
setelah mendengar ucapan Joko, salah seorang bergerak untuk menyalakan lampu.
tidak lama kemudian, tempat itu terang karena cahaya, wajah semua orang terlihat jelas.
Utama, Yoro dan Yara menatap Joko dan yang lain, "ya, ampun.. tato diwajahnya sangat menakutkan! " bisik Yara . "kau memang benar! tapi kepala botaknya itu lebih menggoda untuk dipukul. " sahut Yoro.
Joko menatap Utama, "anak ini.. sepertinya aku pernah bertemu dengannya.. " dia mencoba mengingat. "dia! dia anak yang waktu itu! anak yang bisa menghancurkan dinding hanya dengan sekali pukul! " seketika Joko menjadi panik, dia mundur kebelakang.
Roy dan keempat temannya menatap Utama, "orang ini.. bukankah orang ini. " ucap Roy ketakutan.
"benar! dia orang yang kita hadapi tadi siang! dia sangat menakutkan! " mereka semua mundur.
Yana menoleh kearah Utama dan Yoro serta Yara, "Utama... dia datang.. dia akan menolongku. " seketika matanya berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk. "tidak! dia bersama Yoro dan Yara.. pasti mereka berdua yang memaksanya untuk menolongku.. " Yana mengalihkan pandangannya dari Utama, "dia hanya menganggap ku pengganggu.. dia tidak pernah perduli padaku.. dan aku sudah bertekad untuk membencinya. "
Utama menatap Joko dan kelima anak buahnya, "maaf, aku tidak membawa uang yang kalian minta. " dia tersenyum. "lagipula kalian meminta tebusan terlalu besar.. satu milyar.. sepertinya kalian berniat memeras." dia berjalan kearah Joko dan yang lain.
Roy dan yang lain bersembunyi dibalik tubuh Joko, "ketua! tolong kami! orang itu sangat menakutkan! "
"itu benar! dia bisa mengalahkan kami dengan mudah. " ucap yang lain.
"ketua, hanya kau yang bisa menghadapinya. " sahut yang lainnya lagi.
Yoro dan Yara memandang sekumpulan orang yang ketakutan itu, kemudian menoleh Utama, "kenapa mereka sangat ketakutan!? dia memang hebat, tapi tidak mungkin ketua tiger white tidak sanggup menghadapinya. " ucap Yoro.
Joko menoleh anak buahnya, kemudian menatap Utama yang semakin dekat, "sial, aku tidak mungkin bisa menghadapi anak ini.. dia sangat kuat! dia juga yang telah membunuh Hoki. " batinnya.
detik berikutnya, Joko mengeluarkan pistol dari pinggangnya, kemudian mengarahkannya ke tubuh Utama, "jangan mendekat! aku akan membunuhmu! " ancam Joko, tapi dia juga terlihat ketakutan.
Utama menghentikan langkah, kemudian menatap datar Joko, "jadi kau mengancam ku, ya. memangnya kau yakin bisa mengalahkan ku dengan senjata mainan mu itu? jika tidak, bisa-bisa kau menyusul temanmu yang bernama Hoki itu dengan cepat. "
Joko terdiam,dia terlihat berpikir keras, "baiklah, kami akan membebaskan wanita ini. " kemudian menjatuhkan pistol ke lantai.
Utama tersenyum, "baguslah, ternyata kau memiliki pemikiran yang sama dengan ku. "
"padahal dia ketua tiger white, tapi dia bersikap pengecut seperti ini. hanya dengan kata-kata aku bisa mengontrol pikirannya, jika tidak mungkin aku juga kerepotan. " batin Utama.
Roy dan yang lain menatap Joko, "ketua! apa yang kau lakukan?" ucap salah satu.
"ketua, kenapa kau tidak menghadapinya, kami yakin kau bisa mengalahkan anak itu. " sahut yang lain.
"diam dan lepas ikatan wanita itu! " teriak Joko sambil menatap anak buahnya.
semua anak buahnya menunduk, "baiklah.. " mereka terlihat tidak puas.
Yoro dan Yara saling menatap, sepertinya mereka tidak percaya kalau ketua tiger white sangat takut pada Utama.
__ADS_1
Yana yang dari tadi tidak menoleh Utama, kini menoleh sambil tersenyum tipis, "walaupun kau menolongku, aku tidak akan mengurungkan niat ku untuk membencimu. " dia terlihat bahagia.
salah seorang membuka ikatan Yana,"aku sudah sangat tersiksa ditempat ini. " ucap Yana.
"semua sudah aman! " setelah itu, Utama, Yana, Yoro dan Yara meninggalkan tempat itu.saat ini mereka sudah keluar dari gedung tersebut, mereka berjalan di sebuah jalan sempit yang sepi.
Yara menatap Yana, "oh, ya, bukankah Nona seharusnya membawa mobil? "
"tanyakan saja pada penjahat penjahat itu! " jawab Yana cepat, dia berjalan lambat, sepertinya ikatan tadi membuat kakinya sakit.
"apa!? kenapa Nona tidak mengatakannya dari tadi? " Yara kembali menuju gedung tempat penjahat itu berada.
Yoro memandang Yara, "sudahlah, yang terpenting Nona baik-baik saja. " ucapnya, namun saudaranya tidak mendengarkan dan pergi saja.
Yoro mengeluarkan ponsel, kemudian menatap Yana, "Nona, aku sudah memberi tahu ayahmu kalau kau baik-baik saja. sekarang, dia sedang menunggu mu di rumah. " ucapnya lembut. "dan.. dia ingin bertemu dengan orang yang sudah membuat mu dalam masalah ini. " dia tersenyum.
Utama menoleh Yoro, "maksudmu!? "
"ya,sepertinya dia ingin memberi mu sedikit pelajaran." sambut Yoro.
Utama menoleh Yana yang tertinggal di belakang,"hey, kenapa kau lama sekali? apa kakimu sakit? " dia bertanya cuek.
Yana membuang wajahnya, "itu bukan urusanmu! " jawabnya juga cuek.
Yana tetap tidak menoleh, "tidak! aku tidak berhak untuk marah padamu! " dia masih bersikap cuek.
"ya, ampun.. jadi seperti ini kalau wanita sedang ngambek. " batin Utama.
Yana berjalan melewati Utama, "mulai sekarang aku akan membencimu. " ucapnya pelan.
Yoro memandang kedua orang itu, "mereka kenapa? "
Utama memandang kaki Yana yang melangkah semakin berat, "sepertinya kakimu benar-benar sakit. " ucapnya.
Yana mulai menoleh kearah Utama, "kau tidak perlu berlagak perduli padaku.. di hidupmu kau hanya menganggap ku sebagai pengganggu. " dia berucap serak bersama matanya yang berkaca-kaca.
Utama mengalihkan pandangannya dari Yana, "siapa yang perduli padamu? aku hanya tidak ingin kakimu semakin parah. " ucapnya datar. "tapi baiklah, aku tidak akan menanyakan sesuatu lagi. "
Yoro menoleh Yana, "Nona, apa kau benar-benar tidak apa?" dia terlihat cemas, tapi dia juga tidak berani menyentuh.
"tidak! aku tidak apa-apa. " jawab Yana.
Yana dan Utama berjalan beriringan, tapi mereka tidak mau menoleh apalagi berbicara.
Braak
__ADS_1
tiba-tiba Yana terjatuh, "aduh! " dia memegangi kakinya. "memangnya sampai kapan kita harus berjalan.!? " dia terlihat kesal dan marah.
"Nona! " Yoro mendekati Yana, "apa kau tidak apa-apa? " dia tidak berani menyentuh Yana.
Utama menghentikan langkah, kemudian menatap Yana, "kita akan berjalan sampai kakimu patah." dia terlihat menjengkelkan.
Yana kembali berdiri, kemudian menatap Utama sesaat, "dasar jahat! kau hanya bisa menyakiti ku. " dia mencoba menahan air mata.
Yoro mulai kesal dengan sikap Utama, "jika kau membuat Nona kami menangis, aku berjanji akan membuat hidup mu kesulitan. " bisiknya.
Utama tidak perduli, dia terus berjalan didepan,sesekali dia juga melirik Yana yang menoleh kearahnya jika dia tidak melihat.
"aku akan membencimu! aku akan membencimu! " gumam Yana pelan.
Utama mendengar ucapan Yana, kemudian menghentikan langkah bersama kepalanya yang menunduk, "Yana.. " dia memanggil Yana.
Yana menghentikan langkahnya, kemudian menatap Utama, "aku akan membencimu. " ucapnya semakin keras, wajah cantiknya di basahi oleh keringat.
"teruslah seperti itu! kau memang harus membenciku. " Utama mengangkat kepalanya.
Yana terdiam, dia terlihat sangat sedih, "kenapa? kenapa kau ingin aku membencimu? "
"karena aku benci novel percintaan." Utama tersenyum.
Yana menatap Utama, "novel percintaan? apa maksudmu!? " dia tidak mengerti.
Utama tersenyum, "terlalu sulit untuk dijelaskan. " ucapnya. "dan..aku akan menggendong mu sampai rumah. "
Yana tidak menoleh, "tidak! aku tidak mau digendong orang jahat seperti mu! " jawabnya cuek, kemudian menahan senyum.
Yoro menatap kedua orang itu, kemudian mengalihkan perhatiannya, "anggap saja aku tidak melihat! " ucapnya.
Utama menoleh Yoro, "kau pergi saja duluan! aku akan menjaganya. "
"baiklah,kau harus datang!ayah Nona Yana sangat ingin bertemu dengan mu. " Yoro pergi meninggalkan dua orang itu.
Utama membungkukkan tubuhnya, "naiklah! " ucapnya.
Yana tersenyum, "memangnya kau bisa menggendong ku? badanku berat, lho. "
sesaat kemudian, Yana menempel dipunggung Utama,lalu Utama mulai melangkah."sepertinya aku tidak bisa membencimu, tubuh mu hangat seperti dulu, hanya sikapmu saja yang dingin. " batin Yana, sepertinya dia mengingat kenangan manis bersama Utama.
Yana mencoba menahan tangis, tapi tetap saja air matanya menetes dan membasahi bahu Utama, "apa kau yakin ingin bertemu dengan ayahku? dia sangat pemarah. " Yana mencoba membuka pembicaraan agar tidak larut dalam kesedihan, walaupun suara seraknya tidak bisa ditutupi.
Utama menyadari Yana menangis, "maafkan aku Yana! aku tidak bisa mencintai seseorang di kehidupan yang tidak nyata ini.. kita ini hanya ada di dunia khayalan..lebih tepatnya di sebuah novel.." batinnya berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1