Tokoh Utama

Tokoh Utama
perjuangan Feri


__ADS_3

pemain voli putra dari SMA Setia Kasih sudah memasuki lapangan, sementara Feri dan lima pemain yang lain masih bersiap.


"Feri, ayo cepat! pertandingan sudah mau dimulai. " ucap salah seorang.


"baiklah, kali ini kita akan menjadi pemenang! " Feri bersemangat. teman-temannya juga bersemangat.


Feri dan yang lain memasuki lapangan, mereka melangkah dengan penuh keyakinan.


Sella berdiri dari kursinya, "Feri! hati-hati! " teriaknya. Feri membalas dengan senyuman.


Utama menempelkan tangannya di bahu Sella, "tenanglah sedikit! tindakanmu memperlihatkan seolah kau tidak mempercayai dia. " ucapnya.


Sella menatap mata Utama, kemudian melirik kearah tangan Utama yang menempel di bahunya,"ya, terimakasih! " ucapnya sambil tersenyum. dia merasa bingung dengan perasaannya saat ini bersama detak jantungnya yang tidak beraturan.


cukup jauh dari tempat itu, Yana yang juga bersiap untuk bertanding melihat kejadian itu. dia mencoba pasrah dan menerima kenyataan bahwa saat ini Utama bukanlah kekasihnya lagi.


"hey, Utama.. ternyata kau sudah duduk disini, ya. " Randa dan Diko menghampiri Utama dan kemudian duduk di samping Utama.


wasit meniup peluit, pertandingan pun dimulai.


diawal pertandingan, Feri dan lima orang lainnya mengungguli permainan, tim lawan kewalahan menghadapi mereka.


"ternyata Feri memang hebat, ya. " Randa kagum melihat kemampuan bermain Feri yang layak disebut ujung tombak.


"oh, ya, di tim kami juga ada pemain yang hebat seperti dia, lagipula pertandingan baru saja dimulai. " Diko menyangkal. walaupun bersahabat, mereka tetap berbeda sekolah.


Utama berdehem, "apa kalian berniat bertengkar hanya karena hal semacam ini? " ucapnya datar.


Randa menoleh kearah Utama, "siapa yang ingin berkelahi? ini namanya jiwa kompetisi. " Randa kesal.


Diko tersenyum, "sudah, sudah. dia benar, tidak pantas meributkan hal semacam itu. " ucapnya.


Randa melirik kearah Diko, "kenapa kau jadi membelanya? " batinnya.


Utama terus menonton pertandingan, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang membuat dirinya penasaran di kursi penonton dari arah yang berlawanan, orang itu adalah Hajime yang saat ini juga menatap tajam kearah Utama.


setelah cukup lama, akhirnya babak pertama pertandingan selesai, pemenangnya adalah Feri dan lainnya yang saat ini bergegas istirahat sejenak.


Sella mendekati Feri, "apa kau baik-baik saja? apa kakimu tidak terasa sakit.? " Sella memberikan sebotol air mineral.


Feri menerima minuman itu, "tenang saja, jika terus seperti ini, kami pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. " dia tersenyum.


pertandingan kembali dimulai, Feri dkk memasuki lapangan dengan langkah kemenangan.


wasit meniup peluit, dan salah satu teman Feri memukul bola voli kearah tim lawan.

__ADS_1


pertandingan dibabak ini berbeda dari yang awal, pertandingan kali ini lebih memanas, tim lawan juga mengeluarkan segenap kemampuan mereka.


waktu terus berlalu, skor kedua tim juga bertambah bersama keringat yang terus menetes, namun selisih angka terlalu kecil, tidak bisa dipastikan siapa yang akan menang.


para penonton bersorak, perjuangan dari kedua belah pihak patut diacungi jempol.


di suatu kesempatan, salah satu teman Feri mendapat bola, dia melambungkan bola itu keatas Feri dengan penuh harapan, "Feri! ambil ini.! " teriaknya.


walau sudah merasa kakinya sakit, Feri tetap melompat tinggi untuk mengambil umpan Smash itu.


"akh, kakiku. " ucap Feri pelan setelah mendarat.


walaupun pukulan Feri membuat bola menukik tajam, tim lawan masih bisa menahan bola tersebut. setelah itu, bola melambung di atas tim Feri.


Feri melompat untuk memburu bola voli tersebut, "apapun yang terjadi, kami harus menang! " batinnya kemudian memukul bola itu dengan sangat keras sehingga tim lawan tidak bisa menahan.


Tap


Feri mendarat tidak sempurna, "Kreek " kemudian terdengar suara tulang yang sepertinya patah dari kakinya.


"akh! kakiku! " Feri berteriak, teman-temannya langsung membopongnya keluar lapangan.


"*Feri, apa kau baik-baik saja.? "


"dari awal sudah aku katakan, sebaiknya kau tidak ikut bertanding*. "


"aku rasa kakiku semakin serius. " ucapnya lalu menundukkan kepala, "teman-teman! aku minta satu hal.. " lanjutnya.


"apa itu? " tanya mereka bersamaan.


Feri mengangkat kepalanya, "jangan sampai kalah.! " kemudian tersenyum walau memaksa.


teman-teman Feri terdiam sejenak, "ya,kami pasti menang! kami pasti menang walaupun itu tanpamu!" kemudian tersenyum mencoba menenangkan Feri.


Sella datang menghampiri Feri, "sudah berapa kali aku katakan, kau tidak perlu memaksakan diri. " Sella memeluk Feri. "sebaiknya sekarang kau segera ke rumah sakit! " lanjutnya.


"tidak! aku akan melihat pertandingan ini sampai selesai.! " jawabnya cepat.


"apa kalian butuh orang yang akan menggantikan Feri? aku siap membantu! " tiba-tiba Utama muncul dan berucap agak terpaksa. "sebenarnya aku malas melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi?" batinnya.


teman-teman Feri terkejut, "kau ingin menggantikan Feri? yang benar saja? lihat tubuhmu! coba kau bandingkan dengan Feri! " salah seorang berucap sambil menunjuk Feri.


Utama menoleh kearah Feri,"ya, ampun, yang benar saja? tubuh orang ini sudah seperti tiang listrik! " ucapnya sambil tersenyum.


"apa katamu? " teman-teman Feri jengkel.

__ADS_1


tim lawan sudah bosan menunggu, "tidak bisakah kalian lebih cepat? apa kalian begitu takut menghadapi kami tanpa orang pincang itu? " ejek mereka.


"apa katamu? " salah satu teman Feri terpancing.


"cukup! tidak perlu dilayani. dan... biarkan orang itu menggantikan posisi ku! " Feri menghentikan temannya kemudian menunjuk Utama.


"apa? bukankah pemain cadangan masih banyak! kenapa harus orang ini yang kita sendiri belum tahu dia bisa bermain atau tidak? " bantah salah seorang.


Feri tersenyum, "bukankah kalian yang berkata " kami akan menang walaupun itu tanpamu " aku rasa itu tidak akan menjadi masalah, lagipula... aku percaya kalian pasti bisa menang. " ucapnya.


semua teman Feri terdiam, "kalau begitu, kami tidak akan mengecewakanmu! " kemudian memasuki lapangan.


disisi lain, Randa dan Diko masih duduk di kursi penonton, "aku tidak tahu entah apa yang dipikirkannya. " ucap Randa.


"aku juga berpikiran begitu, tapi aku sangat suka bersahabat dengan dia. " sahut Diko.


tim lawan memukul bola, dengan begitu cepat Utama menyambar bola tersebut, seketika bola mendarat di lantai lapangan lawan, kemudian memantul tinggi kearah penonton.


"apa? " semua orang terkejut melihat aksi Utama yang sangat mustahil dilakukan.


"mungkin saja itu hanya kebetulan. "


namun setelah itu, semua orang beranggapan kalau itu hanya kebetulan.


Utama tersenyum, "oh, kebetulan, ya." ucapnya.


tim lawan kembali melakukan servis, bola mengarah salah seorang yang berada di samping Utama, orang itu bersiap memukul bola.


Tap


tiba-tiba Utama muncul dihadapan orang itu, lalu memotong bola.


Buumm


smash yang dilakukan Utama membuat lawan tercengang, baru kali ini mereka melihat yang seperti itu.


"*apa-apaan itu? "


"dia sangat menakutkan*. "


tim lawan mulai ketar-ketir.


disisi lain, orang yang dipotong oleh Utama tadi merasa emosi, dia mencengkram kerah baju Utama, "apa maksudmu? kenapa kau memotong bola teman sendiri? " ucapnya penuh amarah.


Utama tersenyum, "hey, tenang! itu bukan bagian terpentingnya, setidaknya hanya aku yang bisa menambah angka. " ucapnya.

__ADS_1


"kau sangat menjengkelkan! " orang itu hampir memukul Utama, untungnya empat orang yang lain menghentikan.


salah seorang tim lawan siap melakukan servis, namun tiba-tiba Hajime muncul, merampas bola, lalu mendorong orang itu, "minggir! biar aku yang mengurusnya. " dia tersenyum jahat menatap Utama.


__ADS_2