
Utama berjalan dibawah panasnya terik matahari, dia baru saja pulang dari sekolah tanpa Randa yang menemani.
"sepertinya Randa sudah sampai rumah, tidak biasanya dia meninggalkanku. " gumam Utama.
disisi lain, Randa baru saja keluar dari toilet sekolah, "sial kau Utama! padahal aku hanya sebentar, tapi dia langsung meninggalkanku,dasar tidak setia kawan.! " Randa kesal.
Utama terus berjalan, sesekali matanya menoleh kiri dan kanan.
Tap Tap
tiba-tiba muncul dua sosok yang sudah tidak asing dimata Utama, Yoro dan Yara yang sepertinya tidak mengendarai mobil.
Utama menghentikan langkah, "kalian lagi! " ucapnya. "apa kalian berniat melanjutkan pertarungan kemarin. oh, ya, yang kemarin aku masih belum serius, lho. " Utama tersenyum.
Yoro dan Yara menatap tajam Utama, "sialan, orang ini semakin menjengkelkan! " bisik Yoro. "kalau tidak terpaksa, aku juga malas melakukan ini. " Yara juga berbisik.
Yara melangkah dan berdiri didepan Utama, "kami ingin memberikan bunga ini, terimalah cinta Nona Yana yang manisnya tiada dua. " Yara mengeluarkan bunga yang dari tadi ia sembunyikan di tubuh bagian belakang.
"hah!? yang benar saja.!? " Utama berucap dengan nada terkejut, namun ekspresinya tetap datar.
Yoro mendekati Yara, "bodoh! seharusnya kau basa-basi terlebih dahulu! " teriak Yoro. "sini! biar ku tunjukkan caranya. " Yoro merampas bunga dari tangan saudaranya.
Utama memperhatikan kedua orang itu, "padahal sebenarnya aku tidak suka dengan orang yang berbasa-basi. " batinnya.
Yoro mendekati Utama, "sebelumnya kami ingin meminta maaf padamu, selama ini kami selalu kasar padamu, jadi...terimalah bunga ini,bunga yang melambangkan cinta Nona kami padamu..! " Yoro berucap dengan sangat lembut dan serius, sampai-sampai matanya berkaca-kaca.
Yara melirik sinis Yoro, "ekspresi macam itu, kau terlalu berlebihan. " bisiknya.
"lalu.. apa kau pikir? , aku juga mau melakukan hal bodoh ini.. !? " Yoro juga berbisik.
Utama menerima bunga itu, "apa kau yakin bunga ini dari Yana? ini terlihat seperti bunga bangkai. atau mungkin kau memetiknya dari kebun! " ucapnya sambil memandangi bunga itu.
"apa katamu? bunga bangkai? " Yoro panik.
"dari awal sudah aku katakan, itu bukan bunga mawar." Yara berbisik.
"jika seseorang ingin memberikan bunga pada orang yang ia suka, sepertinya orang itu tidak mungkin memberikan bunga seperti ini, dan... aku rasa Yana juga tahu hal itu. " Utama tersenyum.
__ADS_1
"gawat, sepertinya kita akan dapat masalah. " Yoro dan Yara memucat.
Utama berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh kedua orang itu, "tidak perduli seberapa indah bunga itu, seorang pria tetap tidak pantas menerima bunga dari seorang wanita. dan lagi... aku juga tidak tahu jenis-jenis bunga.. jadi mungkin saja ini yang namanya bunga mawar. " Utama tersenyum.
"apa? ternyata dia juga tidak tahu bunga mawar! " Yoro kaget. "dia sangat pandai membuat kita takut.! " sahut Yara. keduanya bernafas lega dan pergi.
Utama menghentikan langkah, kemudian memandangi bunga di genggamannya cukup lama, "bunga, ya. " Utama tersenyum. "tidak berguna.! " kemudian melempar bunga itu keatas dan jatuh ke tanah, kelopak kelopak pun berguguran.
tiba-tiba ada orang yang memungut bunga tersebut, "sepertinya ada yang baru saja menerima pernyataan cinta dari seseorang.!" orang itu berucap keras, dia adalah Randa.
Utama menoleh kebelakang, "sejak kapan kau berada disitu? " tanyanya.
Randa melangkah cepat untuk mengimbangi langkah Utama, "itu tidak penting. " jawabnya.
keesokan harinya...
Utama dan Randa berada di SMA Setia Kasih, mereka berkeliling menunggu pertandingan dimulai.
"lihat! itu Yana! Flora.. eh! Shinta juga ada! sepertinya mereka mewakili SMA kita dalam cabang voli putri.! " Randa menunjuk kearah gerombolan wanita.
Utama menoleh, "sepertinya begitu. " sahutnya cuek.
"hey, Diko.! " panggil Randa sambil melambaikan tangannya.
orang itu menoleh dan mendekat, "hey, ternyata kau datang juga. " orang yang bernama Diko itu tersenyum ramah.
Randa menoleh kearah Utama, "Utama, mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku bisa mengenali dia? dia ini teman SMP ku,jadi wajar saja kalau kami akrab." Randa menempelkan tangannya ke bahu Diko yang terlihat tidak nyaman.
Utama melirik dengan tatapan malas, "kenapa kau berpikir seperti itu? dasar aneh! bertanya dan menjawab sendiri, sepertinya kau sangat ingin menjadi guru. batin Utama.
" hey, kak Utama, kak Randa! akhirnya aku menemukan kalian. " muncul lagi sesosok bermata empat yang tidak asing dimata Utama dan Randa.
Utama dan Randa menoleh, "huh, ternyata adik wanita ****** itu. " batin Randa menghembus nafas kesal.
"bolehkah aku bergabung dengan kalian? aku juga ingin mendukung kak Shinta. " tanya orang berkacamata itu, dia adalah Bobo, adik dari Shinta.
"tidak boleh! bocah ingusan sepertimu tidak pantas bergabung dengan kami! " Randa menjawab ketus.
__ADS_1
Diko tersenyum, "hey, Randa! kau tidak boleh berbicara kasar pada anak kecil." dia seperti mengejek.
"siapa yang kau sebut anak kecil, hah? " tiba-tiba Shinta muncul dengan tatapan mengerikan, tubuhnya juga terlihat besar.
Utama, Randa dan Diko menoleh, "gawat, gawat, gawat! kenapa wanita ini selalu muncul disaat seperti ini? " bisik Randa. "aku baru pertama kali melihat wanita yang sangat menyeramkan seperti ini. " lanjut Diko.
"lari.! " tanpa basa-basi, Randa dan Diko lari terbirit-birit. disisi lain, Utama masih diam ditempat, dia menatap Shinta yang saat ini juga menatap dirinya.
"sepertinya keberanian mu semakin bertambah. " ucap Shinta dengan tatapan datar.
"tidak juga. " Utama membalikkan badan lalu berjalan tanpa arah.
Randa dan Diko berhenti berlari, "siapa wanita itu? kenapa dia sangat menakutkan.? " tanya Diko disela-sela nafasnya.
Randa mengatur nafas, "dia itu..... " belum sempat Randa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ada orang yang menabrak tubuhnya. Randa pun terjatuh.
jangankan meminta maaf, menoleh saja orang itu tidak.
Randa membenarkan posisi, "hey, tidak bisakah kau meminta maaf terlebih dahulu.!?" teriak Randa pada orang itu.
"tenang saja, biar aku saja yang memberi dia pelajaran.! " Diko menyusul orang itu.
orang itu berhenti, lalu menoleh kearah Diko, "siapa yang ingin kau beri pelajaran,hah? " orang itu bersikap dingin, tubuhnya lumayan tinggi, wajahnya tampan, taringnya lebih panjang dibandingkan taring orang biasa,memiliki bola mata tajam seperti kucing,dan rambut biru yang acak-acakan. dia adalah Hajime, murid baru disekolah ini.
Diko tersentak, "kau..maaf!aku tidak tahu kalau itu kau" ucapnya lalu berbalik mendekati Randa.
Randa terkejut melihat tingkah Diko, "hey, ada apa denganmu? kenapa kau tidak memberinya pelajaran.! " tanyanya.
Diko menghela nafas panjang, lalu menghembusnya perlahan, "sudahlah, urungkan niat mu! dia terlalu berbahaya. " ucapnya.
"terlalu berbahaya? apa maksudmu? " Randa penasaran.
"namanya Hajime, dia belum sampai seminggu sekolah disini. namun... di hari pertama masuk saja dia sudah memberi pelajaran pada orang-orang kuat di SMA ini. jika dibandingkan dengan Mika... mungkin dia lebih kuat" jelas Diko.
Randa terdiam sejenak, "tidak ku sangka, ternyata orang-orang di SMA ini juga menakutkan. " ucapnya.
disisi lain, Utama sudah bergabung bersama Sella di kursi penonton, di dekat mereka terlihat Feri yang sedang bersiap untuk bertanding melawan tim musuh.
__ADS_1
"apa kau yakin kau akan baik-baik saja? " tanya Sella pada Feri dengan wajah cemas.
Feri tersenyum, "tenang saja! kakiku sudah baik-baik saja, doakan saja agar aku bisa memenangkan pertandingan ini. " dia mencoba menenangkan sahabatnya walaupun sebenarnya ia merasa akan terjadi hal buruk tentang kakinya.