
Kraak...
puing-puing yang menimbun tubuh Utama terlempar ke segala arah secara tiba-tiba.
Yobi memandang Utama dengan ekspresi geram, kemudian tersenyum jahat, "sudah kuduga.. ini lebih sulit dari yang kukira.. "
Hajime menoleh Utama," dia masih bisa bertahan.. baguslah.. " batinnya sambil tersenyum tipis.
Utama berjalan pelan beberapa langkah dengan kepala yang tertunduk, kemudian dengan sekali lompatan berpindah tempat ke depan Hajime yang masih tergeletak.
Hajime terkejut melihat Utama yang sudah berada di depannya, namun kemudian dia hanya tersenyum tipis.
Utama menatap Yobi, kali ini dia tersenyum manis, namun wajahnya terlihat sangat mencekam.
Hajime menatap Utama yang berada di depannya, "Utama.. kau?! " dia terlihat tidak percaya. "ini bukan pertama kali aku melihatnya tersenyum.. namun senyumannya saat ini sungguh berbeda.. jika perasaan mulai muncul, pertarungan ini sangat beresiko.. " batinnya.
Utama melirik Hajime, "aku tahu apa yang kau pikirkan.. tapi sangat disayangkan karena ini tidak seperti yang kau bayangkan.. " dia masih tersenyum, "dari awal pertarungan ini tidak ada hubungannya dengan kita.. ingat Hajime, kekacauan ini.. kehancuran kota ini.. api yang terus berkobar.. semua hanyalah ilusi yang tidak terjadi di dunia nyata.. kita bertarung hanya untuk menjadi pahlawan.. menghalangi semua orang yang ingin menghancurkan kota ini adalah tujuan pertarungan kita yang sebelumnya..tapi, pertarungan kali ini sedikit berbeda.. dia ingin menghabisi ku karena urusan pribadi, dendam yang hanya tertuju pada ku.. " dia memandangi gedung-gedung yang luluh lantah.
Hajime tertegun, "yang kau katakan memang benar, Utama.. semua kekacauan ini hanyalah ilusi.. kota jakarta di dunia nyata tidak mungkin seperti ini... tapi.. melihat kota ini dilanda kekacauan seperti ini.. tetap saja sedikit mengganggu 'kan? " dia tersenyum tipis.
Utama tidak menggubris, dia menatap Yobi yang berada cukup jauh di depannya, sementara Yobi juga menatap Utama dengan tajam.
"sudah cukup omong kosongnya.. sekarang tunjukkan kekuatan mu padaku! aku ingin bermain sedikit lama sebelum membuat mu menyusul kakak mu yang menyedihkan itu.. " ucap Yobi sambil tersenyum jahat.
Fiiiuuuh...
angin berhembus kencang menerpa Yobi dan Utama yang saat ini sedang berhadapan, pasir beterbangan, suasana semakin mencekam.
saat ini, langit semakin hitam, kilatan cahaya terus melintas berbalas balasan dibelakang Utama dan Yobi, tapi belum ada suara halilintar yang menggelegar.
Utama menatap Yobi dengan rambut tertiup angin, "kau berbicara seakan akan kau jauh lebih kuat dari ku.. orang yang baru mengenal apa makna kekuatan tidak pantas berkata seperti itu padaku.. " ucapnya datar.
Yobi menggertakkan taringnya, sepertinya dia terlihat kesal, namun hanya diam dan memilih menatap Utama.
suasana mulai tenang, tidak ada yang bersuara selain saling pandang. begitu juga dengan alam, angin sudah mulai berhenti bertiup, suasana saat ini benar-benar hening.
"akan ku tunjukkan padamu kekuatan ku, makhluk rendahan! "
"akan ku bunuh kau untuk menuntaskan dendam ku, Utama! "
setelah cukup lama diam, tiba-tiba Utama dan Yobi berteriak bersamaan dengan wajah menakutkan.
__ADS_1
Glegarrr...
tepat setelah itu, halilintar menyambar dan mendarat di antara Utama dan Yobi berada, tanah hancur dan menyisakan asap.
"majulah, Utama..! " Yobi berteriak sambil memasang kuda-kuda sehingga tanah tempat dia berpijak sedikit hancur.
"ayo mulai! " teriak Utama lalu menghilang dari posisinya, dia terlihat bersemangat.
Hajime terkejut melihat Utama sudah tidak ada di depan matanya, "dimana!? aku tidak melihat kapan dia bergerak?! " di depannya hanya terdapat debu tipis yang melingkar.
Hajime menoleh Yobi, kemudian mengikuti arah mata Yobi yang tertuju keatas, "cepatnya.. " dia melihat Utama melayang di udara dengan ketinggian sekitar dua puluh meter.
Yobi menatap Utama, "matilah! " kemudian memanjangkan tangan kirinya yang besar untuk menyerang Utama.
Tap...
Utama berhasil menghindar, lalu menjadikan lengan Yobi untuk tempat berpijak, lalu berlari di atasnya untuk mendekati Yobi.
Yobi terlihat kesal, "gesit sekali.. " batinnya.
beberapa detik selanjutnya, Utama sudah berada di depan Yobi, dia masih berpijak di lengan Yobi dan siap menerjang.
Buuaakk..
setelah itu, tangan Yobi yang baru saja menabrak kaki Utama terayun kebelakang bersama tubuhnya yang juga terbawa, sepertinya benturan barusan memang sangat dahsyat.
di samping itu, Utama juga terhempas dan berputar di udara lalu mendarat dengan cantik. tidak menunggu lagi, Utama kembali melesat untuk memburu Yobi.
Yobi baru saja mengembalikan keseimbangan, dia menoleh kearah tangan kanannya yang ternyata putus, "sial! sekuat apa sebenarnya orang itu? sepertinya aku harus lebih berhati-hati! " batinnya, lalu tangannya kembali tumbuh.
"kuat sekali.. dia terlihat sangat serius, sepertinya dia memang sensitif terhadap semua yang menyangkut tentang Jimmy.. " batin Hajime, "tidak! ini tidak sama dengan yang waktu itu.. saat itu dia terlihat sangat marah dan begitu brutal.. menyerang tanpa ampun karena didasari kebencian, tapi.. saat ini dia hanya terlihat lebih serius dari biasanya.. "
Yobi memandang tangannya yang baru tumbuh, "hebat! sekalipun tubuhku sudah hancur, aku bisa kembali seperti semula, tidak ada yang perlu ku khawatirkan.. " dia tersenyum jahat.
"begitu, ya.. jadi mengalahkan mu memang perlu sedikit usaha, ya.. " tiba-tiba suara terdengar dari depan Yobi.
"a-apa?! " Yobi menggerakkan lehernya untuk menoleh ke depan dengan penuh keraguan, "gawat! " dia melihat Utama sudah bersiap melepaskan tinju kearahnya.
"jika tubuh monster ini tidak bisa dihancurkan, hanya jantungnya yang memberikan ku pilihan! " bisik Utama sambil mengayunkan tinjunya kearah jantung Yobi.
Baaamm..
__ADS_1
Yobi tidak sempat bereaksi, tinju Utama menghantam tubuhnya tepat di bagian jantung, Yobi pun terpental jauh kebelakang.
Braak..
walaupun hempasan itu cukup dahsyat, Yobi masih bisa mengembalikan keseimbangan dan berdiri tanpa terjatuh sekalipun, kakinya besarnya yang dipenuhi jari runcing menghancurkan tanah tempat dia berpijak.
Utama menatap Yobi yang sudah berjarak dengannya, "masih belum, ya.. " ucapnya datar.
Yobi menoleh kearah dadanya yang sedikit berlubang dan dipenuhi darah, asap tipis muncul dan sesaat kemudian semuanya kembali lagi seperti semula.
Yobi menatap kesal Utama, "cih, manusia macam apa dia? dengan tubuh monster seperti ini aku bahkan merasa butuh usaha lebih untuk membunuhnya! " batinnya, "tidak! apa yang kupikirkan? ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan aku yang sekarang.. tidak ada yang perlu ku takutkan! akulah yang terkuat.. tidak! bukan itu masalahnya, apapun yang terjadi aku harus membunuhnya, ini demi Kak Rio, ya, demi Kak Rio.. " sepertinya keraguan mulai menggangunya.
Utama kembali bersiap, lalu melesat cepat kearah Yobi yang langsung menyambut dengan melemparkan puing-puing kearah Utama, dengan gesit Utama menghindar dengan sesekali meninju puing-puing itu hingga hancur berkeping-keping.
setelah berhasil melewati serangan Yobi, Utama bersiap melepaskan satu pukulan kearah Yobi, namun Yobi menghindar dengan melompat tinggi kearah belakang.
Utama memandang Yobi yang melayang di udara, "merepotkan.. " gumamnya.
Yobi masih melayang di udara, lalu memanjangkan kedua tangannya untuk menyerang Utama yang berada di bawahnya.
Braak.. Bruukk..
serangan dari tangan Yobi cukup membuat Utama kesulitan, dia terus menghindar dan menghindar, tanah pun hancur terkena pukulan Yobi, akibatnya debu terus mengepul.
"tangannya sangat lentur, seperti tidak memiliki tulang saja! lalu gerakannya sangat cepat, dia memang lawan yang merepotkan! " Utama terus berlompatan kesana-kemari.
Greeb..
di suatu kesempatan, disaat Utama lengah, Yobi berhasil menangkap tubuh utama, dia mencengkram sangat erat.
Yobi mendarat dan menatap Utama sambil tersenyum jahat, "hahaha.. ada apa dengan mu? apa kau sudah lelah menari? hibur aku sedikit lagi? " dia tertawa.
Utama tidak menjawab dan hanya menatap datar Yobi, sementara Yobi mengubah ekspresinya menjadi begitu mencekam.
"baiklah kalau begitu, kita akhiri saja pertarungan ini! " Yobi berteriak sambil mengayunkan tangan panjangnya yang mencengkram tubuh Utama keatas, lalu membantingnya kembali kebawah sehingga tubuh Utama menghantam tanah hingga hancur.
Braak.. Bruuk..
Yobi membanting tubuh Utama ke tanah secara terus menerus dengan iringan tawa mengerikan miliknya, dia terlihat sangat senang melakukan itu.
setelah cukup lama seperti itu, saat Yobi baru saja memukul bumi dengan tubuh Utama sehingga debu mengepul menutupi Utama, tiba-tiba tubuh Yobi tertarik kearah Utama yang masih belum terlihat jelas. sepertinya cengkraman itu terlepas dan Utama menarik tangan Yobi sehingga tubuhnya terbawa.
__ADS_1
Yobi mencoba menahan tarikan itu, namun dia masih terus bergerak mendekati Utama, "sial!"
Hajime tersenyum tipis walau masih tergeletak, " jadi begitu, ya.. sepertinya aku memang belum mengerti banyak hal tentang dia.. " gumamnya, "batas kekuatan setiap orang adalah stamina orang tersebut sendiri.. semakin lama kau menggunakan kekuatan mu, maka stamina mu pun akan berkurang dan berganti dengan rasa lelah.. berbeda dengan Utama, dia seperti boneka yang bernyawa.. tidak ada rasa lelah.. dia bisa bertarung dengan kondisi seratus persen tanpa jangka waktu.. ya, walaupun aku sendiri tidak tahu apakah sekarang dia sudah seratus persen menggunakan kekuatannya, tapi yang terpenting saat ini dia benar-benar serius... "