Tokoh Utama

Tokoh Utama
dendam Alan


__ADS_3

kedua kubu itu sudah berhadapan, hanya jarak yang memisahkan.


"aku pikir kalian takut, ternyata cukup bernyali juga. " salah satu dari SMA Setia Kasih berucap dengan sombong.


"hey, kami bahkan sudah menunggu hampir tiga puluh menit. " balas Dongo.


"kalian pikir bisa menang dengan jumlah sebanyak itu? " sambung teman Dongo.


pasukan lawan terdiam sejenak, mereka saling pandang kemudian tersenyum. jumlah mereka memang hanya setengah dari jumlah Dongo dkk.


"cih, walaupun jumlah kami sedikit. kami yakin bisa dengan mudah mengalahkan kalian. " seorang lawan menjawab.


"jika seandainya kalah, kami sudah mempersiapkan hadiah untuk kalian. " lanjut yang lainnya.


Dongo dkk terdiam sejenak, mereka terlihat berpikir dengan wajah penuh kecurigaan.


"kalian pikir kami takut dengan gertakan seperti itu? ayo maju hadapi aku! " Dongo berteriak tidak sabar.


salah satu lawan maju, "baiklah, ayo kita mulai! " kemudian mengambil ancang-ancang. dia biasa panggil Raju.


"kami serahkan dia padamu, Raju! tendang bokongnya! " kawannya memberi semangat.


tidak jauh dari tempat kejadian, terlihat Utama dan Randa sedang duduk santai.


"beginilah, kedua kubu ini memang sangat sering bentrok! "


"apa alasannya? "


"ternyata sulit berbicara dengan orang amnesia, semua harus mulai dari awal." Randa sedikit kesal. "faktor utamanya adalah jarak kedua SMA. kedua, karena ini sudah berlangsung sejak lama, jadi sepertinya mustahil bagi mereka untuk mengubah sejarah. " jelasnya.


"tapi bukankah ini tidak akan menyelesaikan masalah. lagipula berkelahi seperti ini tidak ada gunanya. " Utama berpendapat.


"mungkin kau benar! tapi mereka memang sangat suka berkelahi. mereka juga tidak ingin menyelesaikan masalah, sudah terlalu lama dendam ini berkarat. " jawab Randa.


BLAK


Dongo dan Raju beradu tinju.


"aku tidak menyangka kalau kau akan menjadi lawan lagi.. " Dongo tersenyum.


"ya, aku hanya ingin menghabisi mu. " Raju juga tersenyum.


Raju melesatkan tendangan ke wajah Dongo. dengan mudah Dongo menahan sambil mengeluarkan tinju. "tubuhmu memang kuat. " Raju berucap sambil menghindar. "lemak yang menumpuk juga membuat kau bergerak lambat. " Kemudian meninju pipi Dongo yang tidak sempat menghindar.


Dongo tidak terjatuh, tapi tubuhnya sedikit oleng. "sialan, akan ku buat kau menyesal. " Dongo kembali maju.


Raju mengarahkan tinju ke wajah Dongo yang langsung mencengkram tinju itu dengan tangan kanannya, kemudian menghantam siku kirinya ke wajah Raju dengan memutarkan tubuh sekali.


Raju terduduk di tanah, " sial, ternyata dia semakin kuat. " batinnya sambil meludah yang bercampur darah.


"ayo berdiri! jangan bilang kau sudah menyerah. " Dongo berlagak sombong. Dongo menatap pasukan lawan, "apakah ada yang memiliki nyali selain dia? ayo maju, hadapi aku! " tantangnya.


saat ini, pasukan lawan terlihat tenang, mereka tidak memberikan jawaban dari tantangan Dongo.


"dia benar-benar meremehkan ku. " Raju kembali berdiri, dia bersiap menyerang Dongo dari belakang.


"bersiaplah gendut! " Raju berlari lalu melompat ke arah Dongo.


BRAAK

__ADS_1


seketika tubuh Raju terlempar ke tanah diikuti debu yang beterbangan. tenyata salah satu teman Dongo menendangnya dari samping.


"pertarungan kalian sangat buruk untuk jantungku, Dongo. " ucap orang itu dengan wajah serius.


melihat kejadian itu, pasukan lawan langsung berdiri. "sepertinya kalian sudah lupa dengan peraturannya. " salah seorang berucap. "seharusnya kita menghabisi mereka dari awal,tanpa harus menonton pertarungan pembuka yang membosankan. " lanjut yang lain.


"mau berkelahi saja banyak bicara. " balas orang yang menendang Raju.


kedua kubu sudah berdiri semua, jarak mereka hanya sekitar lima meter.


"maju..! "


"serbu..! "


kedua kubu itu saling terjang,semua orang menunjukkan keahlian dalam baku hantam.


disisi lain, Randa dan Utama semakin mendekat untuk menonton.


"gawat! aku rasa ini akan berakhir buruk"


"jika itu yang mereka inginkan, bukankah kita tidak bisa berbuat apa-apa. "


diawal pertempuran, kedua belah pihak terlihat seimbang, mereka saling serang dan menahan. namun, beberapa menit kemudian,serangan pasukan lawan semakin melemah, kalah jumlah cukup menjadi penentu siapa yang akan menang.


di samping itu, Dongo dkk semakin gencar, mereka tidak memberi jarak pada lawan. lama-kelamaan, satu persatu lawan pun roboh.


"hehehe, sepertinya kami memang tidak mungkin bisa menang dengan jumlah sebanyak ini. " pasukan lawan masih bisa tertawa.


"sudah terlambat untuk meminta maaf, kawan. "


sambut salah seorang dari teman Dongo.


Dongo dkk terus menyerang walau sudah kelelahan. pasukan lawan hanya bisa bertahan, tapi mereka masih bisa tersenyum.


mendengar suara itu, seketika Dongo dkk terdiam, mereka tidak lagi menyerang.


"*suara itu!? jangan-jangan itu!? "


"tidak salah lagi! itu suara Mika.! "


" sialan! mereka membawa anjing gila itu*!"


Dongo dkk terlihat ketakutan, entah apa yang membuat mereka seperti itu.


"hahaha, ini adalah hadiah yang kami siapkan untuk kalian. " seorang lawan tertawa sambil berbicara.


TAP TAP


kemudian seseorang berjalan membelah kerumunan orang lawan. orang itu berdiri di garis depan pasukan lawan. dia bertubuh paling tinggi diantara orang-orang ,bahu kekarnya dihiasi dengan uraian rambut yang berwarna kuning, dia adalah Mika yang sama sekali tidak mengenakan seragam.


"sebenarnya aku tidak mau terlibat dengan permainan kecil ini." ucap Mika datar, dia terlihat sangat santai." tapi, biar bagaimanapun.. aku tetap sahabat mereka. " dia menatap Dongo.


Dongo dkk mundur perlahan, sepertinya mereka tidak berniat melanjutkan perkelahian.


"tidak adakah yang berniat melayaniku? " tantang Mika Datar.


Dongo dkk terdiam, tidak ada yang menjawab selain menunduk, sepertinya mereka kehilangan nyali.


"Mika sialan, padahal seharusnya dia sudah bukan anak SMA Setia Kasih. " Randa terkejut melihat Mika.

__ADS_1


"Mika? siapa dia? kenapa semua orang terlihat sangat takut? " Utama bertanya.


"Mika adalah orang yang bertarung satu lawan satu dengan Alex hingga berakhir seperti itu. " Randa terlihat serius. " dan parahnya... Mika sangat suka bertarung menggunakan senjata. tidak tangan kosong seperti orang-orang tadi. ini gawat..! " lanjutnya.


Mika mengeluarkan pisau dari pinggangnya, "tidak adakah yang ingin menjadi korban ku selanjutnya.? " Mika mengangkat pisaunya.


disaat-saat paling genting ini,seseorang mendekati tempat itu. " aku yang akan menghabisi mu.! " ucapnya dengan wajah mencekam. orang itu bertubuh biasa saja, dia juga tidak mengenakan seragam, namanya adalah Alan.


"*Alan..!? "


"apa yang kau lakukan? kau jangan mencari mati*.! "


Dongo dkk terkejut melihat sosok yang menerima tantangan Mika.


"Alan? siapa dia? " Utama bertanya pada Randa.


"Alan adalah adik Alex, dia masih kelas sepuluh. aku tidak menyangka dia ingin balas dendam. aku takut dia akan jadi korban Mika selanjutnya.. " Randa menjelaskan.


"jika kau memiliki kekuatan, apa yang akan kau lakukan? " Utama terlihat serius.


"aku.. jika aku memiliki kekuatan.. aku akan menghentikan perkelahian ini. kenapa kau bertanya seperti itu. " Randa bertanya balik.


"bukan apa-apa. " Utama tersenyum.


Utama berpikir sejenak, "menghentikan perkelahian? mungkin inilah tugas ku dalam novel ini, membereskan hal-hal semacam ini. " batinnya.


Alan mendekati Mika, "aku akan membalas perbuatan mu terhadap kakakku.! " ucapnya sambil mengarahkan pisau kearah Mika.


"haha, kalian bercanda menyuruh anak kecil ini untuk menghadapi ku.? " Mika tertawa.


"jangan meremehkan ku.! " Alan maju dengan gagah.


Alan berlari kemudian melompat kearah Mika, gerakannya sangat cepat.


Ting


Mika dengan tenang menyambut serangan Alan, kedua pisau itu pun berbenturan.


tubuh Alan masih melayang di udara, dia menyempatkan untuk mengeluarkan tendangan. sayangnya, serangan itu masih dengan mudah ditahan Mika yang jauh lebih kuat dalam segi stamina.


BUUAKK


Mika menyerang balik, seketika perut Alan menjadi sasaran tinjunya.


Alan terlempar jauh dan tergeletak di tanah.


"kau terlalu cepat seratus tahun untuk menghadapi ku, anak kecil. " Mika berjalan mendekati Alan.


"sudah kubilang, jangan meremehkan ku! aku pasti menghabisi mu dengan tangan ku sendiri. aku sudah berjanji pada Alex, dan aku.. tidak akan berakhir seperti dia...! " Alan mengeraskan suaranya di bagian ujung perkataannya.


Alan kembali berdiri,"ayo..! " berteriak lalu berlari memburu Mika dengan pisaunya.


"datanglah..! Mika juga berlari kearah Alan.


disaat kedua orang itu hampir bersentuhan, tiba-tiba Utama berdiri ditengah-tengah dan menahan kedua serangan itu dengan tangan yang menyilang. " bukankah ini sudah berlebihan..? " ucapnya dingin dengan tangan yang mencengkram tangan kedua orang itu yang menggenggam pisau.


"*apa..? "


"what? "

__ADS_1


"nani*..? "


melihat gerakan Utama yang super cepat, semua orang hanya bisa terkejut termasuk Randa.


__ADS_2