utama menatap lawannya, "ini hanya masalah waktu. " batinnya.
cukup jauh dari tempat itu, tertutup bayangan gedung, seorang pemuda memandangi dari kejauhan, dia tersenyum jahat.
"sekarang kau akan habis, Utama! " seringainya sambil tersenyum jahat, dia adalah Excel yang sepertinya ingin balas dendam untuk pertarungan tempo hari.
__ADS_1
.