
siang itu, dibawah terik sinar matahari,tepatnya dibawah tiang bendera yang berkibar, terlihat dua pemuda sedang berdiri hormat menghadap sang saka. pemuda itu adalah Utama dan Excel yang dihukum, sepertinya mereka melakukan itu sampai waktu pulang.
Utama dan Excel saling menatap, "tidak ku sangka akan berakhir seperti ini. " batin Excel "tapi setidaknya ini lebih baik daripada dikalahkannya! "
"ini lebih membosankan dibanding duduk dikelas. " batin Utama.
Tap Tap
disaat itu, Yana muncul dengan membawa sebotol minuman, entah bagaimana dia bisa keluar, padahal semua orang sekarang berada di kelas.
Yana menatap Utama sambil tersenyum, "panas, ya..ini minuman spesial untuk mu! " Yana memberikan minuman itu pada Utama yang menolak, tapi Yana tetap memaksa Utama yang akhirnya menerima.
Utama tidak menoleh Yana, "ini semua terjadi gara-gara mulut seorang wanita.! " ucapnya.
"kau menyindirku? " tanya Yana.
"aku tidak bermaksud seperti itu, jika kau merasa, baguslah! " ucap Utama datar.
Yana tersenyum, dia semakin mendekatkan diri dengan Utama, "aku melakukan itu.. karena aku mencemaskan mu. " dia berbisik. "jika tidak, mungkin kau sudah babak belur sekarang. " dia tertawa kecil.
Utama melirik Yana, "sepertinya kau lupa kalau orang-orang mu pernah hampir mati ku hajar. " ucapnya.
Excel menatap botol minuman yang dipegang Yana, "hey, Yana! kenapa kau hanya membawa minuman satu saja? aku 'kan juga haus. " dia menelan ludah.
"kalau aku memberi mu juga, bukan spesial namanya.. " Yana tersenyum lalu meneguk minuman itu, sepertinya dia sengaja.
"kupikir itu hanya untuk pecundang ini, ternyata dia juga meminumnya. " batin Excel terlihat kesal.
Excel menatap Yana yang begitu perduli pada Utama, "hey, Yana! kenapa kau begitu perduli pada orang ini? dia tidak pantas untukmu! "
Utama menatap Yana, "itu benar! aku juga berharap kau membenciku! "
Yana tersenyum, "jadi kau berharap agar aku membencimu, ya.. itu tidak akan terjadi! semakin kau menjauh, aku semakin mengejar mu! " ucapnya.
Excel tersenyum,"ya, ampun.. mungkin ini yang dimaksud dengan cinta mati. " batinnya.
Utama menghela nafas, "baiklah! aku tidak akan memaksamu membenciku, tapi setidaknya jangan pernah mencampuri urusan ku! "
"jika kau ingin aku tidak mencampuri urusan mu, tetaplah di sampingku! berhentilah berpura-pura tidak mencintai ku! " jawab Yana cepat, dia terlihat serius.
"kenapa dia jadi membahas percintaan?" batin Utama.
Utama tersenyum, "baiklah kalau kau memaksa, aku sendiri yang akan membuatmu membenciku. sampai kapan kau bisa bertahan? "
matahari sudah berada tepat di atas bersama waktu yang semakin jauh, Bel berbunyi menandakan waktu pulang, semua murid pun meninggalkan tempat dimana mereka setiap hari menimba ilmu.
"bisa-bisanya mereka meninggalkan ku. " gumam Utama sambil berjalan sendiri, sepertinya kedua temannya sudah duluan.
Utama sudah sampai di rumah, dia tidak melihat Hajime disitu.
"sepertinya dia ke rumah Randa. " Utama mengganti seragamnya, lalu bergegas ke rumah Randa.
Utama sudah sampai di depan rumah Randa, tanpa mengetuk dia langsung masuk. Utama mendengar suara Randa dan Hajime yang sedang berbincang, sepertinya mereka berada di ruangan tempat mereka sering berkumpul.
"kenapa mereka jadi semakin akrab? apa aku sudah tersisihkan? dasar tidak setia kawan! " gumam Utama lalu masuk keruangan tersebut.
__ADS_1
"eh!? kau Utama! " Randa sedikit terkejut. "maaf, kami meninggalkan mu! "
Hajime tersenyum, "aku memintanya mencari tahu lokasi tempat pimpinan tiger white berada, aku sudah tidak sabar ingin menghabisi mereka. " Hajime menunjuk Randa yang berada di depan layar komputer.
"lalu..? " sahut Utama.
"kau bisa lihat sendiri! " Hajime menunjuk layar komputer.
Utama melihat layar komputer dengan seksama, "jadi sebuah bar, ya.. " ucapnya menatap Randa.
Randa tersenyum, "kemungkinan besar besok malam dia berada di bar,mungkin melakukan transaksi. "
Randa mengganti gambar layarnya, disitu terlihat gambar lambang tiger white, yaitu kepala macan putih yang dihiasi dua bilah pedang.
"kalian lihat! selain ketua dan wakil ketua tiger white, gambar pedang ini melambangkan dua pengguna pedang yang sangat berbahaya, yang aku dengar mereka Duo yang sangat ditakuti. " Randa terlihat serius.
"benarkah? sepertinya ini akan menyenangkan! " Hajime tersenyum.
"ini menurut data yang aku dapat, tapi aku juga tidak pernah melihat orang-orang ini. " ucap Randa.
Utama tersenyum, "sepertinya kau lumayan hebat dalam bidang teknologi. " dia menatap Randa.
"begitulah, jika aku memiliki uang yang sangat banyak, mungkin aku sudah melanjutkan apa yang ditinggalkan kakekku ini.! " Randa terlihat lesu sambil memandang sekeliling.
keesokan harinya...
Utama, Randa dan Hajime sudah sampai di sekolah, mereka berjalan menuju kelas.
disaat itu, Bobo berlari kearah mereka, dia terlihat ketakutan.
"hey, kak Utama! tolong aku! " teriak Bobo.
"kau lagi, kau lagi.ups.! " Randa melihat sekeliling, dia takut kalau Shinta tiba-tiba muncul. "sialan, entah kenapa setiap kali aku melihat anak ini rasanya menjengkelkan.. untung saja tidak ada kakaknya.! " batinnya.
Hajime menatap Bobo, "kalau minta tolong jangan disini! kami bukan polisi. "
"siapa yang meminta tolong padamu? aku hanya menyebut nama kak Utama." jawab Bobo lantang.
Hajime tersenyum jahat, "padahal penampilan mu culun sekali, tapi ternyata kau cukup bernyali. "
"kak Utama dulu dikenal pecundang! sekarang mulai ditakuti! " jawab Bobo.
Randa menatap Hajime, "hey, Hajime! jaga sikapmu! dia adik dari Shinta. " ucapnya terpaksa.
"Shinta!? siapa dia!? " tanya Hajime.
"wanita yang kau temui di kantin semalam. " jawab Randa.
"apa!? " Hajime menoleh Bobo,"tidak ku sangka wanita seperti dia memiliki adik yang berambut seperti mangkuk ini. " batinnya.
Bobo menatap Utama, "kak Utama! tolong aku! aku dipaksa teman sekelas ku untuk ikut bergabung dan menyerang tiger white nanti malam.! "
"apa!? tiger white!?" Randa terkejut.
Utama menatap Bobo, "Jangan-jangan.. " batinnya.
__ADS_1
"kalau begitu beritahu aku siapa yang mengganggu mu! " ucap Hajime sambil tersenyum.
Randa melirik Hajime, "begitu tahu kalau anak culun ini adik Shinta, dia langsung bersemangat. " batinnya.
Tap Tap
terdengar suara langkah kaki.
"aku yang memintanya untuk bergabung dengan kami! aku tidak memaksanya.. hanya saja dia menolak, tidak salah menggunakan sedikit kekerasan, bukan? " saat itu muncul Alan yang tersenyum, dibelakangnya terdapat banyak orang.
Hajime tersenyum menatap Alan, "jadi kau anak yang waktu itu, ya... tidak ku sangka kau berbuat sejauh ini. "
Utama berjalan mendekati Alan, "jika kau ingin membalas dendam, jangan libatkan orang disekitar mu! " ucapnya datar.
Alan tersenyum jahat, "memangnya kau mau apa? "
"Alan! apa kau sudah gila!? menghadapi tiger white sama saja dengan cari mati! " Randa berteriak.
Alan menatap Bobo, "sudahlah, aku tidak akan mengajak pecundang sepertimu! anggap saja aku tidak berbicara apa-apa. " dia membalikkan badannya.
"oh, jadi kau adiknya Alex, ya. " tiba-tiba Shinta berucap, entah sejak kapan dia disitu. "pantas saja tingkah mu sama dengan orang tidak berguna itu. " dia terlihat sangat marah sambil mendekati adiknya.
"wanita ini.. padahal semalam dia terlihat sangat tenang.. tapi sekarang kenapa jadi menakutkan? " batin Hajime.
Randa terkejut melihat Shinta, "ya, ampun, sejak kapan wanita ini berada disini! untung aku tidak salah bicara. " batinnya.
Alan terlihat geram, "tutup mulut mu! " matanya juga melotot tajam kearah Shinta.
"hey, Kak Shinta! sebaiknya kau jangan menyebut-nyebut orang yang sudah mati! " Randa berucap.
Shinta menatap Randa, "apa maksudmu!? Alex... " dia tersentak bersama raut wajahnya yang langsung terlihat sedih.
Alan menatap Randa dengan tajam, "tidak adakah kata yang lebih halus selain mati? "
"ya,ampun..anak ini sangat menakutkan.!" batin Randa mundur beberapa langkah.
saat itu, Shinta pergi meninggalkan tempat itu, sepertinya dia sangat sedih.
"kakak! kenapa kau meninggalkan ku!? masalahnya belum selesai! " teriak Bobo namun Shinta tidak perduli.
semua orang memandang Shinta, "dia kenapa? " tanya Hajime.
"mungkin dia terkejut karena kehilangan teman sekelasnya. " ucap Bobo.
"tidak! aku rasa ini lebih dari sekedar teman. " Randa terlihat serius. "begitulah.. walaupun lelaki itu terlihat tidak berguna, namun dia pernah mengisi kekosongan hati seorang wanita.. maka hidupnya begitu berarti.. dan lagi. mungkin Shinta mencintai Alex dengan segenap jiwa dan raganya. begitu juga dengan Alex.. tapi mungkin saja mereka tidak berjodoh, mereka ibaratkan langit dan bumi, sampai kapan pun tidak pernah bersatu.. " Randa membual dengan ekspresi menyedihkan, matanya juga berkaca-kaca.
semua orang menatap Randa dengan wajah serius, sepertinya mereka menantikan kelanjutan dongeng Randa.
Utama melirik Randa, "kau ini bicara apa?"
Randa menatap Utama, "eh!? aku terlalu banyak bicara, ya.. maaf, maaf! " kemudian menggaruk kepala.
Alan mulai melangkah pergi, "aku tidak punya waktu mendengarkan ocehan orang-orang seperti kalian. " ucapnya. "ayo teman-teman! " dia pergi bersama dengan yang lain.
Hajime memandang Alan,"jadi mereka akan menyerang tiger white nanti malam, ya.. "
__ADS_1
"itu artinya.."sahut Randa.
"diwaktu yang sama saat kita menghabisi ketua tiger white.. " lanjut Utama.