Tokoh Utama

Tokoh Utama
Pertarungan Antara Dua Saudara


__ADS_3

"walaupun guru yang meminta.. membunuh Hiro tetap saja.. berat bagiku.. " batin Jiro, nafasnya semakin lama semakin berat, tubuhnya terus gemetar dengan mata yang menatap pedang di genggamannya.


Yamakoto melirik Jiro, "cih, sepertinya dia masih ragu-ragu.. " batinnya.


"Jiro.. kau tidak boleh lembut sekalipun dia saudara mu!.. dia sudah menolak kita dan bahkan menentang kita.. " ucap Yamakoto datar, "sekarang.. tunjukkan kekejaman mu! "


Jiro tidak menoleh Yamakoto, tapi dia mulai melangkah kearah Hiro, namun sangat pelan dan tubuhnya belum berhenti bergetar.


"hosh... hosh..! " Jiro ngos-ngosan, tubuhnya berkeringat dingin, ekspresinya juga terlihat seperti orang yang ketakutan.


Hiro menatap Jiro yang semakin dekat dengannya, " cukup Jiro! aku tidak ingin membunuh mu! " teriaknya.


Jiro menghentikan langkah, kemudian menatap Hiro, "membunuhku? seringan itukah kau berkata seperti itu? " dia terlihat serius.


Yamakoto tersenyum, "dia berkata seperti itu seolah-olah bisa membunuhmu dengan mudah, Jiro.. kau tidak berarti apa-apa baginya.. kau tidak perlu merasa bersalah..! " potongnya.


Jiro menatap Hiro tajam, "benarkah seperti itu Hiro? apa kau memang ingin bertarung menghadapi ku?! " sepertinya keraguannya sudah hilang, dia mulai bersiap.


Hiro menatap lembut Jiro, "tidak Jiro! aku berkata seperti itu karena aku menganggap mu sebagai saudara.. kita tidak mungkin saling membunuh.! "


Hiro menoleh Yamakoto, "sepertinya kita dipertemukan lagi untuk saling membunuh... guru.. " batinnya.


Utama dan Hajime hanya diam ditempat, "sepertinya dia salah menggunakan kata-kata untuk mewakili perasaannya.. " ucap Hajime menoleh Hiro.


"entahlah, aku tidak begitu mengerti tentang itu. " jawab Utama datar.


Hajime menoleh Utama, "bagaimana? apa kita biarkan mereka saling membunuh..? "


"kita tidak bisa berbuat apa-apa.. ini adalah urusan mereka, kita tidak mungkin mencampurinya.. biarkan saja mereka yang menyelesaikannya sendiri.. " jawab Utama datar.


Hajime memandang Yamakoto, "kalau begitu.. ayo kita urus dia! "


Utama menatap Hajime, "kau saja yang mengurusnya..! " ucapnya datar.


Braak..


Utama menjatuhkan tubuhnya, dia duduk dengan santai di tanah.


Hajime terbodoh, "apa-apaan kau ini? kau menyuruh ku mengurus orang itu, sementara kau duduk santai di sini.. benar-benar tidak pantas menjadi seorang tokoh utama.. " dia terlihat kesal.


"aku tidak menyuruh mu.. sebaiknya kau istirahat dulu, aku tahu kau lelah.. " ucap Utama datar lalu menoleh kearah Randa yang masih pingsan namun seperti tidur, "lihatlah anak bodoh itu! sepertinya dia mencari kesempatan.. aku rasa dia berpura-pura pingsan dan malah tidur.. "


Hajime menoleh kearah Randa, walau itu cukup jauh, dia bisa melihat air liur serta gelembung di hidung Randa, "cih, sepertinya kau memang benar.. tapi wajar saja, dia baru pertama kali bertarung seperti ini.. " Hajime memandang langit yang gelap, "lagipula aku rasa ini memang sudah sangat malam.. tidak, maksudku hampir pagi.. "


Hajime menjatuhkan tubuhnya dan duduk di samping Utama, "baiklah, kita akan menonton pertarungan dua saudara ini.. " dia sambil tersenyum.


Yamakoto memandang Utama dan Hajime, "apa yang mereka lakukan? kenapa mereka malah bersantai santai.? sepertinya mereka sangat meremehkan ku.. " batinnya.


Yamakoto menoleh kearah Jiro, "Jiro.. habisi dia! " dia menunjuk Hiro.


tanpa basa-basi, Jiro mempererat genggaman pedangnya, kemudian melesat kearah Hiro penuh nafsu membunuh.


"cukup Jiro! aku tidak ingin bertarung dengan mu! " Hiro berteriak, tapi saudaranya itu tidak mendengarkan.


Ting.. Tang.. Ctang...


berkali-kali Jiro melesatkan tebasan, Hiro pun terpaksa meladeni saudaranya itu, dia menangkis dan menahan. kedua pedang itu terus berbenturan dan menghasilkan suara yang nyaring.


Yamakoto tersenyum jahat, "sepertinya dia mulai terpancing.. " batinnya.

__ADS_1


Tang...


sekali lagi, pedang Hiro dan Jiro saling berbenturan, keduanya saling menahan dengan tangan yang bergetar.


"hentikan Jiro! kau adalah saudara ku.. apa kau tidak berpikiran sama? " ucap Hiro.


Jiro tersenyum jahat, "cih, hentikan omong kosong mu dan tunjukkan kekuatan mu! aku merasa kau sangat lemah.. "


Jiro mendorong pedang Hiro dengan pedangnya sehingga Hiro mundur beberapa langkah, setelah itu Jiro berputar sambil melesatkan tendangan yang tepat mendarat di dada Hiro.


Baamm..


Hiro terlempar cukup jauh dan tergeletak di tanah, namun dia kembali berdiri dan menatap Jiro.


"hehehe.. " Hiro menundukkan kepalanya, "ada apa dengan mu, Jiro? dia memang guru kita.. tapi seharusnya kau lebih memilih saudara mu.. " ucapnya.


"guru sudah mengajak mu bergabung, menolak tidak jadi masalah.. hanya saja kau bertekad menghalangi.. " jawab Jiro tersenyum.


Hiro mengangkat kepalanya, "tentu saja.. kalian berencana menghancurkan kota ini.. walaupun tidak terlalu banyak.. kenangan masa kecil kita di kota ini dan itu akan tetap abadi.. "


"hehehe.. " Jiro tertawa kecil, "kau naif sekali.. memangnya kenangan apa yang membuatmu berat menghancurkan kota ini?! ayah sudah mengabdikan diri untuk kota ini.. dia tidak punya waktu untuk kita.. setelah dia meninggal, kita juga tidak punya apa-apa! " dia terlihat geram dan sedih.


"ayah seorang polisi.. dan aku sadar kita hanyalah seorang kriminal.. " Hiro juga terlihat bersedih, "tapi.. sudah berapa banyak uang kita habis untuk memberi makan anak-anak terlantar..? kita selalu perduli pada semua anak yang tidak memiliki orang tua! kita melakukan itu karena kita sadar betapa menyedihkannya hidup tanpa orang tua.. kita tidak ingin mereka bernasib sama dengan kita yang selalu kelaparan..! " dia sangat serius.


Jiro tertegun, namun sesaat kemudian dia tersenyum jahat, "kita masih bisa melakukan semua itu.. tentu saja dengan menghancurkan dan menguasai kota ini.. "


"lalu.. bagaimana dengan anak-anak itu? mereka semua akan sangat tersiksa dan mungkin menjadi korban dari apa yang akan kalian lakukan.. apa kau tidak memikirkan itu.. dimana perasaan mu sebagai manusia?! Hiro berteriak kesal.


Jiro terdiam, dia tidak bisa menjawab, disaat itulah Yamakoto mendekat.


" sesuatu yang kecil memang sering dikorbankan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.. kau tidak perlu merasa bersalah, Jiro.. " ucap Yamakoto datar, "sekarang.. cepat habisi dia.. kau tidak perlu ragu-ragu! "


Jiro melangkah maju, "Hiro! tunjukkanlah kemampuan mu! aku tahu kau sangat hebat! aku tidak ingin membunuh mu dengan mudah..! "


Hiro tetap diam ditempat, dia memandang Jiro yang semakin mendekat dan mulai bersiap.


Jiro berlari kearah Hiro, setelah cukup dekat dia melompat sambil mengayunkan pedangnya.


Tang...


Hiro menahan tebasan Jiro, namun dia terdorong beberapa langkah. setelah itu Jiro kembali maju, dia melesatkan tebasan untuk memotong, sekali lagi Hiro menangkis, namun dia tidak pernah menyerang Jiro balik.


di suatu kesempatan, setelah cukup lama beradu pedang, Jiro menendang perut Hiro hingga terhempas.


Baamm..


Hiro terhempas kebelakang, dia mencoba mengembalikan keseimbangan dan menancapkan pedangnya ke tanah untuk menghentikan laju dorongan itu, namun dia masih tetap terseret beberapa langkah walau masih berada di dalam posisi jongkok.


Trang...


setelah itu, Hiro melemparkan pedangnya, sepertinya dia tidak berniat melanjutkan pertarungan.


Jiro tertegun, "kau.. kenapa..?" ucapnya pelan. "ayo tunjukkan kemampuan mu! kau tidak perlu ragu... ayo serang aku! " teriaknya kesal.


"aku tidak mungkin bertarung dengan adikku sendiri.. " Hiro menundukkan kepalanya, "aku lebih baik mengalah.. sekarang kau bisa membunuh ku.. " ucapnya pelan.


"apa maksudmu?! kau tidak perlu membahas tentang adik dan kakak! usia kita hanya berjarak beberapa jam saja..! " Jiro terlihat geram, "jangan hal bodoh semacam itu kau jadikan alasan! itu terdengar sangat menjijikkan! "


Hiro menatap Jiro dengan lembut, "semuanya memang benar tapi itu semua sudah ditentukan.. "

__ADS_1


"Jiro, ini kesempatan mu! sekarang bunuh dia..!" ucap Yamakoto.


Jiro menoleh kearah Yamakoto, "tapi guru.. membunuh orang yang tidak melakukan perlawanan sama sekali... sama saja menjatuhkan diri sendiri.. itu.. "


"sudah cukup! sekarang bunuh dia! " teriak Yamakoto.


setelah itu, Jiro berjalan kearah Hiro yang sudah tidak menggenggam pedang, Jiro berjalan sangat pelan.


"guru sudah banyak mengajarkan kita tentang kehidupan ini.. selain tentang rasa sakit.. dia juga mengenalkan kita dengan rasa kasih sayang.. dia pergi meninggalkan kita dan itu sangat membuat kita merasa kehilangan.. tanpa sadar kepergiannya membuat kita tidak ingin kehilangan orang-orang berharga di sekeliling kita.. " Hiro tetap diam ditempat, namun mulutnya terus mengoceh, "aku tidak ingin bertarung dengan mu.. aku tidak ingin saling membunuh dengan saudara ku sendiri.. sekarang bunuh lah aku.. "


Jiro sudah berada di depan Hiro, tapi dia tidak mengayunkan pedangnya, nafasnya tidak beraturan, tubuhnya juga bergetar bersama keringat dingin yang membasahi wajahnya.


Hiro menatap Jiro, "ada apa Jiro? apa kau masih ragu? kau tidak perlu ragu, sekarang ayunkan pedangmu.. " setelah berucap Hiro berbalik, "kau tidak perlu merasa bersalah.. ini sudah kewajiban ku sebagai kakak.. lagipula aku pernah berjanji kepada ayah.. "


"apa maksud mu? " Jiro bertanya.


Jiro mulai mengarahkan tusukan kearah punggung Hiro. namun berjarak beberapa inci, ujung pedang itu tertahan, sepertinya dia masih ragu-ragu.


"walaupun usia kita tidak berjarak satu hari.. tapi itu semua sudah ditentukan.. kau adik dan aku kakak.. tugas seorang kakak adalah mengalah.. kau hanya punya aku sebagai saudara.. lagipula.. ini semua adalah kata-kata ayah yang ku ingat.. " Hiro berucap dengan posisi tubuh membelakangi Jiro, "saat kita masih kecil, aku selalu iri padamu.. kau selalu diperhatikan lebih.. setelah aku tahu alasannya.. aku mengerti.. sekarang bunuh lah aku saudara ku.. aku tidak akan membencimu.. "


ujung pedang Jiro tetap dalam posisi sama, berjarak beberapa inci dari punggung Hiro. Jiro terus diam dengan kepala tertunduk, nafasnya semakin tidak beraturan bersama getar tubuhnya yang semakin menjadi.


melihat kejadian itu, Yamakoto menjadi kesal, "hey, Jiro! ada apa dengan mu?! ayo bunuh dia! " teriaknya.


"ayo, Jiro.. lakukan apa yang diperintahkan guru..! " ucap Hiro.


"hehehe..perintah, ya..? "


Trang...


Jiro tertawa kepedihan, lalu melepaskan pedangnya yang hampir menusuk Hiro, pedang itu terjatuh ke tanah.


"eh?! " Yamakoto terkejut.


Hiro juga terkejut, dia membalikkan badannya dan menatap Jiro, "Jiro.. kau..?! "


Jiro mengusap air matanya yang ternyata sudah menetes, kemudian menatap Hiro, " maafkan aku brother.. " ucapnya lalu memeluk Hiro yang tidak bisa berkata apa-apa.


Jiro melepaskan pelukannya, mengambil pedangnya yang tergeletak, lalu berjalan kearah Yamakoto tidak beraturan dengan kepala tertunduk.


Sreet...


Jiro menyeret pedangnya, ujung pedang itu mengikis pasir dan menghasilkan garis lurus, debu tipis berterbangan.


Yamakoto terkejut melihat Jiro yang berjalan kearahnya, "Jiro.. kau.. ada apa denganmu?! "


"aku mengerti guru... dari awal kau hanya menganggap kami sebagai alat.. kau menyuruh ku membunuh saudara ku sendiri.. itu terlalu berat.. lagipula Hiro juga murid mu.. kau hanya menganggap diriku karena aku bisa kau perintah.. " Jiro terus berjalan dengan kepala tertunduk, "jika aku terus menuruti mu.. tidak ada jaminan kau tidak akan menusukku dari belakang.. seperti yang kau lakukan terhadap salah satu teman mu tadi.. lagipula kau hanya memanfaatkannya sebagai alat.. "


Hiro tersenyum, "baguslah.. akhirnya kau mengerti, Jiro.. " batinnya lalu mengambil kembali pedangnya.


Jiro mengangkat kepalanya dan menatap Yamakoto dengan wajah menakutkan, "dengan tanpa rasa bersalah... aku juga tidak akan meminta maaf.. akan ku bunuh kau.. akan ku cincang tubuhmu.. guru.." dia terlihat sangat marah, urat-urat di wajahnya begitu menonjol.


Yamakoto menarik pedangnya dan bersiap, "cih, sepertinya percuma aku menjadikan kalian berdua sebagai murid.. ternyata kalian tidak bisa di andalkan.. " dia terlihat kesal.


Jiro memain mainkan pedangnya, lalu melesat maju kearah Yamakoto, dia terlihat sangat marah dan beringas.


"sudah dimulai, ya.. " Utama kembali berdiri, "akhirnya mereka tidak saling membunuh.."


Hajime kembali berdiri, "Utama.. ayo kita selesaikan ini.. aku sudah bosan.. "

__ADS_1


__ADS_2