
Hajime pergi meninggalkan pertempuran, dia berjalan dari atas gedung dengan berkali-kali melompat.
"sial! aku tidak menyangka akan terluka seperti ini hanya karena menghadapi manusia biasa. " Hajime memegangi bahunya yang penuh dengan darah, "ternyata di jaman ini masih banyak pengguna pedang yang hebat seperti di jaman ku. "
"hey, Hajime! kenapa kau meninggalkan ku!? " Utama berteriak sambil menyusul Hajime. "kenapa kau menyerangku? apa kau masih dendam padaku? "
Hajime menoleh, "cih, dia terlalu polos! jika dia yang membantu Alan, mungkin aku tidak perlu menahan sakit seperti ini. " batinnya.
Tap
Utama sudah berada di samping Hajime, mereka berdua melompati gedung beriringan.
"hey, Hajime! apa kau marah padaku hanya karena aku tidak mau membantu Alan!? " teriak Utama.
"menurut mu? " jawab Hajime lalu menghentikan langkah di atas sebuah gedung.
Utama juga menghentikan langkah, keduanya saling menatap, "aku tidak membantu karena aku tidak mungkin menghabisi semua anggota tiger white, mereka terlalu banyak untuk di bantai. " ucap Utama.
Hajime menatap dingin Utama, "aku tidak meminta kau menghabisi mereka semua! aku hanya ingin kita menyelamatkan Alan. "
"aku tidak mengerti kenapa kau begitu perduli pada anak itu?" ucap Utama.
Hajime menundukkan kepala, "entahlah, aku hanya merasa.. kematian Alan ini akan menyebabkan masalah di masa depan. " dia terlihat serius.
"masalah katamu? " Utama terlihat serius. "bagiku satu-satunya masalah hanyalah kematian Mika, aku masih punya janji dengan orang itu, aku sangat ingin memukul wajahnya. " kemudian tersenyum.
Hajime tersenyum, "sudahlah, tidak ada yang perlu disesalkan. " ucapnya. "mulai besok.. kita harus melakukan yang terbaik, agar tidak ada penyesalan yang tersisa. "
"kau benar!" keduanya saling tatap, dan kemudian melanjutkan perjalanan.
disisi lain, Randa berada di teras rumahnya, dia berjalan mondar-mandir, sesekali dia juga memeriksa waktu yang saat ini sudah larut malam.
"sudah jam setengah dua, kenapa mereka belum kembali juga? " ucap Randa.
Randa terdiam sejenak, "aku tidak perlu khawatir dengan mereka, aku yakin mereka berani melakukan ini karena punya sesuatu yang aku belum ketahui. " kemudian duduk di kursi.
Randa menghela nafas panjang, "padahal dulu Utama begitu pengecut, tapi kenapa sekarang aku merasa begitu tertinggal! semakin lama aku semakin tidak pantas berjalan beriringan dengannya. ucapnya lesu.
Randa berdiri dari kursinya, " tidak! aku tidak boleh terus-terusan seperti ini! aku harus mengejarnya!" dia begitu semangat, namun sesaat kemudian dia kembali terlihat lesu, "seandainya saja aku memiliki uang untuk melanjutkan eksperimen kakekku.. mungkin aku bisa mengubah diriku yang menyedihkan ini. "
"baguslah kalau begitu!" tiba-tiba Utama muncul,dibelakangnya Hajime menyusul, "kau tidak perlu memikirkan masalah uang! aku bisa membantu mu." dia memegangi koper hasil rampasan dari Joko.
"Utama!? " Randa menoleh Utama, "apa maksudmu!? aku sudah terlalu banyak merepotkan mu, aku tidak akan membiarkan mu memberikan kartu kredit mu padaku. " jawab Randa.
Braak
Utama membanting kopernya yang langsung terbuka, semua uang didalamnya terlihat jelas.
Utama tersenyum, "ini untuk mu! "
"apa ini!? darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini!?" Randa terkejut, tapi matanya bersinar-bersinar.
Hajime memandang uang itu terkejut, kemudian menoleh Utama, "kau.. kenapa kau tidak memberi tahu ku kalau didalam benda itu ada uang sebanyak ini? aku sangat lapar! seharusnya kita makan sepuasnya tadi. "
__ADS_1
Utama tersenyum, "memangnya aku tidak memberi tahu mu, ya.. kalau begitu besok saja! aku akan mentraktir mu sepuasnya! "
Randa menatap Utama, "Utama, darimana kau mendapatkan uang ini? jangan katakan kalau kau mencuri! "
Utama tersenyum,"aku tidak mencuri! aku hanya memintanya pada Joko. "
"Joko!? maksudmu Joko ketua geng tiger white? aku tidak akan menerima uang ini!aku tidak ingin mendapat masalah!" ucap Randa.
"aku memberi mu uang ini, bukan memberi masalah. " ucap Utama. "kau tenang saja! kau tidak akan terlibat dalam situasi sulit. "
Randa menatap Utama dengan wajah berkaca-kaca, "Utama.. kau baik sekali! kau benar-benar sahabat terbaik ku! " Randa memeluk erat Utama.
"apa-apaan kau Randa!? lepaskan aku!" Utama meronta.
Randa melepaskan pelukannya, kemudian menatap Utama, "Utama.. aku berterima kasih banyak padamu! aku akan menerima uang ini! " ucapnya. "Utama..Hajime..kalian memang hebat! aku pasti bisa menyusul kalian..ya..dengan uang sebanyak ini.."batin Randa sambil tersenyum.
Hajime melangkah, " hoam..aku ngantuk sekali!" dia menguap.
Utama dan Hajime melangkah pergi, mereka menuju rumah Utama untuk istirahat.
keesokan harinya..
Utama, Randa dan Hajime sudah sampai di sekolah, mereka berjalan melewati parkiran.
" aku masih sangat mengantuk. " Hajime berjalan dengan tubuh membungkuk.
"kau benar! seharusnya kita tidak perlu sekolah hari ini. " sahut Randa dengan langkah yang sempoyongan.
Utama memandang mobil mewah milik Yana, "sepertinya ini saat yang tepat untuk memberi wanita itu pelajaran. " dia tersenyum.
Utama menghentikan langkah, "teman-teman! kalian duluan saja! ada urusan yang harus ku selesaikan. "
"urusan!?" Randa dan Hajime menoleh, "baiklah,kami tunggu kau dikelas. " kemudian meninggalkan Utama.
setelah beberapa saat dikelas, Utama, Hajime dan Randa pergi ke kantin. saat di kantin, banyak wanita yang mulai berani menggoda Utama, terkadang juga Hajime, tapi mereka tidak pernah perduli.
*******
Utama, Hajime dan Randa sedang berjalan, mereka bergegas meninggalkan sekolah.
"eh!? bukankah itu Yana! sepertinya dia ada masalah. " tiba-tiba Randa menghentikan langkah dengan pandangan kearah parkiran.
Utama dan Hajime menoleh kearah parkiran, "kau benar! itu memang dia. " ucap Utama.
"ayo kita lihat! " ucap Randa, ketiga orang itu mendekati Yana.
Yana mengelilingi mobilnya, "kenapa bisa seperti ini? sepertinya tadi baik-baik saja! " dia melihat semua ban mobilnya yang ternyata kempes semua.
"Yana! mobil mu kenapa? " tanya Randa setelah dekat.
Yana menghela nafas, "aku juga tidak tahu, sepertinya ada yang sengaja mengejaiku. " ucapnya lembut.
"mungkin itu karena kau selalu mencampuri urusan orang lain. " ucap Utama datar tanpa menoleh wajah Yana.
__ADS_1
Yana menatap Utama sambil tersenyum, "aku bisa sangat marah, lho.. jika ternyata kau pelakunya. "
"aku tidak perduli! " Utama bersikap cuek.
Tap Tap
"hey,Utama!" tiba-tiba muncul sesosok wanita cantik, dia adalah Sella.
Utama menoleh, "kau.. wanita yang waktu itu, ya." ucap Utama.
Sella tersenyum, "aku sudah lama ingin berbincang denganmu, tapi ternyata kau cukup populer. "
"ingin berbincang!? jangan katakan kau menyukai ku!" ucap Utama cepat dan datar.
Sella tertegun, kedua pipinya juga memerah, "tidak, tidak!.. itu.. aku, aku hanya ingin berterima kasih padamu.! " dia kesulitan bicara.
Yana menatap kedua orang itu, "Utama bodoh! kau membuatnya salah tingkah! bisa-bisa setelah ini, wanita ini akan mengejarmu. " batinnya terlihat cemburu.
Utama menatap Sella datar, "berterima kasih? " dia berpikir sejenak, "untuk itu, ya.. itu sudah sangat lama, aku juga sudah melupakannya. "
"walaupun itu sudah lama, tapi sudah seharusnya bagiku untuk berterima kasih padamu,kau membuat feri senang! sekali lagi terimakasih Utama!" Sella membungkukkan badannya.
"kau tidak perlu bersikap seperti itu! aku melakukannya untuk sekolah ini. " ucap Utama kemudian menoleh Yana, "sepertinya ini saatnya untuk membuatnya membenciku.. " dia tersenyum.
Utama menggenggam kedua bahu Sella, "ngomong ngomong... kau sangat cantik hari ini.. " baru ini dia tersenyum manis.
Sella tertegun, dia tidak mampu menatap mata Utama, "kau.. jangan berkata seperti itu.. aku jadi malu.. " pipinya semakin memerah.
Yana menatap Utama yang kebetulan menolehnya, "Utama, sejak kapan kau pandai merayu..? " batinnya, tubuhnya seperti berapi-api.
Randa menatap Utama, "hey, kalian! kalau ingin pacaran jangan didepan kami! membuat iri saja! " teriaknya.
Hajime melirik Randa, "jiwa jomblo mulai berontak.. " batinnya.
Sella menatap Utama, "walaupun dia adik kelas, tapi dia cukup manis, selain itu juga populer. " batinnya tersenyum.
Sella menoleh Yana, "memangnya kenapa dengan wanita itu!? bukankah dia sudah tidak memiliki hubungan dengan Utama. " batinnya tersenyum.
Sella melihat mobil yang menjemputnya sudah datang, kemudian menoleh Utama, "maaf, Utama! sepertinya aku harus duluan. " ucapnya lalu pergi.
Utama tersenyum, "tidak masalah! tapi lain kali aku ingin bicara lebih lama denganmu. " kemudian menoleh Yana yang sepertinya marah.
Yana mengeluarkan ponsel, kemudian menelpon orang-orangnya untuk datang.
"hey, Nona Yana! apa ada masalah? " tidak sampai satu menit, Yoro dan Yara sudah sampai.
"eh!? kalian sudah sampai? kenapa cepat sekali? " Yana terkejut.
Yoro dan Yara cengengesan, "itu.. kami.. "
"padahal sudah berkali-kali aku mengatakan jangan pernah ikuti aku. " Yana menghela nafas, kemudian tersenyum, "tapi..seharusnya kalian tahu siapa yang membuat ban mobil ku seperti ini." dia melirik Utama sambil tersenyum, "kau ingin bermain denganku, aku akan menikmatinya. " batinnya.
Utama menatap Yana, "tahu kalau tidak ada bukti sama saja" dia tidak terlihat panik sama sekali. "ayo pergi! " kemudian meninggalkan tempat itu.
__ADS_1