Tokoh Utama

Tokoh Utama
Masa Lalu Artan


__ADS_3

pertarungan terus berlanjut dan semakin bergejolak bersama waktu yang berlalu, tidak terasa matahari sudah mulai menyembunyikan wajahnya, langit yang mendung semakin gelap saja.


"hosh.. hosh..! " Artan terlihat sangat kelelahan, di sekujur tubuhnya terdapat banyak luka yang mengalirkan darah.


di depan Artan, dengan jarak sekitar dua puluh meter, sosok monster Arya terus mengeluarkan suara ganas, dia terlihat sangat menakutkan dan menantang.


"sial! entah sudah berkali-kali aku menyerangnya.. tapi dia tetap kembali seperti semula.! " Artan menatap monster itu kesal.


Keki yang berada cukup jauh dengan tubuh melayang di udara menatap kejadian itu, dia menekan tombol di alat komunikasinya yang masih menempel di telinganya.


"mungkin dia memiliki kemampuan regenerasi.. tapi aku yakin dia juga memiliki kelemahan.. kenapa kau tidak mencoba menyerang jantungnya? " ucap Keki.


Artan mendengar itu melalui alat komunikasinya, kemudian menoleh kearah Keki dari kejauhan, "kenapa kau tidak melakukanya sendiri? apa kau tidak berpikir untuk bergabung dalam pertempuran? " ucapnya.


"sialan, dia hanya bisa berbicara. " batin Artan.


di samping itu, Hajime, Hiro dan Jiro mulai bergerak, mereka mulai memasuki pertempuran.


"aku akan membantu monster itu untuk menghadapi orang itu, kalian serang yang lainnya! " ujar Hajime sambil memandang Artan.


"baiklah, kami memang kurang pantas bertarung menghadapi senjatanya itu! " jawab Hiro.


"sebaiknya kalian berhati-hati, orang yang bertubuh kekar itu sangat menakutkan! " ucap Hajime.


"itu urusan ku! " tiba-tiba Utama sudah berada di samping mereka, padahal tadi dia masih diam ditempat.


monster Arya kembali melesat cepat kearah Artan yang langsung menghindar, namun gerakannya semakin lambat saja.


Hajime sudah berada di depan Artan, dia menyerang secara bersamaan dengan monster itu.


Hajime melirik monster itu yang berada di dekatnya, "padahal sudah sedekat ini.. tapi dia tidak menyerang ku.. ini sangat bagus.! " dia tersenyum.


"matilah! " Hajime berteriak sambil mengarahkan tinjunya kearah Artan dari depan.


Artan mengarahkan ujung senjatanya kearah Hajime, namun tiba-tiba dari samping monster itu mengarahkan cakaran.


Artan melirik monster itu, "cih, mereka sangat merepotkan! " batinnya.


Artan menancapkan senjatanya ke tanah, kemudian tubuhnya melayang keatas dan terhindar dari dua serangan lawan.


"belum selesai! " Hajime melompat memburu tubuh Artan yang masih di atas.


senjata Artan sebelah kanan masih menancap di tanah dan menjadi penyangganya, sementara senjata sebelah kiri diarahkannya ke tubuh Hajime yang semakin dekat dengan tinjunya.


disaat bersamaan, monster Arya juga bergerak, dia menyerang dari bawah namun arahnya berlawanan dengan Hajime.


"sial! " Artan kesulitan, dia melirik kearah monster itu dan mencoba mencabut senjata sebelah kanannya yang masih menancap untuk menahan monster itu.


Baamm...

__ADS_1


reaksi Artan sangat terlambat, tubuhnya dihantam oleh cakaran monster itu, detik selanjutnya tubuhnya terhempas jauh dan tinggi.


tubuh Artan terus terhempas jauh dan tinggi, kemudian menabrak dinding gedung yang mengalami kehancuran cukup parah, bagian atas gedung yang menghantam tubuh Artan langsung hancur.


setelah itu, tubuh Artan jatuh ditarik gravitasi bumi, namun masih jauh dari tanah dia menancapkan senjatanya ke dinding gedung tersebut, tubuhnya pun terhenti dan menyangkut.


Artan menatap tanah dibawahnya, "uhuk.. uhuk..! tiba-tiba darah muncrat dari mulutnya. saat ini wajah bengis tidak lagi terlihat. " sepertinya tubuh ku ini sudah mencapai batasnya.. tidak ku sangka akan berakhir begini. " dia tersenyum, namun dia juga terlihat kecewa.


monster Arya menoleh kearah Felisa dan Miyu, kemudian melesat kearah mereka. sementara Hajime berlari kearah Artan yang berjarak cukup jauh.


Miyu tersenyum, "bersiaplah Felisa, dia datang!" dia melihat monster itu yang mendekat.


"sepertinya kau tidak ingin bergabung, ya." Felisa bersiap.


monster itu melesat cepat dan menyerang Felisa dari depan. Felisa melompat mundur untuk menghindar, saat masih di udara dia melepaskan jubahnya dan melemparkannya kearah monster itu untuk menutupi pandangannya.


Tap


Felisa mendarat, dia memakai pakaian seperti Miyu, hanya saja dia memakai atasan yang tidak berlengan. tubuhnya seksi seperti Miyu dan sangat ketat di dada, tapi di bagian lengan kanan dan kiri terlihat sangat banyak jahitan, tubuhnya dipenuhi dengan benang-benang yang sangat tebal.


Hiro dan Jiro sudah berada di depan Felisa, mereka langsung menyerbu dengan tebasan.


"Jiro! serang bertubi-tubi! jangan beri dia kesempatan! " teriak Hiro.


Jiro tersenyum, "siapa yang akan memberinya kesempatan?! "


Hajime sudah berada di dekat Artan, dia menghentikan langkah dan menoleh keatas, disitu terlihat Artan masih menyangkut di dinding gedung.


"lihatlah dirimu! kau terlihat sangat menyedihkan! " Hajime tersenyum.


Artan tidak menoleh dan termenung, "menyedihkan? dari awal aku memang sangat menyedihkan.. " gumamnya pelan.


Hajime tersenyum, "hey, kenapa dirimu!? dimana kesombongan mu?! " dia berteriak, "jika tujuan mu menghancurkan kota ini.. kau akan gagal.. perbuatan kalian sudah banyak menimbulkan penderitaan, orang-orang menangis.. banyak orang tua yang kehilangan anaknya.. dan juga banyak anak yang kehilangan orang tuanya.. apakah kau pernah memikirkan itu!? "


Artan tersenyum, "hehehe, orang tua, ya.." dia tertawa kecil, "jika berbicara orang tua dan anak.. aku.. aku.. " seketika ekspresi wajahnya terlihat sangat sedih, sepertinya dia mengenang masa lalunya.


belasan tahun yang lalu...


di sebuah kota kecil,tepatnya dibawah hujan deras, terlihat seorang anak berusia sekitar enam tahun sedang berjalan, tubuhnya tidak terawat dengan pakaian yang compang-camping, dia adalah Artan dimasa lalu.


Artan menghentikan langkahnya didepan pintu sebuah rumah yang terlihat biasa saja, kemudian dia mengetuk pintu rumah itu dengan penuh keraguan.


Tok.. Tok..


"ayah.. ibu...a.."


belum selesai Artan berbicara, pintu terbuka dan disitu terlihat seorang lelaki dan wanita dewasa.


"untuk apa kau datang kemari!? sudah berapa kali aku menyuruh mu pergi!? " wanita itu berteriak dan memasang wajah menakutkan.

__ADS_1


"mungkin dia ingin mengambil barang-barangnya. " sahut lelaki itu dengan wajah yang sama menakutkannya.


Artan tidak berani menatap dua orang itu, "ayah.. ibu.. izinkan aku masuk.. diluar sangat dingin.. " ucapnya lembut dengan tubuh yang menggigil.


"berhenti memanggil ku ibu! aku bukanlah orang tuamu! " bentak wanita itu.


pria itu menoleh wanita itu, "sayang, sepertinya anak ini masih belum puas aku pukuli. " dia terlihat kesal.


"lakukan sesukamu. " ucap wanita itu lalu masuk kedalam rumah.


Artan sangat ketakutan, "ayah.. tolong jangan pukul aku. " dia memegang tangan pria itu sambil meneteskan air mata.


"berhenti memanggil ku ayah! " pria itu mendorong Artan.


Bcaakk..


tubuh Artan terjatuh dan menindih genangan air karena derasnya hujan, dia menatap pria itu dengan wajah minta dikasihani.


Artan kembali berdiri, "lalu.. siapa orang tuaku!? " dia menangis.


"kau tidak memiliki orang tua! tidak akan ada orang yang akan mengakui mu sebagai anak! kau hanyalah anak pembawa sial! " bentak pria itu, kemudian menendang Artan beberapa kali hingga tergeletak lalu masuk ke dalam rumah.


Artan menangis dan kembali berdiri, dia berjalan di bawah derasnya air hujan, "kenapa.. kenapa... kenapa aku tidak memiliki orang tua..?.. siapa orang tuaku..? " batinnya.


Artan mencoba menghindar dari derasnya air hujan, dia bersembunyi dibalik gedung-gedung kota yang memiliki bangunan klasik itu, namun itu tetap tidak bisa menghilangkan rasa dingin dari tubuhnya, tubuhnya terus menggigil.


setelah hujan reda, Artan berjalan tanpa arah, dia melihat banyak jenis makanan dipinggir jalan.


Artan memegang perutnya, "aku sangat lapar.. tapi aku tidak memiliki uang.. " gumamnya.


"ayah, aku ingin makan itu! " tiba-tiba di samping Artan terlihat seorang anak sedang bermanja-manja terhadap ayahnya.


ayahnya tersenyum, "ya, kau boleh mencobanya.. " ucapnya.


Artan terus memandang hubungan antara ayah dan anak itu, "ini tidak adil.. mereka memiliki orang tua yang begitu perduli. sementara aku... dunia ini tidak adil! " dia berteriak sehingga semua orang memandangnya, sepertinya dia merasa iri.


Artan berlari dan terus berlari, sesaat kemudian dia berhenti di tempat yang sepi, "aku benci hidup ku.. aku benci semua ini.. mereka bisa tertawa.. mereka tidak pernah merasakan penderitaan yang kurasakan..mereka tidak merasakan apa yang kurasakan saat ini..aku kelaparan..aku.. aku.. akan ku kenalkan semua orang dengan rasa sakit..!" teriaknya dengan mata memandang langit.


Artan menatap kebawah,"aku tidak tahu cara untuk bertahan hidup..aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati hari-hari..aku.. aku ini sangat menyedihkan.. " dia kembali menangis.


Hajime menatap Artan yang termenung, "apa sudah selesai!? " sepertinya dia menyadari tentang apa yang dipikirkan lawannya.


Artan tersenyum tipis, "berapa banyak aku berpikir.. hasilnya tetap sama.. hehehe, dasar menyedihkan.! " ucapnya terdengar berat, "dulu aku tidak tahu siapa orang tuaku.. tapi sekarang aku mengerti.. tidak ada yang senang dengan keberadaan ku.. keberadaan ku hanyalah kesalahan dan tidak pernah diharapkan.! "


Artan menatap Hajime tajam, "sudah sampai seperti ini.. aku tidak akan pernah menyesal! "


Artan mencabut senjatanya dari dinding tersebut, kemudian mendarat ke tanah dan menatap Hajime yang juga menatapnya.


"tidak perduli tentang kegagalan, aku akan tetap menambah penderitaan dimuka bumi ini! " Artan terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2