
Utama, Randa dan Hajime menuju sekolah, mereka berjalan kaki seperti biasa.
"aku lapar sekali.! " ucap Hajime.
"aku juga belum sarapan! sepertinya pagi ini kita harus ke kantin. " sahut Randa.
Utama melirik kedua temannya, "tidak adakah yang mereka pikirkan selain makan? " batinnya.
cukup lama berjalan, mereka bertiga sudah sampai di sekolah.
"hey, Utama! apa kau tidak ikut kami ke kantin? " tanya Randa.
"tidak! aku tidak lapar sama sekali. " jawab Utama.
Randa tersenyum, "baiklah kalau begitu! tunggu saja kami di kelas! "
Randa dan Hajime menuju kantin, sepertinya mereka tidak sanggup melewati hari tanpa sarapan.
Utama berjalan menuju kelasnya, dia melihat Excel dan beberapa temannya sedang bermain basket seperti biasa.
begitu melihat Utama, para wanita mulai berteriak, semakin hari sosok Utama semakin populer, mungkin perubahan dan sikap dingin Utama yang membuat mereka tertarik.
Excel memandang para wanita itu, kemudian menoleh Utama, "sial! semakin lama pecundang ini semakin populer! aku harus mempermalukannya.! "
Excel melemparkan bola basket tinggi kearah Utama, "ini tidak akan meleset! " dia tersenyum.
Buukk
bola basket mendarat tepat di kepala Utama, lalu jatuh ke lantai.
Utama menoleh Excel, "ya, ampun.. lagi lagi orang ini, sudah entah berapa kali dia melakukan hal ini? ini memang tidak sakit, tapi aku mulai bosan. " batinnya. "sebenarnya dia punya masalah apa denganku? "
Excel berjalan mendekati Utama, "maaf, maaf! aku tidak sengaja! " dia cengengesan.
Utama menatap datar, "tidak masalah! tapi ini sudah kesekian kalinya, aku merasa ada unsur kesengajaan. "
Excel terlihat hampir marah, tapi dia memandang ke sekeliling yang dipenuhi wanita, "sial! jika aku menghajar pecundang ini disini, kesan ku akan terlihat buruk, saat ini memang aku yang salah, lagipula sudah banyak wanita yang mengaguminya. " batinnya.
Excel tersenyum, "sekali lagi aku minta maaf! aku tidak akan mengulangi perbuatan yang sama! " Excel membungkukkan tubuhnya. "sial! hari ini aku harus mengalah dulu! " batinnya.
"apa yang kau lakukan? berdirilah! aku bukan presiden yang pantas dihormati seperti itu! " ucap Utama datar.
Excel membenarkan posisinya, "orang ini.. orang ini tahu saja cara mempermalukan ku. " dia semakin emosi.
Utama kembali berjalan, dia memandang cuek kearah wanita yang memandangnya.
"ya, ampun.. tatapannya semakin menggoda saja! " teriak seorang wanita.
"dia bahkan bisa membuat Excel meminta maaf! dia semakin keren! " sahut yang lainnya.
__ADS_1
"tidak, tidak, dia tidak membiarkan Excel melakukan itu! dia benar-benar rendah hati. " ucap yang lain lagi.
Excel memandang para wanita itu, seketika raut wajahnya menjadi sangat menakutkan, "sial! bahkan mereka mulai membandingkan ku dengan pecundang itu! " dia menundukkan kepalanya, "lihat saja nanti! ku habisi kau!" dia mengepalkan tinjunya erat.
"kau tidak perlu melakukan hal bodoh lagi!" temannya datang lalu memukul pundak Excel, "itu hanya akan mempermalukan mu didepan semua wanita, bukankah seperti itu sang idola? " temannya tersenyum hangat.
setelah cukup lama dikelas, tiba saatnya untuk beristirahat, semua murid keluar menuju kantin.
"perut ku sudah sangat lapar, ayo kita segera ke kantin! " ucap Randa tergesa-gesa.
Hajime tersenyum, "kau benar! tadi pagi aku hanya makan sedikit. "
Randa melirik Hajime, "makan sebanyak itu masih kau katakan sedikit? kau ini manusia atau tidak.? " batinnya.
Utama menatap kedua temannya sambil menghembuskan nafas, "tidak adakah yang bisa kita bicarakan selain masalah perut? "
ketiga pemuda itu berjalan menuju kantin, setelah sampai mereka langsung masuk, suasana kantin saat itu sangat padat.
Utama dan yang lain duduk, lalu Hajime dan Randa memesan makanan, sementara Utama hanya segelas minuman.
"makanan disini memang yang terbaik! " Hajime menikmati makanannya.
"kau benar! makanan disini memang sangat enak! " sahut Randa tidak mau kalah.
Tap Tap
Utama dan Randa menoleh,mereka melihat Shinta dan dua temannya, "ya, ampun, wanita ****** ini lagi. " batin Randa memucat.
"kau berbicara dengan siapa? " Hajime bertanya balik tanpa menoleh.
"menurut mu!? " Shinta juga bertanya balik.
Utama menatap Shinta, "sepertinya akan terjadi hal buruk. " batinnya.
"kau bisa duduk disini! " Utama menyingkir dari kursinya, kemudian sedikit menjauh dari tempat itu.
Shinta duduk di kursi Utama sebelumnya, melipat kedua tangannya di dada, kemudian menaikan paha kanan ke paha kiri, matanya menatap kearah Hajime yang sampai sekarang belum menoleh kearahnya.
Shinta berdeham, "sepertinya kalian mendapatkan teman baru yang cukup bernyali!" dia menatap Randa serta Utama yang cukup jauh.
Randa melirik kedua teman Shinta yang masih berdiri, kemudian menyingkir dari kursinya, "kau bisa duduk disini, kak.. kak apa, ya? aku tidak mengetahui namamu. " ucapnya cengengesan.
"baiklah! kau adik kelas yang sopan. " salah satu duduk di kursi Randa yang sudah mendekati Utama, sementara yang satunya masih berdiri karena kursi satu meja hanya tiga.
Shinta terus menatap Hajime yang masih menikmati makanannya, "sepertinya kau memang tidak bisa diajak bicara, ya. " dia mulai kesal.
"sepertinya kau wanita yang cukup keras, baiklah! akan ku layani kau.! " Hajime mengangkat kepala, lalu menoleh kearah Shinta.
Shinta dan Hajime beradu pandang, kedua mata indah itu lama bertemu, terlihat mereka sangat serasi, yang satu anggun bagai bidadari, sementara Hajime tampan alami.
__ADS_1
Hajime tersenyum hingga terlihat taringnya,"ternyata kau sangat manis! kau juga sangat menarik! " ucapnya.
Shinta menatap Hajime dengan tatapan kosong, "pujian mu tidak akan merubah apa-apa! menyingkir lah! temanku sudah lama berdiri. " ucapnya. "jika tidak! aku sendiri yang akan.. " belum selesai berucap, Hajime sudah memotong.
"jika tidak! kau ingin melakukan apa? " potong Hajime kemudian tersenyum, "aku sangat suka dengan matamu! dan aku baru ini memuji wanita, aku yakin dibalik ketenangan mu, jantungmu juga berdebar-debar! " dia tersenyum percaya diri.
Shinta tetap tenang, "mungkin kau baru sekali memuji seorang wanita, tapi aku sudah berkali-kali dipuji buaya seperti mu! "
Hajime berdiri, "baiklah! aku akan menyingkir. " kemudian menyingkir.
"baguslah! aku tidak perlu memaksamu! " Shinta menoleh kearah temannya yang masih berdiri. temannya pun duduk di kursi Hajime.
"tapi sebagai gantinya.. " Hajime berjalan mendekati Shinta.
Baaam
Hajime menaikan kakinya keatas meja tepat di dekat Shinta.
"kau harus menjadi pacarku! " ucap Hajime tersenyum sambil menatap Shinta.
kedua teman Shinta hanya terdiam, mereka juga merasa enggan berurusan dengan Hajime yang memiliki aura kuat.
Utama dan Randa juga menyaksikan kejadian itu, "pemandangan ini sangat buruk untuk jantung! Hajime benar-benar cari mati! " ucap Randa.
selain orang-orang di atas, semua orang di kantin yang menyadari kejadian itu juga menonton, jarang-jarang ada orang yang berani berbuat seperti itu pada Shinta.
Shinta menatap Hajime dengan datar, namun sepertinya dia mulai panas, "aku tidak pernah berfikir bergandengan dengan adik kelas! " ucapnya datar.
Hajime tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Shinta, tubuh indah itu begitu menggoda "kau benar-benar sangat menarik! baru ini aku melihat wanita setenang dirimu!
Hajime terus menatap wajah Shinta yang merah merona, " aku ingin lihat! sampai mana ketenangan mu itu bisa bertahan? " dia berbisik di dekat telinga Shinta.
Shinta melirik tajam Hajime, "bisakah kau menjaga jarak!? kau benar-benar menguji kesabaran ku! " ucapnya. "atau... seperti inikah caramu mendekati orang yang kau suka? benar-benar tidak tahu cara menghargai wanita! " Shinta menatap kaki Hajime yang masih di atas meja.
Hajime menurunkan kakinya, "kata-katamu terdengar sudah seperti menerima ku. "
Hajime memandang ke sekeliling, "hey, semua! mulai sekarang wanita ini menjadi kekasih ku! " teriaknya.
Orang-orang di sekitar berteriak, mereka sangat takjub pada Hajime yang bernyali besar.
Shinta tetap tenang, "*terserah kau mau berkata apa! aku tidak akan jadi kekasih mu! "
"apa? Shinta menerima cinta seseorang!? siapa pria itu*!? " disaat itu, Excel muncul dengan tergesa-gesa, kemudian mendekati Shinta.
Hajime menatap Excel, "jadi kau menolak ku karena orang ini! " dia tersenyum kemudian menoleh Shinta.
Excel menatap Shinta, "Shinta, apa benar kau menerima orang ini menjadi kekasih mu? "
Shinta tidak menoleh, "itu bukan urusan mu! " jawabnya dingin.
__ADS_1