
di dalam sebuah gedung yang cukup tinggi, tepatnya di sebuah ruangan mewah yang bersuasana kelam, Joko sedang duduk santai di singgasananya, tidak ada orang lain selain dirinya.
"anak itu sangat hebat! sepertinya aku harus merekrutnya. " gumamnya, mungkin dia teringat dengan Utama.
Tap Tap
"aku dengar dari Roy dan yang lain kau menundukkan kepala hanya karena seorang anak kecil. " tiba-tiba Jiro datang dengan tatapan tajam, "coba jelaskan kalau mereka semua berbohong.!" dia berucap dengan lantang.
Joko melirik Jiro, "ini tidak semudah yang kau pikirkan!" ucapnya dingin.
Jiro tersenyum, "kenapa kau tidak mengakui kalau kau lemah." dia seperti meledek.
Joko berdiri dari kursinya, "tutup mulutmu! kau pikir mudah menghadapi orang yang bisa menghancurkan dinding dengan sekali pukul!? " dia terlihat marah.
"siapa yang percaya dengan omong kosong seperti itu? " Jiro tersenyum, "jika bukan karena kau orang lama, mungkin aku yang lebih pantas di posisi mu sekarang. " dia mulai memainkan katana yang ada di tangan.
Joko melirik katana Jiro yang terlihat mematikan, kemudian menatap Jiro, "kalian serigala putih memang tidak pantas berada di tiger white. " dia tersenyum.
detik berikutnya, Joko mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya, "sepertinya kau memang harus mati! " dia mengarahkan ujung pistolnya ke Jiro.
Jiro tersenyum, "senjata mainan mu tidak akan mampu melukaiku. "
"matilah!" Joko menarik pelatuknya.
Doorr
peluru melesat kearah Jiro yang langsung mengayunkan pedangnya, dia membelah peluru itu dengan tebasan yang sangat cepat.
selanjutnya, peluru itu terbelah dua dan menyambar dinding dibelakang Jiro yang cukup jauh.
Jiro melangkah sambil menatap tajam, "cih, kau berani menyerang ku. " dia tersenyum. "sepertinya kau sudah bosan hidup. "
Jiro melangkah mendekati Joko, kemudian meletakkan ujung pedangnya di leher Joko, "sekarang aku ingin lihat! apa yang bisa kau lakukan? "
"lakukan jika kau mampu!" ucap Joko datar, dia terlihat tidak gentar.
"baiklah kalau begitu. " Jiro mengayunkan pedangnya.
Tinggg
tiba-tiba Hiro muncul dan menangkis tebasan Jiro dengan senjatanya, "jaga sikapmu! dia adalah ketua tiger white. " dia menatap Jiro yang juga menatapnya.
__ADS_1
Jiro terlihat kesal, "kau.. kenapa kau mengganggu? " dia menatap tajam. "apa kau ingin bertarung dengan ku!? "
"kau terlalu menganggap dirimu kuat, Jiro! kau harus bisa mengontrol diri!"ucap Hiro.
Jiro tersenyum, "aku hanya ingin membunuh seseorang, aku rasa dia orang yang pantas. " dia menoleh Joko.
Hiro menatap datar, "apa yang menjamin suatu saat kau tidak akan menusukkan pedangmu dari belakang ku? "
"apa maksudmu? " Jiro terlihat serius, "kau terlalu lembut Hiro.. suatu saat sikapmu itu yang akan membuatmu kecewa. " Jiro pergi meninggalkan tempat itu.
******
Utama, Randa dan Hajime sudah sampai di sekolah, mereka berjalan sambil memandang sekeliling.
Randa menoleh ke atas, "lihat! ada seseorang, sepertinya dia ingin bunuh diri. " dia melihat seorang pria yang berada di atas gedung sekolah.
Utama dan Hajime menoleh, "benar! kita harus menghentikannya.! " mereka mulai bergerak.
Randa sedikit panik, "tidak! kita tidak boleh meneriaki nya! itu akan membuatnya semakin nekat. " Randa berlari masuk,"aku akan menghentikannya! " sepertinya dia berniat naik ke atas gedung sekolah.
Utama dan Hajime saling pandang, kemudian melompat ke atas untuk menemui orang tersebut.
Tap
"apa yang kau lakukan? " tanya Hajime datar.
pria itu menoleh, "siapa kalian!? jangan menghalangi ku! " dia bersiap melompat.
dengan cepat, Hajime mencengkram tangan pria itu, kemudian melemparkannya ke tempat yang jauh dari tepi gedung tersebut.
pria itu terduduk di tanah,"apa yang kalian lakukan? kenapa kalian menghalangi ku? aku sudah bosan hidup! " dia menangis tersedu-sedu dengan kepala tertunduk.
"dasar bodoh! kau benar-benar menyedihkan! " ucap Utama.
"kenapa kau tidak menceritakan masalah mu? siapa tahu kami bisa membantu mu? " Hajime tersenyum, "*itupun kalau kau mau memberitahu, kami juga tidak akan memaksa. "
Tap Tap*
disaat itu, Randa muncul dengan nafas terengah-engah, menaiki anak tangga mungkin membuatnya lelah.
Randa menatap pria itu, "Yobi!? jadi kau yang ingin bunuh diri!? " dia terlihat terkejut, sepertinya dia kenal dengan orang itu.
__ADS_1
Hajime menatap Randa, "*kau mengenal anak ini!? "
"tentu saja! dia sahabat terdekat Alan*. " jawab Randa sambil tersenyum. "lagipula dia anak paling cerdas di kelas 10."
pria yang bernama Yobi itu mengangkat kepalanya, "aku memang bersahabat dengan Alan.. tapi itu dulu, sebelum semuanya berubah.." dia terlihat bersedih, "aku benar-benar tidak berguna! dia tewas pun aku tidak bisa berbuat apa-apa! " teriaknya.
Utama dan Hajime saling pandang,"jadi ini berhubungan dengan kematian Alan. " bisik Hajime.
"apa!? Alan tewas!? " Randa terkejut. "kenapa aku merasa selalu ketinggalan berita. "
"jika kau butuh teman untuk bercerita, kami siap untuk mendengarkan! " Hajime merangkul Yobi.
Yobi terdiam sejenak, "*aku dan Alan sudah lama bersahabat,ikatan persahabatan kami sangat erat... namun, suatu saat dia mulai frustasi karena Kak Alex yang cacat setelah bertarung dengan Mika..tapi saat itu kami masih bersahabat..setelah itu dia mulai mulai memburu Mika yang ternyata anggota tiger white..sampai suatu saat kak Alex tewas karena ulah tiger white. "
"lalu*..!? " Hajime sedikit penasaran.
"di samping itu, dia juga mengetahui kalau aku memiliki seorang kakak yang merupakan anggota tiger white.. dia mulai menjauhiku...dia mencoba membenciku, tapi sepertinya dia tidak membenciku.. aku tahu dia masih menganggap ku sebagai sahabatnya. hanya saja.. hanya saja dia tidak bisa bersahabat dengan orang yang memiliki kakak satu komplotan dengan orang yang telah membunuh kakaknya. " Yobi kembali menangis. "aku hanyalah orang miskin! aku tidak memiliki kedua orang tua! kakakku menjadi anggota tiger white hanya untuk memenuhi kebutuhan ku.. aku tahu sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini.. hanya saja dia tidak bisa keluar begitu saja dari tiger white, dia diancam akan dibunuh.. dia menaruh harapan padaku! dan aku tidak mungkin membencinya! " tangisan Yobi semakin keras. "aku hanyalah seorang pecundang! aku tidak bisa menyelamatkan Alan dari kematiannya! dan aku hanya menjadi beban kakakku! bagiku.. bagiku hidup ini hanyalah kata lain dari penderitaan! " dia terlihat sangat menakutkan.
Utama, Randa dan Hajime menatap Yobi dengan wajah serius, tetapi mereka hanya bisa terdiam.
Yobi kembali berdiri,"aku sudah tidak punya harapan lagi, aku sudah kehilangan sahabat ku satu-satunya.. aku hanya beban bagi kakakku.. dan.. aku lebih pantas mati daripada bertahan di dunia yang penuh kekejaman ini. " dia mulai berjalan menuju tepi gedung. "kalian! jangan halangi aku! " dia menoleh.
"dunia ini tidak kejam.. dunia ini juga tidak jahat! hanya saja kau yang ditakdirkan untuk kuat! " tiba-tiba Utama berjalan menahan Yobi yang langsung terdiam.
Hajime melirik Utama, "dia berbicara tentang takdir!? dia sendiri tahu kalau ini hanya didalam novel. " batinnya.
Randa juga melirik Utama, "sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu. " batinnya.
Yobi tersenyum, "kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak berada di posisi ku.. bahkan setiap malam aku tidak bisa tidur! aku berpikir dan terus berpikir, tapi itu semakin membuat hatiku sakit. "
Utama tersenyum, "kau anak yang cerdas, wajar saja kalau kau terus berpikir. kau selalu melihat sesuatu dengan sudut pandang paling buruk, itulah sebabnya kau menganggap hidup ini berat. " ucapnya. " kalau kau terus berpikir tanpa berjalan, kau akan berada dalam situasi sekarang.. tapi jika kau berjalan tanpa berpikir, hidup ini tidak akan terlewati.. jadi, pikirkan apa yang perlu kau pikirkan, dan singkirkan apa yang membuatmu takut dengan kehidupan ini.. walaupun kau sudah tidak memiliki harapan, setidaknya ada orang yang menaruh harapan padamu, kau jangan mengecewakannya dengan tingkah bodoh mu ini. "
Yobi menatap Utama sambil terdiam, sepertinya dia mulai memikirkan itu.
Hajime menatap Yobi, "jika kau ingin melompat, kami juga tidak akan menahan mu. "
Utama dan Hajime meninggalkan tempat itu, mereka berjalan kebawah, sementara Randa sepertinya masih di atas bersama Yobi.
"aku tidak mengerti kenapa kau begitu perduli pada anak itu? " tanya Hajime.
"kau pernah mengatakan kematian Alan akan membawa masalah, sepertinya kau benar. " Utama menoleh, "seandainya Alan masih hidup, mungkin anak itu tidak akan melakukan hal bodoh semacam tadi. aku merasa ini salahku, jadi aku melakukan yang terbaik. "
__ADS_1
Hajime menatap Utama, "aku rasa ini bukan salah mu! jika Alan masih hidup, dia akan terus mencari kematiannya dengan menghabisi semua anggota tiger white. "