
"hey, Utama! apa kau tidak memiliki cemilan? " tanya Randa, sementara Utama tidak perduli.
Randa berdiri, "sudah kuduga, tidak ada yang bisa diharapkan darimu.. " kemudian berjalan, sepertinya dia ingin pulang.
Utama menoleh, " kalau mau pulang, pulang saja! aku tidak akan menahan mu. " ucapnya.
"kau mengusir ku, ya!? kau benar-benar tidak sopan terhadap tamu.! " teriak Randa sambil berjalan.
Utama melirik, "tamu katamu? tamu apa yang datang setiap hari? " batinnya.
Randa menghentikan langkah, "apa ini? " dia melihat sebuah benda sakti tergeletak dilantai, disampingnya terdapat selembar kertas.
"ini 'kan.. aaaa! " Randa berteriak.
Utama mendekati Randa, "kau kenapa? benda apa itu? " Utama menatap benda tipis yang digenggaman Randa, kemudian melihat lembaran kertas itu.
"Yanti... " Utama membaca satu kata, setelah itu dia merobek kertas tersebut.
benda yang digenggaman Randa adalah sebuah kartu kredit, kalau dilihat dari bentuknya , sepertinya itu jenis yang hanya dimiliki orang kaya..
Randa terus menatap benda itu dengan mata yang berkaca-kaca, " ternyata kakakmu baik sekali.. dia sengaja meninggalkan ini tanpa sepengetahuan ibumu.. kau sangat beruntung.! " ucapnya.
"memangnya sehebat apa benda itu? " tanya Utama datar.
"sehebat apa katamu? ini bisa membuat kita makan sepuasnya, dan.. setiap hari..! " jawab Randa dengan air liur menetes, sepertinya dia membayangkan makanan lezat.
"ternyata masalah makanan, ya.. kalau begitu anggap saja benda itu milik bersama, aku juga tidak pernah selera kalau masalah makan.. " ucap Utama datar.
Randa menatap Utama dengan mata berkaca-kaca, "Utama... kau memang sahabat terbaikku.. " dia memeluk erat tubuh Utama.
"lepaskan! apa-apaan kau ini!? " Utama meronta.
"karena kebaikanmu ini, aku tidak jadi pulang..! " Randa bersemangat.
" tidak jadi pulang?" tanya Utama lalu dibalas dengan anggukan Randa. " aku jadi menyesal mengatakan itu. " batinnya.
keesokan harinya...
"hoah.. baru kali ini aku makan sepuas ini.. " ucap Randa terlihat ngantuk, seragamnya tidak mampu menutupi perutnya yang saat ini membuncit.
Utama menatap Randa datar, "Hajime membuatku kesulitan.. setiap hari harus menghindar darinya.. entah sampai kapan aku harus lari dari serigala itu saat disekolah.? " batinnya.
Tap Tap
Utama dan Randa sudah sampai didepan rumah Utama, mereka terkejut melihat pintu rumah yang terbuka.
Randa menatap Utama, "Utama! ayo cepat! sepertinya ada pencuri.! " Randa berlari masuk.
"ya, kemungkinannya seperti itu. " Utama ikut berlari.
Utama dan Randa masuk kedalam rumah,mereka melihat sosok pria culun duduk di kursi dengan tenang.
__ADS_1
"kak Jimmy!? " Randa mengenali orang itu.
"kak Jimmy!? " Utama menatap orang itu, kemudian menatap foto orang yang ada didinding, ternyata keduanya sama. "jadi ini.. yang namanya Jimmy.. ternyata dia culun sekali.. " batinnya.
orang yang bernama Jimmy itu menoleh, "ternyata kalian sudah pulang, ya. " ucapnya. "maafkan kakak, Utama! kakak datang tanpa memberi tahu mu terlebih dahulu. " lanjutnya sambil tersenyum.
"tidak masalah.. lagipula aku sudah diberi tahu oleh Yanti dan sepertinya ibu." Utama tersenyum pahit. " cih, yang benar saja? jadi orang ini kakakku, ya. " batinnya.
"sepertinya? apa maksudnya? apa kau tidak mengenali ibumu? " tanya Jimmy.
Utama mencoba tertawa, "tidak perlu dipikirkan. " jawabnya.
setelah itu, suasana menjadi hening, Utama terlihat malas, Randa terlihat segan, sementara Jimmy termenung.
"Utama.. kakak ingin menemui teman lama kakak, apakah kau mau menemani.? " Jimmy membuka pembicaraan. "anggap saja ini salam perpisahan dari kakak. " lanjutnya sambil tersenyum pahit.
"salam perpisahan!? " Randa terkejut.
"bukan apa-apa! jangan dipikirkan! " Jimmy menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
Utama dan Randa bersiap, kemudian ketiga orang itu pergi meninggalkan rumah. saat diperjalanan, tepatnya di sebuah taman, Utama melihat sosok yang dia kenal.
"bukankah itu Alan.? " Utama memandang seseorang dari kejauhan.
Randa mengikuti arah mata Utama, " benar, itu Alan! " sahut Randa. "sepertinya dia ingin menghibur Alex. " lanjutnya.
"Alex? maksudmu orang yang sedang duduk di kursi roda itu? " tanya Utama sambil memandang seseorang yang sedang duduk di kursi roda, dibelakangnya Alan sedang mendorong.
walau Utama dan Randa asik berbincang, Jimmy tetap diam, dia seperti sedang terbebani sesuatu.
Utama menatap Jimmy, kemudian menoleh Randa, "apa dia biasanya seperti ini? " dia berbisik.
"tidak! kak Jimmy yang ku kenal selalu riang, dia tetap tersenyum walaupun di hina, dia bodoh dan pecundang, sama sepertimu. " jawab Randa berbisik.
setelah cukup lama berjalan, mereka berhenti di sebuah jembatan. jembatan ini sangat indah dan selalu ramai muda-mudi saat waktu sore seperti ini.
"hey, ternyata kau disini! aku sudah lama mencari mu. "
"*eh, kak Rio, maaf kak! aku masih tidak punya uang untuk membayar. "
"aku tidak perduli! kau berkata uang itu untuk berobat ibumu yang sedang sakit, tapi kau malah memakainya untuk berjudi. kau membuatku sangat marah*! "
tiba-tiba terdengar suara orang yang sepertinya akan berkelahi, Utama, Randa dan Jimmy datang mendekat.
"Rio!? " ucap Jimmy, sepertinya dia mengenali salah seorang yang sedang marah tadi.
"Jimmy!? " orang yang bernama Rio itu menoleh.
Randa menatap pakaian Rio, kemudian berbisik di telinga Utama, "tiger white! dia anggota geng tiger white.! "
"tiger white? sepertinya aku pernah mendengar itu. " ucap Utama.
__ADS_1
Jimmy tersenyum, "sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu sekarang? " tanyanya pada Rio.
Rio tersenyum, "ya, semenjak kau memutuskan untuk sekolah di Amerika. "
Tap Tap
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, kemudian terlihat beberapa orang dengan tubuh kekar, salah satu orang tersebut adalah Mika, mereka semua adalah anggota geng tiger white.
"reuni, ya. tidak ku sangka, ternyata kau memiliki teman culun seperti itu. " ucap salah seorang pada Rio sambil menunjuk Jimmy.
"tidak! dia bukanlah temanku! " Rio menyangkal cepat.
Jimmy terkejut, "bukan temanmu? kau tidak menganggap ku teman? "
"Jimmy, aku sudah bukan Rio yang dulu, dan sekarang kau bukanlah temanku..jadi jangan pernah temui aku lagi.! " ucap Rio dengan wajah datar.
salah seorang menatap Jimmy, "aku ingat! dia adalah teman SMA mu waktu itu, ternyata sampai sekarang dia masih saja berpenampilan culun, bukankah begitu,Rio? " orang itu tersenyum.
Jimmy semakin terkejut, "orang ini!? bukankah orang ini musuh kita saat SMA? kenapa sekarang kau bersahabat dengan dia? " ucapnya pada Rio.
Rio tersenyum, "musuh kita? padahal dulu kau hanya menjadi beban, kau juga tidak pernah ikut bertarung. jika waktu bisa diulang... aku tidak ingin bersahabat denganmu..Jimmy." ucapnya.
Jimmy terdiam, kemudian menundukkan kepalanya sehingga sorot matanya tidak terlihat, sepertinya saat ini perasaannya bercampur aduk.
Mika menatap Utama, "bukankah kau orang yang waktu itu? " tanyanya.
"ya, aku orang yang waktu itu, memangnya kenapa? " Utama menjawab dengan sombong.
Rio mendekati Utama, "hey, wajahmu mirip sekali dengan pecundang itu! apa kau adiknya? " Rio memotong sambil menunjuk Jimmy.
Utama menatap datar, "ya, apa ada masalah?" jawabnya cepat dan angkuh.
Rio tersenyum, "cih, ternyata kau cukup sombong. aku akui keberanian mu! " ucapnya.
"maaf, kak Rio! aku memotong pembicaraan, tapi sepertinya dia kesini karena mau bergabung dengan kita. " Mika memotong. "apa kau sudah memikirkan tawaran ku baik-baik? jika sudah bergabung dengan tiger white, tidak bisa keluar begitu saja, kau akan dihabisi. " lanjutnya menatap Utama.
"siapa yang berkata kalau aku mau bergabung? " Utama tetap tenang.
Mika tersenyum jahat, "jadi kau menolak, ya? kalau begitu akan ku habisi kau disini. " ucapnya.
"berhenti memaksa adikku.! " Jimmy yang dari tadi diam, tiba-tiba berteriak.
Rio tersenyum, "baiklah! anggap saja ini pertemuan terakhir kita, Jimmy. lagipula aku tidak ingin bertarung melawan pecundang seperti kalian.. " ucapnya.
Rio, Mika dkk membalikkan badan, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
Jimmy menggertak giginya, "sial! kenapa jadi seperti ini..? kenapa kau mengkhianati sahabatmu.. Rio..? " batinnya terlihat sangat kesal.
"hey, kau! " Utama memanggil, Mika yang merasa dipanggil pun menoleh. "kau berkata ingin menghabisi ku 'kan? kalau begitu tunggu aku di tempat ini, besok! akan ku buat kau babak belur sampai wajahmu tidak bisa dikenali. " lanjut Utama datar.
Mika tertawa, "baiklah, ku pegang ucapan mu! " jawab Mika.
__ADS_1