Tokoh Utama

Tokoh Utama
tentang perasaan.


__ADS_3

"bukankah ini sudah terlalu berlebihan? " Utama mencengkram tangan Alan dan Mika.


"Kreeek.." cengkraman itu begitu keras.


Alan kaget melihat sosok yang sering dipecundangi kini muncul dihadapannya, "orang ini? bukankah dia Utama anak kelas 11c, kenapa dia jadi sekuat ini?" batinnya.


Mika juga terkejut, "orang ini! sejak kapan dia berada disini? " batinnya.


saat ini, semua mata terkejut menatap kejadian yang tidak terduga ini, tidak ada yang bersuara sedikitpun.


"dia? dia anak yang waktu itu menghajar ku! " batin Dongo. "walaupun dia berhasil mengalahkan ku, tapi mustahil untuk mengalahkan Mika. " lanjutnya.


Randa juga terkejut, "Utama! sejak kapan dia? " batinnya.


sesaat kemudian, Alan mencoba melepaskan cengkraman tangan Utama. "menyingkir! lalat pengganggu! aku tidak butuh bantuan pecundang seperti mu." ucapnya.


Utama melirik, "oh, ya, baiklah. " Utama melepaskan tangan Alan.


Mika tetap tenang, matanya menatap tajam Utama. "menarik, sepertinya kau berniat bergabung. " kemudian tersenyum jahat.


"maaf! aku tidak tertarik dengan permainan kotor seperti ini. " jawab Utama datar.


disaat itu, Alan yang dari tadi terlihat kesal, melompat tinggi dengan pisau yang mengarah leher Mika.


"kau lengah..! " teriak Alan.


Mika terkejut," sial, kau bermain licik! " kemudian menghantamkan lututnya ke perut Utama untuk melepaskan cengkraman itu. walaupun tangan Mika terbebas, namun pisaunya juga lepas dari genggamannya.


Utama tidak terlempar, namun tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Mika menoleh kearah Alan, namun pisau Alan sudah hampir menggesek lehernya.


"mati kau..! " Alan berteriak semangat.


"gawat..! Mika berbicara dalam hati.


walaupun hampir telat, Mika masih sempat menghindar, namun pipinya masih tergores pisau milik Alan.


detik kemudian, dengan penuh amarah Mika menendang perut Alan. tendangan itu begitu keras dan cepat, Alan tidak sempat bereaksi, rasa sakit membuat matanya hampir copot bersama dengan darah yang muncrat dari mulutnya.


tubuh Alan terhempas jauh, lalu menabrak benda yang ada dibelakangnya.


Mika berjalan kearah Alan, "sialan! kau harus membayar semua perlakuan mu! " sambil menjilati darah di pipinya.


Alan mencoba untuk berdiri sambil menahan rasa sakit, "aku tidak boleh kalah! aku pasti bisa membalas dendam kak Alex. " batinnya. namun,saat setengah berdiri, dia sudah terjatuh lagi.

__ADS_1


"jadi kau sudah tidak sanggup berdiri, ya. menyedihkan. " Mika sudah berada di depan Alan. "aku ingin lihat, apakah ada orang yang akan menolong mu? " lanjutnya.


"jadi kau berniat menghabisi anak ingusan ini, ya. " Utama mendekati Mika.


"ya, salah siapa dia terlalu berani.? " Mika mencengkram baju Alan kemudian mengangkatnya.


"kau sudah membuat kakakku cacat seumur hidup! terlalu berani katamu? " Alan berteriak sambil meronta.


"Alex, ya. pantas saja kau terlalu lemah, ternyata kau adik dari orang lemah itu." Mika melemparkan tubuh Alan. " walaupun sudah tahu kalah tetap berani maju, aku menghargai keberanian kalian. " lanjutnya.


Alan kembali berdiri,disudut matanya terlihat bulir-bulir air, " jangan pernah kau menghina Alex!... dan jangan pernah kau meremehkan ku..! " teriaknya lalu berlari kearah Mika.


"bagus! sepertinya kau ingin bernasib sama seperti Alex. " Mika mempersiapkan kuda-kuda untuk menyambut Alan.


TAP TAP


Alan melompat sambil mengarahkan tinju ke wajah Mika yang juga melesatkan tendangan keras.


"bodoh! " Utama menangkap tubuh Alan sebelum kedua pukulan itu berbenturan. selanjutnya, Utama menjaga jarak dengan Mika.


"sialan! sepertinya aku harus memberimu pelajaran! " Mika terlihat kesal.


"maaf! saat ini aku tidak tertarik dengan mu. " jawab Utama datar.


"tidak tertarik katamu!? " Mika menatap tajam Utama, "kau berbicara seolah kau jauh lebih kuat dari ku. " dia memasang wajah yang menyeramkan.


"hahaha,diselesaikan baik-baik!? kau membuatku tertawa. " Mika tertawa.


"aku hanya berpikir kalau lebih baik kau tidak menghabisi anak ini, menang malu, kalah juga begitu. itu hanya akan membuatmu terlihat rendah. " Utama sok pintar.


"apa yang membuat mu berpikir seperti itu,hah? " bantah Mika.


drrrrtt drrrrtt


tiba-tiba handphone Mika bergetar, kemudian dia melihat isi pesan itu. setelah beberapa saat, dia kembali menaruh handphone itu di sakunya.


"sebentar lagi ada pertandingan antar sekolah, bukan? aku rasa itu adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. " Mika berucap dengan datar.


mendengar ucapan Mika, semua temannya terkejut, "hey, Mika, kau bicara apa.? " salah seorang berucap. " kenapa tidak kau habisi saja mereka.? " sambung yang lain.


Mika mengambil nafas dalam, "maaf teman-teman, aku bukanlah teman satu SMA kalian lagi, aku juga tidak terlalu tertarik dengan permainan seperti ini. aku.. aku hanya ingin melindungi kalian. yah, itu saja. " Mika tersenyum tulus.


semua orang terkejut, mereka terlihat tidak percaya dengan perkataan yang baru diucapkan Mika.


Mika menoleh kearah Alan, "dan kau..! jika sudah memiliki kekuatan, temui saja aku, aku siap melayani mu! " ucapnya.

__ADS_1


Mika berjalan beberapa langkah, kemudian melirik Utama, " aku yakin kau cukup berbakat dalam bertarung. jika kau berminat, bergabunglah bersama kami di Tiger white! " Mika terlihat serius. " jika kau menolak, suatu saat kita pasti bertarung, ditempat sepi tanpa pengganggu. " lanjutnya lalu kembali berjalan.


"terserah kau saja! " jawab Utama pelan.


"hey, mau kemana? ayo hadapi aku! " Alan berteriak, namun Mika sudah tidak perduli.


Alan berlari mengejar Mika, "hey, tunggu! aku belum selesai dengan mu! " teriaknya.


Utama menghalangi langkah Alan, "berhenti bersikap bodoh! "


Alan tidak perduli, "menyingkir, kau tidak tahu apa-apa tentang ku! " dia mencoba menerobos.


"merepotkan! " kemudian Utama memukul perut Alan yang langsung tersungkur.


setelah Mika sudah tidak terlihat, teman-temannya juga pergi meninggalkan tempat itu.


"aku tidak tahu tentang perasaanmu, tapi jika kau seperti ini, kau hanya akan menambah penderitaan Alex, jika kau bernasib sama dengannya, itu akan membuatnya merasa semakin tidak berguna.. " Utama menenangkan Alan. "jika kau ingin balas dendam, buatlah dirimu kuat, tidak perduli berapa lama, dendam tetaplah dendam, dan pastikan kau bisa mengalahkannya. mungkin itulah yang diharapkan Alex.. " lanjutnya.


Alan terdiam, dia menundukkan kepalanya sehingga raut wajahnya tidak terlihat.


"*ya, dia benar! tindakanmu ini hanya akan menambah derita Alex. "


"Alex saja tidak sanggup, seharusnya kau berpikir sebelum maju. "


"jika ada Alex, mungkin tidak ada kejadian berbahaya seperti ini*. "


Dongo dkk mengiyakan.


"Alex, Alex, Alex.. kalian berbicara seolah kalian paling mengerti tentang perasaannya " Alan mengangkat kepalanya lalu berdiri. "pecundang seperti kalian tidak pantas berbicara tentang dia! dia... walaupun dia tahu tidak mungkin menang melawan Mika,dia tetap berani maju demi nama sekolah kita, dia bertarung demi kalian semua..! " Alan berteriak histeris.


mendengar ucapan Alan, Dongo dkk terdiam bersama kepalanya yang tertunduk. walaupun wajah mereka tidak terlihat, tapi keheningan saat itu menandakan sedang ada kesedihan mendalam.


"demi nama sekolah katamu? hal semacam ini hanya akan mencemarkan nama baik sekolah, ternyata kau benar-benar masih anak-anak. " Utama memecah keheningan.


Alan mendekati Utama, "orang yang selalu disebut pecundang seperti mu, tidak akan mengerti hal semacam ini. " ucapnya pelan. " dia satu-satunya orang yang membuat seluruh siswa bergabung. berakhir seperti itu juga tidak masalah baginya, yang penting semuanya bisa bersatu.. " lanjutnya.


"aku memang tidak mengerti maksudmu, tapi jika bersatu untuk berkelahi aku rasa itu tidak ada gunanya. " sahut Utama.


"sepertinya memang tidak berarti berbicara dengan mu. " Alan pergi meninggalkan tempat itu.


Dongo dkk menatap wajah Utama, kemudian mereka juga pergi meninggalkan tempat itu. kini tinggallah Randa dan Utama.


Randa menghampiri Utama, "aku memang senang sekarang kau sudah lebih bernyali, tapi kau yang sekarang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. " ucapnya. "jika sebelum amnesia, kau pasti tahu cara memahami tanpa orang itu mengatakannya. " lanjutnya.


"jadi aku salah bicara, ya? " Utama tersenyum.

__ADS_1


"tidak, kau tidak salah! hanya saja kau berbicara di waktu yang tidak tepat. " jawab Randa.


__ADS_2