Tokoh Utama

Tokoh Utama
Empat Lawan Satu


__ADS_3

Yamakoto tersenyum jahat, "sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini!" setelah itu dia menarik pedangnya yang tinggal tersisa satu.


"perhatikan baik-baik! inilah keahlian berpedang ku yang sesungguhnya..jika kalian lengah.. tubuh kalian akan terbelah dua.. " dia memain mainkan pedangnya, namun gerakannya sangat cepat.


Hiro terkejut, "ini..?! dia sangat cepat.. aku bahkan tidak bisa melihat pedangnya..! " dia mulai terlihat ragu.


Hajime juga terkejut, "tidak! aku bisa melihat pedangnya.. tapi aku merasa pedang itu terlalu banyak.. "


Jiro mengatupkan giginya erat-erat, "tidak perduli sekuat apa dia.. membunuhnya adalah langkah terakhir di hidup ku.. aku tidak akan mundur.. kehilangan orang yang berharga adalah rasa yang paling menyakitkan.. tidak ada yang perlu ku takutkan karena aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.. " dia terlihat geram.


"ayo maju! " Hiro menoleh Jiro, kemudian berteriak sambil melesat maju, dibelakangnya Jiro menyusul dengan cepat.


Hajime memandang Yamakoto yang terlihat sangat menakutkan, kemudian menoleh kearah Utama, "Utama.. aku tahu kau tidak merasa sakit sedikitpun.. tapi aku juga tidak tahu apakah tubuhmu bisa menyatu lagi setelah terkena tebasan.. aku rasa itu sepertinya mustahil.. jadi, berhati hatilah..! " ucapnya serius.


Utama melirik kearah Hajime, "tenang saja!" ucapnya datar.


Traang.. Taaang.. Tiing..


Yamakoto melayangkan tebasan secara beringas, permainan pedangnya sangat cepat dengan gerakan tubuh yang berputar-putar. walau Hiro dan Jiro berhasil menangkis, tapi mereka terlihat sangat kewalahan.


Hiro memainkan pedangnya untuk menepis semua serangan lawan, "sial.. dia sangat cepat.. selain itu kecepatannya tetap bertahan dalam jangka waktu yang lama.. apa mungkin dia tidak bernafas? " batinnya.


Zraaashh...


di suatu kesempatan, Yamakoto berhasil melepaskan tebasan kearah Hiro yang mulai kelelahan, tebasan itu berhasil ditepis, namun punggung Hiro tetap terkikis dan mengeluarkan darah.


"akh..! " Hiro kesakitan bersama tubuhnya yang langsung membungkuk, pandangannya kearah bawah.


"matilah! " melihat kondisi Hiro, Yamakoto berteriak sambil melompat, kemudian mengayunkan pedangnya kebawah untuk membelah Hiro.


Traang..


masih jauh dari tubuh Hiro, Jiro datang dari samping dan menahan tebasan Yamakoto dengan tebasan miliknya, kedua pedang itu pun bergesekan.


Jiro menoleh kebelakang, "Hiro, menjauhlah! aku yang akan menghabisinya.. " ucapnya.


"uhuk.. uhuk..! " Hiro terbatuk, lalu mundur menjauhkan diri, sepertinya kondisinya semakin parah.


"menghabisi ku katamu?! " Yamakoto menatap Jiro dengan ekspresi menakutkan, kemudian kembali mengangkat pedangnya.


Traang...


Yamakoto melesatkan tebasan kearah Jiro yang juga melesatkan tebasan, sekali lagi kedua pedang itu saling hantam, namun kali ini Jiro mundur ke belakang beberapa meter, sepertinya dia kalah dalam segi tenaga.


Jiro menatap datar Yamakoto yang berada di depannya, namun perlahan wajah datarnya berubah menjadi menakutkan, bola matanya hampir keluar, ditambah lagi dengan angin yang menerpa rambutnya, suasana saat ini seakan sejalan dengan perasaan Jiro yang penuh dendam.


Tap..


Jiro berlari kearah Yamakoto yang juga berlari kearahnya, setelah keduanya berjarak cukup dekat, mereka melompat tinggi bersamaan dengan pedang yang siap menerkam.


Ctaang.. Ting.. Tang..


Jiro dan Yamakoto saling serang di udara, keduanya melesatkan tebasan beruntun secara bersamaan, dimata mereka terlihat nafsu membunuh yang begitu kuat, kedua pedang itu saling hantam dengan dihiasi oleh percikan api.

__ADS_1


Craakh..


di suatu kesempatan, disaat mereka masih di udara namun sudah hampir menyentuh tanah, Yamakoto berhasil menancapkan ujung pedangnya di bahu kiri Jiro yang berusaha menghindari, namun Jiro sedikit terlambat dan akhirnya tertusuk pedang lawan walau tidak terlalu dalam.


"akh..! " Jiro meringis kesakitan sambil menoleh ke bahu kirinya yang masih menancap ujung pedang lawan dan sudah berlumuran darah, kemudian kembali menatap Yamakoto dengan geram, "sialan kau..! " teriaknya.


Jiro melesatkan tebasan untuk menyambar kepala Yamakoto, namun Yamakoto lebih dulu melepaskan tendangan yang mendarat di dada Jiro, tubuh Jiro terlempar cukup jauh dengan gerakan berputar-putar.


Chep..


walaupun tubuh Jiro berputar-putar, dia berhasil mengembalikan keseimbangannya dengan menancapkan pedang ke tanah dan dalam posisi jongkok.


Jiro memandang kearah pedangnya yang ada di depan matanya, tangan kirinya bergetar menahan sakit di bahunya, sementara tangan kanannya menggenggam erat pedangnya.


"sial..!" Jiro kembali berdiri dan membalikkan badan untuk memandang Yamakoto.


Yamakoto memandang kearah Jiro sambil tersenyum jahat, kemudian memutar sedikit tubuhnya ke kiri, dihadapannya terlihat Hiro berdiri kokoh dan siap maju, selanjutnya dia melirik kearah kiri yang ternyata sudah ada Utama.


"berarti anak yang satunya lagi ada dibelakang ku, ya.. " Yamakoto tidak menoleh kebelakang tapi dugaannya benar, saat ini Hajime berada di belakangnya walau cukup berjarak. "sekalipun kalian menyerang ku secara bersamaan.. tetap mustahil kalian bisa menang.. tapi setidaknya itu sudah cukup untuk menghibur ku.. " ucapnya sambil tersenyum jahat.


saat ini Yamakoto di dalam lingkaran musuh, dia berada di tengah-tengah keempat lawannya, Hiro didepan, Utama sebelah kiri, Hajime belakang, sementara Jiro disebelah kanan.


Utama dan yang lainnya menatap Yamakoto untuk beberapa saat, sampai sekarang pun belum ada yang memulai pergerakan.


"ayo maju.! " tanpa melakukan persiapan, Hiro berteriak lalu melesat maju, langkah kakinya sangat cepat sehingga membuat debu beterbangan.


detik selanjutnya, Utama, Hajime serta Jiro melesat maju kearah Yamakoto, langkah kaki mereka juga tidak kalah dari Hiro.


Hiro sudah berada di depan Yamakoto, dengan cepat dia mengayunkan pedangnya untuk membelah lawannya, tebasan itu terlihat begitu penuh dengan tenaga. disaat bersamaan, Jiro juga melakukan hal yang sama dengan Hiro, dia mencoba menyambar tubuh Yamakoto dengan pedangnya, namun dia menyerang dari kanan Yamakoto.


masih diwaktu yang sama, Utama juga sudah berada di sisi kiri Yamakoto, dia bersiap menyerang dengan tinjunya, namun wajahnya terlihat sangat malas. sementara Hajime sudah berhasil mendekati Yamakoto dari belakang, tapi tubuhnya yang sudah lelah belum terlihat akan melakukan serangan.


di detik berikutnya, disaat kedua pedang lawan hampir menyentuhnya, Yamakoto berputar sekali dengan gesit, Hiro yang awalnya berada di depan, kini sudah berada di belakangnya.


Traang..


Yamakoto berputar sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan Hiro dan Jiro yang langsung terdorong beberapa langkah kebelakang, sepertinya dia tidak mempunyai pilihan lain selain memutarkan tubuhnya. kondisinya memang kurang menguntungkan karena hanya memiliki satu tangan, sementara tangan kanannya sudah dipotong oleh Hiro.


tinju Utama sudah hampir menjangkau wajah Yamakoto, tapi tiba-tiba kepala Utama terhempas kesamping sehingga tinjunya tidak berhasil menyentuh Yamakoto.


Utama melirik kesamping kanannya, ternyata sepatu kanan Yamakoto sudah menempel di kepalanya, "sial.. aku tidak melihat kapan dia menggerakkan kakinya..! " batinnya lalu tubuhnya terhempas jauh, sepertinya tinju Utama kalah cepat dibanding dengan tendangan Yamakoto.


Hajime melesatkan tendangan kearah Yamakoto yang ternyata juga melancarkan serangan dengan tusukan pedang, Hajime menahan serangannya dan menghindari ujung pedang lawan dengan gesit.


Hajime terlihat kesal, ".. pedang itu sangat merepotkan! jika terkena pukulannya tidak jadi masalah.. tapi pedang itu bisa memotong ku.. ditambah lagi dengan tubuh ku yang sudah sangat lelah.. sial.! " batinnya, dia menjaga jarak dari jangkauan pedang Yamakoto.


Tap..


beberapa detik selanjutnya, Hiro dan Jiro yang terdorong mundur kebelakang beberapa langkah, langsung melompat dan menyerbu Yamakoto dengan serangan pedang mereka.


Yamakoto melirik kearah Hiro dan Jiro, kemudian berputar sekali sehingga kembali ke posisi semula, pedangnya dimainkan dengan lincah untuk menghadapi serangan dari dua saudara itu.


Traang.. Tiing.. Tang..

__ADS_1


Hiro dan Jiro menyerang dari dua sisi, Hiro menyerang dari kanan, sementara Jiro dari kiri, mereka menghujani Yamakoto dengan tebasan. namun sejauh ini Yamakoto berhasil menepis semua serangan lawan, bahkan dia mampu membuat Hiro dan Jiro terdesak, sesekali pedangnya berhasil menggores tubuh lawan.


Hiro terus memainkan pedangnya, "sial.. serangan kami tidak ada yang berhasil menyentuhnya.. padahal ini kecepatan maksimal ku dan sudah hampir kehabisan nafas.. ternyata dia memang sangat hebat..! " batinnya terlihat kesal.


Hajime memandang Yamakoto dari belakang, "sepertinya ini kesempatan yang bagus! " batinnya sambil mengarahkan tinju kearah kepala Yamakoto.


disaat tinju Hajime hampir menghantam kepala Yamakoto dari belakang, tiba-tiba Yamakoto memiringkan kepalanya tanpa menoleh, tinju Hajime pun tidak mengenai apa-apa dan melewati hanya lewat dari atas bahu Yamakoto.


"apa?! dia menghindar tanpa melihat! " batin Hajime tidak percaya.


Yamakoto melirik kearah Hajime dengan tajam, kemudian mengarahkan siku kirinya kearah Hajime sambil menangkis serangan pedang dari Hiro dan Jiro


Blaak..


siku Yamakoto mendarat di wajah Hajime yang langsung kehilangan keseimbangan, tubuhnya terdorong beberapa langkah dan terduduk, pelipis kirinya pecah serta mengeluarkan darah.


Hajime memegang wajahnya, lalu melihat telapak tangannya yang dibasahi darah, "sial.. beraninya kau..! " dia terlihat geram dan kembali berdiri walau sempoyongan.


Hajime memandang Yamakoto dari belakang dengan tatapan geram, kemudian melompat dan mencengkram tubuh Yamakoto agar tidak bisa bergerak.


"sekarang.. bunuh dia.! " teriak Hajime, saat ini kedua tangannya memeluk erat leher Yamakoto.


Baamm..


baru saja Hajime berteriak, Yamakoto membungkukkan kepalanya sesaat, kemudian kembali membalikkan kepalanya kebelakang sehingga menghantam kepala Hajime yang berada di belakang, pelukan Hajime terlepas bersama tubuhnya yang terhempas kebelakang.


"jangan berkhayal kau bisa membunuh ku! " ucap Yamakoto tanpa menoleh Hajime.


Hajime kembali terduduk, "dia tidak kuat.. hanya saja aku yang sudah kehabisan tenaga.. " ucapnya sambil tersenyum pahit, hidungnya banyak mengeluarkan darah sehingga membasahi mulutnya, sepertinya dia tidak berniat untuk kembali berdiri.


"apa kau baik-baik saja? " Utama muncul dan langsung bertanya pada Hajime.


"menurut mu? " Hajime tidak menoleh, "seharusnya kau bertarung dengan serius.. semua orang sudah terluka.. aku juga sudah kehabisan tenaga.. " dia terlihat kesal.


Utama memandang Yamakoto yang sedang bertarung menghadapi Hiro dan Jiro, "bertarung dengan serius, ya.. aku tidak tahu batas kemampuan ku.. aku juga tidak mengerti maksud dari kata serius atau tidak serius.. " ucapnya datar.


Traang.. Ting.. Tang..


Hiro dan Jiro terus melancarkan serangan, tebasan maupun tusukan mereka arahkan ke tubuh Yamakoto yang juga mengayunkan pedangnya untuk menyerang balik, hanya suara besi beradu saja yang terdengar.


"sial.. ini sudah terlalu lama.. aku sudah kehabisan nafas.. " batin Jiro sambil memainkan pedangnya, "tapi.. " tiba-tiba wajahnya kembali menyeramkan, urat-urat diwajahnya juga keluar, "untuk orang yang membunuh ibu.. aku juga harus membunuhnya! "


"hiaaa! " Jiro berteriak keras dengan wajah yang terlihat geram, sebilah pedang ditangannya langsung melesat cepat kearah Yamakoto dengan begitu penuh tenaga.


Yamakoto melirik kearah pedang Jiro, "gawat..! " batinnya dengan wajah serius.


Traang...


Yamakoto mengeluarkan tebasan untuk menahan serangan Jiro, tapi tubuhnya tetap terpental kebelakang walau dia masih dalam posisi berdiri, gesekan kakinya dengan pasir cukup untuk menimbulkan debu yang beterbangan.


"hosh..hosh..!" Jiro memandang Yamakoto yang sudah cukup berjarak, kemudian mengatur nafasnya yang hampir putus, dia terlihat sangat kelelahan.


Hiro memandang Yamakoto, "uhuk.. uhuk..! " tiba-tiba dia terbatuk dan menutupi mulutnya dengan tangannya, setelah itu dia memeriksa telapak tangannya yang ternyata berdarah, "sial.. luka ku dalam.. kita harus segera menyelesaikan ini.. " ucapnya sambil tersenyum pahit.

__ADS_1


__ADS_2