
Hajime masih diam ditempat, dia terus memandangi pertempuran yang ada dihadapannya dengan serius, "sepertinya kedua orang itu bukan orang sembarangan! " dia memandangi Jiro dan Hiro yang baru saja datang. "mungkin ini saatnya aku bertindak. "
Hajime bersiap melompat, namun tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, "tidak! Utama berkata aku tidak boleh bertindak sebelum dia datang.. " gumamnya. "tapi kalau seperti ini.. kalau aku terus menunggu Utama yang tidak tahu kapan datangnya... mungkin Alan akan mati sia-sia. "
"kalau begitu...aku lebih baik turun.!" Hajime bersiap melompat ke bawah.
Tap
"kenapa kau begitu gegabah?" tiba-tiba Utama mendarat di atas gedung di tempat Hajime berpijak.
Hajime menoleh Utama, "kenapa kau lama sekali? "
"seperti biasa, aku selalu memerlukan sedikit waktu. " jawab Utama datar.
Hajime memandang ke bawah, "bagaimana ini? Alan sudah sangat terdesak.! "
Utama menoleh ke bawah, "kita hanya bisa melihat! kesombongannya lah yang mengakibatkan dia berada di situasi sekarang. "
"siapa kedua orang itu? sepertinya mereka cukup hebat." Utama memandang Jiro dan Hiro.
"mereka baru saja muncul, kalau dilihat dari reaksi orang-orang tiger white, sepertinya mereka sangat ditakuti. " jawab Hajime.
"sangat ditakuti? " Utama terus menatap Jiro dan Hiro, "aku ingat! Randa pernah berkata selain Joko dan Hoki, ada dua pengguna pedang yang sangat hebat! sepertinya yang dimaksudnya kedua orang ini. "
Jiro dan Hiro menatap Alan, "jadi ini.. orang yang membunuh anggota tiger white secara perlahan. ternyata dia hanyalah anak-anak! " ucap Jiro sambil tersenyum.
Alan menatap kedua orang itu dengan tajam, "siapa pun yang menghalangi ku membunuh orang itu! dia juga akan ku bunuh! " Alan menunjuk Mika.
Hiro melirik Mika, "sepertinya kau memiliki dendam pribadi pada orang itu! tapi sebaiknya kau urungkan saja niat mu itu dan pulanglah! " kemudian menatap Alan.
Jiro menatap Mika sambil tersenyum, "kenapa dirimu? kau terlihat sangat ketakutan. "
Mika mendekati Jiro, "tolong aku kak! orang itu sangat kuat, aku tidak bisa mengalahkannya. " ucapnya dengan mengiba.
"hahaha, untuk apa tubuh besar mu itu? menghadapi anak kecil saja kau tidak sanggup.! " Jiro tertawa.
"kakak jangan meremehkannya! lihat! orang yang tergeletak ini semua ulahnya.! " Mika menunjukkan orang-orang yang tergeletak.
Jiro memandang ke sekeliling, kemudian menatap Alan, "sepertinya kau memang lumayan, kalau begitu aku tidak perlu sungkan! " dia terlihat sangat menakutkan.
Mika tersenyum, "bagus! Jiro sudah terpancing, kalau begitu aku sudah aman. " batinnya.
Jiro menatap Alan sambil melangkah, "baiklah, karena orang yang ingin kau bunuh adalah rekanku, aku akan melindunginya. " Jiro tersenyum jahat, "jadi... kau harus membunuhku terlebih dahulu. "
"Jiro,kau tidak perlu menggunakan kekerasan! dia hanyalah anak-anak,mungkin kita bisa mengajaknya bicara." Hiro menahan.
Jiro menoleh Hiro, "bicara dengannya? kau tidak melihat begitu banyak orang tewas karena dia. " dia kembali melangkah. "kau terlalu lembut Hiro. "
Hiro tidak bisa bicara, dia hanya menatap Jiro yang mulai bergerak.
Alan menatap Jiro, "sepertinya aku memang harus membunuhmu terlebih dahulu! " dia juga bersiap.
Tap Tap
__ADS_1
"majulah! " Jiro berlari ke arah Alan, ditangannya melekat katana yang siap memenggal.
"aku datang! " Alan berlari ke arah Jiro, samurai ditangannya siap menebas lawan.
keduanya berlari, setelah itu melompat tinggi ke atas sambil mengayunkan senjata mereka.
Ting
samurai Alan beradu dengan katana Jiro di udara, "kau akan mati! " teriak Jiro lalu berputar sekali sambil melesatkan tendangan yang mendarat ke perut Alan.
Alan terhempas mundur, tubuhnya terseret di pasir, kemudian dia menancapkan samurainya ke tanah untuk menahan tubuhnya.
Alan kembali berdiri dan menatap Jiro, " orang ini memang sangat cepat! aku harus berhati-hati! " batinnya.
Jiro menatap Alan, "aku pikir kau cukup hebat, ternyata sangat lemah. " ucapnya tersenyum.
Hajime dan Utama masih di atas gedung, "bagaimana ini? sekarang sudah saatnya kita membantu Alan! " ucap Hajime.
"kenapa kita harus membantunya? " tanya Utama datar.
Hajime menatap Utama kesal, "apa maksudmu? dia bisa mati jika kita tidak membantunya.! "
"bukankah itu bagus? dia selalu membuat masalah,lagipula kau juga tidak menyukainya." ucap Utama datar.
Hajime menundukkan kepalanya, "aku memang tidak menyukai dia, tapi aku mengerti perasaannya, dia.. dia hanya ingin membalas dendam. " Hajime mengangkat kepalanya.
"kenapa kau berbicara tentang perasaan? kau 'kan tahu aku tidak punya perasaan. " ucap Utama datar.
"aku tahu kau memang berbeda dengan ku, kau tidak bisa merasakan sakit sedikit pun. " ucap Hajime. "tapi kenapa kau bersikap perduli? dan dilain sisi kau begitu tidak perduli?...untuk apa kita bertarung malam ini? "
Hajime menatap Utama kesal, "Utama.. kau sangat menjengkelkan! tidak semua orang menyukai air yang tenang dibanding ombak di pantai! sebuah cerita akan menarik apa bila ada masalah. "
Alan bersiap, kemudian berlari ke arah Jiro. namun tiba-tiba Jiro tidak ada dihadapannya.
"kau sangat lambat! " ucap Jiro di belakang Alan sambil tersenyum, senjatanya penuh darah seperti habis menebas lawan, sepertinya dia sudah menebas tubuh Alan.
"apa!? sejak kapan dia..? " Alan melirik ke belakang. sesaat kemudian dia memuntahkan darah segar.
Alan menatap tubuhnya yang sudah ada bekas tebasan menyilang, "sial! jadi hanya sampai disini,ya.. " dia merasa tidak percaya.
"gawat! dia sudah kalah! aku harus segera membantunya! " Hajime mulai bergerak.
"Hajime! tunggu! " Utama mencoba menahan.
Hajime menatap Utama, kemudian memukul pipi Utama yang langsung terlempar, "berbicara dengan orang yang tidak memiliki perasaan seperti mu hanya membuang waktu! " dia sambil berteriak.
Utama terlempar jauh, "Hajime, apa yang kau pikirkan? apa kau berniat membunuh semua orang itu? " batinnya dengan tubuh yang melesat ke arah bawah.
semua teman Alan berteriak melihat kejadian itu, "Alan! " salah seorang maju mendekati Alan sambil mengarahkan senjata ke arah Jiro.
"kau juga ingin berakhir seperti dia, ya. " Jiro siap menebas orang itu, "baiklah kalau begitu. "
Jiro mengayunkan katana nya ke arah teman Alan.
__ADS_1
Ting
tiba-tiba Hiro muncul dan menangkis, "cukup Jiro! kau terlalu berlebihan! " ucapnya.
Alan mulai kehilangan keseimbangan, "jadi aku gagal, ya.. " kedua lututnya jatuh ke tanah, "tapi setidaknya aku akan bertemu Kak Alex. " dia mencoba tersenyum.
Tap
Hajime mendarat di samping Alan, "jika kau ingin bertemu dengan kakakmu, setidaknya kau harus menyelesaikan apa yang sudah kau mulai. kau harus membunuh orang yang sangat ingin kau bunuh. "
Alan melirik Hajime, tubuhnya sudah hampir tumbang, namun Hajime langsung menahannya, "sepertinya aku sudah tidak sanggup. " ucap Alan terbata-bata.
"baiklah kalau begitu, aku akan membantu mu! " Hajime tersenyum, lalu mengambil samurai Alan yang tergeletak di tanah.
"siapa dia!? kenapa tiba-tiba dia berada di situ? " semua orang terkejut melihat Hajime.
Jiro dan Hiro menatap Hajime, "sepertinya orang ini sangat kuat. " ucap Hiro.
Hajime berjalan kearah Mika, "aku yang akan menggantikan dia menjadi malaikat maut mu! " dia tersenyum jahat.
"siapa kau? " Mika terlihat ketakutan, tapi dia juga bersiap.
Hajime berlari ke arah Mika yang menyambut dengan tebasan, namun tiba-tiba Hajime sudah tidak terlihat.
"dimana dia!? " Mika menoleh kanan dan kiri.
Chekk
tiba-tiba Hajime menusuk Mika dari belakang, "pecundang sepertimu memang pantas mati. " ucapnya lalu mencabut senjatanya yang bermandikan darah. sesaat kemudian Mika tergeletak di tanah.
Alan tersenyum melihat kejadian itu, kemudian menjatuhkan tubuhnya di tanah, kemudian menikmati kenangan bersama nafas nafas terakhirnya.
Jiro dan Hiro menatap tajam Hajime, kemudian melesat cepat dengan katana yang siap menebas.
Hajime melompat untuk menghindar, kemudian mendarat di tanah, "kedua orang ini sangat berbahaya. " gumamnya sambil menatap Jiro dan Hiro.
Jiro menatap Hajime, "aku tidak tahu kau berasal dari mana? tapi sepertinya kau sudah siap untuk mati. "
Jiro melesat cepat ke arah Hajime yang langsung melompat mundur, namun ternyata tebasan Hiro menyambut dari belakang.
Hiro mengayunkan katana nya untuk memotong tubuh Hajime, namun Hajime mencoba untuk menghindar sambil mengeluarkan cakaran. sesaat kemudian Hiro terlempar terkena serangan Hajime, sementara bahu Hajime juga tergores senjata Hiro.
Hajime menatap tajam ke arah Hiro, " mereka memang tidak bisa diremehkan! ternyata di jaman ini masih banyak pengguna pedang yang hebat. " batinnya.
Hiro menatap tajam Hajime, "dia benar-benar cepat! dia bahkan bisa menghindari tebasan ku dari jarak sedekat itu. " batinnya.
Hajime memegangi bahunya yang penuh dengan darah, "jika menghadapi mereka semua sekarang, pasti akan merepotkan! " kemudian dia melompat tinggi dan jauh.
"yang benar saja! aku tidak salah lihat 'kan? dia melompat sejauh itu!? "
"kemampuannya tidak manusiawi.! "
semua orang kagum melihat Hajime, termasuk Jiro dan Hiro yang saat ini terlihat kesal.
__ADS_1
"kemampuan yang tidak masuk akal, mulai sekarang kita harus berhati-hati Jiro! " ucap Hiro.
"kau benar! cepat atau lambat kita pasti bertarung dengan orang itu.! " sahut Jiro.