
setelah cukup lama belajar, terdengar bunyi Bel yang menandakan waktu istirahat.
"hari ini cukup sampai disini, ibu izin pamit. " Bu Patmi meninggalkan kelas.
semua murid meninggalkan kelas, lapar dan lelah memaksa mereka untuk segera sampai ke kantin.
"aku tidak mengerti, setiap kali belajar matematika pasti terasa lebih lapar. " ucap Randa dengan ekspresi lelah.
Utama tidak merespon, dia terlihat sangat malas.
"hey, Utama! apa kau tidak ke kantin? " Randa bertanya.
"kau pergi saja duluan! sebentar lagi aku menyusul. " jawab Utama. "makan dan makan, padahal aku tidak pernah selera. " batin Utama.
Randa pergi meninggalkan kelas, sementara Utama duduk di kursinya. setelah beberapa saat, Utama pun keluar.
masih sampai didepan pintu, Utama melihat Hajime berjalan kearahnya, mata tajamnya terlihat sangat tumpul saat ini, dia seperti tidak memperhatikan Utama.
"cih, rencana apa lagi yang kau mainkan? " batin Utama.
Utama berjalan ke arah Hajime yang juga berjalan kearahnya, keduanya sama-sama membuang wajah layaknya tidak ada masalah.
Tap
Utama dan Hajime sudah semakin dekat, dan saat keduanya berpapasan..
Baaam
secepat kilat Hajime bergerak, dia mengayunkan kakinya tinggi kearah kepala Hajime. namun, Utama dengan mudahnya menangkis tendangan keras Hajime, dia sudah menduga hal itu.
Utama masih mencengkram kaki Hajime, "seharusnya kau tahu 'kan? apa yang terjadi jika kita bertarung disini.! " Utama terlihat serius.
Hajime tersenyum, " bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau semua ini hanyalah imajinasi? untuk apa kau memperdulikan mereka? " ucapnya.
Utama terdiam, sepertinya dia juga bingung dengan kenyataan ini.
Utama melihat sekitar yang ternyata sepi, kemudian mendorong tubuh Hajime hingga terjatuh.
"kejar aku kalau kau bisa! " ucapnya berlari, kemudian melompat dan menghilang.
Hajime berdiri, " sial! jangan berpikir kau bisa kabur! " teriaknya kemudian mengejar Utama.
setelah cukup lama mengelilingi area sekolah untuk menghindari Hajime, Utama masuk ke toilet,"sepertinya disini aman. " ucapnya. "merepotkan sekali! entah sampai kapan aku bisa menghindar. " lanjutnya dengan mata yang mengintip arah luar.
"Utama? sedang apa kau disini!? " tiba-tiba terdengar suara wanita.
"eh!? siapa? " Utama menoleh kebelakang, ternyata ada Yana yang sedang tersipu malu.
Utama menepuk keningnya, "dia lagi, dia lagi. " batinnya.
Utama memasang ekspresi super cuek, "sedang apa kau disini? " tanyanya.
Yana tersenyum manis, "seharusnya aku yang bertanya padamu.. " ucapnya. "aku yakin kau sedang tidak salah toilet, hanya saja kau ingin berduaan denganku. " lanjutnya dengan pipi memerah.
"salah toilet!? " Utama memandang sekeliling,"ya, ampun. ternyata aku yang salah.. sebagai tokoh utama, ini cukup memalukan.! " batinnya.
__ADS_1
Yana terus melangkah mendekati Utama," berduaan dengan Utama.. itu situasi yang kuinginkan. " batinnya.
"sebenarnya kau masih menyukaiku 'kan? aku bisa melihat itu dari matamu. " Yana semakin berani.
"mataku? memangnya apa yang kau lihat di mataku..? Utama bertanya agak kesal.
Yana mendekatkan bibirnya ke telinga Utama, " aku melihat masa depan kita berdua yang indah. " ucapnya lembut.
Utama sedikit salah tingkah, "jawaban macam apa itu? kau membuatku bingung. " ucapnya.
Yana tertawa manja, "kau benar-benar lucu, kau masih sama dengan yang dulu. " ucapnya.
Utama terdiam, "masih sama dengan yang dulu? " batinnya kemudian ekspresi kembali datar.
Utama menghela nafas panjang, kemudian menatap mata Yana dengan serius. " Yana! menjauh dariku! aku tidak pernah menyukaimu. " ucapnya.
Yana tertawa kecil, "jangan berkata begitu! ciuman pertama ku sudah ku berikan untukmu. dan kau juga tidak menolaknya. " ucapnya.
"terserah kau saja! tapi jika kau masih menggangguku..aku tidak bisa menjamin untuk tidak menyakitimu." Utama membalikkan badannya.
Yana terdiam, wajahnya melukiskan jika hatinya tersakiti, "pengganggu? aku pikir dia sudah kembali seperti yang dulu.. ternyata aku salah.. dia masih tetap saja bersikap dingin.. Utama, aku ingin kau yang dulu.. " batinnya terasa pedih, matanya mulai berkaca-kaca.
"dan satu lagi.. " Utama melanjutkan. "jangan pernah menyuruh orang-orang mu untuk memberikanku bunga! itu sangat menyebalkan bagiku." ucapnya lalu pergi meninggalkan Yana sendiri.
"bunga!? " Yana bergumam pelan sambil berpikir. "Yoro! Yara! apa yang kalian lakukan!? awas saja kalau aku bertemu kalian.! " setelah mengerti, Yana berteriak histeris, mungkin sebentar lagi toilet ini akan ramai karena mendengar jeritan wanita itu.
disisi lain, Utama sudah berada di depan kantin, "sepertinya serigala itu sudah tidak mengejar ku. " gumamnya sambil menatap sekeliling.
Tap
"nyam, nyam, nyam.. daging ini enak sekali. " terlihat Hajime sedang menikmati makanan yang menunjukkan kalau dia karnivora, di meja makannya terdapat piring yang menumpuk, entah sudah berapa porsi yang dia makan. "hey, pesanan ku mana? kenapa lama sekali? " teriaknya.
"iya, sebentar.! " jawab pemilik warung, wajahnya memperlihatkan kalau dia sudah bosan. "awas saja tidak bisa bayar! ku bunuh kau serigala! " mungkin kata-kata itu yang terucap dalam hatinya saat ini. tidak, tidak, tidak, pemilik warung tidak tahu kalau Hajime serigala.dan... lupakan saja.
Utama menatap Hajime, "sepertinya jika aku berhasil dikalahkannya.. aku yang akan menggantikan ayam goreng itu. " batinnya.
keesokan harinya, lebih tepatnya minggu pagi..
"tidak bisakah kau mengganti siaran lain? " ucap Utama pada Randa.
Randa tidak merespon, saat ini keduanya sedang menonton anime kesukaan Randa, dan tentu saja remote di genggam Randa kuat-kuat.
"seandainya hari minggu ada tiga kali dalam seminggu.. pasti menyenangkan. " ucap Randa.
Utama melirik, "ya, ampun, dia terus mengabaikan ku. " batinnya.
Tok Tok
tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Utama dan Randa saling menatap.
"sepertinya ada orang yang salah alamat. " ucap Randa.
Utama dan Randa berjalan keluar, kemudian membuka pintu. didepan pintu berdiri dua orang wanita, yang satu sudah lanjut usia, dan yang satunya lagi berusia sekitar 25 tahun, di lihat dari kemiripan wajah mereka yang cantik, sepertinya mereka anak dan ibu.
"siapa!? " Utama menatap Randa yang juga terlihat bingung.
__ADS_1
"siapa katamu? " tiba-tiba wanita muda itu berucap ketus.
"sudah, sudah.. ayo masuk! " wanita tua itu melerai, kemudian masuk dengan tanpa bersalah.
Utama menatap Randa sekali lagi, tapi ekspresi Randa terlihat lebih bodoh dari yang tadi, sepertinya dia tidak tahu apa-apa.
Utama menatap wanita muda yang berdiri dihadapannya, "apalagi ini? " batinnya.
"ayo masuk! ibu sudah didalam. " ucap wanita itu kemudian berjalan masuk. "tenang saja, kami tidak akan lama. " lanjutnya.
Utama dan Randa masuk walau masih bingung, kemudian duduk rapi bersama dengan kedua wanita itu.
"bagaimana sekolah mu? tidak ada masalah bukan? " tanya wanita muda membuka pembicaraan.
"tidak! tapi.. kau ini siapa, ya.? " Utama bertanya balik.
"apa maksudmu? kau melupakanku? aku kakakmu bodoh! " awalnya wanita muda itu hanya melihat Utama dengan wajah menakutkan, tapi akhirnya dia memukul kepala Utama.
Utama memegang kepalanya walau tidak sakit, "dia kakakku? wanita ini lebih menakutkan dari hantu. " batinnya.
"sudah! sudah lama tidak bertemu malah berkelahi, apa kalian tidak rindu.? " wanita lansia melerai.
wanita tua ini bernama Airin, dia adalah ibu Utama, dan wanita muda itu adalah Yanti, kakak tertua Utama.
Utama dan Randa masih terdiam, mereka tahu kalau menghadapi wanita takkan pernah menang.
"Utama, ibu sudah membayar uang sekolah mu sampai tamat. " ucap Airin. "tapi... mulai sekarang, kau harus mencari hidupmu sendiri! " lanjutnya.
"jangan mengeluh! jika dibandingkan dengan Jimmy, kau jauh lebih beruntung.. lagipula sudah seharusnya kalau anak laki-laki itu mandiri. " sahut Yanti.
Utama melirik Yanti dengan ekspresi kesal, "wanita ini.. dia seperti tahu saja apa yang kupikirkan. " batinnya.
"Utama.. kau harus menjadi laki-laki yang hebat! kau harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab! " Airin terlihat sedih. "ibu yakin dengan hidup mandiri.. kalian tidak akan seperti ayahmu. " lanjutnya.
"Yanti, ayo pergi! nanti kita terlambat.! " Airin berdiri.
Yanti juga berdiri, "ayo! nanti kita terlambat sampai bandara. " dia tersenyum.
Yanti menatap Utama dengan wajah jahil, "jaga dirimu baik-baik adikku sayang! kakak liburan dulu ke Paris. " ucapnya sambil tersenyum. "dan satu lagi.. sepertinya Jimmy dalam waktu dekat ini akan datang. " Yanti berhenti sejenak.
Airin dan Yanti meninggalkan tempat itu tanpa pamit, seketika suasana hening karena Utama dan Randa terbodoh, sampai-sampai suara nyamuk juga terdengar.
"ke Paris? dia berkata akan ke Paris? " Randa membuka pembicaraan. "kau benar-benar menyedihkan Utama, memiliki kakak yang hanya bisa membuatmu iri. " lanjutnya.
Utama masih terdiam, dia seperti malas mendengarkan ocehan Randa.
"jika dibandingkan dengan keluarga, mereka lebih mirip orang yang salah alamat. " ucap Randa.
"kau benar! mereka disini tidak lebih dari sepuluh menit, dan pergi tanpa pamit. tapi.. " Utama menoleh kearah Randa dengan wajah menakutkan.
Randa menoleh, "jangan berekspresi seperti itu! kau membuatku takut. " ucapnya.
"bukankah kau pernah berkata kalau kau bersahabat denganku sejak kecil!? kenapa kau tidak mengenal mereka! ayo jawab! " Utama berteriak sambil men goyang-goyang kan tubuh Randa.
"oh, saat aku berkelahi dengan Amoy, ya? aku berkata seperti itu karena aku menonton di anime.. jika bertarung untuk sahabat kekuatan akan bertambah, tapi ternyata aku tetap kalah. " ucap Randa sambil tersenyum bersalah.
__ADS_1
Utama melirik, "ya, ampun, mungkin ini yang dinamakan Wibu. " batinnya.