Tokoh Utama

Tokoh Utama
cerita sedih Randa


__ADS_3

Yana mendekati Yoro dan Yara, wajahnya memerah menandakan ia sedang marah. "Yoro, Yara! jelaskan apa yang terjadi!?" tanyanya.


"aku juga tidak tahu kenapa mereka selalu mengganggu ku. " belum sempat Kedua orang itu menjawab, Utama berucap dengan gaya cuek.


Yoro dan Yara berdiri, kemudian membungkuk, "Nona, maafkan kami! kami hanya menjalankan perintah tuan besar! " ucap Yoro. "sekali lagi maafkan kami karena telah mengikuti anda secara diam-diam. " lanjut Yara.


"menjalankan perintah tuan besar!? lalu kenapa kalian menyerang Utama. " Yana bertanya lagi. tubuhnya terlihat besar jika dibandingkan Yoro dan Yara.


"kami mengetahui anda dan anak itu telah berpacaran, itulah sebabnya kami menyerang dia. " jawab Yara agak lama. "karena perkataan sudah tidak ia dengar, kami berniat untuk menyingkirkannya. pecundang seperti dia tidak pantas untuk Nona.! " lanjut Yoro.


Yana menatap kedua orang itu dengan tajam, "pecundang!? siapa yang kalian sebut pecundang? apa kalian tidak menyadari wajah kalian babak belur karena dia.! " ucapnya keras.


Utama terlihat bosan mendengar ini,"sepertinya aku sudah bisa pergi.! " ucapnya lalu melangkah.


"Utama, tunggu.! " Yana memanggil, Utama berhenti dan menoleh.


Yana berjalan mendekati Utama, saat sudah didepan Utama, dia membungkuk, "Utama, maafkan aku! " ucapnya lembut.


Yoro dan Yara terkejut, kemudian berlari mendekati Yana, " Nona, apa yang anda lakukan? anda tidak pantas meminta maaf pada orang ini.! " ucap mereka sambil membenarkan posisi Yana.


"diam! " Yana berteriak. "sekarang pergi! jangan lupa temui aku di rumah.! " lanjutnya.


Yoro dan Yara pergi meninggalkan tempat itu, kini tinggallah Utama dan Yana.


Yana kembali membungkuk, "Utama, sekali lagi maafkan aku! " ucapnya.


"sudahlah, jangan dipikirkan! jawab Utama datar kemudian melangkah pergi.


Yana diam di tempat, kesedihan terlihat diwajahnya. " jadi selama ini kau menjauhi aku karena mereka.? " ucapnya dengan suara tertahan,Utama berhenti kemudian menoleh. "dan... kau juga berpura-pura amnesia untuk melupakan kisah kita. " lanjutnya dengan suara serak.


"amnesia? aku tidak pernah berkata padamu kalau aku amnesia. " jawab Utama datar. "aku tidak pernah amnesia, tapi dari awal aku memang tidak pernah mengenalmu. " lanjutnya.


Yana semakin merasa tersakiti,ia menundukkan kepalanya sehingga Utama tidak bisa melihat mata indahnya."secepat itu kau melupakan aku!? pria macam apa kau? " batinnya. "kenapa kau jadi sedingin ini? aku lebih suka dengan dirimu yang dulu, aku rindu tingkah bodoh mu! " perlahan air mata menetes .


"maaf, aku harus cepat karena seseorang sedang menungguku. " Utama berjalan pergi.


Yana mengangkat kepalanya, "tunggu..! " suaranya juga tidak keluar. matanya terus mengikuti punggung Utama yang perlahan menjauh.


*******

__ADS_1


Utama sudah sampai di depan rumahnya, dari kejauhan dia melihat Randa yang mondar-mandir karena cemas.


Randa menoleh kearah Utama, "Utama!? apa kau baik-baik saja? aku pikir kau sudah mati. " dia melihat sekujur tubuh Utama.


Utama dan Randa masuk kedalam rumah, kemudian istirahat sejenak.


Randa melihat kearah dinding, didinding itu menempel sebuah foto seorang pria yang berwajah mirip dengan Utama, hanya saja dia mengenakan kacamata.


"tidak terasa sudah lama aku tidak melihat kak Jimmy, bagaimana kabarnya.? " tanya Randa pada Utama.


"kenapa kau bertanya padaku? " Utama bertanya balik.


Randa terdiam sejenak, "aaaa! gawat, gawat, gawat! " kemudian berteriak histeris. "aku lupa kalau kau amnesia, kalau begitu bagaimana jika keluarga mu datang? bagaimana jika kak Jimmy tahu kalau kau tidak mengingatnya?" lanjutnya.


" keluarga? aku tidak pernah memikirkan mereka. " dengan datar Utama berucap.


"itu bukan masalah penting! tapi bagaimana cara kau membayar uang sekolah? lalu.. uang jajan mu.. aaaa! " Randa kembali berteriak.


"eh!? uang sekolah? " Utama berucap pelan. "itu artinya.. aku harus bekerja.. aaaa! Utama ikut panik. " yang benar saja seorang tokoh utama harus bekerja. " batinnya.


detik berikutnya, Utama seperti menyadari sesuatu, dia berdehem dengan penuh gaya, " kau terlalu berpikir terlalu jauh, sebentar lagi mereka juga datang menemui ku. " ucapnya santai.


"siapa!? ayahmu? ibumu!? dari kak Jimmy hingga kau di rumah ini, aku tidak pernah melihat keluargamu selain kak Jimmy.! " Randa terus berteriak. "apa kau berpikir kalau kak Jimmy bisa membantu mu.? pria bermata empat itu bahkan lebih pengecut darimu. ! " lanjutnya.


"aduh! " Randa kesakitan. "soal itu.. maaf! " jawabnya.


beberapa saat kemudian, Utama dan Randa sudah sampai didepan rumah Randa.


"aku pikir rumah mu jauh, ternyata hanya berjarak beberapa rumah saja dengan rumahku.! " ucap Utama.


Randa membuka pintu, mereka pun masuk kedalam rumah yang luasnya lumayan itu.


"ayah dan ibumu kemana? " Utama bertanya.


"ayah ku sudah lama meninggal, Ibuku bekerja diluar negri, jadi aku tinggal di rumah sendiri. " jawabnya agak lama.


setelah cukup lama berjalan, Randa berhenti didepan sebuah pintu, kemudian membukanya secara perlahan.


Utama terkejut melihat isi didalamnya yang terdapat barang-barang teknologi dan laboratorium, ini menjelaskan bahwa tempat ini milik seorang profesor.

__ADS_1


"apakah ini semua milik mu? " tanya Utama.


Randa tersenyum, "dulu milik kakek dan pamanku, tapi sekarang menjadi milikku. " jawabnya.


"sekarang dimana mereka berdua.? " tanya Utama lagi.


Randa duduk di sebuah kursi, "kakekku sudah meninggal. pamanku... aku sendiri juga tidak tahu dia dimana sekarang. " ucapnya dengan wajah bersedih. "semenjak kecelakaan itu, dia menghilang dari kehidupan kami. " lanjutnya.


beberapa tahun yang lalu, terlihat dua orang sedang sibuk di ruangan tempat Randa dan Utama berada. mereka berpakaian layaknya seorang profesor.


"ayah, apa ini akan baik-baik saja? " tanya seorang pria yang berusia sekitar tiga puluh tahun, dia adalah paman Randa.


"tenang, ayah yakin ini berhasil. " jawab seorang kakek, dia adalah kakek Randa sekaligus ayah pamannya.


kedua orang itu terlihat sibuk, keseriusan juga terlihat dari gerak tangan mereka yang bertalenta.


"ayah! ada apa ini? kenapa mesinnya terus menyala..!? " tiba-tiba paman Randa panik.


"apa katamu?" kakek Randa ikut panik. "cepat kosongkan rumah ini, jangan sampai masih ada orang di rumah! " ucapnya.


tiba-tiba ada dua orang membuka pintu, dia adalah istri paman Randa dan putrinya yang masih berusia sepuluh tahun.


"suamiku, ayah! apa yang terjadi.!? " Bibi Randa panik melihat gumpalan asap yang menyelimuti ruangan itu.


"pergilah.! " teriak paman Randa, namun istrinya tidak memperdulikan.


kakek Randa mencoba memadamkan mesin yang jenisnya tidak diketahui itu, sementara Bibi Randa serta putrinya sudah jatuh pingsan.


"bawa mereka keluar dari tempat ini! jika terlambat sedetik saja, mereka akan mati karena menghisap gas beracun itu! " ujar kakek Randa.


"apakah separah itu ayah.? " tanya pamannya. "lalu bagaimana dengan ayah.? " lanjutnya.


"sudah, pergilah! aku dan kau sudah memakai masker, jadi kita aman jika tidak terlalu lama disini. " jawab kakek itu, padahal dia terlihat sangat lelah.


"jadi begitu ceritanya, lalu bagaimana dengan kakek mu? apakah dia selamat? " tanya Utama.


"jika dia tidak memikirkan keselamatan ku yang saat itu sedang di rumah, mungkin dia selamat. tapi.. dia mencoba memadamkan mesin itu dan akhirnya kesetrum. " ucap Randa bersedih. "setidaknya dia berhasil memadamkan mesin itu, walaupun dia harus mengorbankan nyawanya. " lanjutnya.


"lalu bagaimana dengan pamanmu? apakah anak dan istrinya selamat.? " Utama bertanya lagi.

__ADS_1


Randa terdiam sejenak, "Bibi dan sepupu ku meninggal, dan setelah itu paman tidak pernah terlihat. aku terlalu polos untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. " ucapnya.


Randa berdiri dari kursi, "tapi.. sekarang bukanlah saat yang tepat untuk terus terpuruk di masa lalu.. sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk masa depan yang suatu saat nanti juga menjadi masa lalu..! " Randa tersenyum memandangi alat-alat di sekeliling yang begitu menarik.


__ADS_2