
Alan masih memandangi wajah Alex yang berada di pangkuannya, air matanya menetes dan membasahi wajah Alex yang kini sudah tidak bernyawa.
Utama memandang kakak beradik itu, "Alan.. aku berjanji akan menghabisi Mika untukmu. "
Alan tidak menoleh, kepalanya terus menunduk, hanya isak tangisnya yang terdengar.
Utama membalikkan badan, disaat itulah Alan mengangkat kepalanya, "tidak perlu! aku yang akan menghabisi Mika dan tiger white.. kebencian ku sudah semakin dalam dari yang sebelumnya. " ucapnya terdengar menyakitkan.
Utama pergi meninggalkan tempat itu, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk banyak bicara.
Utama sudah sampai di rumah Randa, kemudian dia masuk dan berlari menuju ruangan tempat Jimmy dan Randa berada.
"sial, aku bertindak tanpa berpikir.. seperti inilah jadinya. " gumam Utama sambil berlari.
Utama membuka pintu, "apa semuanya aman? " tanyanya.
Randa menoleh, "aman katamu? kami sedang menunggu mu.! " jawabnya. "apa kau sudah menemukan orang itu? " lanjutnya.
Utama menatap datar, "apa kau pikir aku sudah ke Amerika..mencari orang yang menanamkan Bom itu,dan..dengan waktu satu secepat ini? " ucapnya.
"jadi gagal, ya.. " ucap Randa lesu, "aku juga berpikir seperti itu, tidak mungkin menyelesaikan masalah dengan jarak sejauh itu dan dalam waktu sesingkat ini. " lanjutnya.
"jadi intinya.. kita bertindak tanpa berpikir.. " ucap Utama.
"bukan! " Randa melirik, "aku yang terlalu bodoh karena berharap lebih padamu. "
disisi lain, Jimmy yang masih tergeletak di kasur dalam keadaan terikat mendengar pembicaraan itu, "aku sudah tahu kalau itu akan gagal.. " ucapnya. "sekarang.. lepaskan ikatan ini dari tubuhku..! " ujarnya.
Randa menoleh Utama, "bagaimana ini Utama? apa kau punya rencana lain? "
"apa kau sudah yakin kalau Bom itu akan menghancurkan kota ini.? " Utama bertanya balik.
"ya, aku sudah memeriksanya, mungkin pulau Jawa ini akan hancur. " jawab Randa.
Utama melirik, "kenapa aku merasa tidak bisa mempercayaimu.. "
Randa senyum terpaksa, "ya, aku memang baru pertama kali menggunakan barang-barang kakekku ini, tapi aku merasa yakin. "
"apa omong kosongnya sudah selesai?" Jimmy memotong. "kalau sudah, cepat lepaskan ikatan ku.! "
Utama dan Randa saling menatap, kemudian menoleh kearah Jimmy, "tidak! kami tidak akan membiarkan mu membunuh diri! " teriak Randa. "jangan gegabah dan berpikirlah! kita masih punya waktu! " sahut Utama.
Jimmy tertawa kecil, "ternyata kalian memang masih anak-anak.. " ucapnya. "kalian tidak perlu membawa diri kalian dalam masalah ini. akulah awal masalah dan akulah yang akan mengakhirinya. sekarang.. lepaskan aku! "
Randa menoleh Utama dengan wajah tanda tanya, mungkin dia bertanya dengan bahasa isyarat.
Utama menggelengkan kepalanya, "tidak! " sambil berucap.
mereka terus berpikir bersama jalannya waktu, tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore kurang sepuluh menit.
__ADS_1
Jimmy meronta agar ikatan terlepas, "sial! apa yang kalian pikirkan? cepat lepaskan aku! apa kalian berniat menghancurkan kota ini!? " teriaknya.
Utama tidak perduli, dia melipat kedua tangannya, menempelkan tubuhnya didinding, lalu memejamkan matanya.
Randa terduduk dilantai, dia tidak berani menoleh kearah jam dinding yang semakin terasa cepat berdetak.
"ada apa dengan kalian? cepat lepaskan aku! kita hampir kehabisan waktu.! " Jimmy terus berteriak. "dasar sialan! kalian benar-benar bodoh! sudah seharusnya mengorbankan satu nyawa demi ribuan orang.!" lanjutnya.
saat ini, jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul enam pas, hanya kurang satu menit saja.
Jimmy menatap atas, kemudian memejamkan matanya, "kenapa kalian lebih memilih mati bersamaku? kenapa kalian tidak membiarkanku mati sendirian? " dia meneteskan air mata.
Utama menoleh kearah jam dinding, kemudian memejamkan matanya, "pasrah dalam keadaan, ya..aku benar-benar gagal menjadi tokoh utama. " batinnya. "tidak!.. jika kota ini hancur..kemungkinan besar novel ini akan berakhir, itu artinya aku terbebas dari dunia yang tidak nyata ini. " Utama tersenyum.
Randa menutup telinganya, memejamkan matanya, "aku tidak ingin mati, aku belum mengerti apa makna malam pertama..tidak, tidak, bukan saatnya berpikir seperti itu.. " batinnya.
jam terasa semakin cepat berlalu, dan ini adalah detik-detik terakhir, detik-detik paling menegangkan.
"meledak lah! " batin Jimmy saat jarum jam bergeser untuk detik terakhir.
Taass
kemudian disusul dengan suara ledakan yang berasal dari tubuh Jimmy, namun ledakannya sangat kecil dan menyisakan asap tipis.
"aduh! " Jimmy berteriak kesakitan.
"nani..!? " Randa membuka mata, lalu memandang bekas ledakan itu, seketika dia terbodoh bersama mulutnya yang terbuka lebar.
Randa menggaruk kepalanya, "sepertinya ucapan kak Jimmy tidak bisa dipercaya, di sangat pandai membuat orang takut. " Randa cengengesan.
Utama menatap Randa, "bukankah kau tadi juga mengatakan kalau pulau Jawa ini akan hancur. "
Randa cengengesan, "memangnya aku ada berbicara seperti itu? kenapa aku tidak mengingatnya? "
Utama menatap Randa dengan ekspresi super jelek, "jika kau melupakannya, kau bisa melihat naskah di atas.! "
"daripada kalian memperebutkan hal yang tidak jelas, lebih baik kalian melepaskan ikatan ku. " Jimmy menengahi.
"tidak!" Randa berucap cepat. "jika kami melepaskan mu, kau akan membunuh diri. "
"lain kali kau harus mendengarkan ku, kau sudah hampir kehilangan nyawa tanpa alasan. " lanjut Utama. setelah itu Utama dan Randa tertawa.
Jimmy menundukkan kepalanya karena malu, "harga diri ku sebagai seorang kakak terasa tercabik-cabik.. " batinnya.
diwaktu yang bersamaan, namun tidak jelas entah dimana, terlihat segerombolan orang sedang berbincang sambil menonton rekaman tentang kota jakarta. hampir semua dari mereka mengenakan pakaian yang berlambang mawar hitam.
"jadi gagal, ya.. "
"begitulah, padahal Bom itu sudah dipastikan seratus persen berhasil.. "
__ADS_1
"itu artinya.. "
"ada penghianat diantara kita..! "
segerombolan orang tersebut saling memandang, di wajah mereka terlihat kecurigaan yang kuat.
keesokan harinya...
Utama dan Randa berjalan santai, mereka baru keluar dari sekolah dan hendak menuju rumah.
"belakangan ini aku makan sangat puas. " ucap Randa. "aku berterima kasih banyak padamu, Utama. kau sudah meminjamkan kartu kredit mu padaku. " lanjutnya.
"tidak perlu dipikirkan! " jawab Utama datar.
"eh!? " Randa terkejut, "bukankah itu kak Jimmy!? " dia memandang sesosok orang yang cukup jauh.
Utama mengikuti arah pandang Randa, "ya, ayo kita ikuti dia..! " mereka berlari kearah Jimmy.
Jimmy terus berjalan, hingga akhirnya berhenti di suatu tempat. ditempat itu terdapat seseorang yang sedang termenung, dia adalah Rio, sahabat Jimmy dulu.
"ternyata kau masih sering ketempat ini, ya. " sapa Jimmy dari belakang.
Rio membalikkan badan, "ternyata kau.. "
Jimmy tersenyum, " tempat ini adalah tempat yang paling sering kita datangi saat SMA, terlalu banyak kenangan kita disini. "
"cih, apa kau pikir dengan mengingat masa lalu, aku akan kembali seperti dulu.. kau terlalu naif, Jimmy. " sahut Rio tersenyum.
"aku tidak mengerti kenapa kau jadi seperti ini Rio, kau sangat berbeda dari yang dulu. " ucap Jimmy.
"jangan membuatku kesal! aku sudah mengatakan aku akan menghabisi mu jika kau menemui ku.. sekarang menjauhlah! " jawab Rio.
"tapi apa jawabannya? " teriak Jimmy.
Rio menatap Jimmy dingin, "karena aku tidak ingin bertemu dengan pecundang seperti mu.." ucapnya. " aku rasa itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. "
Tap
Utama dan Randa keluar dari persembunyian, "orang yang mengabaikan temannya lebih buruk dari sampah.. " ucap Randa. "mungkin kau sudah pernah mendengar itu, kak Jimmy. " lanjutnya.
Utama melirik Randa, "sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu.. " batinnya.
"aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan pecundang seperti kalian. " Rio meniggalkan tempat itu.
mata Jimmy terus mengikuti kepergian Rio, lalu menundukkan kepalanya, "begitu,ya..orang yang mengabaikan temannya lebih buruk dari sampah.. " gumamnya. "dan sampah hanyalah sesuatu yang harus dimusnahkan.. sampah tidak pantas berada di muka bumi ini.. " Jimmy mengepalkan tinju sekuat-kuatnya.
Utama dan Randa tersenyum, "sepertinya kata-kata ku berhasil menyadarkannya.. jiwa wibu memang berguna.. " batin Randa.
Jimmy mengangkat kepalanya, dia menatap Utama, "Utama, maaf aku tidak bisa lama-lama disini! aku akan kembali ke Amerika besok.. " ucapnya lalu membalikkan badannya, "aku berjanji.. aku akan berubah saat kembali ke jakarta nanti.. aku akan menjadi kakak yang bisa melindungi adiknya.. "
__ADS_1
Utama dan Randa memandang punggung Jimmy, "aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk.. " bisik Randa. "aku juga berpikiran sama. " Utama juga berbisik.