
ditengah malam yang semakin larut, dipinggir jalan lintas kota jakarta, terlihat seorang pemuda sedang menggendong seorang wanita, jika dilihat sesaat mereka berdua bagaikan sepasang kekasih yang sangat romantis, namun kenyataannya tidak, dua orang itu tidak lain adalah Utama yang sedang menggendong Yana. sudah entah seberapa jauh Utama melangkah, tapi sepertinya tujuan mereka cukup jauh.
"ini lebih jauh dari yang kuduga. " gumam Utama kemudian menoleh wajah Yana tertidur pulas di bahunya, "ternyata dia memang manis. "
sesaat kemudian, Yana mendengkur keras, air liur juga mengalir dari bibirnya dan membasahi bahu Utama, masalah hari ini sepertinya membuatnya lelah.
Utama melirik, "dia sangat tidak bersih, sepertinya aku akan menarik kembali kata-kataku tadi. "
setelah cukup lama berjalan, Utama sampai di persimpangan, dia membangunkan Yana untuk memberi tahu jalan. Yana terbangun dan memberitahu Utama.
Utama dan Yana sudah sampai di rumah Yana, di teras rumah itu terlihat Yoro, Yara dan satu lagi seorang pria yang berumur sekitar empat puluh tahun, dia adalah Yasya, ayah dari Yana.
ketiga orang itu mendekati Yana, "akhirnya kau sampai juga Nona. " ucap Yoro.
Yara melirik Yoro, "ngomong ngomong, kenapa kau sampai lebih dulu? bukankah seharusnya kau bersama Nona Yana? kau berniat membuat Nona celaka!? "
"itu akan ku jelaskan nanti." Yoro menatap Yana yang masih menempel ditubuh Utama.
Yana menatap Yasya, "ayah, apa kau tidak menghawatirkan ku? " tanyanya manja.
Yasya menatap Utama dingin, "ayah akan menghawatirkan mu jika kau berhenti menempel di tubuh anak ini! "
Yana cengengesan, "begitu, ya.. " kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Utama.
Yasya memeluk Yana, "ya, ampun, Yana.. kenapa kau membuat masalah? jika ibumu tahu mungkin ayah dianggap tidak becus menjagamu. " matanya berkaca-kaca.
"jadi ayah khawatir padaku karena takut pada ibu? " Yana melepaskan pelukan ayahnya. "kalau begitu akan ku beritahu pada ibu kejadian ini, aku akan mengatakan kalau ayah tidak becus menjaga ku. " Yana melipat tangannya.
"tidak, tidak, tidak! kau tidak boleh mengatakan itu! " Yasya terlihat ketakutan. "ya, ampun.. kenapa aku ditakdirkan memiliki anak yang suka mengancam seperti ini. " batinnya terlihat bersedih.
Utama menatap semua orang, "membosankan! sebenarnya mereka bicara apa? " batinnya.
"kalau tidak ada yang ingin dikatakan, aku pulang saja. " ucap Utama sambil membalikkan badan.
"hey, kau belum meminta maaf padaku. " Yasya menahan Utama dengan suara datar.
Utama membalikkan badan, "benarkah!? sepertinya aku melupakannya. " dia menatap Yasya.
Yasya menatap Utama dengan dingin, "hey, anak muda! kau sudah membuat putriku dalam masalah, dan kau mau pergi begitu saja. " dia mendekati Utama.
__ADS_1
Yana menahan ayahnya, "ayah, Utama tidak salah! dia hanya sedikit jahat. " dia melirik Utama sambil tersenyum.
Yasya menatap Yana, "apa katamu? dia berbuat jahat! apa kau terluka!? " dia memegang kedua bahu Yana.
Yana tersenyum, "dia tidak lebih jahat dibandingkan ayah saat muda. " ucapnya. "ayah bahkan membawa kabur ibu saat akan dinikahkan. " lanjutnya terdengar mengejek.
Yasya menatap putrinya, "kau.. kenapa kau mengatakan itu?.. ayah melakukan itu karena ada alasannya. " dia terlihat malu.
"ya,ayah memang mempunyai alasan." Yana tersenyum, "ayah hanyalah pemuda miskin yang jatuh cinta pada ibu.. ibu adalah wanita yang sangat kaya raya.. jadi intinya.. ayah hanya pemuda miskin yang memaksa untuk masuk ke keluarga kaya.. benar-benar tidak sadar diri.!" ejek Yana melirik Yasya.
Yasya menutup mulut Yana, "kau jangan berkata seperti itu! kau membuat ayah malu. " wajahnya sangat memerah. "anak ini semakin lama semakin membuli ku, dia sangat mirip dengan ibunya. " batinnya.
"hahaha, benar-benar memalukan! " tiba-tiba Yara tertawa terbahak-bahak, sepertinya dia lupa dengan statusnya.
Pong..
Yoro memukul kepala Yara, "jaga sikapmu! " tapi dia juga terlihat menahan tawa.
Yasya menatap Utama, "hey, kau! jika kau menyukai putri ku, jaga dia baik-baik! jangan sampai kau membuatnya terluka. " ucapnya datar. "untuk sekarang hanya ini yang bisa kukatakan, perkataan Yana benar-benar membuatku kehilangan muka. " batinnya, wajahnya kembali memerah.
Utama menatap Yasya datar, "kau tenang saja! aku dan putrimu tidak ada hubungan apa-apa. " dia membalikkan badan, kemudian mulai melangkah.
Yana memandang kepergian Utama, "Utama...! " panggilnya dengan wajah terlihat bersedih.
"eh!? " Utama menghentikan langkah dan menoleh.
Yana berlari mendekati Utama, kemudian menatap mata Utama setelah dekat, "Utama.. aku berjanji akan menjauhi mu.. aku tidak akan menggangu mu lagi.. tapi aku mohon.. jangan pernah mengatakan diriku ini pengganggu! hatiku sakit mendengar itu. " ucapnya terdengar berat, matanya memantulkan cahaya malam.
Utama menatap datar, "baguslah! itu adalah kata-kata yang ingin kudengar dari mulut mu.." ucapnya. "tapi.. akan lebih baik jika kau membenciku. "
"tidak mengganggu mu itu mudah! tapi.. untuk tidak menyukaimu itu sangat sulit.. " Yana menjawab dengan suara serak. "dan sekarang.. dan sekarang kau memintaku untuk membencimu.. " air matanya mulai menetes.
"lupakanlah! " Utama membalikkan badan, "aku tidak akan memaksamu untuk membenciku. " kemudian melangkah pergi.
Yana memandang kepergian Utama, "aku sadar.. menyukai orang yang tidak memperdulikan kita sama saja dengan melukis luka dengan cara paling sederhana.. " dia mencoba menghapus air matanya. "sekarang.. aku akan mencoba mencintaimu dalam diam. " dia memaksakan untuk tersenyum.
Yasya, Yoro dan Yara menatap kejadian itu dengan mata berkaca-kaca, "mengharukan.. aku tidak bisa menahan air mataku.. " ucap Yara.
"benar! aku jadi mengingat masa mudaku, aku teringat saat istri ku memaksaku untuk nikah lari. " sahut Yasya sambil mengusap air mata.
__ADS_1
Yana menoleh, "ayah berbohong! ibu mengatakan kalau ayah yang memaksanya kabur! dasar pengarang cerita. "
"hehehe, sepertinya kau sudah tahu semua tentang percintaan orang tuamu." Yasya cengengesan.
Yoro melirik Yasya, "apa-apaan ini? kenapa tuan Yasya seperti tidak memiliki wibawa.? "
keesokan harinya..
"bagaimana masalah tadi malam? apa semuanya terselesaikan.? " tanya Hajime.
Utama tersenyum, "begitulah! semuanya terselesaikan dengan sangat baik.."
saat ini, Utama dan Hajime berada di depan rumah, mereka mengenakan seragam SMA, sepertinya mereka hendak berangkat sekolah.
Hajime melirik jam, "kenapa Randa lama sekali? "
Utama menoleh Hajime, "sepertinya ini saatnya bagi kita untuk menyusulnya. "
"baiklah!" ucap Hajime, kemudian keduanya berjalan menuju rumah Randa.
tidak butuh waktu lama, Utama dan Hajime sudah berada di depan rumah Randa.
"apa yang terjadi? kenapa begitu banyak asap!? " Hajime terlihat terkejut, matanya memandangi asap yang mengepul dari rumah Randa.
Utama mengikuti arah pandang Hajime, "sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. "
"ayo masuk!" Utama dan Hajime berlari dan masuk ke rumah Randa.
"sial! sepertinya dari ruangan itu! " Hajime menunjuk ruangan yang menjadi tempat paling favorit Randa.
Utama membuka pintu ruangan tersebut, dan..
"uhuk,uhuk! " tiba-tiba Randa muncul dengan wajah gosong, pakaian yang dikenakannya hitam semua, dia sangat sulit untuk dikenali.
Utama dan Hajime saling pandang, kemudian menatap Randa, "kau kenapa? " tanya Hajime sambil menahan tawa.
"sepertinya aku gagal melakukan eksperimen.. ini benar-benar sulit dari yang kubayangkan. " dia terlihat lesu, "sepertinya aku tidak mungkin bisa melanjutkan semua ini. " kemudian terbatuk batuk.
Hajime tersenyum, "sudahlah, kau tidak boleh menyerah! semua keberhasilan pasti butuh perjuangan. "
__ADS_1