Tokoh Utama

Tokoh Utama
Kenangan Toyo


__ADS_3

"sialan kau.! " Toyo kembali berdiri, matanya menatap tajam kearah Utama yang berada di belakangnya.


Utama menatap datar Toyo, "kita sudah terlalu lama bertarung.. ayo kita selesaikan ini.! "


pertarungan dilanjutkan kembali, Utama dan Toyo saling serang dan menahan, sampai sekarang pun masih belum bisa dipastikan siapa yang akan menang. namun, saat ini Utama terlihat sangat malas.


setelah beberapa saat bertarung, keduanya kembali menjaga jarak dan saling menatap.


"anak ini.. padahal aku sudah mengeluarkan semua kekuatan ku.. tapi dia tetap bisa bertahan. " batin Toyo kesal.


disaat itu, tiba-tiba Hiro Jiro muncul dan langsung menyerbu Toyo dengan senjatanya.


"sudah ku katakan.. senjata mainan kalian tidak akan pernah melukai ku.. " Toyo tersenyum meremehkan, dia sama sekali tidak memperdulikan Hiro dan Jiro.


"jangan meremehkan kami! " teriak Hiro.


Craakhh..


Hiro menyerang dari depan, seketika sebuah tusukan berhasil menembus perut Toyo, ujung pedang Hiro pun nampak dari belakang dengan linangan darah.


"akh..! " Toyo tersentak dan kesakitan, "kenapa.. bagaimana mungkin?! " dia menatap Hiro yang ada didepan matanya.


Hiro tersenyum, "jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena kau kuat.. karena dibalik kekuatan.. pasti tersimpan kelemahan. " dia terus menekan pedangnya masuk kedalam perut Toyo.


Jiro tersenyum, "sudah selesai, ya.. "


Hiro melirik kearah Hajime yang sudah mendekat, "ternyata dia benar..melakukan hal sederhana itu dan mampu menembus pertahanannya.." batinnya.


Hajime tersenyum, "ternyata ini bukanlah hal yang sulit.. " batinnya.


Toyo menatap Hiro, "kau.. bagaimana kau melakukannya? " sepertinya dia masih tidak percaya.


Hiro tersenyum, "sederhana.. kau sendiri yang berkata, tubuhmu hanya mampu dilukai oleh sesuatu yang mengandung darah.. " dia menoleh kearah monster yang tergeletak, "aku membasahi pedang ku dengan darah monster tersebut.. siapa yang menyangka mayat monster itu masih berguna.. " dia berbicara penuh keangkuhan.


"Toyo..! " Miyu berlari mendekati, sepertinya dia berniat membantu.


Jiro menghalangi Miyu, "aku yang akan menjadi lawan mu. "


"jadi begitu, ya.. " tiba-tiba Toyo tersenyum, "hahaha, jangan berpikir kau sudah membunuh ku! " kemudian tertawa.


"eh!? " Hiro terkejut, dia menatap Toyo, "kenapa.. kenapa dia masih bisa bertahan.? bukankah seharusnya.. " batinnya bingung.


"apa yang terjadi!? kenapa dia masih bisa berdiri?! " Hajime juga terkejut.


Greeb...


dengan cepat Toyo mencengkram leher Hiro, lalu mengangkatnya keatas sambil tersenyum.


"kau.. " Hiro mencoba melepaskan cengkraman Toyo, sementara pedangnya terlepas dan masih menancap diperut Toyo.


Toyo tersenyum jahat, "kau memang berhasil melukai ku, tapi.. selama itu tidak mengenai jantungku.. aku akan tetap hidup.. " kemudian tertawa.


"enyahlah! " Toyo melemparkan tubuh Hiro, lalu mencabut pedang yang masih menancap di perutnya serta melemparnya.


Hajime menatap Toyo tidak percaya, "kau.. apa kau abadi..?! "


"tidak.. tidak ada yang abadi di dunia ini.." jawab Toyo.


"apa kau tidak merasakan sakit sedikitpun?! " tanya Hajime.


Toyo tersenyum, "itu tidak sepenuhnya.. namun, hatiku ini sudah mati rasa sejak lama.. aku tidak memiliki perasaan sama sekali.. "


"mati rasa?! " Hajime terkejut, "lalu.. untuk apa kau melakukan semua ini?! untuk apa kau menghancurkan kota ini dengan hati yang kosong itu?! " dia berteriak.

__ADS_1


"aku tidak menghancurkan kota ini. " Toyo tersenyum, "*aku hanya ingin memperlihatkan kekuatanku! "


"kau.. hanyalah boneka yang hidup.. kau sangat menyedihkan*! " Hajime tersenyum.


"boneka yang hidup, ya.. " Toyo tersenyum, "dibandingkan dengan sahabat mu itu! setidaknya aku lebih memiliki hati.. dia yang tetap tenang saat melihat orang terdekatnya tewas.. dialah yang lebih pantas disebut dengan boneka.. " Toyo menunjuk Utama.


Hajime menoleh Utama, "benar.. dia memang pantas dikatakan sebagai boneka yang hidup.. dia tidak memiliki perasaan apa-apa.. dia kosong! " batinnya.


"dulu aku hanyalah orang yang menyedihkan.. tapi orang yang berharga bagiku selalu memberikan cahaya untukku berjalan. " tiba-tiba Toyo terlihat serius, "tapi.. setelah dia meninggalkan ku.. aku kehilangan cahaya.. aku tidak punya harapan dan terus berada di kegelapan..dan itu yang menyebabkan aku berada di situasi sekarang.. "


Hajime dan yang lain terdiam, mereka menatap Toyo yang sepertinya memiliki masa lalu kelam.


belasan tahun yang lalu...


"ibu.. apa ibu akan pulang malam lagi?! " tanya seorang anak berusia sekitar enam tahun, tubuhnya kurus, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan, dia adalah Toyo dimasa kecil yang saat ini berada di sebuah rumah sederhana.


didepan Toyo, berdiri seorang wanita dewasa, tubuhnya biasa saja, wajahnya memperlihatkan rasa lelah yang mendalam. dia adalah ibu Toyo.


"maafkan ibu Toyo! ibu tidak bisa menemani mu.." jawab wanita itu sambil tersenyum.


Toyo tersenyum, "ibu.. aku berjanji.. jika aku sudah dewasa.. aku akan bekerja dan ibu hanya tinggal di rumah.. " ucapnya percaya diri.


ibu Toyo tersenyum, "benarkah..apa kau yakin kau tidak akan tumbuh menjadi orang yang pemalas!? "


"tentu saja tidak, aku berjanji aku akan membahagiakan Ibu. " Toyo memperlihatkan ototnya yang kurus.


wanita itu memandang tubuh Toyo yang kurus, tiba-tiba wajahnya terlihat bersedih, "maafkan ibu Toyo.. ibu tidak bisa membahagiakanmu. " batinnya.


"kalau begitu.. kau harus tumbuh menjadi anak yang pintar.. ibu menantikan saat dimana kau menjadi anak yang kuat.. " ibu Toyo mencoba tersenyum, kemudian pergi.


Toyo melambaikan tangannya, "jangan terlalu memaksakan diri ibu! jika ibu sakit..aku tidak punya keluarga selain ibu! " teriaknya.


beberapa minggu kemudian, terlihat ibu Toyo sedang terbaring lemas di tempat tidurnya, sepertinya dia mengidap penyakit serius.


"ibu..! " Toyo membawa segelas air dengan wajah cemas.


ibu Toyo meminum air itu, kemudian menatap Toyo dengan sedih dan lembut.


"apa kau sudah makan.? apakah kita masih memiliki persediaan? " tanya ibu Toyo.


"maafkan aku ibu.. kita sudah tidak memiliki persediaan apapun.." Toyo bersedih.


"kenapa kau harus meminta maaf? ibu yang salah karena tidak berguna.. " ibu Toyo juga bersedih.


"aku tidak akan membiarkan ibu kelaparan! " Toyo tersenyum, "aku akan bekerja untuk mendapatkan uang! "


ibu Toyo tertegun, "kerja?!.. ibu tidak mengizinkan mu.. kau belum pantas untuk bekerja. " dia semakin bersedih.


Toyo membalikkan badan, "setelah ayah tiada.. ibu adalah satu-satunya orang yang ku punya.. aku sangat menyayangimu.. aku.. aku tidak akan membiarkan ibu menyusul ayah hanya karena kelaparan.. " ucapnya dengan serak.


"Toyo.. " wanita meneteskan air mata, namun Toyo langsung pergi.


beberapa saat kemudian, Toyo memandang ke sekeliling, disitu terlihat sangat sepi, kota ini memang kota kecil yang dalam masa krisis ekonomi.


"aku tidak tahu harus bekerja apa. " gumamnya, "tapi aku tidak akan membiarkan ibu kelaparan. "


setelah itu, Toyo mencari tempat yang lebih ramai, saat ini dia berdiri diantara kerumunan orang.


Toyo memandang ke suatu arah, disitu terlihat banyak jenis makanan, dia memandang dengan wajah polosnya.


"aku sangat ingin membawakan ibu makanan itu.. aku harus segera mendapatkan uang. " gumamnya.


Toyo tersenyum, "dengan tubuh sekecil ini.. aku rasa hanya mengemis yang bisa kulakukan. "

__ADS_1


Toyo duduk di pinggir jalan, kemudian meminta-minta pada setiap orang yang lewat dengan penuh harap belas kasihan.


"pak, bu, tolong kasihanilah saya.. ibu saya sedang sakit.. " ucap Toyo mengemis, kedua tangannya dibawah berharap ada yang memberi uang.


begitulah hari-hari Toyo, setiap hari dia mengemis untuk kebutuhan sehari-harinya, dia tidak pernah mengeluh walau sering dicaci dan dihina, dia terus berusaha dengan harapan ibunya lekas sembuh.


namun semuanya menyimpang dari apa yang dipikirkannya, kondisi ibunya semakin lama semakin parah saja, hasil dia mengemis juga semakin sedikit saja, sebaliknya hinaan dan cacian semakin banyak didapati, terkadang ada juga orang yang tidak segan memukulnya.


"hanya segini, ya.. " Toyo memandang hasil keringatnya hari ini. "padahal sudah sore.. " dia bersedih.


Toyo berjalan ke sebuah warung makanan,"tunggulah ibu.. aku tidak akan membuatmu menahan lapar lebih lama lagi. "


"dengan uang segini kau hanya bisa membeli satu roti saja. " ucap pemilik warung saat melihat jumlah uang Toyo.


"satu saja, ya.. " Toyo bersedih, "tidak masalah.. itu sudah cukup. "


orang itu memandang Toyo penuh prihatin, "maaf, ya.. aku juga tidak bisa membantu mu kali ini.. pasti berat bagi anak seusia mu mengurus ibumu. " sambil memberikan satu buah roti basah.


Toyo tersenyum, "tidak.. aku tidak merasa lelah jika ini untuk ibuku. "


sesampainya di rumah, Toyo langsung masuk kamar ibunya. seperti biasa, wanita itu sedang terbaring lemas.


"ibu.. aku pulang! " ucap Toyo.


"uhuk.. uhuk.. " ibu Toyo terbatuk dan menutup mulutnya dengan tangannya, disitu terlihat bercak darah. sepertinya usianya sudah tidak lama lagi.


"ibu, aku minta maaf.. hanya ini yang bisa kubawa untuk mu. " Toyo memberikan roti itu.


"kenapa kau meminta maaf? ibu yang minta maaf karena sudah membebani mu. " ucap Ibu Toyo.


ibu Toyo mengambil roti tersebut, dia melihat Toyo dengan penuh kesedihan, "apa kau sudah makan?


" sudah.. ibu tidak perlu memikirkan itu! " Toyo mencoba tersenyum.


ibu Toyo menatap Toyo dengan lembut, "ibu tidak pernah mengajari mu untuk berbohong.. jika kau belum makan.. ambil saja roti ini.. ibu juga tidak lapar.. " dia tersenyum.


"tidak, tidak! ibu harus makan, ibu harus sehat.. aku tidak berbohong! aku membelinya dua dan aku sudah memakannya. " ucap Toyo.


"ibu percaya kau tidak mungkin berbohong.. " wanita itu mengoyak roti itu dan bersiap memasukkan ke mulutnya.


tepat di saat itu, tiba-tiba perut Toyo berbunyi pertanda keroncongan, ibu Toyo tidak jadi memakan roti itu, dia memandang perut Toyo lalu menatap mata anaknya itu.


"kenapa kau berbohong? " ibu Toyo terlihat sangat bersedih.


"maafkan aku ibu.. aku tidak bermaksud seperti itu.. aku hanya ingin ibu sehat. " jawab Toyo menundukkan kepala.


wanita itu memandang tubuh anaknya yang semakin kurus dan tidak terurus, "maafkan ibu Toyo! kau harus menanggung beban di usiamu yang masih kecil ini. " matanya semakin berkaca-kaca.


Toyo mengangkat kepalanya, "ibu..jangan pernah meminta maaf padaku.. itu membuat ku merasa bersalah.. "


"kenapa kau begitu perduli pada ibu..? " wanita itu mencoba menahan tangis.


"karena bagiku.. " Toyo menatap lembut, "karena bagiku.. ibu adalah cahaya yang menerangi hidupku! ibu adalah adalah cahaya bulan yang menerangi setiap langkahku! sampai kapanpun.. aku tidak akan mengizinkan mu pergi meninggalkan ku! " Toyo meneteskan air mata.


ibu Toyo tertegun, kali ini air matanya menetes deras, dia menangis dan memeluk Toyo.


beralih ke pertarungan, disitu terlihat Toyo sedang melamun dan bersedih, dia masih mengenang masa lalunya.


"dulu aku berkata pada ibuku.. dia adalah bulan yang selalu menerangi setiap langkahku.. " ucap Toyo, "tapi aku lupa.. jika cahaya bulan menerangi langkahmu.. maka dibelakang mu pasti ada bayangan.. disaat cahaya itu menghilang selamanya.. bayangan itu juga menghilang.. dan kau akan berada di kegelapan.. ya, untuk selamanya..kau tidak akan menemukan cahaya maupun bayangan..kau akan tersesat dalam kegelapan selamanya!" Toyo mulai tersenyum.


Hajime menatap Toyo, "jadi maksud mu.. saat ada kebaikan.. pasti ada kejahatan. dan jika kebaikan itu hilang, begitu juga dengan kejahatan.. disitulah seseorang tidak bisa membedakan baik dan jahat, benar atau salah.. dia akan tersesat.. "


Toyo tersenyum, "entahlah, itu tergantung hati seseorang itu sendiri.. "

__ADS_1


__ADS_2