
"pa.. man..?! " Randa terus menatap Keki, raut wajahnya terlihat sangat rumit, terlihat kecewa, terlihat bersedih dan juga menyesal.
"Randa..?! " Keki juga menatap Randa, dia juga memperlihatkan ekspresi rumit.
Randa menundukkan kepalanya, "jadi kau dalang di balik semua ini.. " ucapnya pelan, "hehehe, padahal aku sangat ingin bertemu dengan mu, setelah melihat kau yang sekarang.. aku malah ingin membunuhmu. " Randa tertawa kecil, wajahnya masih tertunduk sehingga tidak terlihat seperti apa raut wajahnya.
Keki terdiam, dia masih menatap Randa, wajahnya juga terlihat bersedih.
Randa meletakkan tangannya di bagian dada, "sial..ini sakit sekali!.. kau benar-benar membuat ku membenci mu, paman! " teriaknya sambil mengangkat kepalanya, disudut matanya terlihat bulir-bulir air mulai menetes. "kenapa, paman? kenapa kau melakukan semua ini? kau menghilang dan kembali membawa kehancuran! "
"ini..kau tidak tahu apa-apa Randa, aku melakukan semua ini karena ada alasannya. " Keki menjawab dengan berat.
"apa?! karena Bibi dan Rina meninggalkan mu lalu kau ingin menghancurkan kota kenangan kita?! " Randa berteriak.
"baiklah.. akan ku ceritakan sedikit.. ini masih berhubungan dengan kecelakaan waktu itu.. ucap Keki mulai mengenang kembali masa lalunya.
beberapa tahun yang lalu...
di depan pintu rumah sakit, terlihat seorang pria dewasa berlari dengan tergesa-gesa, dia memapah seorang wanita dewasa yang pingsan, dia adalah Keki dalam keadaan panik yang sedang memapah istrinya dan merupakan Bibi dari Randa.
di samping Keki, terlihat seorang wanita dewasa sedang memapah gadis kecil yang pingsan, dia sama paniknya dengan Keki. wanita itu adalah ibu Randa yang merupakan kakak ipar Keki, sementara gadis kecil itu adalah Rina, anak dari Keki.
"suster, tolong istri dan anak saya..! " Keki berucap dengan panik, air matanya juga mengalir.
"Rina.. kamu harus kuat.. kamu pasti bisa.. " ibu Randa menepuk-nepuk pipi Rina sambil menangis, namun Rina tidak bereaksi sama sekali.
setelah itu, seorang pria lansia datang keruangan itu, dia mengenakan kacamata dan berpakaian layaknya seorang dokter.
"dokter, tolong anak dan istri saya.. saya pasti bayar berapapun biayanya.. " Keki menggenggam tangan dokter itu sambil menangis tersedu-sedu.
"baiklah.. saya periksa dulu.. " dokter itu kemudian memeriksa istri Keki dan Rina.
dokter itu hanya meletakkan jarinya didepan lubang hidung kedua pasiennya, setelah itu kembali menatap Keki.
"maaf, mereka sudah meninggal.." ucap dokter tersebut dengan datar.
Keki terkejut, "tidak mungkin.. saya masih merasakan detak jantung istri dan anak saya.. "
"itu benar! anda ini bukan seorang dokter! " sahut ibu Randa.
dokter itu menatap Keki dan ibu Randa, "maaf, saya masih banyak pasien lain.. lagipula saya tidak bisa mengobati orang yang sudah menjadi mayat.." ucapnya datar lalu pergi.
"sialan.. kau sudah bosan hidup...akan ku cincang kau! " sontak amarah Keki langsung memuncak.
"maaf, pak.. saya mohon jangan lakukan kekerasan disini.. " suster itu menahan, "Pak Aryono adalah dokter terbaik di rumah sakit ini.. saya rasa dia tidak mungkin salah.. " setelah berucap, suster itu pamit dan pergi.
Keki dan ibu Randa memandang Rina dan ibunya yang terbaring lemas, air mata terus mengucur bersama isak tangis yang semakin keras.
"suamiku.. " tepat disaat itu, ibu Rina membuka mata, dia bersuara sangat pelan dan serak.
Keki dan ibu Randa tersentak, mereka tersenyum bahagia, namun tidak lama setelah itu ibu Rina menghembuskan nafas terakhir.
Keki menjerit, seketika wajahnya terlihat sangat menakutkan, "dokter sialan.. akan ku hancurkan rumah sakit ini..! " ucapnya dengan penuh api dendam dimatanya.
"hehehe, jadi itu alasannya kenapa kau menghancurkan rumah sakit itu untuk pertama kali,ya.. " Randa tertawa kecil, "aku rasa itu bukanlah suatu alasan untuk kau menghancurkan kota ini! " kemudian berteriak dengan bola mata yang hampir keluar.
Tap
Utama dan Hajime melompat dari atas gedung dan mendarat di samping Randa, "apa yang terjadi? apa kau mengenalnya? " sepertinya mereka juga tidak tahu apa yang terjadi.
"aku pernah berkata padamu, Utama.. " Randa menundukkan kepalanya, "aku memiliki seorang paman yang meninggalkan ku karena sebuah kecelakaan.. cih, aku sungguh tidak berharap untuk bertemu dengannya di situasi seperti ini.. "
Utama dan Hajime menatap Keki dengan datar, "jadi orang ini paman mu, ya.. " ucap mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
cukup berjarak, terlihat Yamakoto sedang duduk di atas sebuah gedung, angin sepoi-sepoi terus menghembus jubah hitamnya.
"apa yang terjadi? apa Keki mengenal anak itu? tidak! sepertinya ini lebih dari sekedar mengenal...mungkin mereka masih terhubung ikatan darah.. " gumamnya, "reuni, ya..siapa yang menyangka akan ada hal semacam ini. " dia tersenyum tipis, "begitu ada kesempatan.. aku harus menyingkirkan Keki.. akan jadi masalah jika dia berbalik menyerang ku.. "
disisi lain, Hiro dan Jiro hanya terdiam, mereka memandangi kejadian itu dengan wajah penuh tanda tanya, sesekali mereka juga saling pandang.
Keki memandang Randa, "semenjak kejadian itu.. aku berpikir bahwa kekuatan adalah segalanya.. ya, jika aku punya kekuatan waktu itu, mungkin mereka tidak berani mempermainkan ku...Rina dan ibunya mungkin bisa diselamatkan.. " ucapnya, "kecelakaan waktu itu mengajarkanku tentang kekuatan.. kekuatan adalah segalanya.. dan aku sudah berada di titik paling puncak..! " dia berteriak serius.
Hajime menatap Keki, "Randa, jika sulit bagimu untuk membunuhnya.. biar aku yang menggantikan mu.. " ucapnya datar, padahal dia terlihat sangat lelah.
"tidak perlu teman-teman! " Randa merentangkan tangannya , sepertinya dia mencoba menahan Utama dan Hajime, "aku sendiri yang akan menghentikannya.. " saat ini kepalanya tertunduk.
Greeb..
Randa berjalan perlahan kearah Keki, dia melepas jaket hitamnya dan mencampakkannya entah kemana. di sekujur tubuhnya terlihat sesuatu yang menutupi, itu adalah baju besi yang berwarna merah.
Keki tertegun, "itu...!? " dia menatap Randa yang semakin dekat dengannya.
"ya, ini adalah baju besi yang kakek buat bersama mu.. " Randa masih belum memperlihatkan wajahnya.
Traang..
Randa melepas baju besinya dan melemparkannya ke tanah.
semua orang tertegun, "Randa.. kau.. ?! "
Randa menghentikan langkahnya, kemudian menatap Keki dengan tajam, "mungkin kekuatan adalah segalanya.. tapi bagiku.. cinta dan kasih sayang lah yang mampu merubah segalanya..! " dia berteriak dengan wajah menakutkan.
Randa berlari ke arah Keki, "aku akan mengalahkan mu dengan tangan ku sendiri! " dia sambil berteriak.
awalnya Keki mulai melayang, tapi dia kembali mendarat di tanah, namun dia terlihat tenang dan menunggu kedatangan Randa.
Hajime memandang Keki, "ada apa? kenapa dia tidak melayang.? "
"tidak! sepertinya dia sengaja.. lihat di bagian dadanya.. ! " Utama menunjuk.
Randa sudah berada di depan Keki, dia mengayunkan tinju untuk menyerang Keki.
"akan ku habisi kau! " Randa berteriak.
Baamm...
Keki juga bergerak, namun dia terlihat sangat ragu, akhirnya tinju Randa mendarat di pipinya. sepertinya Keki masih menganggap Randa sebagai keponakannya.
Keki terlempar beberapa meter, beberapa saat kemudian dia kembali berdiri.
Keki menatap Randa, "haruskah aku memukul anak kakak ku? haruskah aku saling membunuh dengan keponakan ku sendiri? " batinnya.
Randa berjalan menuju Keki, "kenapa paman? kau tidak perlu berbelas kasih padaku.. "
"hey, Keki..! kau adalah ketua Black Rose..! seharusnya mudah bagimu untuk menyingkirkan seekor lalat..! " tiba-tiba terdengar suara teriakan, semua orang mengikuti arah suara tersebut dan melihat Yamakoto sedang berdiri di atas gedung.
Keki memandang Yamakoto, "benar.. " kemudian menatap Randa, "sudah sejauh ini melangkah.. aku tidak akan menyerah hanya karena sekali terjatuh! " dia berteriak dan mulai bersiap.
"katakan itu jika kau melangkah dijalan yang benar.. jika tujuan mu untuk menambah penderitaan.. aku sendiri yang akan menghentikan mu! " Randa membuka matanya lebar-lebar, saat ini wajahnya sangat menakutkan.
Randa menerjang Keki, sementara Keki juga sebaliknya, pertarungan pun kembali dimulai, tapi sejauh ini Keki tidak menggunakan senjatanya.
"untuk mempersingkat semua ini.. kita harus membantu Randa.. ini kesempatan yang bagus.. " Utama memandang Randa dan Keki.
Hajime menahan, "tidak, biarkan Randa sendirian.. saat ini perasaannya benar-benar hancur.. "
Jiro memandang kejadian itu, "bagaimana? bukankah ini kesempatan yang bagus.. "
__ADS_1
"tidak Jiro! ini bukan tentang pertempuran lagi.. ini juga menyangkut soal perasaan.. " jawab Hiro.
Jiro menoleh, "perasaan?! "
"dibalik tubuh kita ini yang sering kita gunakan untuk bertarung.. kita juga memiliki hati.. kita bisa mengerti satu sama lain.. kita harus bisa memahami isi hati orang lain.. dengan hati kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus membunuh.. " jawab Hiro, sementara Jiro terlihat bingung.
Baamm.. Buuummm..
Randa dan Keki terus bertarung, keduanya saling adu jotos, saling tendang, terkadang juga berguling-guling di tanah.
"memangnya bertarung seperti ini, ya..?" Hajime tersenyum, "mungkin ini yang disebut dengan berkelahi.. "
di suatu kesempatan, Keki berhasil mendaratkan tinju ke perut lawannya, Randa terdorong dan terjatuh, kemudian tergeletak di atas pasir.
Keki menatap Randa dengan penuh iba, "Randa.. apa kau tidak apa-apa? " dia terlihat sangat bersedih.
"uhuk.. uhuk..! " Randa terbatuk-batuk, "kenapa kau menghawatirkan ku? aku tidak butuh belas kasih mu.. berhenti menatapku seperti itu.. " dia kembali berdiri.
Randa berjalan mendekati Keki, "kenapa kau tidak menggunakan senjata mu? seharusnya kau bisa membunuh ku dengan mudah.. keluarkan rudal mu dan bunuh aku.. dari awal aku sudah siap untuk mati.. " matanya mulai berkaca-kaca. "ayo paman, bunuh aku! " dia berteriak.
Keki memandang Randa dengan mata berkaca-kaca, "aku.. aku tidak bisa.. kau.. adalah keponakan ku..aku terlalu menyayangi mu.."
Bruk..
Keki menjatuhkan kedua lututnya, kemudian menundukkan kepalanya.
"Randa.. maafkan aku.. selama ini aku selalu terobsesi dengan kekuatan.. aku bertekad menghancurkan kota ini.. " Keki mulai menangis, "aku lupa.. aku lupa tentang kau dan kenangan kita.. aku lupa bahwa diriku masih mempunyai seorang keponakan.. "
Randa menatap Keki yang tertunduk, "setelah kecelakaan itu.. hidupku sangat tidak berarti..satu persatu orang terdekat meninggalkan ku.. kau menghilang entah kemana.. ibu keluar negeri untuk memenuhi biaya hidupku.. aku benar-benar sangat kesepian..aku hidup sebatang kara.." Randa menangis, "aku mencoba menjalani hidup dan terus mencoba untuk tetap hidup.. aku mengenal Utama.. kemudian Hajime.. perlahan hidupku mulai terasa indah.. mereka selalu perduli padaku.. dan kau.. dan kau bertekad untuk menghancurkan semua itu.. kau berniat menghancurkan kota yang sudah terlalu banyak kenangan ini.. " air matanya semakin deras menetes.
"aku tidak akan membiarkan itu terjadi! "
Baamm...
Randa berteriak lalu menendang Keki hingga tersungkur.
Keki kembali berdiri, lalu berjalan perlahan kearah Randa yang tetap diam.
Greeb..
Keki memeluk erat Randa, "maafkan aku Randa.. selama ini kau sudah terlalu menderita.. aku tidak akan membiarkan mu kesepian lagi.. " keduanya saling menangis.
Utama dan Hajime memandang kejadian itu, mereka terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Hajime tersenyum tipis, "kekuatan adalah segalanya.. tapi cinta dan kasih sayang yang mampu merubah segalanya, ya.. selain bodoh.. ternyata kau paling mengerti tentang perasaan..Randa.. " batinnya.
Yamakoto memandang kejadian itu, dia yang awalnya duduk mulai berdiri, "sial.. aku harus bergerak sekarang.. jika tidak dia akan menyerang ku balik.. " dia terlihat kesal.
setelah beberapa saat saling peluk, Keki dan Randa saling melepas, keduanya berhenti menangis dan menghapus air mata.
Keki mengelus kepala Randa, "sekarang kau sudah besar.. kau sangat mirip dengan ayahmu.. " dia tersenyum penuh haru.
tepat disaat itu, Randa tersentak, dia memandang kebelakang Keki dengan wajah ketakutan, "paman.. dibelakang.. " ucapnya serak, air matanya kembali menetes.
"belakang..?! " Keki menoleh kebelakang.
Keki tersentak, "kau.. sejak kapan.? " dia melihat seseorang dibelakangnya.
orang itu tidak lain adalah Yamakoto, dia berdiri di belakang Keki sambil tersenyum jahat, "sudah cukup reuninya..dasar sialan.. kau melunak hanya karena hal semacam ini.. "
"kau..?! " Keki mencoba bergerak tapi tidak bisa, dia melirik kearah tangan Yamakoto, disitu terlihat sebuah pedang yang hanya setengahnya saja terlihat, "akh..! " Keki memuntahkan darah, dia menoleh kearah perutnya, ternyata sebagian atau lebih tepatnya ujung pedang Yamakoto sudah menembus perutnya yang sudah banjir darah segar.
"bagaimana pedang mu bisa menembus baju besi ini?.. aku juga tidak tahu kapan kau menusukku.. " Keki berbicara sambil menahan kesakitan.
__ADS_1
Yamakoto tersenyum jahat, "kau terlalu meremehkan ku.. ketua.. "
"maafkan aku paman.. aku terlambat.. " Randa menatap darah Keki yang menetes, wajahnya juga memucat, sementara Utama dan yang lainnya ikut terkejut.