
Trang.. Ting.. Ctang..
Hiro dan Jiro terus menyerang Yamakoto dengan bertubi-tubi, kecepatan pedang keduanya menghasilkan kolaborasi yang sangat hebat. langkah dan gerakan keduanya tidak beraturan, Jiro selalu melesatkan tebasan secara ganas, sementara Hiro selalu menyelip dan menyerang secara tiba-tiba.
"kuat sekali.. tangan ku terasa sakit setiap beradu pedang dengan mereka.. baru ini aku menghadapi lawan sehebat ini.. " batin Yamakoto terlihat kewalahan.
walau hampir bisa mengimbangi kedua lawannya, perlahan Yamakoto mundur selangkah demi selangkah, luka di tubuhnya terus bertambah, ada luka tusuk dan ada juga luka gores, namun itu tidak terlalu parah.
Tap.. Tap..
sekitar lima belas menit beradu pedang, Hiro dan Jiro mengambil jarak, begitu juga dengan Yamakoto yang langsung mundur.
"hosh... hosh..! " nafas Hiro dan Jiro terengah-engah, keduanya terlihat sangat kelelahan dengan pandangan kearah Yamakoto yang juga terlihat kelelahan.
Jiro memandang kearah telapak tangannya yang ternyata sudah hancur, "sial.. tangan ku pecah-pecah.. ini mulai terasa sakit, sepertinya aku sudah melewati batas ku.. " batinnya disela-sela nafasnya, keringat mengucur diwajahnya, matanya juga terpejam sebelah.
Hiro menoleh kearah Jiro, kemudian memeriksa telapak tangannya yang ternyata sama dengan kondisi Jiro, "sial.. kami memang terlalu memaksa.. seluruh tubuh ku terasa sangat sakit.. aku juga merasa sangat lelah.. sepertinya amarah yang memuncak membuat kami menekan semua kekuatan ditubuh kami.. " batinnya.
Utama dan Hajime memandang pertarungan yang berhenti sejenak, "begitu, ya.. perasaan benci dan dendam di hati mereka menimbulkan amarah yang bergejolak...kekuatan hebat tadi berasal dari amarah yang memuncak..untuk sesaat mereka tidak akan merasa sakit atau kelelahan.." ucap Hajime memandang Hiro dan Jiro, "tapi.. setelah amarah itu mulai mereda.. mereka akan sangat kelelahan.. mereka juga mulai merasakan sakit.. dan setelah itu..sekalipun mereka memaksa, tubuh mereka akan tetap tidak bertenaga.. "
Yamakoto menatap Hiro dan Jiro, di sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah, "hahaha.. hahaha.. teruslah berdansa.. ayo hibur aku lebih lama lagi..! " dia masih bisa tertawa.
Hiro terlihat kesal, "hehehe, padahal tubuh mu sudah dipenuhi dengan luka.. tapi kau masih bisa tertawa.. cih, aku rasa kau tidak mungkin bisa menang menghadapi kami! "
"tidak bisa menang katamu? " Yamakoto tersenyum jahat, "pertarungan antara guru dan murid memang sudah sering terjadi.. tapi.. sejujurnya aku tidak menyangka kalian akan mengkhianati ku.. " ucapnya, "walaupun seperti itu.. sebagai seorang guru.. aku tidak mungkin mewariskan semua kemampuan ku pada kalian.. aku masih punya sesuatu untuk kalian.. "
"sudah cukup main-mainnya..!" Yamakoto mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu mencekam, "sekarang.. lihatlah cara bertarung ku! " kemudian mulai bersiap.
Hiro terlihat serius dengan gigi yang beradu, "Jiro! bersiaplah! aku punya firasat buruk! " ucapnya.
Jiro bersiap dengan menggenggam pedangnya yang kearah depan, "tidak perduli sekuat apa dia.. sekalipun aku terbunuh.. itu sudah tanggung jawab ku sebagai seorang anak.. darah yang bercucuran akan menjadi saksi perjuangan ku untuk membalaskan kematian ibu.. " ucapnya dingin.
Tap.. Tap..
Yamakoto langsung melesat cepat kearah dua lawannya, kecepatannya luar biasa dengan gerakan yang sesekali melompat, sepertinya dia mulai menunjukkan semua kemampuannya.
Wuushh..
seketika itu juga, Yamakoto sudah berada di depan Jiro, dia mengayunkan pedangnya untuk beradu pedang dengan lawan.
Jiro tersentak, tubuhnya masih membeku,"cepat sekali..gawat!!" sepertinya dia sangat terkejut dengan kecepatan Yamakoto.
Trang..
Yamakoto mengarahkan tebasan kearah pedang Jiro yang berada di depan, sementara Jiro masih belum bergerak.
pedang Jiro terlepas dan melayang jauh kebelakang dengan gerakan berputar-putar, kemudian menancap di tanah.
Yamakoto mengangkat pedangnya keatas dan bersiap mengarahkan tebasan kearah Jiro yang berada di depannya, "apa hanya ini yang kau punya?!" ucapnya dengan wajah mencekam, "matilah! " kemudian mengayunkan pedangnya kebawah yang mengarah kepala Jiro.
__ADS_1
"Jiro! " Hiro berteriak sambil mengayunkan pedangnya.
Traang..
pedang Hiro berhasil menahan pedang Yamakoto, kedua pedang itu bertemu dan berbenturan. jika terlambat sedikit saja, mungkin tubuh Jiro sudah terbelah dua.
Hiro menatap Yamakoto yang juga menatapnya, tangannya bergetar dan semakin kebawah, "berat sekali.. aku tidak bisa menahannya.. " batinnya dengan gigi yang beradu lalu menoleh kebelakang, "menjauhlah Jiro! ambil pedang mu!"
Jiro berlari kebelakang dan mengambil pedangnya, sementara Hiro masih saling menahan dengan Yamakoto menggunakan pedang.
Yamakoto terlihat kesal, "dasar lemah! " kemudian melepaskan tendangan datar yang sangat keras.
Baamm..
telapak kaki Yamakoto mendarat di perut Hiro, tubuhn Hiro langsung menekuk seperti hampir patah di bagian perut, matanya melotot dengan iringan teriakan kesakitan, dari mulutnya terciprat sedikit darah.
detik selanjutnya, tubuh Hiro terpental jauh kebelakang, tubuhnya berkali-kali membentur tanah dan memantul ke udara, berguling-guling di pasir dan akhirnya tergeletak lemas di atas tanah.
Yamakoto tersenyum jahat, "hey, hey! padahal aku baru saja mulai bermain serius.. tapi kalian sudah kewalahan seperti ini.. "
Hiro menggerakkan lehernya untuk menoleh kearah Yamakoto, "cih.. aku tidak akan berakhir seperti ini.. " dia terlihat sangat kesakitan dan mencoba kembali berdiri, namun dia seperti sangat kesulitan dengan tangan yang memegangi perutnya.
"aku masih menyimpan tawaran ku.. bagaimana!? apa kau akan menolak bantuan kami? " tiba-tiba Utama muncul dan berdiri di samping Hiro, dia menjulurkan tangannya kearah Hiro, tapi wajahnya memandang kearah Yamakoto.
"aku rasa kalian tidak mungkin mengalahkan dia.. tubuhnya sudah diperkuat.. aku bisa merasakan itu.. jika tidak,seharusnya dia sudah terbunuh dengan luka sebanyak itu dan kehabisan darah..tapi darah di setiap lukanya sangat cepat mengering.." di samping Utama, Hajime berdiri sambil tersenyum, dia memandang kearah Yamakoto, "selain kemampuan berpedangnya yang hebat.. sepertinya kakinya juga cukup berbahaya.. " batinnya dengan wajah serius.
"Hiro! " Jiro berlari kearah Hiro, kemudian merangkul saudaranya itu.
"kalau begitu.. " Hajime tersenyum jahat, "ayo maju! " kemudian berlari kearah Yamakoto.
"hahaha.. jadi kalian berniat menyerbu ku, ya.. " Yamakoto tertawa lepas, "baiklah.. akan ku layani kalian, tunjukkan semua yang kalian punya! "
setelah cukup dekat, Hajime melompat tinggi keatas. ketika tubuhnya mulai ditarik gravitasi bumi, dia berteriak sambil mengarahkan tinju kearah Yamakoto.
Yamakoto tersenyum jahat, "ayo kita lihat sekuat apa tinju mu? apakah tangan mu mampu menahan ujung pedang ku? " ucapnya sambil mengarahkan ujung pedangnya keatas untuk menyambut tinju Hajime.
Hajime terkejut, "sial! aku ceroboh! " Hajime memutar posisinya, kini kedua kakinya yang berada di bawah.
Trang..
Hajime menjepit pedang Yamakoto dengan kedua kakinya, telapak kakinya berada di dua sisi pedang tersebut sehingga tidak bisa bergerak, kemudian mengubah arah ujung pedang tersebut kearah samping.
"gesit juga kau.. " Yamakoto terlihat tenang. "aku akan menghadapi mu dengan tangan kosong! " teriaknya lalu mengayunkan kakinya keatas.
Baamm..
disaat bersamaan, Hajime kembali berputar dan mengepalkan tinju. tinju Hajime dan telapak kaki Yamakoto berbenturan di udara, setelah itu Hajime terhempas keatas dan mendarat jauh di tanah, namun dia masih bisa mengambil posisi jongkok.
Hajime memegangi tinjunya yang langsung berdarah, "sial, tangan ku sakit sekali.. " ucapnya kemudian menoleh kearah Yamakoto, "entah dia yang begitu kuat.. atau aku yang memang kehabisan tenaga.. sial! aku sudah sangat lelah.. "
__ADS_1
Tap..
Utama sudah berdiri di depan Yamakoto dengan santai walau cukup jauh, tangan kanannya masuk kedalam saku dengan tatapan malas.
Yamakoto terlihat kesal, "cih, tatapan mu sangat menjengkelkan! akan ku congkel matamu itu! " kemudian melesat maju dengan pedang yang siap menusuk.
Utama tetap berdiri tenang, "bisakah kau melepas pedang mu? aku tidak menggunakan senjata dan aku rasa itu tidak adil.. " ucapnya datar.
Yamakoto menghentikan langkah, "siapa yang perduli dengan hal itu? tidak ada larangan dalam pertarungan.. " ucapnya sambil tersenyum, "tapi baiklah.. aku juga tidak ingin membunuh mu dengan mudah.. " kemudian menyarungkan kembali pedangnya.
dengan sekali lompatan, Utama sudah berada di depan Yamakoto dengan kaki yang belum menyentuh tanah, dia mengarahkan tinju kearah Yamakoto walau niat tidak niat.
"*lambat! "
Greeb*..
Yamakoto berteriak lalu mencengkram leher Utama dengan erat, tubuh Utama terhenti serta menggantung, namun dia terlihat tetap tenang.
"matilah! " Yamakoto semakin mempererat cengkeramannya sehingga dari leher Utama terdengar suara yang tidak mengenakan.
Utama menatap datar Yamakoto, kemudian mencengkram balik leher Yamakoto dengan kedua tangannya.
Yamakoto menatap Utama dengan wajah geram, "sial.. ternyata memang sulit jika hanya memiliki satu tangan.. "
setelah beberapa saat saling mencengkram, sepertinya Yamakoto kehabisan nafas dan menarik leher Utama kearahnya. begitu juga sebaliknya, Utama menarik leher lawannya kearahnya.
Baamm..
kening Utama dan kening Yamakoto saling menghantam sehingga terdengar suara yang lumayan keras, setelah itu keduanya saling tatap di jarak yang sangat dekat darah mulai mengalir di wajah keduanya, tetapi tidak tahu siapa yang terluka.
"sialan kau..! " tiba-tiba Yamakoto berteriak geram, lalu dengan mudahnya melemparkan tubuh Utama yang tetap tenang, sepertinya Yamakoto sadar bahwa keningnya yang mengalami kehancuran.
Brak..
Utama terjatuh ke tanah, lalu mengusap darah di keningnya yang ternyata tidak ada luka sedikitpun, sepertinya darah tadi berasal dari kening Yamakoto yang pecah.
Yamakoto menatap Utama geram dengan wajah berlumuran darah, "sialan kau..! akan ku bunuh kau.. akan ku bunuh kau..! " dia kembali menarik pedangnya.
tepat di saat itu, tiba-tiba dua sosok bayangan melesat cepat kearah Yamakoto, mereka berlari berdampingan dengan pedang yang siap membelah. mereka berdua adalah Hiro dan Jiro.
Yamakoto menoleh kearah Hiro dan Jiro yang sudah siap membelahnya, secepat mungkin dia mengayunkan pedangnya.
Traang...
terdengar suara pedang yang beradu, tapi masih belum begitu jelas apa yang terjadi. namun, situasi saat ini sangat hening, Hiro dan Jiro sudah melewati Yamakoto, sementara pedang ditangan Yamakoto sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanyalah bekas tebasan di bahu kanannya yang cukup lebar dan langsung dibanjiri darah, tapi dia masih bisa berdiri dengan kokoh.
"uhuk.. uhuk..! " tiba-tiba Hiro terbatuk dan memuntahkan darah, dia menoleh kearah perutnya yang ternyata sudah menancap sebuah pedang, "sial..! " dia terlihat sangat kesakitan.
"Hiro! " Jiro tidak terluka sedikitpun, dia menoleh kearah Hiro dan terkejut.
__ADS_1