Tokoh Utama

Tokoh Utama
Menghadapi Toyo


__ADS_3

Utama dan Hajime menatap Toyo yang juga menatapnya, tidak ada yang berbicara diantara mereka, untuk sesaat suasana menjadi hening.


Hajime melirik Utama, "sepertinya dia bisa menyelesaikan ini sendiri. " batinnya.


Braakk..


tiba-tiba Hajime menjatuhkan bokongnya ke tanah, "hah, aku lapar, aku ngantuk, aku lelah! " ucapnya, dia duduk dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya.


Utama dan Toyo saling tatap, gelap malam membuat mata keduanya terlihat kurang jelas. dimata keduanya terlihat sinar merah yang membuat mata mereka semakin tajam, sepertinya itu adalah kobaran api di sekeliling yang dipantulkan mata mereka.


Fiiuuuhh...


angin malam berhembus membuat rambut mereka tidak beraturan, namun angin itu tidak terasa dingin karena hawa panas dari kebakaran di sekeliling.


kedua orang itu bersiap, sepertinya mereka akan melanjutkan pertarungan dimalam yang mungkin sudah mencapai tengahnya.


"ayo mulai! " Utama melesat cepat kearah lawan secara tiba-tiba.


"majulah! " Toyo berlari untuk menyambut Utama.


Baaamm...


Utama mengarahkan tinju kearah Toyo yang ternyata juga melepaskan tinju, kedua tinju itu bertemu dan berbenturan. disitu terlihat sangat jelas perbedaan ukuran antara kepalan tinju Toyo dengan Utama, tinju Utama jauh lebih kecil namun dia mampu mengimbangi kekuatan lawan.


detik selanjutnya, Utama dan Toyo terhempas jauh kebelakang. walau kehilangan keseimbangan dan terjatuh, namun keduanya kembali maju tanpa sedikitpun jeda.


Utama terus menyerang dari segala arah, tinju serta tendangan terus mendarat di tubuh lawannya, namun tidak sedikit dia terkena pukulan lawan.


pertarungan keduanya terus berlanjut, sampai saat ini masih belum bisa dipastikan siapa yang akan kalah, semakin lama kecepatan mereka semakin gila dengan gaya bertarung berlompatan di udara.


Baamm... Buuummm..


hanya suara tubuh terkena pukulan yang terus terdengar, namun tidak jelas siapa yang dipukul maupun yang memukul.


Hajime terbodoh menatap itu, "ini.. inikah yang namanya kekuatan?! aku bahkan sulit untuk melihat gerakan mereka. " gumamnya. "pertarungan mereka.. benar-benar memacu adrenalin ku! " dia terlihat bersemangat.


Baamm...


Utama dan Toyo beradu pukul, keduanya terdorong kebelakang dan untuk sesaat menjaga jarak.


"hosh.. hosh..! " nafas Toyo tidak beraturan, dia menatap kedua telapak tangannya dengan mata terpejam sebelah.


"sial, dia sampai membuatku seperti ini.. " batinnya.


Toyo tersenyum, "baiklah, ayo kita selesaikan ini! akan ku tunjukkan semua kekuatanku! "


disaat itu, tiba-tiba otot-otot di seluruh tubuh Toyo bergerak tidak beraturan, sesaat kemudian tubuhnya berubah menjadi lebih kekar dari yang sebelumnya.


Utama berjongkok, kemudian berdiri dan menatap Toyo dengan datar, "dia memang kuat.. entah sudah berapa lama kami bertarung.. tapi sampai sekarang aku belum bisa mengalahkannya. " batinnya.


Tap


tiba-tiba Hajime muncul dan berdiri sejajar dengan Utama.


Hajime tersenyum melirik Utama, "tenang saja.. kita pasti bisa menyelesaikan ini jika bersama. "


Utama menoleh, "bukannya aku meremehkan kekuatan mu, tapi.. sebaiknya kau amati dia dan cari cara untuk mengalahkannya.. aku yakin dibalik tubuhnya yang kuat itu pasti tersimpan kelemahan. " kemudian menatap Toyo.


Hajime terdiam sejenak, lalu tersenyum, "kenapa tidak kau sendiri yang memikirkan kelemahannya!? "


"aku sudah mencoba untuk berpikir.. tapi aku tidak menemukan apa-apa.. semuanya kosong.." jawab Utama.


"baiklah kalau begitu. " Hajime melompat dan menjauh, kemudian duduk menonton.


disisi lain, Hiro dan Jiro masih bertarung menghadapi Miyu, semakin lama mereka semakin mendekat dengan tempat Utama dan Toyo bertarung.


"hosh.. hosh.. " Hiro dan Jiro mengatur nafas, mata mereka memandang Miyu dengan tatapan jengkel.


"sial! wanita ini sangat merepotkan! " ucap Jiro, tangannya memegang bahunya yang terluka.

__ADS_1


Miyu juga kelelahan, dia menatap dua pemuda yang membuatnya berada di situasi sekarang, "sial, mereka sampai mendesak ku seperti ini! " di sekujur tubuhnya terlihat banyak bekas luka gores, namun tidak ada yang terlalu parah.


Hiro tersenyum menatap Miyu, "kau terlalu meremehkan kami.. selama ada pedang ditangan.. kami bisa menebas kepala siapa saja. " ucapnya sombong.


Utama melirik kearah Hiro dan Jiro, "sepertinya mereka juga kerepotan. " batinnya.


Yamakoto sudah menjauh, saat ini dia sudah berada di atas gedung, matanya terus memandang Hiro dan Jiro yang sedang bertarung, sesekali dia tersenyum dan menyeringai.


sementara itu, Keki masih melayang di udara, dia terus menonton pertarungan, sepertinya dia tidak ingin bergabung. namun, sorot matanya semakin lama semakin tajam saja.


Toyo menatap Utama, bersiap dan melesat untuk menyerang. seketika dia sudah berdiri di depan Utama.


Utama tersentak melihat Toyo, lalu melompat sambil melesatkan tendangan penghancur.


Toyo menahan serangan Utama dengan satu tangannya, tubuhnya tidak bergerak sama sekali, sepertinya dia lebih kuat dari yang sebelumnya.


"dia.. tidak bergeser sedikitpun..!? " Utama terkejut.


Toyo tersenyum, "bagaimana!?.. inilah kekuatan yang sesungguhnya. "


detik berikutnya, Toyo mencengkram kaki Utama tersebut, lalu menarik dan membantingnya ke tanah.


Baaamm..


tubuh Utama menghancurkan tanah, separuh tubuhnya masuk kedalam bumi dan telentang menghadap langit.


Toyo tersenyum menatap Utama yang tergeletak, lalu duduk di atas perut Utama dan memukul wajahnya.


"matilah dasar sialan! " teriak Toyo.


Baamm.. Buumm..


berkali-kali Toyo memukul pipi Utama, kepala Utama juga berulang kali menoleh kanan dan kiri, tapi dia tidak terlihat kesakitan.


Utama menatap Toyo, tinju lawannya yang datang dan pergi itu menutupi pandangannya, "sial.. dia memang lawan yang merepotkan! " batinnya.


Hiro dan Jiro yang sedang bertarung menghadapi Miyu menyadari itu, mereka memandang Utama yang terus dipukuli.


Hiro menoleh kearah Hajime, "apa-apaan dia? apa dia tidak berniat untuk membantu? " ucapnya kesal.


Jiro menoleh Hiro, "bagaimana? jika terus seperti itu dia bisa mati. "


"tidak.. kita tidak boleh membiarkan dia mati sekarang.. " jawab Hiro kemudian memandang kearah Keki dan Yamakoto, "masih terlalu banyak musuh yang harus kita hadapi. "


"ayo! " Hiro berlari kearah Utama dan Toyo, dibelakangnya terlihat Jiro menyusul.


Miyu tidak menahan kedua orang itu, lukanya semakin parah saja, entah sudah berapa tusukan pedang yang menembus tubuhnya, namun sepertinya tidak mengenai bagian vital.


"baguslah.. aku benar-benar kehabisan nafas.. " Miyu memandang kepergian dua pemuda itu.


Tap


saat sudah dekat dengan Toyo yang terus memukul Utama, Hiro melompat dan mengayunkan pedangnya kearah leher Toyo dari belakang.


"matilah! " teriak Hiro.


Dakk..


tebasan Hiro mendarat di leher Toyo dengan sempurna, namun leher lawannya itu tidak tergores sedikitpun. pedang Hiro seperti menghantam sebuah benda yang lentur dan keras.


Hiro terkejut, "apa!? tubuhnya...sangat keras.. tidak.. sangat elastis.. "


Toyo yang masih duduk di perut Utama, melirik Hiro tajam, kemudian berdiri dan menyergap Hiro dengan cepat.


Greeb..


seketika leher Hiro sudah berada di cengkraman tangan Toyo sebelah kanan, cengkraman itu sangat erat dan sangat menyiksa.


"akh..! " Hiro kesakitan, pedangnya terlepas dari tangannya dan terjatuh, "aku.. tidak bisa bernafas.. " batinnya, dia mencoba melepaskan cengkraman tangan lawannya yang semakin erat saja, namun kekuatannya tidak sebanding dengan orang yang saat ini berada di hadapannya.

__ADS_1


Toyo tersenyum jahat, "kau sendiri yang memintanya.. akan ku bunuh kau terlebih dahulu.. "


"Hiro..! " Jiro berteriak.


Jiro melompat tinggi, lalu melesatkan tebasan kearah tangan Toyo yang mencengkram leher Hiro.


Dakk..


tebasan Jiro mendarat tepat di persendian lengan Toyo, lengannya tidak terluka sedikitpun. namun persendiannya menekuk sedikit, tapi itu tidak membuat Hiro terlepas.


"apa!? tidak mempan?! " Jiro terkejut.


Toyo menatap tajam kearah Jiro, "cih, benar-benar keras kepala! "


Greeb..


sesaat kemudian, Toyo menyambar leher Jiro dengan tangan kirinya, cengkraman itu sangat cepat dan tiba-tiba sehingga Jiro tidak sempat bereaksi.


kini, kakak beradik itu sudah berada di cengkraman Toyo, mereka mencoba melepaskan namun tidak bisa.


pedang Jiro terlepas dan terjatuh ke tanah, "sial..aku tidak bisa bernafas. " batinnya.


"hahaha.. saudara kembar mati bersamaan.. kalian benar-benar menyedihkan.. " Toyo tertawa.


Hiro menatap Toyo sambil menahan rasa sakit, "kau... bagaimana mungkin? "


Toyo tersenyum, "baiklah, akan kuberi tahu.. " ucapnya. "senjata mainan kalian tidak akan berpengaruh padaku.. tubuhku sudah diperkuat.. hanya sesuatu yang mengandung darah yang mampu melukai ku.. "


" maksudmu...hanya makhluk hidup?! " tanya Jiro.


"kau benar.. darah ditubuh ku hanya akan bereaksi ketika tubuh ku terkena pukulan langsung.. ketika kulitku dan kulit lawan berinteraksi.. hanya itu yang mampu melukai ku.. " jawab Toyo.


"sial.. itu artinya..darah di tubuh mu yang membuat kulit mu begitu keras.. " ucap Hiro.


"ya, hanya sesuatu yang berdarah yang mampu melukai ku.. " Toyo tersenyum, "tapi.. itupun bukan serangan lemah dari orang-orang seperti kalian. " dia mempererat cengkeramannya.


Hajime tersenyum, "sesuatu yang mengandung darah, ya.. aku rasa itu bukan hal yang sulit.. " gumamnya.


Toyo tersenyum, kemudian mengayunkan kepala Hiro dan Jiro kearah berlawanan, lalu mengayunkannya lagi, kedua kepala itu bertemu dan saling hantam.


*Baamm..


"sialan kau*..! " Hiro terlihat sangat kesal.


"hey, kau..siapa yang menyuruh mu untuk menghadapi orang lain? " tiba-tiba Utama bangkit dan menepuk bahu Toyo dari belakang.


Toyo menoleh kebelakang, "jadi kau masih bisa berdiri, ya.. " dia tersenyum.


detik selanjutnya, Utama melompat tinggi, lalu mendarat dengan kedua telapak kakinya menghantam kedua bahu Toyo.


Braakk..


Toyo tidak oleng sedikitpun, namun tanah tempat dia berpijak ambles, kedua kakinya masuk kedalam tanah cukup dalam.


Toyo menoleh ke atasnya yang masih berdiri Utama, "sialan kau.! "


Toyo melemparkan tubuh Hiro dan Jiro dengan kuat, tubuh keduanya terlempar cukup jauh dan membentur tanah.


"akh..! " keduanya meringis kesakitan, mereka memang berbeda dengan Utama dan Hajime yang tahan banting.


setelah kedua tangannya bebas, Toyo mencoba menangkap kaki Utama yang memijak bahunya, sayangnya Utama lebih dulu melompat untuk menghindar.


Utama berputar-putar di udara, kemudian berbalik kearah Toyo, "matilah! " teriaknya sambil bergerak tidak beraturan.


"sial..! " Toyo mencoba mencabut kakinya yang masih didalam tanah, namun dia sedikit terlambat dan akhirnya mempersiapkan kedua tangannya untuk menangkis serangan Utama.


Baamm...


Utama melesatkan tendangan dan itu tidak mengenai kedua tangan Toyo, melainkan menghantam leher Toyo sangat keras sehingga Toyo tersungkur ke depan.

__ADS_1


__ADS_2