Tokoh Utama

Tokoh Utama
persiapan tawuran


__ADS_3

"siapa yang kau sebut dasar aneh, hah? " Shinta mendekati Randa kemudian mencengkram kerah baju Randa.


"maaf, kak, aku tidak tahu kalau dia adikmu. " Randa menjawab dengan wajah memucat.


BUUK


tanpa banyak bicara, Shinta menendang ************ Randa.


"ughh, sa.. sa.. sakit sekali. " Randa meringis sambil memegangi ***********.


"itu akibatnya karena kau berani mengganggu adikku, Bobo" ucap Shinta datar.


Randa terduduk di lantai masih memegang *********** "benar kata orang, dia sangat menakutkan. hancurlah sudah masa depanku.. " batinnya.


"kakak! kau keterlaluan! dia tidak menyakitiku. "


adik Shinta yang bernama Bobo membantu Randa, "kak Randa, apa kau tidak apa? " tanyanya.


"tidak, aku tidak apa-apa. " jawab Randa dengan mata menoleh Shinta yang melotot, "tidak apa-apa kepalamu! mungkin saja biji buah didalam sudah pecah. seandainya kau bukan adik dari wanita ini, sudah babak belur kau ku buat.. " batinnya kesal.


Utama hanya menonton kejadian itu, sementara Yana dan Flora hanya tertawa "hahaha, aku rasa setelah ini tidak ada lagi wanita yang mau dengan mu. " ejek Yana. " kau benar, aku akan memberitahu semua wanita di SMA ini kalau punya Randa tidak bisa berdiri.. " Flora ikut-ikutan.


"wanita sialan,biasanya bertengkar. tapi sekarang karena meledekku jadi akrab, mungkin ini yang disebut orang yang senang melihat orang lain menderita. " Randa berbicara dalam hati.


setelah itu, suasana seketika hening,ketiga wanita itu mulai menatap Utama yang dari tadi tidak berbicara.


"eh, bukankah kau? " Shinta mendekati Utama.


" jadi ini pria yang selalu dikejar-kejar Yana,ternyata lumayan tampan. " Shinta menghimpit tubuh Utama ke dinding, kemudian meletakkan tangan kanannya di samping telinga Utama.


"Kak Shinta, ku mohon jangan sakiti dia.! " Yana mencoba menahan, kecemburuan terlihat jelas dimatanya.


"kau takut aku menyakitinya? atau takut aku menciumnya? " Shinta bertanya pada Yana dengan nada menggoda.


Yana terdiam lalu menunduk, "maafkan aku Utama, aku tidak bisa menolong mu! " batin Yana.


"aku sudah sering mendengar tentangmu yang dijuluki pecundang. tapi.. baru kali ini aku melihatmu secara dekat. tatapan matamu tidak mengatakan kalau kau pecundang. " Shinta mendekatkan wajahnya dengan wajah Utama, kedua mata itu beradu pandang.


"ternyata dia cukup pendiam, tidak seperti gosip yang ku dengar. aku ingin lihat seberapa lama kau bisa seperti itu. " Shinta mulai geram.


"kakak, cukup! " Bobo mencoba menahan.


Shinta tidak memperdulikan, dia mengambil posisi dibelakang tubuh Utama, kemudian memeluk leher Utama dengan tangan kanannya.


kini, tidak ada jarak antara tubuh Shinta dan Utama, dua gunung lembut menempel di punggung Utama. itu terlihat sangat jelas karena Shinta mengenakan seragam olahraga.


Randa melotot melihat bagian payudara lembut Shinta yang jelas terlihat menempel dipunggung Utama, "Utama sialan, dia selalu mendapat bagian terbaiknya. " batinnya dengan air liur yang menetes.

__ADS_1


Yana dan Flora juga terkejut, mata keduanya terbuka lebar, "kak Shinta.. baru kali ini aku melihatnya seperti ini.. " batin Yana.


"bisakah kau menjaga jarak sedikit? " Utama akhirnya berbicara, tetapi masih tanpa ekspresi.


"ternyata kau cukup tenang.. " ucap Shinta tepat ditelinga Utama.


"hey, Shinta hentikan! kau hanya membuat kak Utama membenciku.! " dengan berteriak Bobo mengingatkan, dia terlihat sangat marah pada kakaknya sampai mengubah cara panggilnya.


Shinta melepaskan pelukannya pada Utama, "sepertinya adik kecilku sudah marah. " kemudian menarik tangan Bobo. "ayo pergi..! " keduanya pun pergi.


setelah beberapa saat kemudian, suasana menjadi tenang, " huh, akhirnya wanita menakutkan itu pergi juga. " Randa menghela nafas.


"menakutkan? sebenarnya tidak, mungkin itu hanya kebetulan. biasanya kak Shinta pendiam. " sahut Yana.


"ya, aku rasa dia tahu kalau pria bodoh ini sering menggangguku. itu sebabnya dia bersikap seperti itu.. " Flora menunjuk Utama.


"apa maksudmu berbicara seperti itu? " Yana bertanya dengan nada tinggi.


"hey, siapa yang berbicara denganmu? apa kau masih mau membela orang bodoh ini?" Flora tidak mau mengalah.


ditengah-tengah situasi yang memanas, Utama tiba-tiba berbicara, "hey, kau! " Utama menunjuk Flora yang langsung menoleh, "aku minta maaf kalau selama ini aku mengganggumu. aku berjanji aku tidak akan mengganggumu lagi. " lanjut Utama dengan nada datar.


Flora tertegun mendengar itu, matanya memandangi Utama. seharusnya ia merasa senang, namun hatinya malah terasa sedikit sakit. "apakah benar dia amnesia? " batin Flora.


"dan kau" Utama menoleh kearah Yana.


"jangan pernah menggangguku lagi! itu hanya akan membuat hatimu sakit. " Utama berucap tanpa memikirkan lawan bicaranya.


Yana terdiam, dia menatap mata Utama penuh rasa tidak percaya, saat ini hatinya seperti tertusuk duri.


setelah itu, Utama berjalan meninggalkan tempat itu.


"Utama, tunggu! " Randa menyusul dengan langkah yang tertahan.


Flora sudah meninggalkan tempat itu, sementara Yana masih diam ditempat, "sepertinya Utama benar-benar amnesia. " batinnya. "huh, sepertinya aku harus memulai dari awal lagi. " lanjutnya sembari menghela nafas.


******


siang ini matahari sangat terik, untungnya masih ada angin yang berhembus.


Utama dan Randa berjalan sambil berbincang. saat ini mereka berjalan diantara orang-orang yang hendak pulang.


tidak lama kemudian, mereka melihat segerombolan anak SMA Harapan Bangsa melaju kencang mengendarai motor.


"ada apa itu? " Randa memperhatikan dengan seksama, "aku ingat! hari ini mereka akan tawuran! " Randa sedikit berteriak.


"tawuran? " Utama bertanya.

__ADS_1


"seperti biasa. mereka akan tawuran dengan anak SMA Setia Kasih. ayo kita lihat! " Randa terlihat bersemangat. "ayo cepat! bisa-bisa kita melewatkan momen epic nya. " kemudian dia berlari.


Utama menyusul dari belakang walau sebenarnya dia enggan.


setelah cukup lama berlari, akhirnya mereka berdua sampai ke tempat tujuan. sebuah lapangan yang penuh debu dimana banyak barang rongsokan disekitarnya. ditempat itu terlihat banyak sekali anak SMA Harapan Bangsa.


"syukurlah...kita tidak telat. " ucap Randa disela-sela nafasnya.


Utama dan Randa memandangi sekumpulan siswa satu sekolah mereka. "sepertinya anak SMA Setia Kasih belum datang. " ucap Randa.


dari segerombolan orang itu, terlihat Dongo sedang berdiri, tubuhnya yang besar membuatnya mudah dikenali.


"woy, woy, woy. kenapa mereka lama sekali? apa mereka takut menghadapi ku? " Dongo terlihat sangat bersemangat.


"hey, jangan terlalu sombong! aku dengan baru baru ini kau babak belur dibuat adik kelas" ejek salah satu orang yang berbadan tegap.


"apa maksudmu? kau ingin berkelahi denganku? " Dongo mendekat dan mencengkram kerah baju orang itu.


"hey, Dongo! terlalu cepat seratus tahun bagimu untuk menyentuhnya." datang yang lainnya sambil tersenyum.


"apa katamu? "


"*aku menantang mu. "


"bisakah kalian tenang sedikit*? "


begitulah pasukan SMA Harapan Bangsa, mereka semua anggar kuat.


"aku tidak yakin mereka akan menang jika seperti ini. " Utama membuka pembicaraan.


"begitulah anak kelas 12,semuanya merasa paling kuat. tidak seperti anak kelas 11 atau 10 yang semuanya terlihat tenang. " sahut Randa sambil memandangi orang-orang itu.


"sepertinya mereka butuh pemimpin. "


"kau benar. dulu pernah ada orang yang sempat memimpin, Alex namanya. namun.. saat ini dia sudah tidak sekolah lagi.. " Randa mulai bercerita.


"kenapa? " Utama mulai tertarik.


"semenjak pertarungan satu lawan satu terakhir, dia harus menyisakan hidupnya diatas kursi roda. " Randa menjelaskan secara singkat.


saat asik berbincang, tiba-tiba datang segerombolan orang yang cukup sangar, mereka adalah siswa SMA Setia Kasih yang siap tawuran.


melihat pasukan lawan telah tiba, pasukan SMA Harapan Bangsa mulai mengatur posisi.


"dengar! kita harus melindungi teman-teman yang lain, tidak perduli berbeda kelas, kita tetaplah anak SMA Harapan Bangsa. " salah seorang mencoba memimpin, " kita tidak boleh membiarkan salah satu dari kita berakhir seperti Alex! kalian dengar? " dia terlihat bersemangat.


"yaa..! " semuanya mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2