
Hajime masih berwujud serigala, dia memandang kearah Toyo dan Miyu yang sudah tewas, kedua orang itu terkapar dengan linangan darah yang mengotori tubuh.
"walau merepotkan.. akhirnya mereka bisa dikalahkan. " ucap Hajime,"itu artinya.." kemudian memandang kearah Keki dan Yamakoto yang berada terpisah dan berlawanan, "tinggal mereka yang tersisa..! "
Braakk..
secara tiba-tiba, kedua lutut Hajime jatuh ke tanah, perlahan tubuhnya kembali menjadi manusia.
"sial.. aku sudah mencapai batas ku.! " batinnya sambil memandang kedua telapak tangannya, dia terlihat sangat lemah dengan nafas tidak beraturan.
Hajime melirik kearah Utama yang berada didekatnya, "Utama sialan! padahal dia tokoh utamanya.. tapi sejauh ini belum ada musuh yang dikalahkannya.. " batinnya terlihat kesal.
Utama memandang Hajime datar, "kenapa kau melirik ku seperti itu? " dia bertanya dengan malas.
"menurut mu?! " jawab Hajime kesal.
Tap
Hiro dan Jiro baru mendekat, sepertinya mereka sedikit takut dengan wujud Hajime sebelumnya.
Hiro menatap Hajime, "bagaimana kau melakukannya? bukankah seharusnya kau tidak bisa mengendalikan diri? " sepertinya dia bingung melihat Hajime yang bisa membunuh dua lawan dengan wujud monster.
Hajime tersenyum, "aku bukanlah orang yang lemah.. mainan seperti itu tidak akan berpengaruh pada ku. " jawabnya sombong.
"cih, jangan besar kepala! sudah banyak orang yang menjadi monster setelah terkena jarum itu..aku rasa kau hanya beruntung!" sahut Jiro cepat, sepertinya dia menolak kesombongan Hajime.
Keki memandang tajam kearah empat pemuda itu, kemudian bergerak mendekati, dia berjarak sekitar dua puluh meter dari Utama dan yang lain, seperti biasa dia tidak berpijak di tanah.
"hehehe, ternyata kalian lumayan juga. " Keki tertawa kecil, kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi buruk, "sudah cukup main-mainnya! akan ku bunuh kalian semua! " dia berteriak.
tepat di saat itu, tiba-tiba sebuah peluru melesat kearah Utama dan yang lainnya.
Ctang..
dengan sangat lincah, Hiro menangkis peluru itu.
Hiro menatap tajam ke suatu arah, pedangnya yang sedikit bersinar menutupi sebagian wajahnya, "semua.. bersiaplah, pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.! " dia terlihat sangat serius.
Utama, Hajime dan Jiro mengikuti arah mata Hiro, disitu terlihat Yamakoto berdiri diatas sebuah gedung setengah hancur dengan tiupan angin yang membuyarkan jubah hitamnya, di tangannya melekat sebuah senjata api yang mematikan.
Yamakoto tersenyum, "hebat! kecepatannya memang tidak diragukan lagi.. " batinnya.
Keki melirik Yamakoto, "aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan mu..tapi cukup aku yang mengurus anak anak sialan ini. " ucapnya dingin.
Yamakoto tersenyum, "sudah kuduga dia akan berpikir seperti itu.. baiklah, akan ku singkirkan kau setelah kau mulai melemah. " batinnya kemudian kembali duduk.
Keki menatap Utama dan yang lain, "kalian memang hebat karena sudah berhasil mengalahkan empat rekanku.. tapi.. kalian jelas hanya anak nakal yang tidak tahu apa-apa! "
Jiro tersenyum, "banyak bicara! " kemudian memburu Keki.
Jiro melesat cepat kearah Keki, saat sudah dekat dia melompat sambil mengayunkan pedangnya.
__ADS_1
"matilah! " teriak Jiro.
Ting..
dengan sangat tenang, Keki menahan tebasan Jiro dengan lengannya yang dilapisi baju besi.
"apa hanya ini yang bisa kau lakukan?! " Keki tersenyum meremehkan.
detik selanjutnya, Keki membalas dengan tendangan keras yang mendarat di perut Jiro. Jiro langsung terpental kearah Utama dan yang lain, terseret di pasir dan berguling-guling lalu tergeletak.
Hiro melirik Jiro, "jangan gegabah! dia bukan lawan yang mudah dikalahkan! "
Jiro kembali bangkit, kemudian menatap Keki, "sial.. dia terus melayang.. " dia sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.
Hiro melangkah perlahan kearah Keki dengan wajah datar, "biar aku yang maju. " dia menarik pedangnya.
setelah itu, Hiro bergerak cepat menjangkau Keki, saat sudah dekat dia melompat dengan tebasan yang siap menghancurkan lawan.
Ting..
Keki menahan dengan kedua lengannya, namun tubuhnya yang melayang di udara itu sedikit bergerak mundur.
"cih..! " Keki terlihat kesal, kemudian melesatkan tendangan untuk membalas Hiro. sayangnya Hiro sudah menduga itu dan mundur, lalu kembali maju untuk mengguyur Keki dengan tebasan dan tusukan.
Zrashh..
setelah cukup lama berusaha, Hiro berhasil mengikis pipi Keki yang langsung mengalirkan darah, keduanya saling memperlihatkan bola mata mereka yang tajam.
walau Keki memakai kacamata hijau, namun Hiro bisa melihat jelas mata lawannya yang begitu tajam, dia mundur beberapa langkah, sepertinya dia sedikit ragu.
"ini...?! " Hiro terkejut, kemudian segera menjauh, "semuanya, menghindar! " teriaknya.
Utama dan yang lain juga berlari, mereka semua berpencar ke segala arah. sepertinya mereka sudah tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya.
Bommm...
benar saja, detik berikutnya rudal melesat dan meledak di tempat Hiro berpijak sebelumnya, tempat itu hancur berantakan, kemudian hawa panas menyebar bersama debu yang beterbangan.
Keki kembali melayang keatas, dia memandang ke empat lawannya dari udara.
"hahaha.. nikmatilah kematian kalian! " Keki tertawa lepas.
Keki mengarahkan telapak tangannya ke segala arah, setelah itu belasan rudal melesat cepat kearah musuhnya.
"menghindar! " teriak Hajime.
Boommm... Baaammm...
ledakan terus terjadi, tempat itu semakin hancur berantakan, api melebar, asap dan debu menutupi pandangan.
"skala ledakan memang semakin kecil.. tapi tetap saja mati jika terkena! " Jiro berteriak sambil berlari ke sana kemari.
__ADS_1
"cih, berhenti mengeluh dan terus menghindar! " sahut Hiro yang berjarak cukup jauh.
Utama dan Hajime masih berdekatan, mereka berlari ke sana dan kemari, sejauh ini mereka masih bisa selamat.
"cih, ini sangat membosankan. " gerutu Hajime, "Utama, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?! "
"sebenarnya aku juga tidak ingin berada di situasi ini.. tapi debu dan asap ini menutupi pandangan ku! " jawab Utama datar.
"hahaha.. hahaha.. ayo, teruslah menari! " di samping itu, Keki tertawa terbahak-bahak, sepertinya dia menikmati pemandangan ini.
Yamakoto memandang Keki yang membabi buta dari kejauhan, "ledakannya semakin kecil saja.. hehehe.. sepertinya dia mulai melemah. " dia tertawa jahat, "ayo, teruslah seperti itu.. aku ingin lihat sampai dimana batas kemampuan mu.."
setelah beberapa saat kemudian, sudah tidak ada ledakan lagi, suasana mulai tenang, debu dan asap menipis yang memulihkan pemandangan.
Utama dan Hajime masih berdekatan, keduanya memandang kearah Keki yang berada di atas. sementara Hiro dan Jiro yang cukup berjarak, mendekati Utama dan Hajime, sepertinya mereka tidak ingin mengambil resiko karena terpisah.
"bagaimana?! " tanya Hajime.
"entahlah, aku juga tidak bisa menyerangnya jika dia terus di udara. " jawab Utama datar.
"dengan ketinggian seperti itu.. kami juga mustahil untuk menyentuhnya. " sahut Hiro sambil menatap Keki yang berada di ketinggian.
Jiro melirik Utama, "bukankah kau bisa melompat setinggi itu.. lagipula kau juga tidak mati sekalipun terkena rudal itu.. "
Keki memandang kebawah, "hahaha.. jika kalian punya waktu untuk berpikir.. kenapa tidak kalian gunakan untuk menyerang ku?! " dia terlihat sangat meremehkan.
Utama menatap Keki, "dia benar.. berpikir tanpa bergerak tidak ada gunanya. " dia mulai bersiap.
tepat disaat itu, tiba-tiba terlihat sosok bayangan melesat kearah Keki dari belakang dan melayang, belum jelas entah siapa orang itu.
Baamm..
orang itu menendang Keki dari belakang, Keki yang tidak menduga hal itu kehilangan keseimbangan dan terhempas cukup jauh, namun tidak sampai membentur bumi dia sudah kembali seimbang.
"..siapa..?! " Utama dan yang lain terkejut.
Tap
orang yang menendang Keki tadi mendarat di dekat Utama dan yang lain, kepalanya tertutup switer hitam yang saat ini dikenakannya, dia juga mengenakan masker hitam, anehnya dia mengenakan celana SMA yang sama dengan milik Utama dan Hajime.
Hajime menatap orang itu dengan seksama, tiba-tiba dia terlihat terkejut, "kau... jangan-jangan!? "
orang itu tidak menoleh, "kau benar.. aku Randa. " ucap orang itu.
"Randa!? " Utama mendekati, "kenapa kau juga bisa melayang di udara?! " dia bertanya dengan malas.
Randa masih belum menoleh, "terlalu panjang untuk dijelaskan.. tapi.. " dia menghentikan ucapannya, "sekarang aku mengerti.. aku sudah memiliki kekuatan.. aku bisa bertarung bersama kalian.. dan aku.. tidak akan menjadi beban lagi.. "
Randa menoleh kearah Utama dan yang lain, tapi wajahnya belum jelas terlihat, "oh, ya.. dimana paman Arya? aku ingin berterima kasih padanya.. "
Hajime menoleh ke suatu arah, "dia sudah terbunuh.. tapi dia juga berhasil membunuh salah satu musuh. "
__ADS_1
Randa mengikuti arah pandang Hajime, dia tersentak, "jadi.. aku terlambat, ya.. sial! " dia terlihat bersedih dan kecewa.
"aku tidak tahu seberapa kuat dirimu, tapi.. setidaknya kau datang tepat waktu.. masih ada dua lawan lagi yang harus kita hadapi. " ucap Utama datar.