Tokoh Utama

Tokoh Utama
menghadapi lima orang


__ADS_3

"sebenarnya aku tidak sampai hati memukul tubuh mungil mu itu, tapi orang itu sudah membayar mahal. " orang itu bersiap, "jadi.. aku harus menghabisi mu! " teriaknya lalu berlari kearah Utama, panggil saja dia Roy.


empat orang lainnya tersenyum, "Roy, ayo habisi dia! kami beri kau waktu tiga menit. " mereka hanya menonton dan duduk.


"Utama! ayo lari! " Yana menarik tangan Utama.


"minggir! " Utama melepaskan tangan Yana, kemudian menoleh lawan yang sudah dekat.


Roy melepaskan tendangan keras kearah Utama yang langsung melompat untuk menghindar, ujung kaki Roy mendarat di mobil Yana yang berada di belakang Utama.


Roy tersenyum, "ternyata kau cukup gesit." dia mulai bergerak.


Utama menatap datar, "kau saja yang terlalu lambat! "


"bagaimana dengan yang ini!?" Roy berteriak sambil melepaskan tinju.


Utama menahan tinju Roy dengan kedua tangannya, "apa hanya ini? "


Roy mengarahkan lututnya ke perut Utama, "jangan besar kepala! dasar lemah! " dia sambil berteriak.


Baam


dengan jarak sedekat itu, Utama tidak sempat menghindar, perutnya menghantam lutut Roy sehingga tubuhnya terjatuh.


Yana berlari mendekati Utama, "Utama, kau tidak apa? " dia terlihat cemas. Yana menoleh ke sekeliling, "tolong! ada penjahat! " teriak Yana, namun orang disekitar tidak perduli, sepertinya mereka tahu kalau penjahat itu adalah tiger white dan tidak mau ikut campur.


"bagus! teruslah seperti itu! bila perlu, bunuh saja dia. " gumam Alex tersenyum jahat, dia masih menonton dari kejauhan.


Roy mendekati Utama, "hey, hey, hey, ayo buat aku lebih senang lagi! aku belum mengeluarkan setengah dari tenaga ku. " kemudian tertawa.


Utama kembali berdiri, "setiap kali bertarung, aku pasti kalah diawal. " dia tersenyum. " tapi.. aku pasti menang diakhir. "


"jadi kau masih bisa berdiri, ya. aku pikir kau akan berpura-pura mati. " ejek Roy.


"hey, Roy! aku pikir kau bisa mengalahkan anak itu dengan sekali pukulan, ternyata tidak! " ucap teman Roy.


"kau benar! dia sangat mengecewakan! " ucap yang lain, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


Roy memandang keempat sahabatnya, "baiklah, aku berjanji akan mengalahkan anak itu dengan pukulan berikutnya. " kemudian menatap Utama.


Roy berlari kearah Utama, "aku datang! "


Roy meninju hidung Utama yang tidak menghindar, kemudian menendang perut Utama hingga terpental dan tergeletak.


Roy mendekati Utama, "dasar lemah! aku masih belum terhibur! " dia memijak tubuh Utama.


"Utama! " Yana hanya bisa berteriak.


Roy menoleh teman-temannya, "kalian lihat! anak ini sudah kalah! " dia tersenyum.


"siapa yang berkata seperti itu!? aku belum kalah! " tiba-tiba Utama kembali berdiri.


"apa!? " Roy menoleh kebelakang, dia melihat Utama yang berdiri kokoh tiada sedikitpun yang kurang. "anak ini.. padahal sudah terkena pukulan seperti itu.. tapi masih saja bisa bertahan. " batinnya terlihat geram.


Teman-teman Roy memandang Utama, "anak itu cukup hebat, padahal Roy sudah mengeluarkan semua kekuatannya. " mereka tersenyum, sepertinya mereka sengaja membuat Roy panas.


Roy menatap Utama tajam, "sepertinya kau lumayan kuat, aku ingin tahu sampai kapan kau bisa bertahan. " tubuhnya bergetar, sepertinya kemarahannya memuncak.


Roy meninju pipi Utama yang tidak bergerak sedikitpun, tubuh Utama menjadi oleng.


"kenapa kau hanya diam!" teriak Roy kemudian meninju pipi Utama yang lain, tubuh Utama masih tetap berdiri, tapi dia juga kehilangan keseimbangan.


Utama tersenyum, "aku tidak akan menghindar..aku juga tidak akan menahan..teruslah menyerang ku, aku yakin itu akan mempercepat kemenangan ku. " batinnya.


Bamm.. Bumm.. Baamm

__ADS_1


Roy terus memukul Utama, tapi Utama masih sanggup bertahan.


Yana memandang kejadian itu, wajahnya terlihat sangat ketakutan, "Utama.. kalau terus seperti ini.. aku harus bagaimana..? " dia sangat cemas.


"ayo terus! habisi dia!" Excel tersenyum, "jika terus seperti ini hingga dia babak belur.. aku yakin tidak ada wanita yang menyukainya lagi. "


Roy melihat kepalan tinjunya yang memerah, "sial! tanganku sakit sekali. " batinnya.


Utama baru saja berdiri dari jatuhnya, "ayolah! semua serangan mu masih belum bisa mengalahkan ku. " dia tersenyum.


Roy menoleh Utama, "dasar keras kepala! " dia berlari kearah Utama.


Roy mengarahkan tinju kearah wajah Utama, Utama tetap diam ditempat, tinju itu mendarat di hidung Utama yang langsung terpental jauh, kemudian tergeletak di tanah.


"aku tidak akan memberimu kesempatan! aku akan menghabisi mu sekarang juga! " Roy berjalan kearah Utama, kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya.


Tap Tap


saat ini, hanya langkah kaki Roy saja yang terdengar, tidak ada yang bersuara, mereka semua menantikan momen diwaktu berikutnya.


Yana memandang Utama yang sudah berdiri, kemudian menatap Roy yang sudah siap dengan pisaunya, "tidak! aku tidak akan membiarkan Utama mati. " kemudian berlari mendekati Utama.


Roy sudah berdiri di depan Utama, "bersiaplah untuk mati. " dia mulai mengangkat pisaunya.


"tunggu! jangan sentuh dia! " tiba-tiba Yana berdiri didepan Utama, dia menatap Roy dengan gagah berani.


Roy menghentikan ayunan pisaunya, "hah!? kau kekasih pecundang ini? " Roy menatap Yana sambil tersenyum,"kau tidak perlu mengorbankan diri untuk pecundang seperti dia! menyingkir lah! aku tidak akan segan untuk membunuhmu. " dia memasang wajah yang menakutkan.


Yana terlihat ketakutan, "tidak! aku tidak akan menyingkir! " dia memberanikan diri.


Greb


disaat itu, Utama menepuk bahu Yana, "Yana.. menyingkir lah! akan ku bereskan orang ini. " ucapnya datar, sorot matanya juga tidak terlihat.


belum sempat Yana menjauh dari tempat itu, Roy sudah mengayunkan pisaunya kearah Yana, "banyak bicara! " dia berteriak.


dengan secepat kilat, Utama menarik tubuh Yana kebelakang dan menahannya dengan kaki kirinya sehingga Yana tidak terjatuh, kemudian mencengkram tangan Roy yang menggenggam pisau dengan tangan kanannya, laju pisau pun terhenti.


"apa!? " Roy terkejut.


Yana menatap Utama yang tidak menatapnya, dia tersenyum bersama hatinya yang lega, "apapun yang kau perbuat, itu selalu keren dimata ku. " batinnya.


empat orang yang lain berdiri, "sepertinya Roy tidak akan bisa mengalahkan anak itu,dia bukan anak sembarangan. " mereka mulai tertarik.


detik berikutnya, Utama membalikkan arah pisau kearah bahu Roy, "matilah dasar sialan! " ucap Utama pelan.


Craakh


pisau menancap di bahu Roy yang diikuti dengan cipratan darah, "akh..! " kemudian disusul dengan teriakan Roy.


Utama menoleh Yana, "pergilah!" ucapnya datar.


tubuh Yana gemetar melihat darah, "baiklah." dia menjauh.


Roy mencabut pisau yang menancap di bahunya, kemudian menoleh teman-temannya, "kenapa kalian diam saja!? ayo bantu aku! " teriaknya.


"cih, ini akan menarik! " teman-teman Roy berjalan, kemudian mengelilingi Utama.


Excel mulai kesal, "sialan! ayo cepat habisi dia! " gumamnya.


Utama menatap ke sekeliling, "jadi kalian berniat mengeroyok ku, ya. " ucapnya datar.


"kami hanya ingin mempercepat kematian mu. " ucap salah seorang.


"aku harap itu bukan sekedar membual. " ucap Utama datar.

__ADS_1


salah seorang lawan terlihat kesal, "akan ku buat kau menunduk di kakiku. ! " teriaknya.


"apa kau yakin dengan kata-katamu itu?" jawab Utama.


"anak ini sangat pintar bicara! ayo habisi dia! " teriak salah seorang, mereka semua menyerang secara bersamaan.


Baam.. Bumm... Braakk


tidak jelas apa yang terjadi, seketika tubuh kelima lawan terpental jauh, kemudian tergeletak.


"apa!? kenapa bisa seperti ini!? " Excel terkejut, "kalau dia memiliki kemampuan seperti ini, kenapa tidak dari awal.? " dia terlihat ketakutan.


Yana memandang Utama tidak percaya, "Utama.. kau hebat.! " batinnya.


Utama memandang semua lawan, "apa hanya ini yang kalian punya? sangat menyedihkan! tidak pantas menjadi anggota tiger white. " ucapnya datar.


semua lawan kembali berdiri, "sial! anak ini sangat hebat! aku bahkan tidak melihat gerakannya. " ucap salah satu.


kelima orang itu mendekati Utama, "awalnya kami diperintah hanya untuk membuat mu babak belur, melihat kehebatan mu.. sepertinya kami harus memiliki niat untuk membunuh.. " semuanya mengeluarkan pisau.


kelima orang itu kembali mengelilingi Utama, "ayo serang! " kemudian menyerbu Utama.


pertarungan kembali dilanjutkan, semua lawan menyerang dengan sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa menyentuh Utama, akhirnya mereka kelelahan.


"sial! dia sangat cepat! " teriak salah seorang disela-sela nafasnya.


"sekarang giliran ku menyerang balik." Utama bergerak cepat, dia mengayunkan kaki dan tangan secara bersamaan untuk menyerang lawan, seketika para lawan terpental jauh dan tergeletak di tanah.


"sial! ini benar-benar memalukan! " teriak salah seorang sambil mencoba berdiri.


"ini sulit dipercaya, kita dikalahkan anak-anak seperti dia. " sahut yang lain.


Utama berjalan mendekati Roy yang masih tergeletak, "aku akan menghabisi mu. " ucap Utama datar.


"tolong.. jangan bunuh aku! " Roy sangat ketakutan.


disaat itu, salah seorang menoleh Yana, "sepertinya wanita itu cukup berguna. " kemudian berlari mendekati Yana.


orang itu mencengkram tubuh Yana, kemudian meletakkan ujung pisau dileher Yana, "jika kau ingin dia selamat! kau harus membiarkan kami pergi.! " dia menoleh Utama.


Yana terlihat ketakutan, wajahnya sangat pucat, "Utama, tolong aku! " ucapnya.


Excel terlihat bingung, "gawat! kenapa Yana yang menjadi korban? " gumamnya.


Utama menatap orang itu, "siapa yang perduli tentang hal itu? " ucapnya datar.


"wanita itu selalu memeras ku, jika seperti ini, setidaknya aku tidak perlu repot-repot bertemu dengannya, dan lagi.. pertarungan ini juga akan berakhir. " batin Utama.


orang yang lainnya mendekati Yana, "wanita ini sangat manis, dan sepertinya dia orang kaya. " ucapnya sambil tersenyum.


"jadi kau tidak perduli dengan wanita ini, baguslah! "


"ternyata kau orang yang tidak perduli dengan teman, ya. "


kelima orang itu sangat bersemangat, mereka mendekati Yana yang terlihat ketakutan.


Utama menatap Yana, "anggap saja ini akibat kau terus mengganggu ku. " ucapnya datar lalu berjalan menjauh.


Yana memandang kepergian Utama, bulir-bulir air mata mulai menetes, "kau jahat! Utama!" dia tidak bisa bersuara karena ketakutan bersama perasaannya yang benar-benar hancur.


"apa yang akan kita lakukan dengan wanita ini? " tanya Roy.


"dilihat dari penampilannya, sepertinya dia sangat kaya, kita akan meminta tebusan yang cukup besar. " jawab yang lainnya.


Excel terlihat bingung, "ini gawat! kenapa jadi seperti ini? seandainya Yana tahu aku adalah orang dibalik semua ini, dia pasti sangat membenciku. " batinnya sambil menelan ludah, "tiger white sialan! padahal aku sudah membayar mahal mereka..tapi Utama malah dibiarkan pergi begitu saja, mereka memang tidak bisa dipercaya! "

__ADS_1


__ADS_2