
"uhuk, uhuk. " Dongo terbatuk, kemudian darah segar keluar dari mulutnya.
"baru kali ini aku merasakan pukulan sedahsyat ini, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia bisa sekuat ini? " Dongo bertanya-tanya dalam hati.
Utama pergi meninggalkan kerumunan itu, Randa menyusul dari belakang bersama rasa penasaran.
"kau harus menjelaskan semua ini! aku yakin kau pasti menyembunyikan sesuatu" batin Randa dengan mata yang memandang punggung Utama.
disisi lain, Dongo masih terduduk, tubuhnya terasa sangat sakit.
"*aku tidak percaya, kak Dongo bisa dikalahkan. "
"ya, sebaiknya kita berhati-hati dengan dia*. "
bisik orang-orang yang masih mengerumuni Dongo.
"apa yang kalian lihat? sana pergi! " teriak Dongo kesal.
"sudah seperti ini saja sombong, dasar payah! "
ejek salah satu orang, dan mereka pun bubur.
setelah suasana tenang, kedua sahabat Dongo membantu untuk berdiri, "apa yang sebenarnya terjadi? " seorang temannya bertanya "bagaimana mungkin kau dipermalukan seperti ini. " sambung yang lainnya.
"diam! kalian tidak mengerti situasinya! " Dongo berteriak, "dia itu....dia itu sangat kuat. " sambungnya agak lama dan pelan.
*****
hari sudah siang, bel tanda pulang juga sudah berbunyi. disitu terlihat Utama dan Randa sedang berjalan sambil berbincang.
"Utama, hari ini kau tidak seperti biasanya, kau menjawab soal dengan mudah. bahkan kau bisa mengalahkan Dongo. apa kau punya rahasia yang kau sembunyikan dariku? " Randa bertanya dengan wajah serius.
"rahasia? apa maksudmu? " tanpa ekspresi Utama bertanya.
"itu sudah jelas terlihat, kau yang biasanya bertindak bodoh, berisik, mana mungkin bersikap pendiam seperti ini. ayolah, beritahu aku! " Randa memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"sederhana, tapi jika ku jelaskan juga percuma, kau tidak mungkin percaya. " Utama menghela nafas panjang lalu berucap dengan wajah yang terlihat kesal.
"berhenti memperlihatkan wajah seperti itu, kau belum memberi tahu aku sedikitpun,tapi wajahmu seolah-olah kau sudah memberi tahu aku semuanya. " ucap Randa kesal.
Randa berjalan cepat, meninggalkan Utama dibelakang.
melihat reaksi Randa, awalnya Utama tidak perduli. namun, setelah berpikir cukup lama, Utama menahan Randa, "baiklah, akan kuberi tahu padamu rahasia yang tidak pantas disebut rahasia. " seketika Randa menghentikan langkahnya.
"dasar sialan, dia benar-benar merepotkan. " batin Utama menghela nafas.
"aku adalah tokoh utamanya. " ucap utama agak lama.
"tokoh utama? ya, aku tahu kau Utama, tapi apa maksudnya dengan tokoh? " Randa tidak mengerti.
__ADS_1
"aku adalah tokoh utama disini, jadi wajar saja aku kuat. "Utama meyakinkan.
" hahaha, yang benar saja, kau pikir ini film. hahaha.. " seketika Randa tertawa keras.
"sudah kuduga, tidak ada gunanya berbicara dengan orang bodoh ini. " batin Utama, sementara Randa masih saja tertawa.
"ini bukan film, tapi saat ini kita berada di sebuah novel. " Utama mencoba menghentikan tawa Randa dengan ucapannya. tapi Randa semakin menjadi-jadi, ia tidak bisa berhenti tertawa.
"terserah kau saja, aku juga tidak memaksa kau untuk percaya. " Utama meneruskan langkahnya.
"aku percaya. " tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara yang lembut dan menggoda.
Utama menghentikan langkahnya, Randa menghentikan tawanya, kemudian secara bersamaan mereka menoleh ke asal suara.
"Ya.. Yana.. " Randa melihat sesosok wanita cantik yang ja kenal.
"aku percaya,kau adalah tokoh utama didalam hatiku. " wanita itu berucap dengan lembut, matanya yang indah memancarkan sinar ketulusan, dia terus menatap Utama.
wanita ini adalah Yana, berwajah manis, rambutnya hitam pekat, tubuhnya yang indah membuatnya sangat sempurna.
"siapa? " dengan tatapan kosong Utama bertanya.
"hah? siapa? kau melupakan mantan kekasihmu? " mendengar pertanyaan Utama, Randa marah sambil Mencengkram kerah baju Utama dengan kedua tangannya.
"mantan kekasih? " Utama bertanya sekali lagi.
"menyebalkan, padahal kemarin kau masih dibantu olehnya,dasar tidak tahu diri! " Randa sedikit berteriak lalu melepaskan cengkeramannya.
"tidak perlu, kami bisa jalan kaki. " jawab Randa cepat.
"sudahlah, tidak baik menolak kebaikan orang. " Yana sedikit memaksa.
selanjutnya Yana mengambil mobil mewahnya yang berwarna hitam kinclong diparkiran.
"apalagi ini? wanita ini mantan kekasihku? " batin Utama, "sepertinya aku hanya bisa mengikuti alurnya saja. " lanjutnya sambil menghela nafas.
Yana meminta pada Utama dan Randa untuk naik, keduanya segera naik. Yana pun melajukan mobilnya.
tidak jauh dari tempat itu, terlihat dua orang sedang bernaung dibawah bayangan gedung-gedung yang tinggi, keduanya mengenakan pakaian serba hitam, jika sekilas tubuh mereka tidak terlihat.
"tidak mungkin? bagaimana mungkin dia masih hidup? "
"hal seperti itu tidak perlu kau tanyakan, mungkin saja ada malaikat yang kebetulan menolongnya. "
"mungkin kau benar. tapi, tidak perduli dia memiliki nyawa seribu, kita harus tetap membunuhnya. "
"ya, itulah tugas yang harus kita lakukan. "
kedua orang itu berbicara bersahutan.
__ADS_1
Yana dan dua pria itu berhenti di depan sebuah rumah, ukurannya tidak besar, namun bentuknya cukup elegan.
"sudah sampai.. " ucap Yana sambil tersenyum.
"inikah rumahku? padahal aku tokoh utamanya, tapi ternyata aku hanya orang miskin. " Utama menghela nafas lalu turun.
Utama, Randa dan Yana sudah turun, namun ketiganya hanya diam.
tanpa basa-basi Utama berjalan menuju pintu rumahnya. Yana dan Randa tetap diam di tempat.
"uhuk, uhuk..! " tiba-tiba Yana terbatuk, namun suaranya seperti palsu atau tidak asli.
Utama menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Yana, "apa? apa aku juga harus membayar ongkosnya? " tanyanya polos.
"apa kau tidak berniat menyuruhku masuk sebentar..? " Yana bertanya sambil tersenyum manis.
"sepertinya kau tidak pernah diajarkan sopan santun. " Randa menyindir Utama.
"oh, begitu ya, kalau begitu silahkan masuk. " Utama berucap sambil tersenyum walau terlihat palsu.
"aku hanya bercanda, hari ini aku ada janji dengan ibuku. " Yana tertawa kecil, "kecuali hanya kita berdua, aku pasti sangat senang. " lanjutnya sambil tersipu.
Randa kaget mendengar ucapan Yana, "Yana.. maksudmu..? " tanyanya dengan mata yang melotot.
"Yana ternyata mesum.. " seketika otak Randa menjadi kotor sambil memandangi tubuh menggoda Yana.
"ya, tidak ada kau. aku dan Utama, didalam sebuah rumah.. " jawab Yana lalu membalikkan badannya, "kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa besok. " kemudian dia masuk mobil dan pergi.
"aku tidak tahu kenapa Yana begitu menyukaimu? aku juga tidak tahu kenapa kalian bisa putus? tapi menurutku kau cukup bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita seperti Yana. " setelah beberapa saat hening, Randa membuka pembicaraan.
"ya, aku juga tidak tahu. " jawab Utama datar.
"hah? kau juga tidak tahu? apa maksudmu? kau amnesia? " Randa mencengkram kerah baju Utama lalu menarik-narik nya. "tidak bisakah kau sedikit menghargai wanita.? " Randa terlihat begitu marah.
"kau benar, aku amnesia, aku tidak mengingat semuanya.." Utama mendapatkan alasan, "tadi pagi, kepala terbentur sesuatu dengan keras.. " lanjutnya lagi.
"jadi benar, kau amnesia, pantas saja kau begitu aneh hari ini." Randa terkejut.
"mungkin dengan berbohong seperti ini, aku jadi lebih mudah beradaptasi." batin Utama.
"jadi, jelaskan padaku siapa wanita tadi.!?" Utama terlihat sangat serius.
keduanya duduk di kursi yang berada di teras rumah Utama.
"baiklah, akan ku jelaskan" Randa terlihat serius, "namanya Yana, wanita paling populer dikelas 11A, selain cantik dia juga terkenal kaya raya. lalu... dari dulu kalian berdua memang sudah dekat, tapi aku juga tidak tahu kapan kalian jadian, dan.. sekitar dua minggu yang lalu kalian putus... semenjak itu kau mengejar wanita paling populer di kelas 11B." Randa menjelaskan panjang kali lebar.
"kenapa dia memutuskan ku? " Utama bertanya walau sebenarnya ia malas. "aku tidak boleh terlalu kaku.. " batinnya.
"aku juga tidak tahu, tapi.. jika dilihat dari sikapnya dia tidak mungkin memutuskan mu.. " Randa berucap sambil memegang dagunya, "yang aku tahu, selama ini dia selalu mencoba melindungi mu dari orang-orang yang ingin menyakitimu. seperti kemarin, dia melindungi mu, sementara kau malah bersembunyi dibalik tubuhnya. " lanjutnya lagi.
__ADS_1
"bersembunyi dibalik tubuhnya? apakah aku se pecundang itu?, menyedihkan.. " batin Utama sedikit kesal, "penulis sialan, dia sesukanya membuat skenario masa lalu ku. " kemudian menatap langit.