
Jiro melesat maju kearah Yamakoto yang juga berlari kearahnya, keduanya mengayunkan pedang dan saling tebas.
Ctang...Ting...
Jiro melesatkan tebasan dua kali secara beruntun, Yamakoto berhasil menangkis, tapi tetap saja tubuhnya mundur kebelakang.
Yamakoto menatap Jiro tidak percaya, "kuat sekali.. baru kali ini aku merasakan tebasan sekuat itu.. tangan ku terasa sakit saat beradu tebasan dengan dia.. " batinnya kemudian memandang telapak tangannya yang bergetar.
Jiro tidak bersuara, wajah mencekamnya yang melukiskan tentang perasaannya, saat ini dia terlihat sangat marah dengan urat wajah yang keluar.
Jiro kembali memburu Yamakoto, dia melesat dengan sangat cepat.
"teruslah mendekat.! akan ku bunuh kau..! "
Yamakoto mengambil senjata api yang menempel di tubuhnya, kemudian mengarahkannya ke Jiro yang semakin mendekat.
Doorr.. Doorr..
Yamakoto menarik pelatuknya, seketika peluru melesat dan menghujani Jiro.
Ctang.. Ting.. Tang...
tanpa rasa ragu, Jiro memainkan pedangnya dengan lihai untuk menangkis dan menepis peluru tersebut, tidak ada satupun dari peluru tersebut yang berhasil melewati pedangnya.
senjata Yamakoto sudah kehabisan peluru, dia menatap Jiro tidak percaya, "padahal sudah sedekat ini.. tapi dia bisa menangkis semua itu dengan mudah..kecepatannya memang tidak bisa diremehkan.. " batinnya.
Tap
tepat di saat itu, tiba-tiba Hiro muncul dari samping dan melompat kearah Yamakoto, dia mengarahkan tebasan kearah tangan Yamakoto yang memegang senjata api tersebut.
Yamakoto melirik kearah Hiro yang sudah siap memotong tangannya dengan tebasan, dia melompat kebelakang dengan gaya salto untuk menghindar, lalu mendarat dengan cantik.
Zraash..
pedang Hiro menghantam bumi dan membelah tanah, kemudian disusul dengan debu tipis yang berterbangan.
Hiro mengangkat pedangnya lalu menoleh kearah Yamakoto, "Jiro, jangan bertindak sembrono.. biar bagaimanapun, dia adalah orang yang mengajarkan kita cara berpedang..kita ha.. "
Tap.. Tap...
belum selesai Hiro berbicara, Jiro yang berada di belakangnya melewatinya dan kembali maju. raut wajahnya masih begitu mencekam, dia tidak bersuara sama sekali.
"Jiro..!? " Hiro terkejut dan mencoba menahan.
Yamakoto menatap Jiro yang melesat kearahnya, "aku tidak butuh senjata mainan seperti ini.. " dia melemparkan semua senjata api yang menempel di pakaiannya. "sekarang.. ayo kita lihat sebatas mana kemampuan berpedang kalian! " teriaknya.
Yamakoto menarik pedangnya dengan tangan kirinya, sepertinya tangan kanannya tidak bisa digunakan untuk sesaat, serangan terakhir Keki memang hampir membuat tangan kanannya terpotong.
Jiro sudah berada di depan Yamakoto, dia langsung menyerbu dengan tebasan dan tusukan.
Ctang... Ting.. Tang...
serangan Jiro sangat brutal, dari atas, bawah, depan, belakang, serta kiri dan kanan, sesekali dia melompat, gerakan tubuhnya sangat lincah dan gesit, namun tangan yang menggenggam pedangnya lebih lihai lagi, kolaborasi tubuh dan tangannya begitu indah sehingga terlihat seperti tarian.
Jiro tidak memberi nafas untuk lawannya, walaupun dia tidak bersuara, tapi wajahnya terlihat sangat marah, benci, dendam, menyesal serta kecewa.
Tang.. Ting.. Ctang...
__ADS_1
Yamakoto mampu mengimbangi kecepatan Jiro dan berhasil menangkis, kedua pedang itu terus bergesekan dan menghasilkan cipratan api seperti Kembang api.
Yamakoto mundur selangkah demi selangkah, "cih, gerakannya tidak beraturan.. mataku hampir tidak mampu melihatnya.." batinnya, dia terlihat kewalahan.
Jiro terus menyerang, sepertinya amarah yang menjadi sumber kekuatannya, dia semakin mengganas saja.
Hiro memandangi kedua orang yang bertarung dihadapannya, namun kedua orang itu terus menjauh saja.
"hebat! seumur hidup, aku baru melihat pertarungan antara pengguna pedang seperti ini.. setiap gesekan kedua pedang itu terus memancarkan api.. " gumam Hiro.
Hiro menarik nafas dalam dan panjang sambil memejamkan matanya, kemudian kembali menghembuskan nafasnya, "baiklah.." dia membuka matanya lebar, "ayo bertarung..! " sepertinya darah mudanya mulai bergejolak.
Hiro bersiap, kemudian berlari sangat cepat kearah Yamakoto yang masih bertarung dengan Jiro. masih cukup jauh, dia melompat kearah Yamakoto dengan gaya menyentak. lompatan itu tidak tinggi, namun tetap mampu menjangkau musuh.
Ctang.. Ting.. Tang..
Yamakoto masih sibuk menghadapi Jiro, dia terus menangkis dan menepis setiap serangan lawan yang semakin menggila, tiba-tiba dia merasakan sesuatu di belakangnya.
"gawat..!? " batin Yamakoto sambil menoleh kebelakang, dia dikejutkan dengan serangan Hiro yang berupa tebasan siap membelah.
Yamakoto mengabaikan Jiro, menarik pedangnya dan mengadu tebasan Hiro dengan tebasan.
Ctang...
tebasan Hiro sangat dahsyat, walaupun Yamakoto berhasil menahan, namun suara benturan kedua pedang tersebut sangat menyakitkan telinga.
Tap..
setelah itu, Hiro melompat mundur, sepertinya dia tidak ingin terlalu dekat dengan Yamakoto.
detik selanjutnya, dari arah berlawanan, Jiro mengayunkan pedangnya, dia mengarahkan tusukan kearah perut Yamakoto secepat mungkin dari belakang, sepertinya dia tidak ingin membuang kesempatan.
"sial.! "
Tang...
Yamakoto berteriak sambil mengayunkan pedangnya untuk menepis pedang Jiro. benar saja, ujung pedang Jiro mengarah ke samping dan menusuk udara.
Wusshh...
Yamakoto mengayunkan pedangnya untuk membalas Jiro, tebasan itu mengarah ke leher Jiro dengan sangat cepat sehingga terdengar suara angin yang terbelah.
"matilah! " teriak Yamakoto tertahan, sepertinya dia sangat geram dengan situasi sekarang.
"Jiro..! " Hiro berteriak, sepertinya dia khawatir dengan saudaranya.
Tap..
saat pedang lawan hampir menyentuh lehernya, dengan gesit Jiro melompat keatas lumayan tinggi. detik selanjutnya, tubuh Jiro mulai ditarik gravitasi bumi, dia mengambil kesempatan dan bersiap melesatkan tebasan.
disisi lain, Yamakoto memandang kearah Jiro yang berada di atasnya, "cih.. sehebat apapun seorang murid.. dia tidak akan pernah melampaui gurunya.! " batinnya dengan gigi yang beradu.
Tap..
Yamakoto melompat memburu Jiro, dia juga melesatkan tebasan yang siap memotong untuk menahan serangan lawan.
Trang...
__ADS_1
kedua tebasan itu saling beradu, sekali lagi benturan itu menghasilkan suara yang memekakkan telinga serta percikan api.
Jiro dan Yamakoto saling tatap anggar ketajaman mata, setelah itu Yamakoto terhempas kebawah, sepertinya posisinya dibawah kurang menguntungkan dibanding dengan Jiro yang berada di atasnya.
"sial! " tubuh Yamakoto masih terhempas, dia mencoba mengembalikan keseimbangan, pada akhirnya dia mendarat dengan posisi jongkok.
Yamakoto kembali membenarkan posisinya, "hehehe, ternyata kau memang sangat hebat, Jiro.. " dia memuji Jiro yang baru saja mendarat, namun jarak keduanya tidak terlalu dekat.
tepat disaat itu, Yamakoto dikejutkan oleh Hiro yang melesat kearahnya dengan tebasan dan itu dari belakang.
tanpa basa-basi, Yamakoto berputar dan mencoba menahan, namun sepertinya dia sedikit terlambat.
"matilah dasar sialan! " Hiro berteriak.
Ctang...
kemudian terdengar suara pedang yang beradu, namun tidak jelas apa yang terjadi. yang jelas saat ini hanyalah Hiro melewati Yamakoto, keduanya masih berdiri kokoh dan saling membelakangi dengan jarak sekitar lima meter.
Buukk..
detik selanjutnya, tangan kanan Yamakoto terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke tanah, kemudian disusul dengan darah segar yang mengalir deras. potongan itu hampir tepat di bekas serangan Keki, sepertinya serangan Hiro yang bersifat membelah berhasil ditepis, namun tangan kanan Yamakoto tetap menjadi korban karena memang sedikit terlambat.
Hiro melirik kearah Yamakoto yang berada dibelakangnya, "jadi.. aku gagal, ya..tadi itu hampir saja.. " dia tersenyum tipis, saat ini dia berdiri bersampingan dengan Jiro.
"hahaha.. hahaha..! " tiba-tiba Yamakoto tertawa terbahak-bahak, kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Hiro dan Jiro, "sudah lama aku tidak bertarung seperti ini.. kalian sangat hebat.. kalian memang saudara kembar yang pernah kuakui.. aku benar-benar terhibur.. hahaha..! " dia memegangi bahu kanannya yang saat ini tidak memiliki lengan selain hanya ada darah.
"siapa yang menyuruh mu tertawa? " tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari atas Yamakoto.
"apa?!" Yamakoto terkejut dan menoleh keatas, "sialan!" dia melihat seseorang berada di atasnya yang siap memukul.
orang itu tidak lain adalah Hajime, dia mengarahkan dua tinjunya kearah Yamakoto, namun dia terlihat sangat lelah.
Braaak...
Yamakoto yang tidak memegang pedang hanya bisa melompat mundur untuk menghindar, tinju Hajime menghantam tanah yang langsung hancur, kemudian debu datang menutupi.
"hampir saja.. pukulan anak itu tidak bisa diremehkan.. " batin Yamakoto dengan posisi tubuh masih berada di udara.
Tap..
Yamakoto berhasil mendarat dengan cantik, namun sekali lagi dia terkejut, dia melihat Utama sudah berdiri di depannya dengan jarak cukup dekat.
Utama menatap datar Yamakoto, "jadi kau, ya.. orang terkuat diantara rekan-rekan mu.. " ucapnya malas.
"sialan! beraninya kau menatap ku seperti itu! " teriak Yamakoto geram, lalu mengayunkan kakinya.
tendangan Yamakoto melesat begitu cepat, tendangan itu mengarah kepala Utama dari samping.
"cepat juga.. " gumam Utama dengan mata melirik kaki Yamakoto, namun kakinya juga mulai bergerak.
Baamm...
tidak jelas apa yang terjadi, tapi yang pasti saat ini keduanya terlempar, sepertinya tendangan keduanya mendarat ditubuh lawan diwaktu bersamaan.
Brakk..
tubuh Utama hanya beberapa meter terpental, sementara Yamakoto sangat jauh, laju tubuhnya terhenti setelah menabrak dinding bangunan yang terpisah dari gedungnya, setelah itu debu mengepul dan menutupi pandangan.
__ADS_1
"apakah berhasil..? " Hajime memandang debu yang menutupi tubuh Yamakoto.